
Beberapa bulan berlalu, Ameera jarang datang ke rumah Dika. Dia selalu bertukar kabar dengan Anyelir lewat pesan, atau panggilan video.
Kini Melinda dan Axel mempersiapkan pesta gender reveal sekaligus syukuran rumah baru mereka, usia kandungan Melinda kini memasuki usia enam bulan. Semua keluarga besar Axel dan Melinda akan hadir di pesta tersebut, Melinda pun mengundang Ameera dan Azriel mereka mau datang atau tidak? Itu urusan Ameera, yang penting Melinda sudah mengundang adik tirinya tersebut.
"Melinda," pekik Miska.
"Jangan lari-lari Miska, nanti terpeleset." Tegur Melinda, karena kini Melinda tengah di taman belakang dekat kolam. Rumah yang baru di beli beberapa minggu yang lalu, Axel mempersembahkan rumah tersebut untuk anak kembarnya.
"Maaf," kekeh Miska, langsung memeluk sang sahabat yang di rindukannya.
"Rumah mu bagus, dan sejuk lagi." Celetuk Miska.
"Gue gitu yang milih," ujar Melinda dengan bangga, membuat Miska memutar bola mata malas.
"Oh... Ya, nanti kalo udah nikah. Kamu cari perumahan di sekitaran sini saja." Saran Melinda, membuat Miska mencebik.
"Ya kalo suami gue, sultan kaya laki lo. Gue sih dengan senang hati bakal cari di sini," imbuh Miska.
"Ya cari dong yang sultan," kekeh Melinda.
"Dasar lo nyebelin," kesal Miska.
Mereka pun banyak bercerita tentang kehamilan Melinda, pekerjaan dan Aaron adik dari Melinda. Hanya satu yang tak di katakan pada Melinda tentang Aaron, yang selalu membuatnya repot.
"Hati-hati nanti jatuh cinta," goda Melinda.
"Dih mana ada, dia terlalu muda buat aku." Ujar Miska.
"Eh... Muda-muda gitu bisa bikin anak kecil loh,"
"Ihh... Apaan sih Mel."
"Lihat pipi mu merah," kekeh Melinda.
Miska kesal karena Melinda terus saja menggodanya, tak taukah Melinda jika saat ini jantungnya berdebar dua kali lipat dari biasanya.
"Kayanya aku butuh dokter spesialis jantung deh!" celetuk Miska.
"Maksudnya?" tanya Melinda tak mengerti.
"Ehh... I-itu anu, gak apa-apa. Maksudnya jantung pisang kayanya enak deh," jawab Miska asal.
"Jantung pisang? Memang kamu suka?"
"Engga sih, tapi aku tadi lihat di televisi lagi masak jantung pisang gitu."
Melinda mengerutkan kening, dengan jawaban asal Miska. Menurutnya jawaban sang sahabat sudah ngawur.
__ADS_1
"Sudahlah, ayok kita ke dalam. Aku mau siap-siap soalnya," ujar Melinda, mencoba berdiri tapi kesulitan.
Miska yang paham pun dengan sigap, membantu Melinda berdiri. Miska sangat suka mengelus lembut perut Melinda, yang menurutnya sangat besar tersebut.
"Kayanya anak kamu besar Mel, lihat saja perut mu besar banget."
"Ya namanya hamil kembar, beda sama yang hamil satu." Jelas Melinda, membuat Miska tertawa. Miska terus saja bercerita tentang Aaron yang menyebalkan, Miska tidak tahu saja bahwa Aaron sudah sampai di kediaman Melinda.
Dia ingin sampai lebih dulu karena merindukan sang kakak, tapi dia mendengar semua perkataan Miska pada Melinda yang menyebutnya menyebalkan.
"Awas nanti kamu jatuh cinta," celetuk Melinda, kini sudah sampai di kamar bawah. Karena Axel tak ingin Melinda bulak-balik ke kamar atas, agar tak membuatnya lelah.
"Hii... Gak akan," ujar Miska percaya diri, dan Aaron pun mendengar itu tersenyum miring. Dia memiliki ide untuk membuat Miska jatuh cinta padanya, tak masalah jika dia seumuran dengan sang kakak.
"Ka Mel," panggil Aaron, membuat Miska menghentikan pembicaraannya tentang Aaron. Membuatnya jadi salah tingkah, dan ingin keluar dari kamar tapi Melinda menahannya.
"Awas aja kamu Mel," geram Miska dalam hati, Melinda hanya mengulum senyum menatap Miska.
"Aaron." Melinda merentangkan tangannya, meminta Aaron masuk ke dalam pelukannya.
Aaron pun menurut, walau terhalang perut Melinda.
"Apa kabar ka? Aku kangen banget," ujarnya, pasalnya Aaron di sibukkan oleh kuliah dan daftar perkuliahan. Jadi dia tak sempat untuk bertemu sang kakak, bahkan dengan Ameera pun tidak.
"Baik, makin tampan saja. Nanti ada yang naksir loh!" goda Melinda.
"Oh.. ya maaf ka, aku belum bisa ngasih hadiah buat calon ponakan aku. Nanti saja kalo mereka sudah lahir," papar Aaron.
"Gak apa, santai saja. Kamu datang pun kakak seneng kok," jelas Melinda.
"Kamu udah makan?" tanyanya lagi.
"Belum kebetulan, balik dari kantor langsung ke sini." Beritahu Aaron.
"Ya sudah mandi dulu sana, terus makan. Kalo mau bareng nanti saja kalo semuanya udah kumpul," papar Melinda, Aaron pun hanya mengangguk.
Lalu dia keluar dari kamar Melinda, menuju kamar tamu yang tepat di sebelah kamar Melinda. Miska menghela napas dengan pelan, setelah Aaron keluar dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa sih?" kekeh Melinda.
"Nyebelin kamu Mel, kamu sengaja kan tadi?" tanya Miska curiga.
"Sengaja apa coba," Melinda menggeleng lalu membaca pesan dari Axel, sebentar lagi dia akan pulang.
"Aku mandi dulu yah, kamu mau tunggu dimana?"
"Aku tunggu di halaman belakang saja lah, sambil lihat yang kerja." Sahut Miska.
__ADS_1
"Oke."
.
.
.
.
Tepat pukul empat sore, acara Gender Reveal akan segera di mulai. Para tamu mulai berdatangan, kebanyakan dari mereka adalah keluarga dari Melinda dan Axel.
"Melinda," pekik dua orang pemuda yang Melinda kenal, siapa lagi kalau bukan Rakai dan Ceilo.
"Rakai, Ceilo."
Rakai dan Ceilo memeluk Melinda dengan erat, mereka baru saja kembali dari luar negeri menyelesaikan studi mereka.
"Aku kangen," seru Melinda, Axel tak cemburu dia tahu siapa mereka. Mereka putra dari Auriga dan Dela.
"Aku juga, hebat kamu. Gue balik kamu udah mau punya anak aja kembar pula," sahut Rakai.
"Kalian terlalu lama di Negara orang, heumm aku curiga jangan-jangan ka Dela bakal punya calon mantu juga yah?" tebak Melinda, menatap Dela dan Auriga yang sejak tadi berada di belakang dua putra tampannya. Sedangkan Lula dan Ara berada di samping Dela dan Auriga.
"Engga yah," sangkal Ceilo.
Melinda lalu memeluk Dela, Auriga, Ara dan Lula. Keluarga besar Melinda dan Axel pun sudah mulai berkumpul, dan mereka berbincang sebentar untuk melepas rindu pada yang jarang di temui.
Acara di mulai, dan pembawa acara memberikan beberapa kata sambutan. Untuk para tamu undangan yang hadir, pembawa acara tersebut memberitahu bahwa acara ini sekalian dengan syukuran rumah baru milik Melinda dan Axel.
Melinda menatap Axel dengan mata binar penuh cinta, dan kini pasangan suami istri tersebut sudah berada di meja yang terdapat kotak berwarna hitam dan balon hitam besar. Yang jika di tusuk, akan memunculkan warna biru atau pink sesuai jenis kelamin bayi yang di kandung oleh Melinda.
Pembawa acara pun menghitung mundur untuk Melinda dan Axel memecahkan balon tersebut, semua antusias dan tak sabar.
"Oke, kita mulai yah! Ayok kita hitung bersama."
"1,2,3. Tusuk," seru semua orang.
Melinda dan Axel pun menusuk balon tersebut, dan berjatuhan balon-balon kecil berwarna biru. Artinya bayi yang di kandung oleh Melinda adalah laki-laki, tak hanya satu ada dua bayi di dalam kandungan Melinda saat Melinda membuka kotak berwarna hitam. Yang ternyata adalah cake, yang berwarna biru dengan dua patung bayi di atasnya.
Dika maju dan memeluk sang anak dengan sayang, Alderik merasa bersyukur jika Dika tak melakukan apa yang dia lakukan dulu pada sang anak.
Dari kejauhan Ameera menatap nanar pesta yang sangat meriah tersebut, seharunya dia pun melakukan pesta tersebut. Tapi karena kejahatannya anaknya jadi korban dirinya, Ameera mengusap kasar air mata yang mengalir tanpa permisi.
****
Semoga suka, maaf typo 💜
__ADS_1