
"Auriga," teriak Jimi.
Jimi pun menghampiri Auriga yang terlelap memeluk Riana, Jimi masuk ke dalam. Dan berusaha membangunkan Auriga, dengan menarik tubuhnya agar terpisah dari Riana. Lalu menamparnya dengan keras, sampai dia pun terbangun.
Auriga yang mendapatkan tamparan tiba-tiba, langsung bangun dan terkejut. Lebih terkejut lagi saat melihat Dela di ambang pintu, yang menangis dan dirinya tak memakai sehelai benang pun.
"Dela." Lirih Auriga.
"Apa-apaan kamu ini hah?" teriak Jimi.
"Dad ada apa?" tanya Auriga masih belum sadar.
Riana yang pura-pura terbangun pun, langsung terkejut.
"Riga." Lirih Riana.
Auriga yang mendengar suara tak asing pun, langsung menoleh di sampingnya ada Riana yang sama tanpa busana.
"Daddy tunggu di ruang tamu," jelas Jimi.
Langsung melangkah keluar kamar, dia mengajak Dela menjauh dan menutup pintu dengan kasar.
"Maafkan Auriga Dela." Ucap Jimi.
Dela menggeleng dia tak bisa berkata-kata, pasalnya perutnya masih keram dan langsung mengatur napas agar tak tegang.
"Apa perut mu masih sakit?"
"Sedikit dad," jawab Dela.
Tak lama Auriga keluar dari kamar, di susul Riana. Membuat Dela semakin sakit hati.
"Apa mereka ganti baju bersama?" bisik Dela menatap Auriga, lalu memalingkan wajahnya.
"Duduk," titah Jimi.
Menurut Auriga duduk di sebelah Dela, namun Dela menjaga jarak. Sedangkan Riana duduk di hadapan Jimi.
"Jelaskan," pinta Jimi.
"Dad aku yakin aku tidak melakukan apa pun, dengan Riana. Dia menjebak ku," jelas Auriga.
"Aku menjebak mu? Bukannya kamu yang mengajak ku ke kamar Riga," ucap Riana, dengan wajah sedih.
"Setelah mendapat apa yang kamu mau, kamu membuang ku. Sama seperti dulu. Saat daddy mu, tak merestui ku menjadi menantunya. Tapi kamu malah menikah dengan wanita pilihan Tuan Jimi," tutur Riana dengan wajah kecewa, menatap Dela dalam lalu Auriga dan Jimi secara bergantian.
Masih belum selesai, saat Auriga ingin menyela ucapan Riana. Riana lebih dulu berbicara, yang membuat Dela marah dan langsung sakit perutnya.
"Kurang ajar kamu," teriak Dela.
"Dela sayang," pekik Auriga.
__ADS_1
"Akhh... Lepas jangan sentuh, sakit..." Rintih Dela.
"Pergi kamu dari sini," usir Jimi, dia pun langsung menyeret Riana dan mendorong untuk keluar.
Pintu tertutup dengan kasar, dan hampir mengenai wajah Riana. Riana pun tersenyum menyeringai dia berharap, rencananya kali ini berhasil.
Sementara Auriga berusaha membujuk Dela, untuk pergi ke rumah sakit. Dia menolak sambil mengelus lembut perutnya.
"Auriga cepat gendong saja Dela, jika ingin mereka baik-baik saja." Celetuk Jimi, di saat panik seperti ini Auriga tak kepikiran untuk menggendong Dela.
Auriga menggendong Dela dengan sedikit paksaan, Jimi mengekor di belakang mereka dan langsung masuk ke dalam mobil. Dari kejauhan Riana menatap mobil Jimi yang melaju, meninggalkan basment apartemen.
"Untuk kali ini, aku berharap kamu tak selamat." Gumamnya tersenyum sinis.
Di dalam mobil Dela sudah pingsan, karena kandungannya seperti akan melahirkan. Auriga terus membangunkannya dan meminta maaf, sementara Jimi menerobos lampu merah dan tak peduli jika ada polisi.
Dan benar saja, saat sampai di rumah sakit bersalin ibu dan anak. Jimi di temui polisi, dan menjelaskan keadaan menantunya yang segera butuh pertolongan. Polisi pun mengangguk dan pergi dari rumah sakit, Dela sedang di periksa oleh dokter kandungan yang berjaga.
***
Sementara itu di Jakarta, saat makan siang. Dika pulang kerumah dan mengajak Jenny makan siang terlebih dulu, lalu memeriksakan kehamilannya.
"Kamu mau makan di mana?" tanya Dika.
"Terserah saja, aku ikut." Ujar Jenny, Jenny memakai pakaian hamil selutut lengan pendek berwarna biru awan. Dan rambutnya di gerai, menambah cantik dan segar di lihat.
"Kalau makan di resto Jepang bagaimana?"
"Aku gak suka makanan yang berbau ikan sayang, kamu lupa?"
"Ahh... Maafkan aku, aku benar-benar lupa."
"Oke... Kalau gitu, kita makan di rumah makan padang saja gimana?" usul Dika.
Jenny nampak terdiam, memikirkan sesuatu. Sejujurnya dia ingin makan di pinggir jalan, dia ingin membeli jajanan yang dulu sempat dia beli saat di lokasi syuting.
"Sebenarnya... Aku pengen makan bakso, batagor sama mie ayam." Ucap Jenny dengan pelan, takut Dika marah.
Namun Dika bukan marah, dia malah tertawa. Dari banyak pilihan yang dia tawarkan, Jenny memilih makanan yang gampang dia temui.
"Baiklah kita beli itu semua," putus Dika, membuat jenny tersenyum lebar.
Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di dekat pedagang kaki lima. Yang tak jauh dari rumah sakit, masih ada waktu tiga puluh menit lagi untuk Jenny memeriksakan kandungan.
Jenny memesan mie ayam, lalu Dika memesankam batagor dan siomay untuk sang istri. Jenny meminta siomay dan batagornya untuk di bungkus saja dan di makan bersama Tara, takut tak termakan karena waktunya sedikit.
"Nanti hari minggu kita jalan-jalan bareng Dela dan anak-anaknya," ucap Jenny, kini mereka berjalan menuju rumah sakit bersalin.
"Boleh, Lula dan Ara pasti senang. Aku sudah kangen mereka," jawab Dika.
"Kamu senang punya anak perempuan sayang?" tanya Jenny.
__ADS_1
"Iya aku sangat menyukai anak perempuan, dan semoga saja anak kita perempuan."
Dika mengelus lembut perut Jenny, setelah sampai mereka menunggu seperti ibu hamil lainnya. Terkadang Jenny bertanya pada ibu muda atau, ibu yang sudah memiliki anak lebih dari satu.
Saat nama Jenny di panggil, Dika membantu Jenny berdiri.
"Hai, Jen. Dik," sapa dokter Fransiska.
"Hai dok, kita mau jenguk baby siapa tahu dia mau liatin." Kekeh Dika.
"Baiklah, kita periksa tekanan darah dan berat badan dulu. Sus tolong bantu," pinta dokter Fransiska.
Setelah mendapatkan hasilnya, dokter Fransiska menghela napas dengan pelan. Berat badan Jenny, naik turun saat hamil. Tentu saja karena penyakitnya, beruntung tekanan darahnya rendah.
"Berat kamu naik turun Jen," kata dokter Fransiska.
"Padahal dia makan banyak," sahut Dika, selama dia lihat Jenny memang makan banyak.
Membuat dokter muda tersebut mengangguk, dia menatap Jenny yang menggeleng. Tanda belum memberitahu Dika.
"Apa kamu masih muntah-muntah?" tanyanya.
"Sering jika siang," jawab Jenny.
"Baiklah ayok kita tengok babynya," ajak dokter Fransiska.
Jenny pun berbaring dan suster membantu mengoleskan gel ke perut Jenny terasa dingin, Jenny dan Dika memperhatikan layar USG 4D. Sengaja Dika memilih 4D agar dia bisa melihat dengan jelas, seperti apa rupa sang anak.
"Anak kalian tetap ingin merahasiakan gendernya," kekeh sang dokter.
"Tidak apa-apa, mau lelaki atau perempuan sama saja." Ucap Dika.
Setelah selesai pemeriksaan, Dika menerima resep yang harus di tebus. Sementara Jenny masih di ruangan dokter, dengan alasan ingin ada yang di sampaikan.
"Sampai kapan Jen? Sampai kapan, kamu sembunyiin penyakit kamu ini?"
"Selamanya," jawab Jenny lirih.
Membuat dokter Fransiska membuang napas dengan kasar, dan menatap Jenny yang mulai berkaca-kaca.
"Aku takut menjadi beban buat dia," lirih Jenny.
"Kamu bukan beban Jen, kamu istrinya. Setidaknya ada yang mendukung mu, untuk sembuh dari penyakit itu."
Jenny menggeleng sebagai jawaban, membuat Fransiska menyerah memberitahu Jenny. Ingin rasanya dia memberitahu Dika, tentang keadaan Jenny saat ini.
"Sudah aku keluar dulu, bukannya pasien kamu masih mengantri," omel Jenny, membuat Fransiska tertawa.
"Ya sudah hati-hati," pesan sang dokter sekaligus temannya.
"Ya, jangan lupa kencan sama Zeta." Jenny mengedipkan matanya, membuat Fransiska melotot ke arah Jenny yang tertawa.
__ADS_1
****