Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.8


__ADS_3

Setelah dua kali bertemu bodyguard Dika, Anyelir makin hati-hati untuk keluar dari rumah kontrakannya. Sebisa mungkin penyamarannya jangan sampai terbongkar.


Setelah pulang dari pasar, Anyelir langsung memasak lauk untuk di jual depan kontrakannya. Karena sebentar lagi jam pulang kerja.


Dilain tempat, Dika yang sempat marah pun pulang ke rumah. Dan berniat pergi dari rumahnya, dia akan mencari Anyelir sendiri.


Laura yang melintas di depan kamar Dika, melihat sang anak sedang berkemas.


"Dika? Kamu mau kemana sayang?" tanya Laura.


"Aku mau cari Anyelir, bu."


"Memang dia belum ketemu?"


"Belum anak buah ku bilang, Anyelir tak ada di kota mana pun. Aku gak percaya dan akan mencarinya sendiri," tekad Dika.


Membuat Laura menghela napas pelan, dia menatap Dika yang berjuang untuk cintanya.


"Papi tidak mengizinkan mu pergi Dika," sahut Mario dari arah pintu, dia menatap tajam sang anak.


"Pih," protes Dika.


"Jika kamu pergi dari rumah ini, maka semua fasilitas yang kamu miliki papi cabut. Dan semua anak buah mu akan papi tarik, silahkan kamu cari Anyelir sendiri tanpa bantuan mereka." Tekan Mario.


Dika berdecak kesal, kemudian dia menatap Laura meminta bantuan. Laura pun sebenarnya tak ingin Dika pergi.


"Sayang turuti lah apa kata papi mu yah!"


"Ibu," rengek Dika.


"Dika kamu itu penerus ku, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada mu. Kamu tahu kedua kakak mu sudah memegang masing-masing usahanya, dan kakak ipar mu mereka mengelola cabang perusahaan papi. Lalu siapa yang akan meneruskan perusahaan induk papi?"


"Dika turuti apa kata papi mu nak, kalau Anyelir jodoh mu dia akan kembali pada mu." Ujar Laura.


"Tapi jika dia menemukan yang lebih baik dari ku bagaimana?" lirih Dika.


"Berarti dia bukan jodoh mu," tegas Mario.


"Papi gak mau tau, jika kamu keluar dari rumah ini. Jangan harap aku dan ibu mu mengakui mu sebagai anak," ujar Mario.


Kemudian Mario pun meninggalkan kamar sang anak, dia sungguh pusing di buat tingkah anak bungsunya tersebut.


Dika menatap kepergian Mario dengan menghela napas panjang, dia pun duduk kembali dan meletakan tasnya.


"Turuti saja sayang, ibu gak mau jauh dari mu." Laura mengusap rambut Dika yang mengangguk.


Laura pun meninggalkan Dika di kamar, Dika duduk termenung. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Jika saja Dela belum menikah, mungkin saat ini mereka tengah mencari Anyelir.


"Del, papi marah sama gue. Dia ngancem gak akan akui gue anak dan mencabut semua fasilitas gue," cerita Dika pada pesannya.


Setelah terkirim Dika pun, memutuskan untuk membersihkan diri.

__ADS_1


****


Dela yang sedang menyiapkan baju Auriga, membaca pesan dari Dika. Dela pun menghela napas secara kasar, dan tak membalasnya dia melanjutkan pekerjaannya.


"Siapa sayang?" tanya Auriga, memeluk Dela dari belakang.


"Uncle rese, dia galau. Mau di coret dari KK kalo nekat keluar dari rumah," kekeh Dela.


Dela pun berbalik menatap Auriga, yang semakin tua malah semakin tampan.


"Nih om-om, makin tua kenapa makin jadi yah. Astaga," batin Dela.


"Kenapa?"


"Gak papa, aku mau bantu cari. Tapi ingat udah punya anak dan suami," ucapnya tersenyum menatap Auriga, mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Ya iyalah, fokus kamu hanya sama aku dan anak-anak."


"Heum... Ya, nanti minggu jadikan kita ke Bandung?" tanya Dela.


"Iya jadi, tapi sekali yah!" bisik Auriga.


"Kamu kan habis mandi sayang."


"Gak papa mandi lagi, tapi sama kamu."


Auriga pun mencium bibir Dela dengan lembut.


"Gak papa."


Auriga kembali mencium dengan sedikit menuntut, dan langsung merebahkan Dela di atas kasur. Dan melakukan penyatuan di sore hari.


****


Anyelir sudah menjajakan jualannya di depan kontrakan, banyak yang membeli karena mereka tak sempat masak setelah pulang kerja dari pabrik, kebanyakan yang membeli adalah karyawan pabrik. Apalagi jika pagi, Anyelir selalu memasak banyak.


"Ka Cinta, aku boleh beli lauknya?" tanya seorang gadis kecil, yang bernama Lilya.


"Boleh."


"Tapi aku punya uang segini ka!"


Lilya menunjukan uang koin sebanyak lima ribu rupiah, tapi dia meminta dua bungkus bersama nasinya untuk sang ibu dan satu orang adiknya yang masih kecil.


"Gak papa Lilya, ka Cinta mau kok nerima uangnya. Sebentar yah! Kaka siapin dulu nasi bungkusnya," ujar Anyelir, Lilya pun mengangguk dan duduk di meja yang di sediakan Anyelir Lilya pun memakan gorengan yang ada.


Anyelir pun membungkus kan nasi dan lauk berupa ayam goreng dan telur sebanyak tiga, dia merasa kasian pada Lilya. Saat pertama dia menginjakan kaki di Bandung, Lilya lah yang dia tanyai. Dan akhirnya Lilya dan Anyelir berteman.


"Lilya ini sudah!" ucap Anyelir.


Lilya pun turun menghampiri Anyelir dan membawa bungkusan tersebut, tak lupa Anyelir membungkus air teh hangat.

__ADS_1


"Makasih ka, ini uangnya." Kata Lilya menyerahkan uang kepada Cinta.


"Ini buat Lilya saja yah! Jangan lupa di tabung," pesan Anyelir.


"Baik ka," balas Lilya antusias.


Anyelir pun tersenyum menatap Lilya yang sudah jauh dari pengelihatannya.


Tak membutuhkan waktu lama, dagangan Anyelir habis terjual. Ada yang kecewa karena tak kebagian.


"Cinta jangan lupa pesanan ku besok yah!" pesan bu Ai.


"Iya bu, besok saya akan memisahkan untuk ibu." Balas Anyelir tersenyum.


Bu Ai pun pamit, dan menyisakan yang sedang makan di tempat. Anyelir menghitung pendapatan sekarang, dan dia mengucap syukur karena selalu ada lebih untuk dia tabung.


***


Sementara di kediaman Mario, semua orang berkumpul untuk membicarakan rencana perjodohan Dika dan Jenny. Mario meminta pendapat pada anak dan menantunya, tak ketinggalan Dela dan Auriga serta kedua anaknya pun ikut.


"Papi," protes Dika, saat mendengar Mario menanyakan bagaimana Jenny menurut Yumna dan Yusra.


"Dika duduk," tegas Mario.


"Aku gak tahu calon Dika seperti apa Pih, tapi aku rasa jangan memaksakan kehendak Dika. Aku takut dia tak nyaman, dan berakhir rumah tangga mereka tak harmonis." Tutur Yusra, dia melihat ketidak sukaan Dika saat membahas Jenny.


"Iya ayah, aku rasa Yusra benar. Kita jangan memaksa Dika ayah," sahut Yumna.


"Opa izinkan aku bicara," izin Dela.


"Silahkan sayang, sejak kapan kamu dilarang. Kamu kan cucu opa," kekeh Mario.


"Opah aku gak setuju uncle Dika sama Jenny, aku rasa Jenny perempuan yang manja. Dan suka kemewahan. Aku takut jika mereka menikah, yang ada hubungan mereka menjadi jauh. Jika uncle Dika mendiamkannya, maka akan terjadi Jenny yang bermain di belakang uncle Dika? Lalu hamil, dan mengakui anak itu pada uncle Dika!" terang Dela, sejak awal melihat Jenny dia tak suka sama sekali. Wajahnya terlalu angkuh, manja dan penuh dengan kemewahan.


Semua orang terdiam, mencoba mencerna ucapan Dela.


"Pikirkan lah baik-baik ayah," ujar Yumna.


"Pih aku mohon," pinta Dika memelas, dia pun rela jika harus berlutut pada sang ayah.


Yang membuatnya harus kecewa lagi, Dika pun meninggalkan ruang keluarga. Dan naik ke kamarnya, kenapa papinya menjadi egois? Bukankah dia dulu seleranya sama, gadis biasa?


Dika berdecak, dan melampiaskan kemarahannya pada samsak yang berada di ruangan gym. Dia terus menumpahkan rasa sakit hatinya, dia benci pada cintanya.


"Akhh.... Anyelir, i hate you but i love you," desis Dika.


Dika pun berbaring menatap langit-langit, ruangan gym. Mengapa?


tbc..


semoga suka 💞

__ADS_1


maaf typo


__ADS_2