Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.76


__ADS_3

"Aku...."


"Kamu mau kan menerima ku?" desak Axel, membuat Melinda menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Cepat jawab Mel, nanti tuan Dika pulang. Dan dia tahu kamu bohong, lalu membawa mu pulang ke Jakarta."


"Memang kamu mau?" tanya Axel, dia terus memprovokasi Melinda agar mau menerimanya.


"Astaga Axel, ini terlalu cepat." Sahut Melinda.


"Aku belum siap pacaran," sambungnya lagi.


Axel tersenyum tipis menatap Melinda.


"Aku hanya ingin kau jadi pacar ku Melinda, bukan istri ku. Lagian untuk menikah itu tidak mungkin," ungkap Axel.


"Kenapa memang?" tanya Melinda.


"Karena sebelum aku, harus kakak ku lebih dulu. Kamu tahu aku memiliki kembaran," beritahu Axel.


"Jadi setelah kakak ku menikah, nanti giliran kita berdua." Ucap Axel, merencanakan masa depannya.


"Waktu mu tinggal lima menit lagi Melinda, cepat terima aku. Atau aku bilang pada ayah mu kita bukan kekasih," ancam Axel.


"Hah... Dasar Axel, ya aku mau." Ketusnya, sembari membawa semua pemberian Axel.


Axel tersenyum tipis, dia berdiri dan memeluk Melinda dengan erat.


"Nah gitu dong, anak baik."


Tanpa di duga Axel mencium pipi Melinda, membuat sang empunya pipi membulatkan matanya.


"Hey!" protes Melinda.


"Dengar aku ini matre, jadi kamu harus bekerja lebih keras untuk memenuhi gaya hidup ku." Jelas Melinda tersenyum miring, tiba-tiba dia terlintas ide gila tersebut.


Axel merogoh saku celananya, dia mengeluarkan kartu yang berada di dalam dompetnya. Ada tiga kartu, yang kini di hadapan Melinda. Dua di antaranya kartu yang selalu di pakai oleh, sultan dia menatap Axel dengan heran.


"Astaga seberapa kaya dia?" gumam Melinda dalam hati.


"Ayok ambil satu, itu buat kamu. Mau yang hitam atau yang gold?" tanya Axel.


"A-aku itu anu, tidak usah. Aku punya sendiri," ketus Melinda.


Axel terkekeh dia mengikuti Melinda sampai balkon, dan memeluk Melinda dari belakang. Mereka bisa melihat keindahan Singapura dari atas, jangan tanyakan lagi bagaimana kondisi jantung Melinda saat ini.

__ADS_1


"Axel," desisnya namun Axel tak mendengar.


Jika di perlakukan seperti ini oleh lelaki, yang resmi jadi kekasihnya tersebut. Bisa-bisa Melinda luluh, dan jatuh hati beneran pada Axel.


Melinda diam dalam pelukan Axel, yang sialnya sungguh nyaman dan hangat.


"Kamu selalu membuat ku tenang," celetuk Melinda.


"Aku tau itu," sombong Axel.


Saat Melinda sudah terbiasa dengan pelukan Axel, tiba-tiba pintu terbuka membuat pelukan mereka terlepas. Dika menatap dua sejoli itu dengan heran, wajah Melinda yang canggung dan Axel yang tenang.


"Kamu baik-baik saja Mel?" tanya Dika.


"Iya daddy aku baik-baik saja," sahut Melinda, dia mendekati Dika dan membawa belanjaan Dika. Namun Aaron memintanya, karena itu untuk ibu mereka.


"Besok daddy jadi pulang?" tanya Melinda.


"Iya, kalo kamu berubah pikiran kita sama-sama pulang." Ujar Dika.


"Tidak daddy aku di sini saja, lagian Axel mau nemenin aku!"


"Iya Melinda benar tuan Dika, anda tenang saja jangan khawatir. Satu atau dua minggu lagi kami akan menyusul ke Jakarta," jelas Axel.


"Baiklah terserah kalian, tapi satu pesan ku. Jangan merusak anak ku," tegas Dika, di jawab anggukan oleh Axel.


Awalnya Aaron menolak, dia ingin beberapa hari lagi di sini. Tapi Dika tak menyetujui sang anak ada di sini, lagi pula Melinda aman bersama Axel. Dika memberi kepercayaan penuh, pada pemuda tersebut. Apalagi Dika tahu, jika Axel adalah putra kedua dari Daniello Johnson.


****


"Dimana dia? Selalu seperti ini sulit di hubungi," kesalnya menatap ponsel.


Azriel Malik anak pertama dari keluarga Dion Malik dan Monika Malik,


Dia adalah kekasih dari Ameera. Mereka sudah hampir dua tahun berpacaran, tapi Azriel belum juga di kenalkan oleh Ameera pada kedua orang tuanya.


Sedangkan Ameera, Azriel sudah membawanya untuk bertemu kedua orang tuanya. Mereka menyukai Ameera, walau kedua orang tuanya sibuk dan tak pernah ada di rumah. Tapi mereka percaya, dan merestui hubungan sang anak dengan kekasihnya.


Azriel berulang kali mengajak Ameera untuk serius, tapi Ameera selalu menolak dengan alasan dia tak siap menjadi istri. Namun Azriel dengan sabar, menunggu Ameera mau menerima pinangannya.


Ameera yang menatap ponselnya yang sudah berhenti berdering, dia tahu itu dari sang kekasih.


"Maaf Azriel, tapi aku tidak ingin kamu ganggu." Gumamnya, dia pun menatap langit-langit kamarnya.


Entah mengapa dia jadi benci Melinda, dulu dia senang memiliki teman sekaligus kakak seperti Melinda.

__ADS_1


Hari semakin larut, namun Ameera tak bisa memejamkan matanya. Setelah mendengarkan pembicaraan Anyelir dan Dika, tadi singa. Dia menjadi penasaran dengan kekasih dari Melinda, dan dia pun ingin memilikinya.


Singapura


Hari pertama Melinda menjadi kekasih Axel, pemuda tersebut membawa Melinda berjalan-jalan.


"Aku gak akan biarin kamu kerja, sayang." Ucap Axel, membuat Melinda menatap sebal ke arah Axel.


"Kalo aku gak kerja, aku makan dari mana?" ketus Melinda.


Membuat Axel terkekeh merasa lucu, baru kemarin dia bilang dia matre. Tapi sekarang dia sok mandiri.


"Kamu hanya perlu menghabiskan uang ku saja sayang," bisik Axel, membuat Melinda mencebik.


Dia pun duduk di sebuah cafe, lalu melihat-lihat menu apa yang ingin dia makan. Pasalnya jam makan siang masih lama, Melinda memutuskan untuk memesan cake dan juga ice kopi. Axel hanya memesan kopi saja, karena mendadak ada yang harus Axel kerjakan.


"Maaf yah, mendadak ada laporan." Sesal Axel.


"Tidak apa, aku mengerti." Sahut Melinda.


Selagi Axel serius bekerja, Melinda menatap wajah tampan kekasihnya tersebut. Merasa tak asing bagi Melinda, namun entah dimana dia pernah melihatnya. Terutama di bagian mata, dia pernah melihat mata itu.


Axel yang menyadari dirinya di perhatikan, langsung mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Aku tahu aku sangat tampan," goda Axel, membuyarkan lamunan Melinda. Melinda memutar bola mata malas, tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Makasih." Ucap Melinda, di jawab anggukan oleh pelayan tersebut.


Ameera sudah sampai di perusahaan milik Mario, sebelum berangkat tadi Dika meminta Ameera untuk datang ke ruangannya. Dan di sinilah dia sekarang, berada di hadapan Dika.


"Ameera kamu sudah tahu kan, jika Melinda mengundurkan diri. Dan kamu yang akan menjadi penggantinya," tutur Dika.


"Iya daddy aku tahu,"


"Baiklah jika kamu tahu, kamu harus bersikap profesional. Dan harus bekerja lebih baik dan memajukan perusahaan agar lebih maju," jelas Dika.


Tak hanya pada Ameera, pada Melinda pun dia melakukan hal yang sama. Tapi di bawah pimpinan, Melinda perusahaan berjalan dengan lancar. Bahkan pendapatan selalu meningkat, dan karyawan selalu mendapat bonus.


Dika ingin lihat, sejauh mana anak tirinya tersebut untuk memajukan perusahaan milik sang Papi Mario.


"Daddy percaya pada mu Meera, jadi jangan buat daddy kecewa. Mengerti!"


"Ya daddy, aku mengerti dan aku berjanji." Sahut Ameera antusias, akhirnya apa yang dia ingin sebentar lagi akan segera tercapai.


****

__ADS_1


Semoga suka, maaf typo 💜


__ADS_2