
Pernikahan Jenny dan Dika di gelar di sebuah hotel mewah, milik sahabat Dika Arkha.
Akad nikah di gelar pukul sembilan pagi, lalu resepsi di gelar pada pukul tujuh malam.
Tara tersenyum menatap sang kakak, yang kini terlihat cantik. Sepanjang Jenny di rias, Tara selalu ada di dekat Jenny. Entah mengapa Tara bersikap seperti itu.
"Ka-kaka cantik sekali," puji Tara.
"Mirip mommy," celetuk Tara.
Tara memang tahu bagaimana rupa dari mendiang ibu mereka, karena di kamar milik Tara terpampang figura besar ibu mereka.
Jenny tersenyum menanggapi sang adik, dia pun menatap wajahnya di cermin. Pernikahan dia dan Dika, di gelar secara live oleh sosial media pribadi milik Jenny, atau perusahaan Sanova sendiri.
"Bukan aku mau menyakiti mu Anyelir, maafkan aku." Batin Jenny dia terus mengingat Anyelir, ingin sekali rasanya dia menemui Anyelir.
"Kamu gak mau di make-up Tara?" tanya Jenny.
"Enggak," jawab Tara pelan, Jenny pun mengangguk.
Tara sudah cantik hanya di poles oleh bedak tipis dan lipstik saja, Bibi Maura masuk, dan menatap Jenny yang terlihat bersinar.
"Kamu cantik sekali nak," puji Bibi Maura.
Jenny pun hanya tersenyum, dia sedang di rias rambutnya untuk membentuk sanggul.
"I-iya bi, aku tadi juga bi-bilang gitu sama kakak." Kata Tara.
"Lalu kenapa Tara, gak mau di make-up kaya ka Jenny?" tanya Bibi Maura.
"A-aku gak mau, a-aku takut sama daddy," lirih Tara.
"Ya sudah tidak apa-apa," Bibi Maura mencoba menenangkan Tara.
Di kamar yang berbeda, Dika menatap dirinya di cermin.
"Seandainya..."
"Tidak-tidak, ini keputusan mu Dika. Jadi kamu harus menerima Jenny, Anyelir dimana pun kamu berada. Kamu harus berbahagia dengan atau tanpa ku," gumamnya lirih, kata itu yang terus Dika ucapkan untuk Anyelir.
"Dika?" panggil Dela.
"Bisa nangis juga," kekeh Dela, mengusap air mata di sudut mata Dika.
"Kenapa?" tanyanya kemudian.
"Gak papa, udah jangan bahas Anyelir lagi. Gue bakal mulai hidup baru dengan pilihan gue," cetus Dika.
__ADS_1
Dela menatap Dika, yang sesungguhnya tak ada pancaran kebahagiaan di matanya.
"Tapi bukan berarti gue lupain dia, sepenuhnya. Dia memiliki tempat spesial di hati gue," papar Dika, mengerti akan isi hati Dela.
Wajar jika Dela sulit menerima Jenny, karena kesan pertama mereka di awal bertemu kurang baik.
"Ya sudah segera siap-siap, bentar lagi penghulu datang." Ujar Dela.
"Ya,"
"Aku keluar dulu, nanti ayah sama om Hito jemput kamu."
Dela menepuk pundak Dika, lalu melangkah keluar dari ruangan Dika. Dika menatap pintu yang tertutup, dan menghela nafas dengan kasar.
Dela sendiri dia menatap Auriga yang tengah mengobrol dengan seseorang, tampak dari gelagat Auriga nampak tak nyaman.
Dela memperhatikan dari jauh, dia terkejut saat wanita itu memeluk Auriga. Cemburu, tentu saja istri mana yang tak cemburu.
"Sayang." Pekik Dela.
Auriga melerai pelukannya dengan Rihana, dan menoleh pada Dela yang berwajah datar.
"Sayang, dari mana?"
Dela memincingkan mata, menatap tajam Auriga dan wanita di depannya ini.
"O-oh, mungkin aku yang lupa." Ujar Auriga.
"Iyalah kamu lupa, kamu berduaan sama wanita." Ketus Dela.
Lalu meninggalkan Auriga, tanpa menoleh ke belakang.
"Maaf Ri, aku harus pergi. Jika ingin berbicara bisnis, kamu bisa bicara besok di kantor." Kata Auriga.
Lalu dia mengejar Dela yang hampir masuk kedalam lift, sementara Riana tersenyum kecut menatap Auriga.
"Istrinya masih muda, pasti akan mudah di pengaruhi." Ucap Riana tersenyum sinis.
Dia harus kembali pada dekapan Auriga, Auriga miliknya bukan milik orang lain.
Acara ijab kabul, akan di gelar sebentar lagi. Dika sudah berjalan menuju meja ijab, di apit oleh kedua iparnya yang masih mempesona di usia matang.
Membuat semua gadis terpesona, apalagi melihat Bara yang sangat tampan.
"Lihat Pak Bara, cakep bener. Mau dong jadi sugar babynya," celetuk salah satu tamu undangan.
"Ssssttt.. Jangan berisik, nanti istrinya marah." bisik salah satu temannya tersebut.
__ADS_1
Membuat Yumna dan Dela mendelik bersamaan, mereka berdua harus waspada pada bibit-bibir valakor. Dan mendapatkan tatapan seperti itu, gadis tersebut langsung bungkam.
Dela dan Auriga duduk terpisah, karena Dela masih kesal pada Auriga kondisinya yang sedang hamil. Membuatnya gampang emosi, kadang juga tiba-tiba suka menangis.
Auriga melirik Dela yang enggan menatapnya.
"Kamu kenapa sih? Lagi marahan sama Auriga?" tanya Yumna.
"Engga kok, lagi badmood." Balas Dela sedikit ketus.
Namun Yumna mengabaikannya, mungkin itu efek hamil muda. Ya begitu pikir Yumna, pembawa acara membuka acara pernikahan dengan bacaan basmalah. Lalu memulai ijab kabul, yang di saksikan oleh pejabat daerah. Lalu oleh Mario yang menjadi saksi, sedangkan Alderik menjadi walinya.
Sah!
Kata itu terucap dan semua orang merasa lega, kini Jenny dan Dika resmi menjadi suami istri.
Tara tersenyum menatap sang kakak, kakak yang selalu sabar menemani dirinya dan menyayanginya.
Tatapan mata Tara dan Alderik bertemu, namun dengan segera dia memalingkan wajahnya.
Jenny dan Dika menadatangani berkas dan buku nikah mereka, setelah menyematkan cincin di jari manis Jenny dan Dika.
"Ayok sekarang foto dulu, dan angkat buku nikahnya." Ujar pembawa acara yang bernama Ryan salah satu selebgram dan juga tiktokers.
"Mas cium kening mbaknya yah!" perintah sang juru foto.
Dika pun menurut dan mencium kening Jenny, semua itu dilakukan secara live. Sehingga Anyelir pun melihat acara tersebut, sesak itulah yang dia rasakan sekarang.
Anyelir buru-buru menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.
"Nyatanya, aku tak siap kehilangan kamu Dika," lirih Anyelir, dia menunduk dan duduk bersandar di belakang pintu kamar.
"Semoga kamu bahagia Dika, aku menyayangi mu." Ucap Anyelir dalam hati.
Karena Anyelir tak kunjung keluar, Sekar merasa khawatir
"Lilya, Adam. Jangan jauh-jauh mainnya," teriak Sekar.
"Iya bu," seru mereka kompak.
Sekar menyusul Anyelir, dan mencari ke dapur. Namun dia tak menemukan Anyelir di dapur dan kamar mandi.
"Dimana dia?"
Sekar mendengar suara isakan Anyelir dari dalam kamar, dia pun memutuskan untuk kembali ke depan memberikan waktu untuk Anyelir sendiri.
tbc...
__ADS_1
Semoga suka maaf typo, jangan lupa tinggalkan jejak makasih 🙏