Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.82


__ADS_3

sepuluh bulan berlalu sejak melangsungkan pernikahan Axel dan Melinda, semua berjalan lancar hanya kerikil kecil yang menghadang keharmonisan rumah tangga mereka.


Melinda dan Axel pun masih tinggal di apartemen milik Melinda, karena belum adanya anak. Melinda pun masih bekerja di perusahaan Mario, walau tanpa tegur sapa dengan Dika.


"Mel, kamu gak makan siang? Wajah mu pucat loh!" ujar Miska.


"Engga nanti saja," sahutnya masih fokus pada laptop di hadapannya.


Miska membuang napas dengan kasar, dia sungguh khawatir dengan keadaan Melinda minggu-minggu ini. Entah terlalu larut dengan kesedihannya karena bermasalah dengan Dika, entah karena hal lain Miska pun tak tahu.


"Ya sudah aku makan dulu,"


"Iya, aku nitip kopi yah sama roti atau apa lah."


"Oke."


Melinda memandang pintu yang baru saja tertutup, dia sangat merindukan Dika. Tapi Dika enggan bertemu dengannya, membuat Melinda mengehela napas dengan pelan. Dan memutuskan untuk ke ruangan sang ayah, sesampainya di sana dia tersenyum pada Mona sekretaris Dika.


"Mbak Mona, daddy ada?" tanya Melinda.


"Tuan Dika sedang makan siang bersama Ameera Mel," jawab Mona tak enak hati, pasalnya Mona tahu. Permasalahan antara Dika dan Melinda. Membuat senyum di wajah Melinda sirna.


"Oh.. baiklah, aku permisi."


Tanpa menunggu jawaban dari Mona, Melinda pergi menuju ruangannya. Sesampainya di ruangannya, dia duduk menyandar di sofa.


"Maafkan aku daddy," lirih Melinda, mengusap air matanya.


Melinda memutuskan untuk menghubungi Axel.


"Kenapa sayang?" tanya Axel di sebrang telepon.


"Jemput aku yah!" pinta Melinda.


"Sekarang? Kenapa? Kamu baik-baik saja?" cerca Axel.


"Aku gak enak badan sayang." Jujur Melinda.


"Baiklah, tunggu aku."


Panggilan pun terputus, memang benar dirinya tak enak badan. Melinda memutuskan untuk membereskan pekerjaannya, dan membawanya ke apartemen.


Sementara itu Dika dan Ameera tengah makan siang bersama, atas permintaan Ameera alasannya dia ngidam. Ya, Ameera tengah mengandung anaknya Azriel.


"Terima kasih daddy, udah mau penuhi keinginan aku dan calon cucu daddy." Ujar Ameera.


"Sama-sama, bagaimana pun juga kamu anak ku Ameera dan calon anak mu adalah cucu ku." Jawab Dika tersenyum.

__ADS_1


"Sayang yah, ka Melinda belum hamil. Padahal usia pernikahannya saja sudah berjalan sepuluh bulan, malah aku yang duluan hamil." Kekeh Ameera, tanpa sadar membuat raut wajah Dika berubah.


"Mungkin itu akibatnya, keluar dari agamanya. Jadi hamilnya lama," celetuk Ameera, membuat Dika menatap Ameera tajam.


"Da-daddy, maaf. Aku gak bermaksud begitu," lirih Ameera.


"Cepat habiskan makan siang mu, daddy masih banyak pekerjaan." Kata Dika dengan dingin, tanpa menanggapi ucapan Ameera.


Ameera pun menurut, dia menunduk dan merutuki kebodohannya berucap seenaknya pada Melinda.


****


Di perusahaan Melinda sudah menunggu Axel di lobby, hari ini sungguh sangat pusing bagi Melinda.


"Mel, mau ke mana?" tanya Miska, setelah pulang makan siang di tangannya terdapat pesanan Melinda.


"Aku mau pulang," jawabnya, setelah Miska dekat dengan Melinda dan memberikan pesanannya.


"Makasih," ucap Melinda, langsung meminum kopi kesukaannya.


Rasa dingin, pait dan sedikit manis. Langsung membasahi kerongkongannya yang memang kering.


"Kenapa kamu sakit Mel?" tanya Miska.


"Engga, aku pengen pulang aja. Rindu suami," Melinda tertawa, meski di paksa.


"Makanya nikah, enak punya suami. Mau ini tinggal minta, terus kalo tidur  ada yang kekepin." Tawa Melinda pecah, saat melihat wajah Miska yang cemberut.


"Rese lo Mel, " kesal Miska, seketika memanggil lo jika kesal. Melinda masih saja senang menggoda Miska, itu lah yang Miska mau melihat Melinda tertawa lepas.


"Udah ahh, cape aku pulang dulu." Pamit Melinda saat melihat, mobil Axel masuk ke halaman perusahaan.


"Iya, hati-hati ya." Miska mengantar Melinda, sampai depan mobil. Dan tersenyum pada Axel.


Miska menatap mobil Axel yang menjauh, lalu dia pun kembali ke ruangannya.


"Tuan Dika, tadi nona Melinda mencari anda." Kata Mona.


"Untuk apa?" tanya Dika.


"Tidak tau tuan, dia langsung pergi." Sahut Mona, Dika mengangguk dan masuk ke ruangannya.


Dika menghubungi Miska, selaku sekretaris sang anak. Telepon tersambung dan Dika menanyakan keberadaan Melinda, Miska memberitahu jika Melinda sedang tak enak badan dan dia sudah pulang.


"Melinda," gumam Dika, sebenarnya dia juga rindu pada sang anak. Tapi dia masih kecewa, dengan keputusan sang anak yang mengikuti agama Axel.


Lamunan Dika buyar, saat ponselnya berdering.

__ADS_1


"Alderik."


"Ya om ada apa?" tanya Dika to the poin.


"Apa kamu masih mendiamkan cucu ku?" Bukannya menjawab, Alderik malah bertanya.


"Seperti yang om lihat, aku masih kecewa padanya." Balas Dika, membuat Alderik menghela napas dengan pelan.


"Kamu akan mengulang kesalahan ku yang dulu Dika, jika seperti ini terus." Ujar Alderik, Dika hanya terdiam.


"Temui dia, sebelum kamu menyesal Dika. Jangan jadi seperti ku di masa lalu, mengacuhkan anak ku karena kehormatan." Lanjut Alderik, dia memutuskan sambungan panggilan walau Dika belum menjawab pertanyaannya.


Dika terdiam, memikirkan perkataan Alderik. Apa bedanya dirinya dan Alderik, sama-sama mengacuhkan anak.


Melinda sudah sampai di kediaman Velia sang ibu mertua, dia menatap Axel.


"Kenapa ke sini? Aku mau ke apartemen," tutur Melinda.


"Selagi aku di kantor, aku mau kamu di rumah mommy. Biar ada yang memperhatikan kamu," kata Axel, Melinda menurut dan ikut turun bersama Axel.


Tak ada yang salah bersama sang mertua, Velia termasuk tipe mertua yang baik. Tak seperti di sinetron, iklan terbang yang alay dan lebay. Di sana juga sedang ada Freya, yang sedang mengandung delapan bulan dan satu bulan lagi akan segera melahirkan.


"Tumben kalian sudah pulang?" tanya Velia, menyambut menantu dan anaknya.


"Melinda gak enak badan mommy, makanya aku jemput dia dan bawa dia kesini. Biar ada yang jagain dia," ujar Axel.


"Oh begitu, kamu sudah makan sayang?" tanya Velia pada Melinda.


"Belum mom, aku gak enak makan. Akhir-akhir ini perut ku gak enak," jujurnya.


"Ya sudah kamu istirahat dulu, kurangi kopi yah! Nanti mommy buatkan bubur dan susu jahe," ujar Velia, Melinda mengangguk sebagai jawaban dia merasa bersyukur memiliki Velia sebagai ibu mertuanya.


Tak berselang lama, Axel kembali turun setelah mengantar Melinda ke kamarnya yang berada di rumah tersebut.


"Mommy aku pergi lagi yah! Titip istri ku," kata Axel.


"Iya sayang, kamu sudah makan?"


"Belum mom," sahut Axel tersenyum.


Velia pun membawa Axel ke ruang makan, jika Axel telat pun tak masalah karena Axel anak dari pemilik perusahaan mereka akan mengerti.


Di kamar Axel, Melinda hanya duduk di balkon kamar. Dia memandang halaman belakang yang lumayan cukup luas, kebetulan kamar Axel berhadapan langsung dengan halaman belakang yang ada kolam renangnya.


Teringat saat masih kecil dulu, dirinya belajar berenang bersama Dika. Tanpa terasa air mata Melinda keluar tanpa permisi, sungguh dia ingin menemui sang Dika. Tapi Dika seolah tak ingin menemuinya, bahkan Dika begitu perhatian pada Ameera.


****

__ADS_1


Semoga suka, maaf typo 💜


__ADS_2