Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.27


__ADS_3

Sejak kecil Tara selalu bersama Jenny walau jika siang, Jenny harus pergi sekolah. Setelah Jenny tumbuh dewasa, waktu untuk bersama Tara sedikit. Sehingga Tara menghabiskan waktu, bersama Bibi Maura dan perawat yang selalu menangani dirinya.


Ada dalam lingkungan keluarga Dika, membuat Tara bahagia. Dia merasakan kembali kasih sayang seorang ibu, ayah dan kakak dari Yumna dan Yusra. Serta teman menggambar Lula, Ara dan Tatiana. Yang sejak tadi, fokus membuat gambar.


"Wah... Gambar kalian bagus," puji Yusra, yang duduk di sisi Tatiana.


"Iya dong tante, apalagi Tiana. Dari kecil senang gambar," ungkap Tiana.


"Iya tante tau, Ara sama Lula juga pintar. Warnanya cantik,"


"Ka Tara yang mengajari ku warna tante," jelas Lula.


"Oke, simpen dulu sekarang kita makan siang dulu." Ajak Yusra, di jawab anggukan oleh mereka. Membuat mereka kompak tertawa.


Makan siang di rumah Jenny dan Tara, sungguh membuat Jenny bahagia. Dia bisa merasakan kehangatan keluarga, di bawah meja Jenny mengusap perutnya.


"Kamu beruntung nak, jika nanti lahir banyak yang sayang kamu. Jika mommy tidak ada," bisik Jenny dalam hati, kemudian dia mengerjapkan matanya agar air mata tak turun.


"Kamu harus makan yang banyak nak, agar calon anak mu sehat." Ujar Laura, dia memberikan piring berisi lauk pauk yang lengkap.


Bibi Maura pun menaruh satu gelas susu hamil untuk Jenny, Jenny terharu menatap semua anggota keluarga barunya. Dia juga melirik Tara, yang di perlakukan baik oleh Yusra dan Yumna.


"Maira tidak datang ka?" tanya Jenny.


"Dia belum pulang sekolah lah," balas Yusra, di jawab anggukan Jenny.


****


Sementara itu Dela, sudah keluar kamar karena lapar. Dia tahu tidak ada orang di rumah, hanya ada asisten rumah tangga.


"Nona?" panggil Mala.


"Mbak Mala, bikin kaget saja."


Mala hanya tersenyum, dia sudah cukup lama bekerja di rumah Mario.


"Anda perlu sesuatu?"


"Aku lapar mbak, ada makanan?"


"Ada tapi harus di panas kan dulu, kenapa gak ikut ke rumah den Dika?" tanya Mala, menuju dapur di ikuti Dela.


"Lagi bad mood," jawabnya duduk di meja pantry, sambil mengupas buah naga.


"Mbak tolong bikinin jus alpukat yah," pinta Dela.


"Baik."

__ADS_1


Dela memperhatikan Mala yang sedang memanaskan makanan, dan membuat jus alpukat. Usianya tak muda lagi, tapi Mala sangat rajin dan gesit dalam bekerja. Dia sudah menikah, dan suaminya bekerja di kantor Mario sebagai security. Dan memiliki dua anak remaja, yang kini kelas tiga SMP.


"Mbak Mala, kenapa belum pensiun?" tanya Dela kepo.


"Cepat bosan nona, malah kalau diam saja badan malah sakit." Kekeh Mala.


Mala meletakan jus Alpukat, dan menata makanan yang sudah dia panaskan. Dela menggumamkan terima kasih, dia menatap hidangan di meja.


Sea food dan telur dadar, dan satu piring nasi merah.


"Mbak Mala sini, temani aku makan." Pinta Dela.


Mala pun menurut dan duduk di hadapan Dela, ikut makan juga. Tak enak menolak bumil satu ini, mereka pun berbicara masa lalu Yumna dan Yusra. Dan mengisahkan Laura, yang meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak.


***


Auriga sungguh cemas, saat ponsel masih belum bisa di hubungi. Auriga terus melihat keluar jendela, berharap mobil sang istri datang.


"Kamu dimana sayang?"


Dia pun memutuskan untuk mencari Dela, ke rumah Yumna. Perjalanan ke rumah Yumna, memakan waktu kurang lebih dua jam perjalanan. Sayang sesampainya di sana, tak ada siapa pun di rumah mereka.


"Kenapa Dika tidak memberitahu ku?"


"Atau ada yang aku lewatkan," sambungnya lagi.


"Tuan," sapa Mala, dan kebetulan saat itu Mala sedang menemani Dela yang berada di taman belakang setelah makan siang.


"Mau jemput nona Dela?" tebak Mala, saat melihat Auriga menatap ke dalam.


"Dela? Dia ada disini?"


"Iya, sejak tadi dia di sini. Dia tak ikut ke rumah Den Dika, karena sedang tak ingin." Jelas Mala.


"Masuk Tuan," sambungnya.


Auriga pun masuk, dan tak ada keramaian di rumah Laura. Tapi dia tak peduli, toh dia sudah menemukan Dela.


"Mala... Sedang apa Dela di halaman belakang?" tanya Auriga, mengikuti langkah Mala.


"Sedang menatap bunga mawar tuan, katanya moodnya jelek," kekeh Mala.


"Wajar hamil muda memang begitu," oceh Mala.


Dia pun meninggalkan sepasang suami istri yang sesungguhnya dalam sedikit masalah, memberikan kesempatan untuk berbicara.


"Mbak Mala siapa yang datang...."

__ADS_1


"Oh... Kamu, kenapa disini? Bukannya ada di rumah istri muda yah?" cerca Dela, membuat Auriga menautkan kedua alisnya menatap Dela.


Apa maksudnya istri muda? Auriga pun duduk di sisi Dela.


"Kamu istri muda ku sayang," goda Auriga, namun Dela memutar bola mata malas.


Melihat sang istri yang hanya diam saja, Auriga pun menggengam tangan Dela.


"Kamu kenapa hem?"


"Gak papa kok," ketus Dela.


"Yakin gak papa?"


"Buat apa pulang? Aku gak butuh kamu, kamu berduaan saja sama wanita lain." Keselnya.


"Karena rindu," jawanya, Dela terkekeh menatap Auriga.


"Rindu kamu bilang? Buat apa? Rindu orang gemuk kaya aku? Jika sudah me dapatkan yang lain?"


"Dela apa maksud mu?" tanya Auriga.


Dela melemparkan ponselnya ke hadapan Auriga sebelum bertanya lagi, beruntung ponsel dan meja tersebut kuat. Jadi tahan terhadap bantingan, tadi saat dia mengaktifkan ponselnya. Ada salah satu pesan masuk, dari nomor asing. Dia mengirim sebuah foto Auriga yang terlelap di sebuah kamar. Tak lupa, di foto tersebut terdapat pajangan foto Riana.


Awalnya Dela mencoba menghubungi nomor tersebut, namun tak aktif. Tak lama, dia mendapati pesan bahwa akan merebut Auriga. Karena Auriga dan dirinya, saling cinta dan mereka dulunya adalah pasangan kekasih. Membuat Dela geram pada akbirnya, dia pun tak bisa marah.


"Sayang aku bisa jelaskan," kata Auriga.


"Jelaskan apa? Apa itu kurang jelas? Aku lihat kamu di jalan, lalu kamu menginap di tempat wanita lain. Sementara aku di rumah nunggu kamu, dengan menahan lapar." Cetus Dela, dengan menahan air matanya.


"Sayang aku bisa jelaskan," bujuk Auriga.


"Apa kamu anggap aku, hanya pengasuh anak mu dan pemuas nafsu mu?" lirih Dela.


"Dela hilangkan pikiran buruk mu," ucap Auriga dingin.


Dela menatap Auriga, dia memang mencintai laki-laki di depannya ini. Dia bukan wanita lemah atau bodoh, dia bisa melawan siapa pun yang mengganggu dirinya.


Dela memalingkan wajahnya, membuat Auriga menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia harus bicara selembut mungkin, Dela sedang hamil dia tak ingin membuat bayi dalam kandungannya stress. Jika Dela tertekan dan banyak pikiran.


"Dela sayang, aku mohon dengarkan aku. Dia bukan siapa-siapa, semalam saat aku pulang dia meminta tolong dari kejaran preman. Dan maaf tak memberikan kabar, karena aku benar-benar lupa." Papar Auriga.


Dela menatap dalam Auriga, mencoba mencari kebohongan lewat matanya. Namun hanya ketulusan, dan cinta yang dia dapatkan.


"Maafkan aku, aku janji akan memberitahu mu jika pulang telat,"


tbc...

__ADS_1


semoga suka gak ngebosenin buat kalian, maaf jika ada typo udah ngantuk 🤭


__ADS_2