
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dan menebus vitamin. Dika mengajak Jenny jalan-jalan terlebih dulu.
Dika mengajak Jenny ke toko pelengkapan bayi, Dika menatap antusias pakaian bayi yang mungil dan lucu. Karena dia tak tahu, jenis kelamin sang anak, perempuan atau laki-laki. Maka Dika memutuskan untuk membeli baju tersebut berwarna netral.
Setelah selesai membeli keperluan bayi, Dika dan Jenny memutuskan untuk pulang. Karena Jenny sudah mengeluh pegal dan lelah.
Saat dalam perjalanan pulang, Jenny melihat jajanan tradisional sepanjang jalan. Membuatnya menginginkan putu ayu, dan juga bola-bola obi.
"Sayang, berhenti aku mau beli itu." Tunjuknya pada penjual putu ayu.
Dika menurut dan memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dengan mobil lainnya. Jenny sangat senang, banyak jajanan saat dulu dia sekolah dasar.
"Jika ada Dela, pasti dia senang banget. Dela kan suka makan," kekeh Jenny.
"Iya, aku, Dela dan Maira suka makan. Kita suka hunting jajanan kaya gini," papar Dika.
"Kayanya seru, lain kali aku ikut kalo kalian hunting jajanan." Ujar Jenny antusias.
Lima belas menit kemudian Jenny sudah selesai membeli jajanan, tak lupa dia membeli untuk Tara, bibi Maura dan suster yang mengawasi Tara.
****
Sementara di rumah sakit Bandung, Dela sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP.
Auriga dengan setia menunggu Dela bangun, dia ingin meminta maaf pada Dela. Ara dan Lula pun, sudah di beri tahu oleh Jimi melalui Zea.
"Kenapa bunda ada di rumah sakit tante?" tanya Ara.
"Kata opah, perutnya sakit." Balas Zea.
"Apa bunda akan melahirkan?" tanya Ara lagi.
"Ara, bunda gak mungkin melahirkan masih lama dua bulan lagi." Ujar Lula.
"Oh... Tapi kenapa?"
"Sudahlah jangan tanya terus," ketus Lula.
Membuat Zea menghembuskan napasnya dengan pelan, melihat keributan kecil di antara Lula dan Ara.
"Lebih baik, kalian tidur. Liat ka Manda aja tidur," kata Zea.
"Baik tante," jawab Ara, dia pun mulai memejamkan matanya.
Sementara Lula menatap keluar jendela, dia takut Dela kenapa-napa. Lula menggeleng, menepis hal buruk yang terjadi.
"Mudah-mudahan, bunda baik-baik saja." Gumam Lula.
Sementara Yumna dan Bara, belum di beritahu oleh Jimi dan Auriga. Karena tidak ingin membuat mereka khawatir, toh Dela kini di ruang rawat.
"Sayang," panggil Auriga.
Namun Dela tak menjawab, dia memalingkan wajahnya dan melepaskan tangannya. Yang di genggam Auriga, dia benci, sakit hati pada Auriga.
"Maafkan aku," lirih Auriga.
"Aku memaafkan mu, jika kamu menceriakan aku." Sahut Dela dingin.
"Sayang... Aku gak akan menceraikan mu,"
"Tapi kamu mencintai wanita itu, kamu tidur dengannya. Bukan sekali, tapi sudah dua kali saat kamu pulang tidak mengabari ku," pekik Dela.
Dela langsung meringis, sebab perutnya kembali keram.
"Sayang tenang, kendalikan emosi mu. Kasian anak kita," ujar Auriga khawatir, pasalnya dokter berpesan agar Dela dalam keadaan tenang jika tidak Dela akan melahirkan prematur.
__ADS_1
"Akhhh... Pergi kamu, aku gak mau melihat mu." Isak Dela tertahan.
"Dela," lirih Auriga.
Jimi datang dan melihat Dela kesakitan lagi, menyuruh Auriga keluar terlebih dulu agar Dela tenang.
"Kamu keluarlah dulu Riga, kamu gak ingin terjadi sesuatu kan?" tanya Jimi, dan Auriga menggeleng.
"Maka keluarlah, demi keselamatan anak-anak mu." Tegas Jimi.
Auriga pun menurut, dia menatap Dela yang sedang mengelus perutnya. Auriga menunggu di ruang tunggu, depan kamar Dela.
"Ayah," pekik Lula.
Auriga menatap Lula yang berlari, sementara Ara bersama Zea, Keanu dan juga Manda.
"Kenapa bunda bisa sakit? Pasti karena ayah," tuduh Lula.
"Lula sayang, jangan begitu. Mungkin bunda Dela kelelahan kamu kan tahu, kalau tante Dela bawa anaknya dua." Tutur Zea dengan lembut, karena Lula sudah besar. Dia akan mengerti permasalahan yang terjadi antara kedua orang tuanya.
"Benar ayah?" tanya Lula curiga.
"Iya sayang, bukannya tadi pagi bunda dan opah jalan-jalan. Makanya kelelahan," papar Auriga.
"Baiklah aku percaya, aku lihat bunda dulu."
"Aku ikut," sahut Ara cepat.
Lula dan Ara pun masuk menemui Dela, yang terbaring di ranjang dengan terisak. Tapi buru-buru dia hapus, saat melihat kedua putrinya masuk.
"Sayang," sapa Dela.
"Bunda, gimana keadannya? Apa yang sakit?" cerca Lula.
"Tidak apa sayang, setelah liat kakak-kakak yang cantik. Adek bayi langsung diam," cetus Dela.
"Iya." Dela melirik ke arah Lula, yang tak mudah percaya.
"Lula sungguh bunda, baik-baik saja. Percayalah tadi hanya kelelahan," jelas Dela.
"Baiklah aku percaya bunda, bunda istirahat lagi saja. Aku akan jagain bunda," ujar Lula.
"Aku juga," timpal Ara.
"Terima kasih, kalian kakak yang siaga." Kekeh Dela, membuat Lula dan Ara tersenyum lebar.
Jimi yang memperhatikan mereka, merasa bersyukur karena Lula dan Ara akan selalu melindungi Dela.
Sementara di luar, Zea sudah menatap tajam sang kakak. Menuntut penjelasan kenapa Dela sampai masuk ke rumah sakit?
"Dia melihat Auriga tidur dengan Riana," celetuk Jimi, yang keluar dari ruang rawat Dela.
"Apa?" pekik Zea, langsung menatap tajam sang kakak.
"Gila kamu ka, istri lagi hamil malah jajan." Kesal Zea.
"Aku dan Riana gak melakukan itu, dia menjebak ku." Jelas Auriga.
"Lalu kenapa dia ada di apartemen?" tanya Zea.
Auriga pun menjelaskan semuanya, tanpa ada yang di tutupi. Pada Zea, Keanu dan Jimi.
"Aku yakin, Yumna akan membawa Dela ke rumahnya." Celetuk Keanu.
Auriga langsung menatap tajam Keanu, tak pernah bisa di bayangkan jika nanti dia berjauhan dengan Dela. Apalagi mengingat Lula dan Ara, sangat menyayangi Dela pasti mereka langsung memusuhi Auriga.
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri gimana Dela, dulu saja kalian di tentang. Jika bukan karena Dela marah," sambung Keanu dengan acuh.
"Sayang, malah nakutin ka Riga." Bisik Zea.
"Biarin sekali-kali," kekeh Keanu dengan berbisik pula.
Jimi menggeleng menatap Zea dan Keanu, lalu beralih menatap Auriga.
"Sekarang kamu bereskan Riana, tunjukan Auriga yang dulu. Yang tak punya hati," ujar Jimi.
"Ya itu pun kalo kamu masih mau sama Dela," lanjutnya lagi.
Auriga nampak berpikir lalu mengangguk.
"Baiklah, aku titip Dela." Kata Auriga, lalu dia melangkah meninggalkan ruang tunggu perawatan Dela.
"Mau ke mana dia dad?" tanya Zea menatap Jimi.
"Melakukan apa yang dia lakukan," jawab Jimi.
"Apa dia akan membunuh," celetuk Keanu.
"Heh... Mana mungkin ka Riga melakukan itu," protes Zea, langsung mencubit sang suami.
Keanu masih ingat dulu saat awal pernikahan dengan Zea yang tak harmonis, lalu Keanu berhubungan dengan Yumna. Auriga mengancam Yumna saat mereka pacaran diam-diam.
Berita Dela masuk ke rumah sakit di Bandung pun sampai pada Dika, saat tak sengaja Jenny melihat status milik Zea yang menampilkan ruangan tunggu sebuah rumah sakit.
"Kenapa Dela?" tanya Dika pada Jenny, kini mereka sedang berbaring di kamar.
Dika membawa sisa pekerjaannya, untuk di kerjakan di rumah.
"Entahlah, Dela pun tak menjawab." Sahut Jenny merasa khawatir.
"Sebentar aku tanya ka Yumna."
Dika meraih ponselnya, dan menghubungi sang kakak.
"Ada apa Dika?" tanya Yumna di sebrang telepon.
"Apa kakak tahu, kalo Dela di rumah sakit? Atau dia sedang sakit?" tanya Dika.
"Di rumah sakit?"
"Iya, memang gak tahu? Keluarga Auriga gak ngasih tahu?" cerca Dika.
"Engga kakak gak tahu apa-apa, Dela kan di Bandung." Sahut Dela.
"Ehh... Sebentar biar kakak tanya dulu."
Sebelum Dika bicara, sambungan telepon sudah di putus secara sepihak oleh Yumna. Membuat Dika berdecak kesal, selalu begitu jika menelepon kedua kakak kembarnya.
"Bagaimana?" tanya Jenny.
"Ka Yumna gak tahu, dia tahunya Dela di Bandung. Mudah-mudahan dia baik-baik saja."
Jenny mengangguk sebagai jawaban, dia mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Aku ingin foto maternity," cetus Jenny.
"Kita akan melakukannya, setelah usia kandungan mu tujuh atau delapan bulan." Jawab Dika.
Membuat Jenny tersenyum bahagia, dia akan membuat foto kenangan bersama sang anak. Walau masih dalam kandungan.
"Jika aku pergi, mudah-mudahan kamu mendapat ibu yang baik. Dan menyayangi kamu nak," doa Jenny dalam hati.
__ADS_1
Jenny melirik ke arah Dika yang sedang memeriksa pekerjaannya, dan tersenyum.
***