Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.37


__ADS_3

Jika yang lain sibuk berada di ruang perawatan Dela, maka berbeda dengan Jimi dan Sekar yang menunggu di kantin rumah sakit bersama Adam dan Lilya yang sedang menikmati makan siang mereka. Makanan di kantin rumah sakit ini sudah bergizi sehat, dan ada khusus anak-anak.


Jimi dan Sekar duduk dalam kecanggungan sesekali mereka saling pandang, lalu Sekar menunduk karena risih dan malu di perhatikan oleh lelaki.


"Suami kamu kemana Sekar?" tanya Jimi basa basi.


"Suami saya, sudah tidak ada." Jawabnya.


"Oh... Maaf,"


"Tidak apa-apa."


Hening kembali tercipta di antara mereka, hanya celotehan Adam dan Lilya yang mendominasi. Cinta pada pandangan pertama, yang di rasakan oleh Jimi pada Sekar. Entah Sekar bagaimana padanya.


"Aduh... Apa aku tembak aja langsung ya? Aku benar-benar gugup, kaya anak 17 tahun baru mengenal cinta saja." Keluh Jimi dalam hati.


"Kamu mau jadi istri ku?" celetuk Jimi, membuat Sekar terkejut.


"Ehh..."


Sekar menatap Jimi yang menutup wajahnya dengan tangan, Sekar hanya bisa tersenyum menatap tingkah mertua dari Dela.


"Maaf Sekar, lupakan saja." Kekeh Jimi.


Namun Sekar tak menjawab dia hanya tersenyum tipis, lamaran spontan tadi membuat jantungnya berdebar dengan cepat seperti habis lari marathon.


***


Auriga sendiri dia sudah mendatangi hotel tempat Riana menginap, dia akan memberi pelajaran pada wanita itu. Karena berani bermain-main dengannya, dia bisa mentolerir semua tingkah Riana karena masih menghormatinya. Tapi sekarang tidak, hubungannya dengan Dela akan berantakan jika di biarkan, Auriga tahu bagaimana sifat Yumna sekarang.


"Kenapa mengajak ku bertemu? Ahh... Aku tahu, kamu merindukan aku kan?" ucapnya menggoda, namun Auriga menatap Riana dengan datar.


"Aku hanya ingin memperingati mu, jika kamu macam-macam lagi. Jangan harap hidup di muka bumi ini," tegas Auriga.


Membuat Riana tersenyum sinis, menatap mantan kekasihnya tersebut.


"Jika kamu bisa maka lakukan."


"Kamu belum tahu, siapa aku."


Setelah mengucapkan kata tersebut, Auriga beranjak dari duduknya. Dan menelpon seseorang.

__ADS_1


"Lakukan apa yang aku minta sekarang," perintahnya di sebrang telepon.


Dulu Auriga memang kejam dan tegas pada semua orang, tapi rasa peduli pada Riana dengan alasan dia mantan. Membuatnya hampir kehilangan Dela dan kedua calon anaknya.


Setelah kepergian Auriga, Riana mendapatkan telepon bahwa dia harus segera kembali bekerja. Atau dia akan di pecat secara tidak hormat.


"Apaan mereka? Bukannya aku sudah mengajukan cuti." Kesal Riana, dia dengan terpaksa berkemas dan pergi meninggalkan kota Bandung.


Dika menatap Jenny yang sedang di periksa oleh Alzeta, Alzeta mengungkapkan bahwa penyakitnya bisa menyebar ke alat vital lainnya.


"Apa yang harus kami lakukan dok?" tanya Dika.


"Satu-satunya cara Jenny harus di kemo, tapi itu membahayakan kandungannya juga." Ujar Alzeta, membuat Dika menghela napas dengan pelan.


Dika yakin Jenny akan menolak, demi keselamatan sang anak yang berada dalam kandungannya.


"Aku tidak mau di kemo Zeta," tolak Jenny.


"Tapi Jen..."


"Aku mohon Zeta, aku tidak mau." Isak Jenny.


Dan Dika dengan sigap memeluk Jenny yang menangis.


"Aku akan membawa mu ke Singapura." Lanjutnya lagi, Jenny pun hanya pasrah saja dan menurut pada Dika.


***


Sore harinya Dela sudah di perbolehkan pulang, dan Anyelir pun masih setia berada di ruang rawat Dela. Apalagi ada Yumna, Anyelir selalu lupa waktu membicarakan banyak hal dengan Yumna dan Sekar.


Saat pukul dua siang, Zea datang membawa cemilan yang dia buat. Auriga sendiri tengah mengurus administrasi, agar Dela bisa segera pulang.


"Aku pulang dulu Del, ini sudah sore." Kata Anyelir.


"Lagian Adam dan Lilya pasti sudah lelah," lanjutnya.


"Ya sudah kalau begitu, biar daddy yang antar saja. Iya kan dad?" tanya Dela.


Membuat Zea curiga pada senyum tengil Dela, seolah Dela merencanakan sesuatu. Dan juga dengan tingkah Jimi yang langsung salah tingkah, saat melihat ke arah Sekar.


"Si daddy mencurigakan," bisik Zea dalam hati.

__ADS_1


"Tidak usah, takut merepotkan Tuan Jimi. Lagian kamu hari pulang kan? Tidak ada yang menemani," ujar Anyelir.


"Jangan khawatir Anye, masih ada aku dan Zea." Sahut Yumna, sepertinya dia melihat gelagat aneh pada Jimi yang selalu curi pandang pada Sekar.


Anyelir pun bingung, dia menggaruk rambutnya tak gatal. Ingin menolak pun tak enak pada Zea, tapi jika menerima apa Sekar mau.


"Duh gimana nih, mbak Sekar malah diem aja. Gak lihat apa tatapan lekat Zea," bisik Anyelir dalam hati.


"Gimana mbak mau di antar Tuan Jimi?" tanyanya pada Sekar.


"Ahh... Itu, boleh." Jawabnya malu-malu.


"Baiklah ayok," ajak Jimi semangat.


Anyelir dan Sekar berpamitan pada semua orang, Adam dan Lilya pun merasa tak rela jika harus berpisah dengan Ara dan Lula.


"Hati-hati Adam, nanti main lagi yah!" ujar Ara.


"Iya, bye Ara." Pamit Adam.


Setelah kepergian Anyelir dan Sekar, Zea menatap Dela yang sedang makan buah apel. Dela pun menatap balik Zea.


"Ada apa?" tanya Dela.


"Aku curiga sama kamu dan daddy, kalian merencanakan sesuatu ya?" tebak Zea.


Membuat Dela tertawa, tak segera menjawab Dela dengan santai memasukan apel. Yang sudah di kupas oleh Yumna, yang diam-diam mendengarkan. Sekedar memberitahu Bara dan Keanu sedang ngopi di cafe.


"Idih... Malah ketawa nih anak, bukannya kasih tahu." Omel Zea.


"Nanti daddy yang akan kasih tahu, tapi ka Ze. Gimana kalau kaka punya ibu baru?" tanya Dela.


"Apa? Ibu baru?" pekik Zea.


Zea nampak berfikir, dia menebak jika Jimi sedang jatuh cinta.


"Ya gak papa sih, selagi orangnya baik. Dan mau nerima daddy apa adanya, lagian aku rasa daddy kesepian." Papar Zea, membuat Dela mengangguk.


"Jadi siapa yang di taksir daddy?" tanyanya pada Dela.


"Kepo," kekeh Del, langsung mendapatkan tatapan tajam

__ADS_1


Zea cemberut dan tak bertanya lagi pada Dela, dia akan bertanya langsung pada Jimi siapa wanita yang berhasil merebut hatinya. Yang sudah lama mati, dan dingin dari yang namanya wanita.


***


__ADS_2