Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.66


__ADS_3

Satu bulan kemudian, besok adalah hari pernikahan untuk Rumi dan Maira. Mereka akan menggelar acara pesta yang sangat meriah, karena Rumi adalah anak terakhir dari Nania dan Satria. Feli, Yudis serta anak-anak mereka sudah berada di Indonesia.


Mereka nampak antusias menyambut pernikahan om mereka, sebelum om mereka menikah. Rumi dan keponakan kecilnya menghabiskan waktu berjalan-jalan, di taman komplek perumahan mereka.


"Uncle Rumi, aku mau es krim." Ujar si kecil Alana."


"Aku juga uncle," sahut Elena dan anak dari Gemy dan Anisa.


"Iya sayang kalian akan mendapatkan masing-masing satu oke!"


"Oke," seru mereka kompak, lalu menuntun Rumi menuju penjual es krim.


Mereka asik memilih es krim, saat sibuk memilih es krim. Ponsel Rumi bergetar, menadakan panggilan masuk dari Maira. Dia tahu, karena nada deringnya khusus jika untuk orang-orang penting.


"Halo sayang, ada apa?"


"Ka Rumi di mana?" bisik Maira.


"Di taman sama anak-anak, mereka meminta es krim." Jujur Rumi, kini hubungan Rumi dan Maira sudah berjalan dengan baik. Dan bahkan mungkin mereka sudah saling jatuh cinta, tak ada hal yang mereka tutupi satu sama lain.


Rumi masih ingat saat itu, Maira menginginkan menonton konser di Korea. Dan Rumi dengan sedia, menemaninya walau menonton konser bukanlah kesukaannya tapi demi Maira. Dia rela menonton konser tersebut.


"Kenapa kamu bisik-bisik?" tanya Rumi, dia membayar es krim yang di beli oleh keponakannya.


"Terima kasih mas," ucap si pedagang es krim, karena Rumi memberikan uang yang lebih.

__ADS_1


"Sama-sama."


"Aku di kamar, mama bilang gak boleh menghubungi kamu. Karena sedang di pingit, makanya aku sembunyi-sembunyi." Kekehnya, membuat Rumi menggeleng.


"Aku rindu," celetuk Maira, setelah mengatakan itu dia menutup wajahnya yang sudah panas dengan bantal.


Rumi tersenyum tipis, melihat sikap Maira.


"Aku juga, tapi aku selalu sabar. Karena besok kita bertemu, dan bersiaplah untuk menjadi tawanan ku." Ujar Rumi, mengedipkan matanya dengan genit.


"Ih dasar mesum."


Sebelum Rumi berbicara, di sebrang panggilan sudah terdengar suara teriakan. Yang di pastikan itu suara dari Dela, lalu ponsel pun mati membuat Rumi tersenyum tipis.


"Ihh... Ka Dela, berisik jangan lapor sama mama dan nenek kenapa sih. Julid banget jadi orang," kesal Maira.


"Lagian kamu itu lagi di pingit, lah kenapa malah menghubungi Rumi?" tanya Dela.


"Aku kangen lah, kaya yang gak pernah rindu sama ka Auriga aja. Aku inget yah siapa yang nangis-nangis mau ketemu Auriga," cibir Maira, membuat Dela terkekeh dan memeluk Maira yang sebentar lagi akan menikah.


"Kaya gak ada kerjaan lain aja sih," gerutu Maira cemberut.


Dela mengajak Dela untuk duduk di balkon, lalu menghubungi asisten rumah tangga Yusra.


"Mbak tolong bikinin aku coklat hangat satu, dan es coklat satu ya. Sama choco cakenya juga dua," pinta Dela pada mbak Minah.

__ADS_1


"Baik non," jawab Minah di sebrang telepon, Minah adalah keponakannya Mala yang bekerja di rumah Yusra. Bersama suaminya, yang bekerja di cafe milik Auriga.


"Buat apa ka? Bukannya bentar lagi kita harus berangkat ke hotel ya?" tanya Maira.


"Iya aku tahu Mai, tapi kamu gak mau apa me time sama aku? Kita gak akan bisa kaya gini lagi Mai, waktu cepat berlalu. Dulu uncle kita Dika menikah dengan Jenny, kita tidak terlalu dekat. Lalu sekarang kamu pun akan menikah, aku pasti bakal kangen momen dimana kita bersama menonton apa yang kita suka, jalan-jalan, nongkrong di cafe, hunting jajanan pasar dan lainnya." Jelas Dela panjang lebar.


Maira membenarkan tentang kenangan mereka selama ini, pasti akan sulit jika ingin menghabiskan waktu bersama. Dulu dia lah paling manja pada Dika, sang paman. Ketukan di pintu, membuat Maira berdiri dan membuka pintu.


Mempersilahkan Minah masuk, untuk menyimpannya di atas meja.


"Makasih mbak," kata Maira.


"Sama-sama non, kalau ada yang kurang bilang saja ya!"


"Baik mbak," sahut Maira.


"Lihat kamu masih sama menyukai coklat hangat, dan juga kue coklat ini." Tunjuk Dela, pada cake di sampingnya..


"Nanti kita akan di sibukkan dengan suami dan anak kita Mai," cetus Dela.


Dela meminum minumannya, mereka larut dengan pikirannya masing-masing. Ada benarnya yang di katakan Dela, bahwa nanti dirinya pun sama akan fokus pada anak dan suaminya. Bukan tanpa sengaja Dela, menitipkan anak-anaknya pada sang bunda. Karena dia ingin menghabiskan sedikit waktu dengan Maira, Dika tidak di ajak. Karena dia sibuk dengan Anyelir.


****


Semoga suka yak, maaf typo 🔥🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2