
Keesokan paginya di kamar pengantin baru, Jenny tak pernah merasakan tidur senyeyak dan senyaman ini. Biasanya, dia selalu gelisah jika tidur dan selalu merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Karena jam tidurnya sedikit.
Jenny mengerjapkan matanya, menatap sekeliling dan menatap ke samping. Mendapati Dika, yang tengah terlelap dengan wajah damai. Mengelus lembut, pipi sang suami.
"Kamu tidur aja ganteng," gumam Jenny, dia masih tak menyangka bahwa kini dia sudah menjadi Nyonya Wiriadinata.
Tapi jika dia teringat akan Anyelir, wajahnya langsung berubah sendu. Dan rasa bersalah menelusup hati terdalamnya, Jenny sekali lagi melirik Dika. Dia pun menatap jam di ponselnya, menunjukan pukul setengah enam.
Ada pesan masuk dari Tara, yang mengatakan dia akan pulang ke rumah setelah sarapan bersama.
"Lebih baik aku mandi dulu,"
Jenny beranjak dari ranjang, dan melangkah masuk ke kamar mandi. Lima menit Jenny di kamar mandi, Dika pun terbangun. Dia pun sama menatap ke sekeliling, dan mendengar gemercik air.
Tak membutuhkan waktu lama Jenny, sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. Yang di belit sebatas dada, dia sempat menggerutu karena tak ada bathrobe. Dan menggulung rambutnya yang basah, sementara Dika sedang menikmati sejuknya cuaca pagi.
Membuat Jenny bernapas lega, pasalnya Dika tak menoleh padanya. Jika Dika menoleh, Jenny pasti bakal salah tingkah.
"Kamu sudah selesai?" tanya Dika berjalan masuk, membuat Anyelir panik.
"Ah-ah iya sudah," jawabnya dengan gugup.
"Kenapa? Kamu malu? Kenapa harus malu? Aku suami mu Jen, semalam siapa yang menawarkan diri?" goda Dika.
Jenny memejamkan matanya, sungguh dia merutuki kebodohannya. Jenny merasakan langkah kaki Dika, saat mendekat. Dika mengusap tengkuknya membuat Jenny meremang.
"Di-Dika." Lirih Jenny.
"Kenapa hem?" bisik Dika, entah mengapa dia pun menjadi seperti ini. Berhasrat, mungkin ini masih pagi atau Jenny sudah sah menjadi. Istrinya, begitu pikir Dika.
__ADS_1
Dika memeluk Jenny dari belakang, membuat Jenny meremas handuknya sekaligus menahannya agar tak jatuh.
"Jen, kamu benar mau memberikannya sekarang?" tanya Dika.
"I-iya, aku siap." Jawab Jenny, walau ada rasa takut menghinggapi dirinya.
Dika menggendong Jenny, lalu membaringkannya. Dia menatap wajah Jenny, yang memang terlihat cantik.
Dika mencium kening, pipi dan terakhir bibir Jenny, yang sering berkata jahat.
Jenny terbelalak mendapati ciuman, ini ciuman pertamanya. Dan Dika mengetahui itu, terlihat dari kakunya Jenny saat membalas ciuman darinya.
Jenny menahan dada Dika, kini handuk Jenny sudah entah dimana.
"Ada apa?"
"Yang lain, menunggu kita sarapan."
Bibir Jenny dan Anyelir yang tak ada bedanya, Dika pun menggeleng, saat dia mengingat Anyelir.
Lalu dia beralih pada dua benda kenyal, yang selama ini terus menganggunya. Sebab Dika selalu melihat, Jenny tampil terbuka di area dada.
Tapi nanti dia akan meminta Jenny, untuk berpenampilan tertutup.
Setelah puas dengan dua bukit kembar, yang kini penuh tanda merah cap Dika. Dika mulai meraba, daerah kewanitaan Jenny yang sudah mulai basah.
"Kamu sudah basah sayang," ucap Dika terdengar berat, menambah kesan seksi bagi Jenny.
Jenny sendiri sudah kehilangan kata, semua terasa nikmat. Dika pun membuka semua pakaian yang menempel di tubuhnya, kini mereka sama-sama polos. Jenny tersipu malu, melihat adik kecil Dika yang sudah bangun.
__ADS_1
"Aku mulai yah? Aku sudah tak tahan,"
"Ya lakukanlah, aku milik mu Dik." Jawab Jenny tanpa ragu.
Dika pun mengangguk, lalu melakukan kembali pemanasan agar gairah Jenny bangkit lagi. Sementara itu, adik kecil Dika sudah menempel di gerbang milik Jenny.
Sekali hentakan adik kecil Dika masuk, membuat Jenny menjerit merasakan sakit. Seperti robekan yang sangat besar, Jenny membuang napas ke udara.
Namun Dika langsung membungkam dengan ciuman yang sangat panas.
****
Sementara itu di meja makan hotel, semua anggota keluarga sudah berkumpul dan menanti Dika dan Jenny.
"Sudahlah opah, makan aja. Kaya gak pernah muda aja," celetuk Dela, moodnya masih jelek.
"Dela." Tegur Bara.
"Kenapa sih ayah? Memang benarkan? Aku sudah lapar, kalian lupa aku sedang hamil." Omel Dela.
"Dela sayang," Auriga mencoba menenangkan Dela, namun dia menepis tangan Auriga.
Yumna dan Yusra saling tatap, ada yang tak beres dengan Dela. Namun mereka tak hanya diam saja, tak etis bertanya di meja makan.
"Sudah-sudah, opah minta maaf. Opah lupa kamu sedang hamil, ya lebih baik kita mulai makan saja." Ujar Mario, di jawab anggukan oleh semua orang. Termasuk keluarga Alderik, yang ikut menginap di sana.
Harusnya Dela ikut bergabung dengan Maira, dan anak-anak lainnya. Tapi dia dalam mood yang tidak baik, mana bisa di tolak.
Auriga pun meminta maaf pada semuanya, dan mereka memaklumi karena Dela sedang hamil muda.
__ADS_1
tbc...
Semoga suka maaf typo, jangan lupa tinggalkan jejak makasih 🙏💜