Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.21


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam, acara resepsi pun di gelar dengan mewah. Banyak kalangan selebritis dan selebgram dan artis lainnya hadir, tak lupa juga rekan bisnis dari kedua keluarga dan teman kuliah Dika dan Jenny.


Tak lupa rekan sesama agency pun hadir, Jenny sudah cantik dengan gaun berwarna biru Dongker di padu dengan biru awan tanpa lengan, membuatnya terlihat cantik.


Apalagi rambutnya di gerai, dan di tambah mahkota di kepalanya. Sedangkan Dika sendiri, dia mengenakan setelan jas berwarna senada dengan gaun Jenny. Untuk keluarga pun memakai warna yang senada.


Para putri cantik tak kalah menggemaskan memeriahkan acara.


Sekali lagi Jenny menatap dirinya di cermin dia sudah cantik, dan menunggu Dika untuk berjalan keluar bersama.


Lagu Yovie & Nuno yang berjudul Janji Suci melantun indah di seluruh aula hotel, para tamu undangan menaburkan kelopak bunga mawar merah pada Dika dan Jenny yang berjalan dengan senyum manis.


Sementara itu pasangan Dela dan Auriga masih saja saling diam, karena Auriga tak menjelaskan siapa wanita yang memeluknya tadi pagi.


"Sayang sudah dong, jangan marah." Bisik Auriga.


"Siapa yang marah sih," ketus Dela.


Auriga merangkul Dela yang sedang cemberut, Auriga pun tahu sejak siang Dela hanya makan sedikit. Dia sudah berjanji akan menjaga Dela dan calon anak mereka.


Para tamu undangan pun satu persatu menaiki pelaminan, untuk memberikan selamat pada pengantin baru.


***


Pangalengan


Anyelir sedang membereskan rumah makan, yang akan di tempati esok. Banyak barang yang datang membuatnya sibuk, dan Sekar dengan setia membantu Anyelir.


"Kalo kita ada rezeki lebih nanti, kita bikin rumah di atas aja." Celetuk Sekar.


"Biar gak cape bulak baliknya," sambungnya kemudian.


"Iya bu, doakan saja semoga usaha ku lancar."


Sekar mengaminkan doa Anyelir, Anyelir orang baik dan berhak bahagia.


"Tinggal apa yang belum?" tanya Anyelir.


Anyelir menatap berdua gelas, piring, sendok, garpu dan mangkuk. Semua alat masak pun sudah kumplit, kulkas dia baru membeli satu.


"Sudah bu cukup untuk hari ini, besok kita bisa pesen banner buat di pasang di depan." Tutur Anyelir, di jawab anggukan Sekar.

__ADS_1


Saat mereka asik memeriksa, tiba-tiba Axel datang dan memperkenalkan diri. Dan mengaku penjual baru di sebelah Anyelir, dan baru saja datang.  Dan tanpa tahu malunya dia meminta sedikit air panas untuk membuat kopi.


"Tapi aku harus merebus air hangat dulu," kata Anyelir.


"Tidak apa, aku akan tunggu mbak."


"Panggil aku Any... Ehh.. Maaf maksud ku Cinta." Ujar Anyelir yang hampir keceplosan.


"Baik lah Cinta,"


Anyelir pun menuju dapur, sedangkan Axel bercengkrama dengan Sekar.


"Axel, ini airnya."


Anyelir menyerahkan termos kecil pada Axel.


"Terima kasih Anyelir, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Axel, di jawab anggukan Sekar dan Anyelir.


Sekar menyenggol lengan Anyelir, dan tersenyum menyebalkan.


"Kenapa sih?"


"Ganteng kan? Jomblo lagi," goda Sekar.


"Iya... Iya, ibu percaya kamu akan fokus menata masa depan kamu. Agar layak bersama Randik," kekeh Sekar.


"Heh... Ibu nyuruh aku jadi pelakor?" ketus Anyelir.


"Engga siapa tahu, Jenny mau di madu."


"Ish dasar... Nikah lagi sana," sindir Anyelir.


"Ibu mau Lilya dan Adam maju dulu," katanya.


"Tapi jika ada yang melamar ibu gimana? Lalu anak-anak setuju?"


"Ya ibu sih oke." Kekeh Sekar, dan Anyelir pun ikut tertawa.


Mereka kembali membereskan barang-barang, dan menyapu lantai agar bersih.


****

__ADS_1


Tepat pukul sepuluh malam, acara resepsi telah usai. Tinggal sedikit tamu dan para panitia, yang sedang membereskan sisa pesta.


Mario dan Alderik pun menyewa dua lantai, untuk keluarga mereka menginap. Sedangkan untuk pengantin baru, Dika memesan kamar mewah presidential suit.


Kini Dika dan Jenny pun sudah berada di kamar hotel, lelah itu yang Jenny rasa. Apalagi dia menggunakan sepatu hak tinggi, membuat kakinya pegal.


Jenny menatap Dika, yang sedang membuka jasnya. Jantungnya berdetak cepat merasa gugup dan takut.


"Kenapa?" tanya Dika, melihat Jenny gelisah dan gugup.


"Ahh... I-itu apa, aku dulu yang akan mandi." Ucap Jenny, dalam hati dia merutuki ucapan yang keluar dari mulutnya.


Dika hanya mengangguk sebagai jawaban, dan Jenny pun buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan berendam sebentar dengan aromatherapy.


Lima menit berlalu, Dika yang menunggu lama mengetuk pintu kamar mandi, karena Jenny belum keluar juga.


Jenny sendiri dia ketiduran di dalam bathup karena saking nyamannya.


"Jenny kamu baik-baik saja?" tanya Dika mengetuk pintu kamar mandi.


Tak ada jawaban dari dalam, membuat Dika khawatir. Karena ketukan pintu dengan cepat dan keras, membuat Jenny terperanjat dari tidur nyamannya.


"Astaga aku ketiduran," gumamnya.


Dia pun dengan segera membilas tubuhnya, dan melupakan handuknya.


"Astaga kenapa lupa handuk sih," kesal Jenny menepuk keningnya.


Pintu terbuka, namun Jenny hanya menampilkan kepalanya dan meminta handuk pada Dika. Membuat Dika menggeleng, padahal bisa saja Dika melihat tapi dia tak mau Jenny malu.


Pukul sebelas malam, mereka selesai melakukan ritual mandi malam. Dan sudah merebahkan tubuhnya di kasur nyaman, yang sudah di hias secantik mungkin.


"Jika lelah tidur lah, aku tak akan memaksa mu." Ujar Dika.


"Tapi jika kamu mau, aku siap kok." Balas Jenny.


Dika menghembuskan napasnya dengan pelan.


"Tidurlah Jenny," ujar Dika.


Jenny pun mengangguk dengan pasrah, dia pun tak akan memaksa. Jika memaksa terkesan dia murahan.

__ADS_1


tbc...


semoga suka tinggalkan jejak makasih 🙏


__ADS_2