
Setelah Lula pulang dari sekolah, mereka langsung menuju ke kediaman Mario. Di sana sudah ramai oleh semua orang, termasuk Tara dan Bibi Maura.
Tara merasa senang bisa bertemu dengan keponakannya, dia lebih mirip Dika di banding sang kakak. Hanya ada bentuk mata dan bibir yang persis seperti Jenny, Alderik sendiri hanya bisa menatap dari jauh keberadaan sang cucu.
"Seandainya aku menyayangi mu, mungkin cucu ku akan tahu aku juga kakeknya." Gumam Alderik, sekarang hanya tinggal penyesalan yang Alderik rasakan. Hubungannya dengan Linda pun merenggang.
Alderik pergi meninggalkan perumahan elit milik Mario, percuma dia ada di sana pun akan membuatnya semakin cemburu karena Dika tak mengenalkannya pada sang cucu.
Melinda merasa senang akan kedatangan semua orang, dia merasa keluarga dari sangat banyak.
"Keluarga daddy sangat banyak, aku suka. Banyak olang," kata Melinda, masih duduk di pangkuan Bara.
Melinda memang dekat pada semua orang, bahkan dengan Tatiana pun dia dekat.
"Iya dong, makanya Melin gak usah pergi lagi ke Singapura yah!" ujar Maira, mencubit pipi Melinda.
"Engga dong, daddy bilang aku sekolah di sini. Sama si kembal," beritahu Melinda.
"Kembal mana ya? Lama banget sih," keluh Melinda.
"Mereka lagi di jalan," timpal Laura.
Kediaman Mario dan Laura memang lebih ramai karena kehadiran Melinda, belum lagi jika nanti Rakai dan Ceilo.
Beberapa jam menunggu akhirnya Rakai dan Ceilo sudah tiba di depan rumah milik Mario, dengan tak sabar Rakai dan Ceilo terus mengoceh membuat Lula pusing.
"Kalian kenapa sih, kaya cacing kepanasan kakak pusing." Omel Lula, dia langsung menutup telinganya dengan earphone.
Rakai dan Ceilo hanya menjulurkan lidahnya pada Lula, lalu setelah mobil terparkir sempurna. Mereka langsung turun dengan berlari.
"Anak-anak jangan lari-lari, nanti jatuh." Tegur Dela, namun mereka malah mengabaikan Dela.
"Anak mu sayang," kata Dela menatap Auriga, yang membawakan bawaan mereka.
"Aku gak nginep yah ayah," tolak Lula.
"Kenapa? Bunda sama ayah, me time Lula."
Lula memincingkan matanya, menatap Auriga penuh curiga.
"Aku gak mau adik lagi yah ayah, cukup tiga." Tegas Lula.
Dia masih ingat saat Dela melahirkan Rakai dan Ceilo, keadaannya sangat kritis. Beruntung Dela tak koma.
"Kamu tenang saja, sudah cukup ayah memiliki empat anak." Jelas Auriga, Ara dan Dela sudah lebih dulu di dalam. Lalu di susul oleh Auriga dan Lula, menyapa yang lain dan ikut bergabung dengan Tara dan Tiana.
Anak-anak di jaga oleh Mala, di ruang bermain. Sedangkan para orang tua berkumpul di ruang santai.
__ADS_1
"Ka Dela kita ke halaman belakang aja yuk," ajak Maira.
"Mau apa sih?"
"Curhat," bisik Maira, Dela pun mengangguk lalu meminta izin pada Auriga.
Dela dan Maira pun menjauh dari obrolan seputaran bisnis, yang membuat mereka kadang bosan.
"Ada apa sih?" tanya Dela.
"Tadi aku di anterin pulang sama Rumi." Kata Maira.
"Rumi? Anaknya Nania sama Satria?"
"Iya... Ternyata ganteng banget loh, tapi sayang wajahnya jutek bin ngeselin." Omel Maira.
"Gak setampan suami ku," ujar Dela, membuat Maira memutar bola mata malas.
"Iya lah dia suami mu," kesal Maira.
Mereka pun mengobrol tentang keseharian mereka masing-masing, Dela juga menceritakan keseruan si kembar yang sedang aktif-aktifnya.
Makan malam pun tiba, Dela lebih dulu masuk. Karena dia harus mengurus kedua putra tampannya, tapi saat di meja mereka sudah di atur oleh Yumna membuat Dela tersenyum.
"Nana aku gak suka sayul," tolak Rakai.
"Engga apa, aku mau ke lumah glany saja." Kata Rakai, membuat Yumna mencubit pipi cucunya.
Sedangkan Ceilo dan Melinda memakan makannya, Melinda dan Ceilo memang menyukai sayur. Tak seperti Rakai yang harus di paksa, baru dia mau.
"Rakai turuti apa kata Nana," ujar Dela, memberikan nasi untuk Auriga.
"Tapi bunda... Sayur pait, uwekk... Kaya makan lumput," balas Rakai.
"Memang kamu pernah makan rumput?" tanya Dika, yang sejak tadi menyimak obrolan anak-anak.
Rakai tampak berpikir, dan terkikik geli saat mengingat dia pernah memakan rumput sapi.
"Pelnah, saat bunda dan ayah ajak aku ke bandung. Telus kasih makan sapi," ungkap Rakai.
Membuat Dela melotot pada anaknya.
"Kok bunda gak tau sih?" Dela melirik Lula dan Ara, yang pura-pura mengaduk-aduk makannya.
"Iya kan bunda, ayah sama Ceilo. Aku ka Ara, sama ka Lula waktu itu." Cerita Rakai.
Dela melihat Lula yang cengegesan, dan meminta maaf tanpa suara.
__ADS_1
"Sudah kita makan dulu, dan lanjut mengobrol lagi." Ujar Mario.
Mereka pun makan dengan penuh cerita, dan sesekali menanggapi celotehan Rakai, Ceilo dan Melinda. Tara yang melihat itu pun ikut tersenyum bahagia, dia tak menyangka akan menemukan keluarga yang benar-benar menyayangi dirinya walau sang kakak sudah tiada.
Bibi Maura mengusap punggung Tara, dia merasa sangat bersyukur karena keluarga Dika mau menerima Tara. Sudah lama dia tak melihat senyum Tara, setelah Jenny meninggal.
"Doa ku hanya satu Tara, semoga kamu bahagia selalu." Bisik Bibi Maura dalam hati, menatap Tara.
***
Berbeda di kediaman Dika, kediaman Anyelir sungguh sangat sepi. Di rumah tersebut hanya ada Anyelir dan Ameera, sebenarnya Sekar sudah menawarkan Anyelir untuk di rumahnya. Namun Anyelir menolak, karena tak enak jika harus setiap hari.
"Ibu," panggil Meera.
"Ya sayang ada apa?"
"Kita ke rumah tante Sekar yuk! Aku gak ada teman kalo di sini," ujar Ameera menunduk.
Anyelir mengusap lembut puncak kepala sang anak, lalu menciumnya dan mulai mengambilkan nasi untuk sang anak. Ameera menatap Anyelir, yang tak menjawab pertanyaannya membuatnya merasa sedih dan kecewa.
"Ayok makan dulu," pinta Anyelir.
"Aku mau ke rumah ka Adam dan ka Lilya, ibu." Rengek Ameera.
"Meera sayang, ini sudah malam. Jangan menganggu mereka nak, ibu janji besok siang. Kamu boleh bermain sepuasnya dengan Adam dan Lilya," jelas Anyelir.
"Janji?"
"Ya, ibu janji. Sekarang Meera makan dulu yah," bujuk Anyelir, Ameera pun menurut dia memakan. Makan malamnya hanya berdua dengan sang ibu, sesekali dia pun ikut makan dengan Sekar dan Jimi.
Anyelir menghela napas dengan pelan, dia benar-benar merasa sendiri kembali hanya bersama sang anak. Dia pun mulai berfikir, apakah dirinya harus kembali lagi ke Bandung?
"Apa yang harus aku lakukan Axel?" batin Anyelir menyeka sudut matanya, dia tak boleh terlihat lemah di depan sang anak. Hanya dirinya yang Ameera miliki Arumi, ibu mertuanya pun sudah berpulang sebelum mereka kecelakaan.
"Sayang, kapan kamu menceraikan istri mu?" tanya wanita itu dengan manja.
"Sabar, yang penting setiap malam aku selalu datang pada mu." Balas sang lelaki.
"Heum... Terserah kamu lah,"
Wanita itu beranjak menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Sementara lelaki yang menjadi partner ranjang si wanita menatap nanar foto sang istri, entah apa yang membuatnya bisa berkhianat padahal dulu dia yang paling antusias untuk pernikahan mereka.
"Maaf."
Hanya itu yang bisa dia katakan, dalam hati. Bahkan tak berani berucap di depannya atau sekedar membalas pesannya, dia pun menonaktifkan ponselnya lalu menyimpannya di nakas. Setelah melihat sang wanita keluar dari kamar mandi, dan siap dengan permainan ke dua dan seterusnya.
***
__ADS_1
maaf typo dan jangan lupa tinggalkan jejak.