Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.7


__ADS_3

Tiga bulan berlalu setelah kejadian dimana Anyelir hampir di perkosa oleh orang suruhan Jenny, dan kata putus dari Dika setelah Dika memaksa mencium dirinya dan sudah tiga bulan pula dia berada di kota Bandung.


Dia merubah identitasnya dan jati dirinya, membuat anak buah Dika kesulitan mencari dirinya. Anyelir tahu tentang Dika yang akan di jodohkan dengan Jenny, karena setiap ibu-ibu yang mampir ke warung nasinya. Selalu membicarakan Dika dan Jenny, pasangan muda yang cocok begitulah ujar ibu-ibu tersebut. Anyelir hanya bisa tersenyum dengan getir.


Anyelir membuka usaha warung nasi kecil-kecilan saat pagi, dan selalu membawa hasil masakannya ke depan pabrik, lalu siang harinya dia bekerja memetik teh tepatnya di Malabar. Dan pada sore harinya, Anyelir tetap berjualan lauk pauk.


Perkebunan teh ini berada di Bandung selatan persisnya di Malabar Pangelengan. Perkebunan teh ini mempunyai luas nyaris 2.022 hektar, saat pertama kali menginjakan kaki di tempat ini. Anyelir benar-benar merasa tenang dan damai, dan tempatnya pun benar-benar cantik dan hijau ditambah lagi udara yang sejuk. Tak seperti di kota Jakarta, satu bulan sudah Anyelir berada di Bandung.


***


Hari ini Dika berkunjung kembali ke rumah Dela dan Auriga, sudah tiga bulan Dika selalu berada di rumah Dela saat siang hari, karena tak ingin bertemu Jenny. Seharian bersama Dela, membuat Dika merasa lega karena Dela bisa mendengarkan curhatannya. Dika pun mengantar Dela yang menjemput Lula, dengan izin Auriga. Mereka pun makan siang bersama di restoran cepat saji, sekilas orang melihat mereka seperti pasangan muda yang bahagia.


"Kenapa orang-orang liatin kita yah?" tanya Dela.


"Mana aku tau! Aku bukan cenayang, yang bisa tau isi hati orang. Kalau aku cenayang mungkin Anyelir sudah ketemu," omel Dika.


"Ish dasar nyebelin," kesal Dela.


Dela pun menyuruh anak-anaknya makan dengan benar, dari tadi Lula dan Ara terus berbicara.


"Bunda, Ara mau kaya ka Lula." Rengek Ara.


"Kamu pesan lagi yah? Kasian ka Lula, kalo pesan lagi nunggunya lama." Bujuk Dela.


"Gak mau ahh," tolaknya.


"Ya sudah Lula, makan punya uncle aja. Nanti uncle pesan lagi itu kasih ke Ara," ujar Dika.


"Ya sudah nih!" Lula menyerahkan makanannya pada Ara.


Dari pada makanan kebuang, Dela menyerahkan makanan milik Ara pada Dika.


"Anggap aja lagi tukeran," kekeh Dela, Dika memutar bola mata malas.


Mereka pun makan siang, dengan sesekali Dika menggoda Lula yang sudah remaja.


"Lula kamu kalo sudah besar, mau yah jadi pacar uncle?" tanya Dika.


"Ihh... Gak mau uncle, terlalu tua." Cibir Lula, membuat Dika memutar bola mata malas.


"Anak sama ibu, sama-sama tukang menghina." Ketus Dika.


Dela tertawa mendengar ucapan Dika, dan melanjutkan makanan mereka. Sebelum Auriga pulang.


Setelah mengajak Lula dan Ara, Dika mengantar kembali pulang ke rumah Dela.


"Gak mampir lagi dulu uncle?" tanya Dela.


"Engga deh, aku langsung pulang aja. Udah di chat sama papi," ujar Dika.

__ADS_1


Dela pun mengangguk.


"Makasih ya uncle," ujar Lula dan Ara serempak.


"Sama-sama cantik," balas Dika.


Dika pun melajukan mobilnya, keluar dari halaman rumah Dela. Dia akan menuju perusahaannya, karena Mario sudah mengirim pesan untuk Dika kembali ke perusahaan.


Berpuluh menit kemudian, dia sudah sampai dan memarkirkan mobilnya di tempat khusus pemilik perusahaan. Dika pun langsung menuju lantai dimana ruangan Mario dan dirinya.


"Tuan Dika," sapa Tio.


"Pak Tio papi ada?" tanyanya.


"Ada tuan, tuan Mario sudah menunggu anda."


Dika pun mengangguk dan langsung masuk ke ruangan Mario.


"Pih," panggil Dika.


"Dari mana kamu?" tanya Mario.


"Dari rumah Dela Pih, kenapa memang?"


"Tidak ada, setidaknya kamu kabari papi Dika. Agar pekerjaan kamu di handel oleh Mona," ujar Mario.


Dika hanya terdiam, Mario pun menghembuskan napasnya secara pelan. Tentang permintaan Alderik padanya, tentang perjodohan antara Jenny dan Dika. Tapi Mario melihat wajah murung Dika.


"Bicara aja Pih, dari tadi aku denger kok."


"Tentang perjodohan kamu sama..."


Belum selesai Mario bicara, Dika sudah memotong pembicaraan Mario.


"Stop Pih, aku gak mau bertunangan dengan Jenny." Protes Dika.


"Dika tapi..."


"Gak ada tapi-tapian Pih, aku gak mau dan gak akan pernah mau titik. Mulai besok aku akan berhenti dari perusahaan dan keluar dari rumah, aku akan mencari Anyelir." Cetus Dika, dengan perasaan kesal Dika meninggalkan ruangan sang ayah.


Mario menghembuskan napasnya secara kasar, entah bagaimana lagi harus menghadapi Dika. Ternyata selera Dika dan dirinya sama, tertarik pada gadis sederhana Anyelir dan Laura.


Dika masuk ke ruang kerjanya dengan membanting pintu, membuat Mona terlonjak kaget.


"Pak bos kenapa tuh?" gumamnya, tak lama Mona pun di panggil oleh Dika.


"Ada apa pak?" tanya Mona.


"Mona mulai besok tolong gantikan pekerjaan ku," ujar Dika.

__ADS_1


"Memang bapak mau kemana?"


"Aku mau cari Anyelir, anak buah ku gak ada yang becus." Marah Dika.


"Ba-baik pak," jawab Mona, pasalnya dia tak pernah melihat Dika marah. Hanya selalu bersikap dingin pada Jenny dan wanita lain, jika padanya dia biasa saja.


"Sekarang kamu boleh keluar, aku mau pulang."


"Ba-baik pak," gugup Mona.


Mona pun melangkah cepat meninggalkan ruangan Dika, Dika pun bersandar di kursi kebesarannya. Dia akan memutuskan untuk mencari Anyelir sendiri.


****


"Cinta, sore ini kamu jualan gak?" tanya bu Marni, teman Anyelir memetik teh.


"Jualan bu, nanti jam empat aku buka di rumah kontrakan." Balas Anyelir.


"Oke, nanti aku kerumah ya!"


"Iya bu,"


Tepat pukul dua siang, Anyelir telah selsai melakukan pekerjaannya. Dia pun bergegas pulang dan akan menuju ke pasar, Anyelir belanja satu kali saat sore. Dia belanja untuk dua kali masak, saat akan masuk ke gang kontrakannya. Dia melihat anak buah Dika yang kemarin.


"Aduh kenapa mereka ada di sini sih?" keluh Anyelir.


Anyelir melihat dua orang laki-laki tersebut mendekat, dan dia pun menjadi gugup. Tapi dia berusaha menormalkan ke gugupannya.


"Maaf mbak, kenal wanita ini gak?" tanya Suryo anak buah Dika.


"En-engga lihat mas," jawab Anyelir, dan dia merutuk mulutnya yang tergagap.


Namun salah satu anak buah Dika, yang bernama Bram. Merasa curiga pada gadis di depannya tersebut, namun dia menepis rasa curiga itu.


"Tidak mungkin nona Anyelir kucel, dekil seperti ini." Batinnya menatap Anyelir.


"Baiklah kalau begitu, kami permisi." Pamit Suryo, dan Bram pun mengangguk sebagai sopan santun.


Anyelir pun menghembuskan napasnya secara lega, dia masih bisa mendengar mereka berbincang-bincang.


"Kita cari kemana lagi? Sudah beberapa kali kita kesini loh! Tapi tetap aja gak ada yang bernama Anyelir," keluh Bram.


"Entahlah, aku juga lelah. Kalau tidak bos Dika bakal marah ayok jalan," ajak Suryo.


Mereka pun pergi dari tempat itu, Anyelir pun menatap mereka.


"Berhentilah mencari ku Dika," lirih Anyelir.


Anyelir pun bergegas pulang, dan berbelanja ke pasar untuk kebutuhan masakannya. Dia harus mandiri di kota orang, sama saat pertama dia menginjakan kaki di kota Jakarta pertama kali bersama sang ibu.

__ADS_1


Semoga suka 💞


Maaf typo


__ADS_2