
Siang harinya sesuai janji Hito, dia pulang lebih awal dan membawa Yusra ke rumah sakit. Beruntung di perusahaan Maira mau menggantikan dirinya bertemu klien, bersama dengan asisten pribadi Maira Prisil.
"Mai, abis makan siang kita ada janji dengan Lokal Seafood." Beritahu Prisil pada Maira.
"Lokal Seafood," gumam Maira.
"Iya, rumah makan yang menyediakan berbagai olahan seafood. Tak hanya seafood, tapi makanan khas Indonesia dan luar negeri pun ada. Mereka minta teh kemasan buatan kita masuk ke restonya, dua minggu yang lalu Tuan Hito sudah kasih sampel ke pemiliknya dan mereka bilang enak. Jadi kemarin sudah uji coba dan pelanggannya suka, sama cemilan kerupuk udang dan kulit kita juga mereka suka." Papar Prisil panjang lebar.
"Oh... Oke, kita berangkat sekarang aja. Sambil makan siang," ujar Maira.
"Siap," sahut Prisil semangat, pasalnya Maira sangat baik selalu mentraktir dirinya.
Prisil dan Maira teman satu sekolah SMA mereka dekat karena pernah di jaili kakak kelas, dan membalaskan dendam bersama. Mereka juga kuliah di tempat dan jurusan yang sama.
"Memang tante Yusra kenapa?" tanya Prisil.
"Mama hamil kayanya," tebak Maira.
"Wah... Hebat pulang liburan langsung jadi," kekeh Prisil, Maira pun ikut tertawa.
Mereka pun sudah sampai di Lokal Seafood, alasannya agar lebih mudah untuk bertemu. Dan entah mengapa hati Maira pun membawanya ke sini, mereka pun mulai memesan makanan laut seperti lobster, ikan bakar dan cumi-cumi asam manis. Untuk porsi berdua, tak lupa Maira meminta porsi nasinya lebih banyak.
"Banyak banget kamu pesen nasi," celetuk Prisil.
"Gue lapar Sil, tadi pagi sarapan cuma dikit. Karen gue mual denger mama muntah-muntah," keluh Maira.
"Ya namanya juga ibu hamil," omel Prisil.
Sambil menunggu makanan mereka, Maira dan Prisil pun mengerjakan pekerjaan yang di dapat di grup kelas kuliah mereka. Sesekali Maira bertanya yang tak di mengerti, di jawab dengan mudah oleh Prisil. Prisil bukan dari kalangan atas, orang tuanya memiliki kelontongan di pasar dan dua orang adik yang masih SMP dan SD. Prisil masuk universitas Erlangga dengan jalur beasiswa, dan di pilih oleh Hito menemani Maira karena melihat kemampuan Prisil yang di atas rata-rata.
Tiga puluh menit berlalu makanan mereka sudah sampai, dan menyudahi tugas mereka.
"Laper banget gue," gumam Maira.
Maira pun mencoba Teh buatan perusahaannya, memang ada rasa Jasmine dan kombinasi manis yang pas.
"Gue baru tahu, rasa teh buatan perusahaan kita enak." Celetuk Maira, menyuapkan nasi ke mulutnya di banding menggunakan sendok Maira lebih memilih menggunakan tangan.
"Astaga.. kemana aja lo neng," cibir Prisil.
"Gue hampir tiap hari minum di rumah, yang rasa tawar. Karena di toko ayah dan ibu ada," kata Prisil, di jawab anggukan oleh Maira lalu mereka melanjutkan makan siang.
Rumi pun baru sampai di rumah makan miliknya, lebih tepatnya miliknya bersama Ryan sang asisten yang ikut memberikan modal, sama halnya seperti Maira dan Prisil, Ryan dan Rumi pun adalah sahabat dari SD. Di perusahaan Winata Rumi menjabat sebagai wakil CEO, bersama Gemy sedangkan ayahnya Satria sudah pensiun, sesekali bersama Keanu anak dari Gemy. Dan sekarang W&J grup menambah bisnisnya ke bidang furniture selain kontruksi.
"Wijaya grup sudah pada datang, mereka sedang makan siang tuh." Celetuk Ryan, yang tak sengaja menangkap Maira dan Prisil.
Rumi pun mengikuti arah pandang Ryan, Rumi pun mengajak Ryan makan siang terlebih dulu mereka hanya memesan nasi goreng seafood dan minta di antar ke ruangan mereka.
Satu jam kemudian, mereka pun melakukan pertemuan langsung di ruangan milik Rumi. Maira menatap Rumi, yang sedang membaca kontrak kerja sama.
Prisil sudah menyenggol lengan Maira, namun Maira malah anteng menatap Rumi.
"Mai segitunya lo," bisik Prisil, dan mendapatkan cubitan dari Maira.
"Rese lo," ketus Prisil.
"Baiklah, ini menguntungkan. Aku terima kerjasama ini," putus Rumi, membuat Maira menghela napas dengan lega.
__ADS_1
"Baik pak, terima kasih." Ujar Maira.
Rumi pun menandatangani surat perjanjian kerja sama itu, lalu giliran Maira. Setelah selesai, Maira dan Prisil pun pamit undur diri.
"Lo suka sama salah satu dari mereka?" tanya Ryan.
"Engga, mereka bukan tipe gue." Kata Rumi, membuat Ryan memutar bola mata malas.
"Awas aja lo, bilang gak suka. Tapi malah di embat juga nantinya," cibir Ryan.
Rumi hanya tersenyum tipis, memang pada kenyataannya mereka bukanlah tipe Rumi.
***
Anyelir dan Ameera sudah sampai di cafe, Ameera langsung berlari ke tempat bermain berharap Melinda datang lagi.
Anyelir meminta salah satu pelayan, untuk mengawasi sang anak. Dia pun penasaran dengan gadis yang bernama Melinda, Anyelir pun mengecek cctv yang mengarah ke tempat bermain.
Anyelir dapat melihat Melinda, yang sungguh sangat cantik. Ada sedikit bule, dan membuatnya mengingatkan Anyelir pada seseorang di masa lalu.
"Kamu mirip sekali dengannya, apa kamu anaknya?" bisik Anyelir dalam hati.
Lalu dia pun kembali melihat Ameera, yang duduk dengan manis di ayunan sambil memeluk boneka Chimy milik Anyelir pemberian Axel.
Di kediaman Mario, kabar kehamilan Yusra pun sudah tersebar. Laura paling bahagia, karena akhirnya akan mendapat anggota baru.
"Ibu senang loh, kamu akhirnya hamil lagi." Ujar Laura pada Yusra.
"Aku juga bu, gak nyangka." Balas Yusra.
"Bagus itu, gak sia-sia kan selama liburan di Kalimantan," kekeh Yumna, dan langsung dapat cubitan dari Laura.
"Kamu ini Yumna, sudah punya cucu masih manja." Cetus Laura, Yumna memeluk Laura dari belakang dan meletakan dagunya di bahu sang ibu.
"Biarin dong, sebelum ada mereka kan hanya ada aku dan ibu." Ucapnya.
"Dasar kamu nih ahh," kekeh Laura.
Sementara Yusra sibuk memakan buah, yang telah Mala kupas. Dan anak-anak sedang menggambar bersama Tara, si kembar nampak antusias Ara pun ikut menggambar juga. Sementara Lula hanya memperhatikan adik-adiknya.
Dika menatap Melinda, yang tak terlalu semangat.
"Kamu kenapa? Lelah? Ayok tidur siang sama daddy," ajak Dika.
"Engga, aku kangen Ameera daddy." Rengek Melinda.
"Melinda? Tapi daddy tak tahu rumahnya," ujar Dika, membuat Melinda menjadi lesu.
"Halusnya, kemalin aku tanya rumahnya di mana." Ujar Melinda.
"Tidak apa-apa sayang, kapan-kapan kita berkunjung ke cafe milik Ameera oke." Usul Dika, di jawab anggukan oleh Melinda. Dika tahu itu cafe milik ibunya Ameera, karena bertanya pada pelayan cafe tersebut.
"Janji yah? Jangan sampai daddy bohong, kalo bohong idungnya panjang." Tutur Melinda, membuat Dika tertawa.
"Mana ada begitu,"
"Ada uncle Pinokio," celetuk Rakai.
__ADS_1
Membuat Dika tertawa, dan mencubit gemas pipi Rakai. Rakai meringis dan hampir akan menangis, jika Dika tak membujuknya dengan jurus andalan.
"Tapi janji yah!" kata bocah itu.
"Iya... Iya uncle janji, tapi ajak Ceilo, ka Ara dan ka Lula. Kita pergi sama-sama," tutur Dika.
"Hore," seru Rakai.
"Siap uncle," sambungnya kemudian.
Dika pun menggiring ketiga bocah tersebut menuju kamarnya, mereka sepakat untuk tidur siang bersama Dika. Melinda begitu posesif pada Dika, dia terus menempel pada sang ayah takut Rakai dan Ceilo mengambilnya. Membuat Dika tersenyum melihatnya, lalu dia pun ikut tertidur karena berjanji untuk mengajak jalan-jalan sore.
Sedangkan di hotel, Auriga dan Dela baru selesai makan siang. Mereka sangat enggan untuk menjemput anak-anak.
"Kita jadi pulang hari ini?" tanya Dela.
"Entahlah, aku masih kangen soalnya." Sahut Auriga memeluk Dela dari belakang, dan tak lupa sedikit meremas gunung kembar Dela yang ada perubahan setelah melahirkan.
"Akhhh... Sayang, kamu nakal yah." Bisik Dela di telinga Auriga.
"Aku gak pernah bosan sama tubuh mu Dela, seolah candu bagi ku." Ucapnya mengecup pundak Dela yang hanya memakai baju kurang bahan.
"Gombal," ejek Dela, lalu Auriga membalik Dela dan menciumnya dengan lembut namun menuntut.
Siang itu mereka melakukan kembali aktifitas suami istri, sore pun tiba sesuai janji Dika. Setelah anak-anak mandi sore, dia mengajak Melinda, si kembar, Ara dan Lula jalan-jalan.
"Mai?" sapa Dika, saat melihat Maira yang baru pulang.
"Mau ikut gak? Ajak anak-anak main?" tanya Dika
Maira nampak menimang-nimang ajakan Dika, tapi dia baru sampai dan belum mandi sama sekali.
"Tapi aku belum mandi loh!"
"Ya sudah mandi sana, aku tunggu." Kata Dika, melirik jam di pergelangan tangannya.
"Masih ada dua puluh menit lagi sih," sambungnya kemudian.
"Oke, aku ikut uncle." Pekik Maira semangat.
Sampai di dalam rumah Maira mendapati Yusra, yang sedang makan buah-buahan. Dia pun tahu jika sang mama sedang hamil, Maira memeluk Yusra dari belakang dan mencium pipinya.
"Maira... Bau ihh," protes Yusra.
"Maaf," kekeh Maira, memang semenjak hamil Yusra jadi sensitif.
"Selamat ya mama, terima kasih udah kasih aku ade." Ucap Yusra.
"Iya," jawab Yusra.
"Oke, aku mandi dulu mau di ajak jalan-jalan sama hot duda." Kekeh Maira, membuat Yusra menggelengkan kepala saja.
Tak hanya Dika, Anyelir pun mengajak Ameera jalan-jalan. Karen dia terus merengek, ingin bertemu dengan Melinda. Anyelir sendiri tak tahu di mana rumah Melinda, alhasil mengajak Ameera jalan-jalan ke mall.
Sebelum pergi ke mall, Ameera mandi terlebih dulu. Lalu mereka berdua pergi bersama menggunakan taxi online, awalnya Sekar ingin ikut. Tapi Anyelir melarang karena tak enak, harus terus merepotkan Sekar.
****
__ADS_1
Maaf typo