Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.47


__ADS_3

Berpuluh menit kemudian, Anyelir dan Dika hampir tiba bersamaan. Maira menggiring anak-anak untuk turun, dan berpegangan satu sama lain agar tak hilang.


"Rakai kamu sama kakak dan ka Ara sini," ujar Lula.


Sementara Ceilo ingin dengan Maira, tentu saja Melinda bersama Dika.


Mereka pun semua masuk melangkah ke dalam mall, yang lumayan cukup ramai karena malam minggu.


"Kita mau ke mana uncle?" tanya Maira.


"Kita ke tempat bermain saja, ada di lantai tiga." Balas Dika.


"Kalian sudah kaya keluarga bahagia saja," celetuk Lula, membuat Maira tertawa, lalu mensejajarkan langkahnya dengan Lula.


"Coba kalo ka Tara ikut pasti seru, dia gak pernah jalan-jalan ke luar kayanya." Tutur Lula.


"Tara bukan orang yang suka di keramaian," beritahu Dika.


"Dia suka sesak nafas kalo banyak orang," lanjutnya.


"Lah... Kok bisa sih, kemarin kita kumpul-kumpul gak papa loh!" papar Maira.


"Ya itu beda lagi," sahut Dika.


Sesampainya di lantai tiga, Dika membayar untuk area bermain anak. Di awasi oleh Lula dan Maira.


"Hah... Uncle, awas ya bayarannya. Traktir aku belanja," ketus Maira, dia kira dia tidak akan ikut menjaga anak-anak.


"Iya... Iya nanti kasih cash lah," kekeh Dika, membuat Maira mencebik lalu masuk ke Playground. 


Anyelir pun sudah sampai, dia menuntun Ameera untuk menaiki tangga berjalan. Ameera selalu antusias, jika di ajak pergi ke mall.


"Kita mau ke mana bu?" tanya Ameera.


"Ibu mau ajak Ameera ke tempat bermain," jawab Anyelir.


"Harusnya kita ajak ka Adam, bial seru. Aku selalu kesepian jika sendiri," ujar Ameera, Anyelir mengusap rambut sang anak dan tersenyum.


Dia selalu merasa bersalah, karena tak pernah membuat sang anak bermain di luar. Mungkin jika ada Axel, akan lain lagi ceritanya dia akan mengajak Ameera ke taman dan kemana pun Ameera mau.


"Sebentar yah, ibu bayar dulu."


Ameera pun menurut dan menunggu tak jauh dari Anyelir, sesekali mata bening dan cantiknya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Terkadang melihat ke dalam, penuh dengan suara teriakan anak-anak.


"Ayok," ajak Anyelir.


"Ibu temani aku?" tanya Ameera.


"Iya ibu temani kamu,"


Ameera pun bersorak senang, lalu menarik Anyelir dengan tak sabar. Dia pun bergabung dengan anak-anak lain, di area mandi bola dan perosotan. Sedangkan Melinda sedang bersama Rakai dan Ceilo, mereka sedang main ayunan.


Ameera pun bermain dengan antusias, dia mencoba berbagai permainan. Di mulai dari perosotan, jungkat jungkit, ayunan. Tentu semua aman untuk anak, saat akan meluncur dan masuk ke kolam bola secara tak sengaja pandangannya menatap Melinda yang sedang main ayunan.


"Melinda," pekik Ameer.


Melinda yang merasa di panggil pun menoleh, dan melihat Ameera yang melambaikan tanggannya.


"Ameera," seru Melinda dengan senang, Melinda masuk ke kolam bola.


"Melinda hati-hati," tegur Maira.


"Maaf ka," ringis Melinda, dia sangat senang bertemu dengan temannya.


Melinda memeluk Ameera dengan sayang, seolah mereka tak bertemu lama.


"A-aku kangen sama kamu," ucap Melinda terengah, karena dia harus lari.


"Aku juga Melinda," isak Ameera.


"Ameera kenapa menangis? Maafkan aku," lirih Melinda, mereka pun menangis bersama.


Membuat Anyelir dan Maira langsung menghampiri mereka, Anyelir nampak terkejut saat melihat Maira ada di dekat anaknya.


"Ma-Maira," lirih Anyelir.


"Ka Anye!" pekik Maira.


"Kenapa kakak ada di sini?" tanya Maira.


"Ibu," rengek Ameera, saat Anyelir sudah mendekat.

__ADS_1


"Ibu." Ulang Maira dengan terkejut, tapi sekarang bukan waktunya terkejut.


"Melinda kenapa nangis?" tanya Maira kembali ke tujuan awalnya.


"Aku menangis karena Ameera menangis," ujar Melinda, membuat Maira mendesah lega.


"Bisa batal uang belanja," bisik Maira dalam hati.


Anyelir pun menanyakan pada Ameera kenapa menangis, dan Ameera pun menjawab dengan sesegukan.


"Ameera senang ketemu Melinda, ayok ibu minta nomor ponselnya." Kata Ameera.


"Iya sayang, biar ibu bicara dengan kakaknya Melinda. Kamu main lagi yah," perintah Anyelir, di jawab anggukan oleh kedua gadis tersebut dan kembali bergabung dengan Rakai dan Ceilo.


Bahkan Melinda mengenalkan Ameera, pada Lula dan Ara yang sesungguhnya Ameera kenal. Namun Ameera lupa, karena Ara dan Lula jarang bertemu hanya sesekali berkunjung ke rumah Jimi.


"Jadi Ameera anaknya ka Anye?" tanya Maira pada akhirnya.


"Iya, kamu sendiri sudah menikah belum?" goda Anyelir.


"Hah... Menikah, gak ada calonnya ka." Kekeh Maira.


"Melinda itu adik mu?"


"Bukan." Maira menatap Anyelir, dia bisa saja memberitahu Dika bahwa di sini ada Anyelir atau sebaliknya. Tapi lebih baik, mereka bertemu dengan sendirinya.


"Lalu anak siapa?" tanya Anyelir penasaran.


"Nanti juga ka Anye tau," kata Maira.


Mereka pun memperhatikan anak-anak kembali, lalu munculah dua bocah tampan di hadapan Maira meminta minum.


"Ini pasti anak-anaknya Dela kan?" tebak Anyelir.


"Iya, Rakai dan Ceilo. Kalian kenalan sini sama tante Anye," pinta Maira.


Rakai dan Ceilo pun mendekat, dan mengenalkan diri masing-masing. Ceilo yang memakai baju hitam ada tanda lahir di belakang telinga, sedangkan untuk Rakai berbaju biru memiliki tanda lahir di telapak tangannya.


"Gantengnya kalian," puji Anyelir.


"Iya dong tante, kita kan laki-laki. Kalo pelempuan tantik," ujar Rakai.


"Pinternya," kekeh Anyelir.


"Aku Rakai," sahut Rakai dengan mengacungkan tangan tinggi.


Anyelir pun tersenyum, dan mengusap kepala Rakai dan Ceilo. Dia belum mengamati Melinda lebih dekat, sekilas dia melihat wajah Dika ada dalam Melinda.


Saat Melinda mendekat, benar saja wajah Dika di sana. Dan juga mata bibir yang tak asing baginya.


"Jangan-jangan, tidak... Tidak mungkin." Bisik Anyelir dalam hati, sambil memperhatikan Melinda.


"Anak-anak ayok kita makan dulu," ajak Dika.


Deg!


Suara itu, suara yang selalu dia rindukan namun terlupakan. Kini terdengar lagi, Anyelir mematung di tempat seolah kaku untuk membalikan kepalanya saja.


Anak-anak pun menghambur menemui Dika, mereka pasti lapar setelah cukup lama main.


"Daddy, aku ketemu sama Ameera." Pekik Melinda memeluk Dika.


Dika berjongkok, menatap sang anak.


"Ohh... Ya, dimana dia?"


Melinda pun menunjuk Ameera, yang berada di samping Rakai. Dika tersenyum menatap gadis cantik tersebut.


"Ya sudah ajak sekalian dia makan,"


"Baik daddy," sahut Melinda.


Melinda menghampiri Ameera, dan mengajaknya makan. Sementara Ameera bingung karena sang ibu tiba-tiba hilang entah kemana.


"Ibu ku gak ada," adu Ameera.


Melinda pun mencari wanita, yang sejak tadi bersama dengan Maira. Namun dia tak menemukannya, jadilah Melinda membawa Ameera pada Dika.


"Daddy, ibunya Ameera tidak ada di tempat." Beritahu Melinda.


"Ya sudah kita tunggu saja, di resto dekat sini. Mungkin ibu mu sedang ke toilet jangan menangis," ujar Dika, mengelus lembut rambut Ameera.

__ADS_1


Dika pun menuntun kedua gadis tersebut, untuk masuk ke dalam restoran yang sudah dia pesan. Makanan untuk anak-anak sudah tersedia di sana, Rakai dan Ceilo pun sudah duduk dengan tenang.


"Ara, sepertinya itu Ameer anaknya tante Anyelir," bisik Lula.


"Iya yah, tapi mana tante Anyelir?"


"Aku tidak tahu," balas Lula.


Dika pun memesan satu menu lagi untuk anak-anak, sementara Anyelir menatap anaknya dari kejauhan dia belum siap untuk bertemu dengan Dika.


Dia perlu menenangkan diri, sebelum muncul di hadapan Dika. Ahh... Apakah dia siap?


****


"Sayang ini sudah sore, anak-anak pasti rindu kita." Kata Dela, menggoyangkan tubuh Auriga.


"Anak-anak tidak rindu kita, mereka sedang jalan-jalan dengan Dika dan Maira." Auriga menujukan status Lula, bersama dengan Maira.


"Tapi tetap saja kita harus menjemput mereka."


"Sudahlah sayang, satu hari lagi. Besok janji kita pulang aku masih ingin meneguk habis madu mu," bisik Auriga, mencium tengkuk Dela.


Sungguh Auriga tak ada habisnya, seolah tenaganya full.


"Kamu makin tua, malah makin hot." Kekeh Dela, malah masuk ke dalam pelukan Auriga.


Sore hari di Bandung


Di apartemen Reen, dia terduduk lesu saat melihat sang suami langsung bercumbu dengan sekretarisnya. Niatnya ingin memberikan makan siang, malah dia yang mendapatkan kejutan.


Reen menyembunyikan wajahnya di sela kakinya, entah sampai kapan dia harus diam melihat Arjuna selingkuh. Dan entah kesalahan apa yang di lakukannya, Reen pun tak kunjung hamil padahal dia sudah memeriksakan diri. Dan semuanya sehat, Arjuna pun sehat sebuah pesan masuk dari Arjuna.


"Hari ini aku lembur, mungkin akan pulang malam. Jangan menunggu ku," pesan Arjuna.


Reen tersenyum sinis, dia tak peduli lagi tentang Arjuna. Dia harus memulai hidup barunya, membangun bisnisnya sendiri.


"Sikap mu menunjukan bahwa kamu adalah suami yang baik, padahal tak lebih dari bajingan. Yang bersenang-senang dengan jalangnya," hina Reen.


"Bagaimana sayang, apa istri mu sudah di beritahu?" tanya Melati, kini Arjuna dan Melati sudah di apartemen milik Arjuna.


"Sudah, tapi dia tak membalasnya."


"Sudah biarkan saja, ayok kita bersenang-senang." Ajak Melati, menuju kamar utama.


Entah apa yang membuat Arjuna selingkuh dari Reen, padahal dulu dia paling mencintai Reen.


Acara makan sudah selesai, kini Dika dan anak-anak akan menuju sebuah taman. Tapi dia pun bingung karena ibu dari Ameera belum juga, menunjukan batang hidungnya.


"Ameera sayang, benar kamu ke sini sama ibu kamu?" tanya Dika.


"Iya om," sahut Ameera menunduk.


"Lalu dimana ayah mu?"


"Ayah sudah di surga, bersama Tuhan." Lirih Ameera.


"Maafkan om sayang." Dika membawa Ameera ke dalam pelukannya.


"Sama kaya mommy kan dad? Mommy juga di sulga sama Tuhan," timpal Melinda.


"Iya." Jawab Dika.


Dengan menguatkan hatinya Anyelir pun melangkah menuju tempat di mana Ameera berada, Dika memunggungi dirinya.


"Ameera," panggil Anyelir.


"Ibu," pekik Ameera.


Deg!


"Suara itu," batin Dika.


Dika berdiri dan menatap lurus ke depan, Maira dan Lula menatap Dika yang tak menoleh ke belakang, membuat anak-anak pun heran melihatnya.


"Daddy itu ibunya Ameera," kata Melinda, membuat Dika memejamkan matanya.


Dia pun berbalik menatap wanita yang selama ini, menempati sudut hati yang lain.


"Anyelir..." Lirih Dika


***

__ADS_1


Maaf typo


__ADS_2