Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.71


__ADS_3

Sampai jam istirahat tiba, Melinda tak juga kembali ke ruangannya. Bahkan dia meninggalkan semua pekerjaannya, membuat Miska khawatir. Dia tak masalah dengan pekerjaan, tapi dia sungguh sedang mengkhawatirkan Melinda dia tak membawa ponselnya.


"Melinda, kamu dimana?" gumamnya, Miska bingung harus meminta tolong pada siapa? Karena hanya dia yang dekat dengan Melinda, Aaron pun sampai sekarang belum bisa di hubungi.


Miska memutuskan untuk turun menuju kantin perusahaan, dia perlu makan untuk bisa berpikir dengan jernih. Saat mengantri untuk mengambil makanan, dia mendengar obrolan karyawan yang berada di depannya.


"Iya kah? Kamu tahu dari mana? Kalo gak ada bukti jangan suka fitnah," ujar salah satu karyawan.


"Mana mungkin gue fitnah, gue denger sendiri saat Ameera bilang. Kalo Melinda itu harusnya gak lahir, harusnya Ameera yang menikmati semua fasilitas yang di dapat Melinda."


Miska diam-diam mendengarkan mereka berbicara, dia kesal dan marah pada Ameera. Yang selalu iri, dengan pencapaian yang di dapat oleh Melinda. Melinda mampu jadi wakil CEO, karena dia mampu dan pintar. Sedangkan Ameera tak ada bakat di sana, Miska paling tahu, pasalnya dulu Ameera sempat bekerja tapi dia tak mengerti alhasil Ameera keluar.


Dering ponsel membuyarkan lamunan Miska, dia langsung melihat siapa yang memanggilnya.


"Aaron." Dengan cepat Miska, mengangkat panggilan tersebut.


"Miska, dimana ka Melinda? Aku telepon dia tapi gak di angkat," kata Aaron cemas.


"Dari tadi dia gak balik lagi Ar, aku gak tau Melinda di mana." Sahut Miska dengan sedih.


"Ada masalah apa lagi?" tanya Aaron.


"Aku tidak tau, Ar." Balas Miska.


"Lebih baik kamu cepat ke sini, dan kita cari sama-sama kakak mu itu." Lanjut Miska.


"Oke, bentar lagi aku keluar dari sekolah."


Tanpa menunggu balasan dari Miska, Aaron memutuskan panggilannya. Membuat Miska bernapas dengan lega, setidaknya ada yang membantunya mencari Melinda.


"Aaron aku ikut lagi yah," pinta Mahira, saat Aaron akan menyalakan mesin motornya.


Aaron menatap tajam, anak dari Maira dan Rumi tersebut.


"Gak bisa," tolak Aaron dengan ketus.


"Kenapa?" tanya Mahira.


"Gue bilang gak bisa ya, gak bisa Mahira." Geram Aaron.


"Gue ada urusan," lanjutnya lagi.


"Urusan apa? Siapa tahu aku bisa bantu,"


"Kepo, gak semua urusan gue harus lo tahu Mahira. Lebih baik lo pulang bareng ka Rakai atau ka Ceilo saja," saran Aaron.


"Cih.. mana mau mereka jemput aku, ayolah Aaron pliss." Rengek Mahira, membuat semua siswa yang sedang berada di parkiran menatapnya.


Aaron menghembuskan napasnya dengan kasar, dengan terpaksa dia mengizinkan Mahira ikut.


"Heh... Gue tendang juga ni cewek ke luar angkasa," batin Aaron.


Lalu dia menyalakan mesin motornya, setelah Mahira naik. Dia akan mengantar Mahira terlebih dulu, baru menuju perusahaan.


****


Sementara itu Melinda, dia berada di taman kota. Seharian dia hanya duduk menatap orang-orang yang berada di sana, dia lapar tapi dia lupa membawa uang.


Melinda menghembuskan napasnya secara pelan, sakit hatinya tak kunjung hilang setelah Ameera menyinggung Jenny. Seharusnya dia tak berkata seperti itu di hadapannya, terlepas kesalahan yang di lakukan oleh Jenny di masa lalu.


Harusnya Ameera tak mengungkitnya lagi, saat asik melamun seseorang menempelkan botol dingin di pipinya.


"Astaga," pekik Melinda, dia melirik ke samping. Dan mendapati lelaki yang jadi tetangganya yang berada di taman.

__ADS_1


"Memang kamu itu hobi melamun yah? Bedanya sekarang tak menangis," cibirnya.


"Ohh... Atau kamu nangis pas malam saja ya?"


"Hey... Ihh, aku bukan kunti tau." Omel Melinda, dia meraih minuman yang berada di tangan lelaki tersebut. Lalu meminumnya dengan rakus, tak peduli dia akan marah.


"Ck...ck, udah mah ngambil, gak izin lagi."


"Maaf nanti aku ganti," ketus Melinda.


"Oke aku terima," katanya.


"Kenalin aku Axel," kata Axel.


Mendengar nama Axel, Melinda teringat bocah laki-laki yang terjatuh di dekat hotel. Melinda melirik lelaki yang bernama Axel tersebut.


"Mungkin namanya sama," bisik Melinda, lalu menatap uluran tangan di depannya.


"Cepatlah aku pegal," protesnya.


Melinda menerima uluran tangan Axel.


"Melinda," balasnya.


"Nama yang bagus, dan orangnya juga cantik." Axel menyunggingkan senyum, namun Melinda hanya memutar bola mata malas.


Tiba-tiba perut Melinda berbunyi, membuatnya malu. Apalagi Axel juga ada di sampingnya, dan berharap tak mendengar suara bunyi perutnya.


"Kayanya aku denger sesuatu deh."


Melinda menunduk malu, dan Axel berusaha menahan tawa saat melihat wajah gadis di sampingnya merona.


"Astaga bisa-bisanya perut bunyi, di waktu yang tak pas." Gerutu Melinda dalam hati, memang harusnya dia makan siang.


"Hey mau di bawa ke mana aku? Kamu mau culik yah?" pekiknya.


Namun Axel malah tertawa, lalu membuka pintu mobil samping kemudi.


"Apa gunanya aku menculik mu nona? Ahh.. atau kamu mau aku culik hem,"


"Untuk melihat, roti sobek ku ini." Goda Axel, dan langsung mendapat pukulan dari Melinda.


"Dasar mesum," omel Melinda.


Namun tak ayal Melinda pun, langsung masuk ke dalam mobil. Tak munafik, dia memang sangat lapar saat ini. Axel membawa mobil menuju cafe terdekat dengan taman.


Dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai. Setelah menyebutkan pesanan mereka, Axel menatap lekat Melinda. Yang di tatap, tentu saja jadi salah tingkah dan risih.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Ada yang aneh?" tanya Melinda.


"Iya ada yang aneh di wajah mu, kenapa cantik sekali." Ujar Axel, membuat kedua pipi Melinda bersemu merah.


"Sudahlah jangan gombal, bisakah nanti antar aku ke apartemen?"


"Bisa tapi kamu jangan lupa, semua ini tidak gratis. Dan ada imbalannya," tutur Axel, melipat kedua tangan di dada.


"Cih perhitungan sekali," cibir Melinda.


"Hey nona! Ingat aku meninggalkan pekerjaan ku untuk membawa mu makan, lalu mengantarkan mu ke apartemen. Coba hitung berapa uang yang hilang?"


Melinda memutar bola mata malas, lalu dia meminum minumannya yang sudah sampai lebih dulu.


****

__ADS_1


Sementara itu Aaron mencari Melinda, setelah mengantar Mahira pulang ke rumah tantenya Yusra. Karena dia sedang menginap di sana.


Tujuan pertamanya adalah perusahaan milik keluarganya, sesampainya di sana. Seluruh karyawan sudah mengetahui siapa Aaron.


Setiap ada yang tersenyum, Aaron membalas dengan senyum pula.


"Aaron baru mau lulus SMA, tapi ganteng banget dia. Beruntung yang jadi ceweknya," celetuk karyawan yang berpapasan dengan Aaron.


Aaron sudah terbiasa mendengar pembicaraan yang memuji dirinya, karena walau dia akan lulus SMA. Tapi badannya sudah ideal, tinggal terus berolahraga agar mendapati badan yang sempurna.


Sesampainya di lantai dimana ruangan sang kakak, Aaron langsung menemui Miska. Di ruangannya, yang berada di sebelah kanan.


Setelah mendapatkan izin untuk masuk, Aaron membuka pintu. Dan menatap Miska, yang tengah berkutat dengan berbagai tumpukan kertas.


"Aaron," sapa Miska.


"Duduk dulu, sebentar lagi kerjaan ku selesai. Sisanya aku bawa kerumah," kata Miska, dia menyelesaikan pekerjaannya yang ada di hadapannya. Sisanya dia bawa pulang, lima belas menit kemudian, Miska sudah menyelesaikan pekerjaannya. Karena dia sungguh ingin mencari Melinda, karena merasa khawatir. Walau jam pulang masih dari kata jauh.


"Sebentar aku bereskan ruangan kakak mu dulu."


Sedari tadi Aaron hanya diam, sementara Miska terus mengoceh.


"Kita pakai mobil saja Aaron, aku tidak naik motor kamu."


"Huff... Ka Miska ini, banyak sekali keluhannya. Ya sudah ayok kakak bawa mobilnya," sahut Aaron, masuk ke kursi penumpang. Sedangkan motornya dia titip di parkiran khusus untuk Direktur, biarlah Dika melihat motornya.


"Kita mencari ke mana?" tanya Aaron, kini mobil tersebut sudah melaju di jalanan ibu kota.


"Ke apartemen," jawab Miska.


"Apartemen? Ka Melin, punya apartemen?"


"Iya, milik ibunya almarhum tante Jenny."


Aaron hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu hening di antara mereka. Yang di sibukkan dengan pikiran masing-masing.


Satu setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di kawasan apartemen milik Melinda. Miska langsung mengajak Aaron naik, ke lantai lima dimana unit Melinda berada. Sesampainya di lantai lima, hanya terdapat empat pintu yang saling berhadapan.


Miska mengetuk pintu tersebut, namun tak ada jawaban dari Melinda. Pintu unit sebelah terbuka.


"Mbak cari pemilik unit itu yah?" tanyanya.


"Iya mas, mas lihat tidak?" Sahut Miska.


"Lihat tadi saya baru mengantarnya ke bandara, dia pergi bersama teman lelakinya." Tutur tetangga Melinda, yang mungkin seumuran dengan Dika dan Anyelir.


"Apa?" pekik Aaron dan Miska bersamaan.


"Kalau begitu terima kasih mas, saya permisi dulu." Pamit Miska, dia mengikuti langkah kaki Aaron yang cepat menuju lift.


"Kita harus ke bandara, mau apa ka Melinda ke bandara?" tanya Aaron.


"Dia berencana ke Singapura, aku rasa bukan sekarang. Tapi minggu depan," sahut Miska.


Kini yang membawa mobil, adalah Aaron. Agar cepat Miska hampir serangan jantung, karena Aaron menyalip setiap kendaraan.


"Aku gak mau mati muda, aku belum punya pacar dan aku juga belum nikah." Jerit Miska dalam hati, dia terus berdoa dalam hati dan memejamkan mata


****


Semoga suka, maaf typo 💜


Selamat menjalankan ibadah puasa, bagi yang menjalankan mohon maaf lahir dan batin semua 🙏

__ADS_1


__ADS_2