
Dika terlalu fokus pada layar laptop, dan tak melihat ponsel saat Anyelir menghubunginya. Baru saat Melinda masuk ke ruang kerjanya, dan memberitahukan kepadanya Dika.
"Daddy lihat, ada panggilan tak terjawab dari ibunya Ameera." Kata Melinda.
Dika pun melihatnya, dan membenarkan ucapan sang anak.
"Pasti itu Ameera dad, dia pasti kangen sama aku." Tebak Melinda.
"Kamu pede sekali sayang," kekeh Dika mencubit pipi sang anak.
"Daddy," rengek Melinda, dia pun naik ke pangkuan Dika yang sedang bekerja.
"Ya kali tante Anyelir kangen sama daddy," celetuk Melinda, membuat Dika menatap tajam sang anak.
Melinda tertawa saat melihat Dika salah tingkah, lalu dia memeluk Dika dan menciumnya dengan sayang.
"Pasti ada maunya ini," ujar Dika menatap Melinda.
"Ya daddy benar, kau mau ketemu sama Ameera. Dan kita jalan-jalan berempat," pinta Melinda penuh harap, pada Dika.
Dika yang tak bisa menolak sang anak pun mana tega, dia pasrah dan mengiyakan keinginan Melinda tersebut.
"Tapi nanti kalau hari Sabtu atau Minggu, kamu tahu daddy besok. Harus mulai bekerja di kantornya opah dan kamu di sini sama Grany oke," papar Dika.
"Oke," jawabnya.
Dika mencium pipi sang anak, dan memeluknya erat. Lalu Melinda pun keluar dari ruangan kerja Dika, dengan berlari. Si kembar masih berada di rumah Laura, sedangkan Lula dan Ara sudah berangkat sekolah di antar Dika
"Rumi, kamu gak makan dulu?" tanya bunda Nia.
"Engga bun, ini udah telat. Aku makan di luar saja," ujar Rumi, langsung mencium pipi sang ibu.
"Tunggu sayang," panggil bunda Nia, Rumi pun berbalik menatap sang bunda. Yang berjalan menuju dapur, tak lama kembali lagi membawa kotak bekal.
Bunda Nia dengan cepat memasukan makanan kedalam kotak tersebut, semuanya makanan kesukaan Rumi.
"Selesai," ucapnya antusias, lalu memberikannya pada Rumi.
"Makan kalau sudah di kantor yah." Bunda Nia mengusap pipi sang anak dengan sayang.
"Baik bunda, terima kasih." Balas Rumi, mencium pipi bunda Nia.
__ADS_1
Bunda Nia menatap punggung Rumi, yang menjauh. Di usianya yang matang dia masih saja sendiri, bunda Nia merasa khawatir pada Rumi. Bahkan Feli saja sudah memiliki tiga orang anak, dan Darel anak pertama Feli sudah berusia dua puluh tahun.
"Apa aku jodoh kan saja ya?" gumam bunda Nia.
"Kenapa?" tanya Satria, yang mengagetkan sang istri.
"Ayah nih, bikin saja." Omel bunda Nia.
"Lagian bunda kenapa liatin Rumi segitunya?"
Bunda Nia menghela napas dengan pelan, dan duduk di samping Satria. Meja makan luas ini, biasanya selalu ramai. Namun kini hanya tersisa dirinya dan sang suami.
"Bunda kepikiran Rumi, kenapa dia belum nikah juga ayah. Apa dia suka perempuan?" tebak bunda Nia, dan mendapatkan sentilan di keningnya.
"Ayah apaan sih," protes bunda Nia.
"Bunda nih, jangan asal bicara. Mana mungkin Rumi seperti itu," ketus Satria.
"Ya bunda lihat, dia gak pernah bawa perempuan. Jangankan perempuan, pacaran aja kayanya dia gak pernah. Bunda lihat dia selalu saja di rumah atau engga keluar sama Keanu," oceh bunda Nia.
Namun Satria, tak menanggapi ocehan bunda Nia. Dia lebih memilih menikmati sarapan paginya, dia percaya pada Rumi dan pasti dia akan segera menikah.
"Sudahlah bunda, ayah gak bisa mikir. Kalau perut ayah lapar," jelas Satria, membuat bunda Nia cemberut.
Rumi membelah jalanan ibu kota, yang selalu ramai oleh para pekerja. Sebelum ke perusahaan, dia akan mampir lebih dulu ke Lokal seafood untuk mengecek kebutuhan yang kosong. Di Lokal Seafood Rumi hanya sebentar, lalu pergi lagi menuju W&J grup.
Sesampainya di perusahaan, banyak para karyawan wanita yang menyapanya. Namun dia dengan setia memasang wajah datar dan dinginnya.
"Uncle," sapa Keanu setengah berlari, yang juga akan menuju lift dan Rumi menahannya.
"Jangan judes-judeslah, sama cewek. Entar mereka pada takut sama uncle," kekeh Keanu setelah mereka masuk ke dalam lift khusus, dan langsung mendapatkan tatapan tajam.
"Canda uncle... Canda, sensi amat sih." Cetus Keanu.
Dulu Rumi menyukai Liana, putri dari Hana dan Indra. Namun Liana memilih menikah dengan Justine Wijaya, dan di karuniai dua orang anak kembar. Oleh sebab itu pula, Rumi belum menikah.
Tak membutuhkan waktu lama, lift pun berhenti di lantai tujuan mereka. Sudah ada sekretaris masing-masing yang menunggu mereka, Ryan dan Abra. Abra adalah sekretaris Gemy setelah Anisa berhenti bekerja.
Setelah masuk dan duduk, Ryan membacakan jadwal hari ini.
"Yan, lo bisa atur gue buat kencan buta gak?" celetuk Rumi tiba-tiba, setelah Ryan selesai membacakan jadwalnya.
__ADS_1
"Apa pak?"
Rumi berdecak kesal. "Aku bilang tolong, atur jadwal kencan buta buat saya."
"O-oh.. baik pak, saya akan melakukannya." Ujar Ryan, tadi dia takut salah dengar Rumi ingin kencan buta.
Artinya dia sudah memikirkan untuk menikah, oh... Ryan sangat bahagia, akhirnya sahabat jomblo abadinya ini ingin memiliki hubungan serius.
"Sekarang kamu keluar," usir Rumi, karena dia akan sarapan sebelum bertemu klien di luar.
"Baik pak siap," balas Ryan antusias, telah tersusun rencana di dalam otaknya tersebut. Tak apa dia menggunakan cara licik, yang penting Rumi bisa melakukan kencan.
Sementara itu, di kediaman Yusra. Hari ini Maira akan pergi ke kampus untuk mengikuti kelas pagi.
"Papa," pekik Maira.
"Ada apa sih? Teriak-teriak, kamu pikir ini hutan." Ketus Hito.
"Hari ini aku dan Prisil gak bisa ke kantor, mau ada pesta teman." Lapor Maira.
Hito nampak berpikir, untuk memberikan izin pada putrinya dan temannya yang sesungguhnya bekerja di perusahaanya.
"Ya sudah, papa izinkan. Dengan syarat jangan pulang malam," cetus Hito.
"Siap papa," sahut Maira antusias, lalu memeluk Hito dengan erat. Alih-alih mencium sang ayah, Maira malah mencubit pipi Hito membuat Hito marah.
"Maaf pa, papa lucu." Pekik Maira, sudah di depan pintu sambil tertawa terbahak.
Sementara Yusra dia sudah tidur lagi setelah subuh tadi, dia muntah parah dan lemas.
Melinda menatap foto Jenny dengan lekat, dan memeluknya. Si kembar sudah di jemput oleh Dela dan Auriga pukul sembilan pagi, dan kini rumah terasa sangat sepi walau Melinda bersama dengan Laura atau Mala.
"Mommy, Melinda kangen." Lirih Melinda, memeluk foto Jenny
"Kenapa mommy harus pergi? Kata daddy, Tuhan sayang mommy yah? Bisa gak, mommy minta sama Tuhan buat kasih mommy balu buat Melin." Kata Melinda, di mengusap-usap wajah Jenny.
Tiba-tiba dia kepikiran dengan Ameera, dia juga tidak memilik daddy. Apa Ameera merindukan daddy-nya atau tidak?
****
Jangan lupa vote yah guys 😊
__ADS_1