Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.23


__ADS_3

Pukul sembilan pagi, semua keluarga Mario dan Alderik sudah chek-out dari hotel tempat melangsungkan pernikahan.


"Mereka benar-benar gak turun?" tanya Yumna.


"Sudahlah, kaya yang gak pernah ngalamin aja. Malah Bara, lebih muda dari kamu kan? Pasti staminanya power full pas malam pertama," goda Yusra.


Dan langsung mendapatkan sikutan di perutnya, membuat Yusra meringis.


"Ingat kalian sudah hampir akan punya cucu, jangan berantem. Kaya anak kecil saja," omel Hito.


"Heh.. itu kan ka Yumna, bukan aku. Tapi iya sih nanti cucu Dela bakal jadi cucu ku juga," kekeh Yusra.


Mereka pun berpisah di basment hotel, sementara Yumna memutuskan untuk mampir dulu ke rumah Dela.


Sementara itu di kamar pengantin, Jenny dan Dika baru saja menyelesaikan ritualnya untuk ronde ke dua.


"Maaf harus membuat mu, mandi lagi." Kata Dika.


"Tidak apa-apa," balas Jenny tersenyum.


Rasanya nyaman sekali, berada dalam dekapan sang suami. Jenny selalu ingin selamanya seperti ini.


"Kamu gak lapar?" tanya Dika.


"Lapar sih, tapi itu ku masih sakit. Perih banget," ungkap Jenny dengan malu.


"Maaf aku terlalu kasar ya," kekeh Dika.


Jenny hanya menanggapi dengan senyum tipis, Dika turun dari ranjang dan memakai boxernya saja. Lalu meminta Jenny duduk, dan menggendong Jenny ke kamar mandi.


Jenny sungguh malu, namun dia tak peduli. Toh Dika sudah melihat semuanya.


****


Anyelir sendiri, dia sudah membuka warung makan sederhana miliknya. Dan tak lupa, Axel selalu ada di dekatnya atas perintah Dika.


"Axel?" sapa Anyelir.


"Hai Cinta!"

__ADS_1


"Pagi-pagi sekali udah di sini?"


"Iya aku harus membersihkan penginapan, karena ada yang mau menginap." Jelas Axel, membuat Anyelir mengangguk.


"Jadi kerjaan kamu, selain jualan. Jaga villa?"


"Ya, milik ibu. Investasi masa tua," kekehnya, membuat Anyelir mengangguk saja.


Axel memang tak bohong, ada beberapa penginapan milik sang ibu yang dia kelola. Dan usaha jualan milik sang ibu, kebetulan Dika memerintahkan dirinya mencari Anyelir. Dan mendapati dirinya, di sekitar usaha milik ibunya. Selain menjadi bodyguard, mata-mata. Axel bekerja di perusahaan Mario, sudah lama mungkin saat dia lulus kuliah langsung kerja. Karena pada saat praktek lapangan, kebetulan dia menjadi sekretaris Mario.


"Ya sudah, aku masuk dulu. Harus masak," ucap Anyelir, membuyarkan lamunan Axel.


"Iya, kapan-kapan aku mampir minta makan." Goda Axel.


Anyelir pun tertawa.


"Ya boleh saja," balas Anyelir.


Anyelir masuk ke dalam, karena Sekar sudah memanggil. Axel memperhatikan Anyelir yang menurutnya memang cantik, tak kalah dari Jenny. Anyelir memiliki senyum manis, kulit sedikit putih bersih walau tanpa make-up Anyelir tetap cantik.


"Kalo gue jatuh cinta, gue harus izin dulu sama bos Dika." Gumam Axel.


Axel pun mengibaskan tangannya, dan jangan berharap yang belum pasti. Karena Anyelir milik Dika, bosnya. Jodoh siapa yang tahu.


"Kenapa bunda kesini?" tanya Dela, masih dalam mode badmood.


"Loh! Memang kenapa? Bunda cuma mau lihat rumah baru, anak bunda kok." Balas Yumna.


Auriga pun mengajak Yumna dan Bara masuk, sementara Tatiana. Sudah di tarik Ara dan Lula, menuju kamar mereka.


"Aku buat minum dulu," kata Auriga, di jawab anggukan Dela.


Setelah Auriga tak terlihat, Yumna menatap tajam sang anak. Membuat Dela salah tingkah, dan tertawa sendiri.


"Maaf bun, tadi aku sebel sama Auriga." Ujar Dela, kini dia sudah duduk di dekat Yumna.


"Kenapa ada masalah?"


"Aku lihat dia, di peluk cewek. Makanya aku kesal," curhat Dela.

__ADS_1


"Memang kamu tahu siapa wanita itu?" tanya Bara.


"Katanya dia rekan kerjanya,"


Bara mengangguk mengerti, dia pun selalu risih jika di dekati oleh rekan kerja lawan jenis.


"Yang pentin kamu percaya, bahwa suami mu tidak melakukan hal yang aneh." Ujar Bara.


"Dan jangan terlalu lama marah," sambungnya lagi.


"Ya." Balas Dela.


"Bagaimana kuliah mu?" tanya Bara.


"Sekarang aku kuliah via online yah, sesekali masuk kampus kalo ada yang penting. Toh tinggal nunggu skripsi,"


Yumna dan Bara pun mengangguk, tak lama Auriga datang membawakan mereka minuman. Untuk Dela susu khusus ibu hamil.


"Terima kasih," ucap Dela manis, membuat Auriga menoleh. Pasalnya barusan Dela enggan dekat dengannya, sekarang bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Cukup lama Yumna dan Bara di rumah Auriga, setelah makan siang bersama mereka pun pamit dengan rentetan pesan yang di berikan Yumna. Pada Auriga, agar selalu menjaga Dela apalagi Dela hamil muda.


"Kamu gak marah lagi?" tanya Auriga memeluk Dela, setelah kedua anak mereka masuk kamar.


"Engga, ayah bilang jangan marah terlalu lama."


"Syukurlah, aku gak mau kamu marah. Dan mengganggu pada kehamilan mu, kasian anak kita." Auriga mengusap lembut perut Dela.


"Maafkan aku, aku kesal saat melihat kamu ada yang meluk. Selain aku," lirih Dela.


"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti. Dan maafkan aku juga, kamu harus percaya pada ku."


Dela pun mengangguk sebagai jawaban, memeluk tubuh Auriga dengan erat.


"Ingat kalau kamu berani, aku akan pergi bersama anak ku." Ancam Dela.


"Iya tidak akan," jawab Auriga dengan pasti.


tbc...

__ADS_1


Semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak.


Di cerita Twins sebelumnya, Dika dan Dela masih kuliah. Tapi mungkin ada sedikit perubahan.


__ADS_2