
Keesokan harinya, Miska pun akan berangkat menggunakan motornya sendiri. Sementara sang ibu sudah berangkat sejak tadi pagi, saat akan mengeluarkan motor. Miska memincingkan mata menatap mobil yang dia kenal, siapa lagi kalau bukan mobil Aaron, Rakai dan Ceilo.
"Astaga... Mau apa mereka?" gumam Miska.
Ketiga pemuda tersebut keluar dari mobil, dan mengundang perhatian ibu-ibu tetangga rumah Miska.
"Haduh malah keluar," keluh Miska.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Miska dengan ketus.
"Kita mau jemput kamu," jawab mereka kompak.
"Astaga," desah Miska, lalu menatap sekeliling.
"Tapi maaf pak, saya bawa motor sendiri." Tolak Miska.
"Terima aja kali Mis, lumayan orang kaya semua tuh." Celetuk Entin, di jawab anggukan oleh ibu-ibu yang lain.
"Engga bu, memang gimana caranya saya ada di tiga mobil? Memang aku harus membelah diri menjadi tiga gitu," ujar Miska.
"Saya permisi bu-ibu," pamit Miska, tanpa menanggapi ucapan ibu-ibu tukang ghibah.
Saat akan menyalakan motor, Aaron mencabut kuncinya dan di hadang oleh Rakai dan Ceilo.
Kalian kenapa sih? Aku mau kerja yah! Awas," usir Miska.
"Kamu pergi bareng aku, jangan membantah aku atasan mu." Ujar Aaron.
Jika Aaron ke sini ada benarnya, tapi untuk Rakai dan Ceilo kenapa mereka ke sini? Batin Miska, menatap pemuda kembar tersebut.
"Ya sudah, aku ikut pak Aaron." Putus Miska, Aaron membantu Miska memasukan kembali motor tersebut.
Tak lama tiga mobil mewah, yang jadi bahan pembicaraan tersebut sudah melesat meninggalkan kediaman Miska. Ingin Miska bertanya pada Aaron, kenapa Rakai dan Ceilo ikut?
Berpuluh menit kemudian, Aaron dan Miska sudah sampai di perusahaan Wiriadinata. Sedangkan Rakai dan Ceilo menuju perusahaan milik Auriga dan Jimi, Miska sudah meminta Aaron untuk menurunkan dirinya di halte bus.
"Pak..."
"Sudah jangan protes, kalau ada yang gosipin kamu nanti saya pecat." Tegas Aaron, dia pun pasrah dan turun dari mobil milik Aaron.
Beruntung di parkiran sepi, jadi dia langsung berlari menuju lift karyawan meninggalkan Aaron.
"Dasar aneh," gumam Aaron tersenyum, menatap Miska yang berlari kecil terlihat menggemaskan.
Entah kapan rasa itu muncul, pada gadis dewasa yang seumuran dengan sang kakak pertama.
****
__ADS_1
Sementara itu di rumah Azriel, Ameera masih saja bersedih akan kehilangan calon bayinya.
"Sayang," panggil Azriel, dia mencium pipi Ameera yang sedang melamun.
"Gimana kalau besok, kita liburan ke puncak? Biar kamu gak sedih terus," usul Azriel, namun tak ada tanggapan dari Ameera.
Azriel menghembuskan napasnya, dengan pelan. Dia meninggalkan Ameera di balkon sendiri, dan bersiap untuk pergi bekerja.
Ameera menatap pintu yang tertutup, bukannya tak ingin melayani suami. Tapi rasanya dia masih berat, untuk melakukan aktifitas sehari-hari Anyelir pun selalu memberi motivasi agar dirinya bisa bangkit lagi. Lagian Ameera masih bisa hamil, walau sekarang dia belum ingin hamil kembali.
Azriel melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota, banyak gedung dan perkantoran yang dia lalui. Hari ini dia akan menemui orang tuanya, di ruangan sang ayah untuk membahas tentang Ameera.
Berpuluh menit kemudian, Azriel sudah sampai di perusahaan miliknya. Lalu dia melangkah menuju ruangan dimana sang ayah berada.
"Tuan Bram sudah menunggu," ujar asisten pribadi sang ayah, Azriel pun mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruangan sang ayah.
Zara ibu dari Azriel menyambut anak semata wayangnya dengan senyum, dan memeluknya dengan erat.
"Mommy rindu," ungkap sang ibu.
"Aku juga, kenapa mommy dan daddy gak ke rumah aja? Malah langsung ke kantor," keluh Azriel.
"Tidak, besok juga daddy mau pergi lagi ke luar negeri sayang." Timpal Bram.
Azriel menghembuskan napasnya dengan pelan, dan mengangguk. Lalu mereka membahas kondisi Ameera, jika tak ada perubahan Azriel di minta meninggalkan Ameera dan menikah dengan perempuan pilihan mereka.
"Tapi sampai kapan Ameera seperti itu? Dia terlalu meratapi, padahal masih bisa hamil." Ujar Zara sedikit kesal.
"Beri aku waktu mom, aku akan buat Melinda sembuh. Aku janji sama mommy,"
"Baiklah daddy beri waktu kamu satu bulan, untuk mengembalikan Ameera seperti semula. Agar tak mengganggu pekerjaan kamu," cetus Bram.
"Baik lah, aku terima." Kata Azriel.
"Ya sudah kamu boleh ke ruangan mu." Ujar Bram.
Azriel melangkah gontai, kembali ke ruangannya. Dia akan membicarakan ini dengan Anyelir, agar bisa memberikan solusi untuk anaknya tersebut.
****
Kediaman Melinda, ibu hamil tersebut di sibuk membuat makan siang untuk Axel. Semenjak hamil, Melinda suka sekali masak. Dan masakannya akan dia antar sendiri menuju kantor Axel, tapi untuk Dika dia akan mengirimnya lewat jasa online.
Satu jam kemudian Melinda sudah selesai menyiapkan makan siang, di bantu oleh asisten rumah tangganya. Yang bernama Marini.
"Nyonya biar saya saja, lebih baik anda bersiap untuk pergi ke kantor tuan Axel." Tutur bibi.
"Oke bi, maaf merepotkan bibi."
__ADS_1
"Tidak nyonya, ini memang tugas saya." Katanya, dia sangat senang bekerja di rumah Melinda karena menurutnya. Melinda dan Axe sangatlah baik, bahkan Axel selalu memberikan uang lebih untuk anaknya di kampung. Sedangkan suaminya bekerja sebagai kuli, panggul di pasar yang penghasilannya tak pernah tetap.
Semenjak hamil pula, Melinda pun sering mandi karena selalu gerah. Saat mengusap perutnya, bayi yang dalam kandungannya bergerak membuat Melinda bahagia.
"Sayang kita akan ketemu daddy, kita akan antar makan siang untuk daddy oke!"
Dua puluh menit kemudian, Melinda sudah siap dengan dress ibu hamil berwarna biru awan. Rambutnya di ikat sanggul, karena jika di gerai dia suka kegerahan.
Saat dalam perjalanan dia melihat Ameera, yang terduduk di pinggir jalan.
"Ameera, kenapa dia?" gumamnya, ingin menghampiri tapi dia juga takut. Ameera berbuat jahat padanya, dan kandungannya.
"Abaikan Melinda, kamu bisa tanya ibu Anyelir."
Melinda pun mengabaikan Ameera yang menangis, entah apa yang membuatnya seperti itu. Berpuluh menit kemudian, Melinda sudah sampai di perusahaan Johnson. Semua karyawan sudah tahu, bahwa Melinda istri dari Axel.
"Nyonya Melinda, tuan Axel sudah menunggu di dalam." Beritahu Bima, asisten pribadi Axel sekaligus sekretarisnya.
Melinda menolak perempuan, karena tak ingin Axel berpaling darinya. Tapi Axel sendiri tak punya waktu untuk melirik wanita lain, istrinya saja sudah cukup untuk membangkitkan kelelakia-nya. Apalagi, kini Melinda sedang hamil dua kali lipat seksinya.
"Sayang," sapa Melinda, melihat Axel yang serius dengan layar laptopnya.
"Sayang ku," seru Axel, merentangkan tangan meminta Melinda masuk ke dalam pelukannya.
"Aku kangen loh sayang," rengek Axel.
"Dasar manja," kekeh Melinda.
Dia meletakan kotak makan siang untuk Axel, dan meminta suaminya untuk makan lebih dulu. Sambil menemani makan, Melinda menceritakan tentang dia bertemu dengan Ameera yang menangis di jalan.
"Menurut mu, apa aku harus menemui Ameera?" tanya Melinda.
"Untuk apa?" sambar Axel tak suka, dia masih ingat saat Ameera mendoakan yang jelek untuk anaknya.
"Un-untuk memberikan dukungan," jawab Melinda pelan.
Axel menghembuskan napasnya dengan pelan, dia menatap Melinda dan membelai kepalanya.
"Bukannya aku tak suka, tapi aku takut dia menyakiti mu dan calon anak kita sayang." Jelas Axel.
"Iya aku mengerti, maaf." Kata Melinda.
"Tidak apa, kamu gak salah."
Axel menarik Melinda ke dalam pelukannya, agar Melinda merasa tenang. Melinda sendiri kepikiran dengan Ameera, sejahat apa pun Ameera dia tetep sayang pada Ameera.
****
__ADS_1
Maaf typo