Cinta Anyelir

Cinta Anyelir
Bab.87


__ADS_3

Mario dan Laura sudah sampai di kediaman Tara, mereka menatap Melinda yang tengah mengasuh kedua bayi dari tantenya. Terlihat bahagia, dan tersenyum dengan lepas.


"Nyonya, tuan. Silahkan masuk," ujar penjaga rumah Tara, saat melihat mobil Mario yang hanya diam saja di depan gerbang.


"Terima kasih pak," sahut Laura, Melinda menoleh ke arah gerbang. Dan mendapati mobil milik Mario, membuatnya tersenyum mendapati nenek dan kakeknya berkunjung.


"Grany," lirih Melinda.


Laura memeluk Melinda, yang sedang menggendong Sandrina. Sedangkan Theo dia tengkurap di karpet lembut.


"Grany rindu," ucap Laura, Mario menyeka sudut matanya.


"Aku juga rindu Grany, dan opah. Tapi aku takut buat ketemu kalian, aku takut kalian menolak ku," lirih Melinda.


Sandrina yang dalam gendongan Melinda, hanya menatap dengan wajah polos dua orang yang sedang berpelukan. Theo yang merasa di abaikan, langsung menangis dengan keras. Membuat Mario langsung menggendong bocah gembul tersebut.


"Oh... Cucu ku, kasian gak di ajak yah?" ujar Mario pada Theo, yang menatapnya dengan binar terpancar di dalam matanya. Bayi tersebut langsung berhenti menangis, dan bertepatan dengan Tara keluar dari dalam rumah.


"Ibu Laura, ayah Mario." Ujar Tara.


Laura melepaskan dekapannya pada Melinda, lalu beralih memeluk Tara dengan erat Laura sudah menganggap Tara sebagai putrinya juga.


"Ibu kangen sama kamu Tara, kamu gak pernah datang ke rumah." Rajuk Laura.


"Maafkan aku bu, aku sibuk dengan putra ku." Jawab Tara, menatap Theo yang anteng dalam gendongan Mario.


"Oh ya hampir lupa, kenalkan ini Dea. Adik ipar ku," Tara mengenalkan Dea pada Laura.


"Dea tante, istri Rafa. Adik tirinya Tara," kata Dea memperkenalkan diri,  dulu Dea dan Rafa menikah di luar negeri. Jadi tidak ada yang tahu, bahwa Rafa sudah menikah hanya beberapa orang saja yang tahu.


Tara pun mengajak semua orang untuk masuk, karena sebentar lagi makan siang sudah siap. Walau telat dari jam makan siang, tak hanya Theo, Sandrina pun sangat nyaman berada dalam pelukan Mario. Kedua bayi tersebut enggan beralih, dalam pelukan Tara dan Dea.


"Sepertinya aku bisa menitipkan anak ku pada ayah," goda Tara, membuat Mario tertawa.


"Iya aku setuju," kekeh Dea, kini mereka tak merasa canggung lagi.


"Boleh tapi jangan lupa bayarannya," canda Mario, membuat semua orang tertawa.


Laura menatap Melinda yang tersenyum, menyandarkan kepalanya di pundak Mario. Walau Mario repot dengan dua bayi, dia seolah tak merasa terganggu dengan Melinda yang bermanja pada kakeknya tersebut.

__ADS_1


****


Sementara itu, Dika pulang lebih dulu untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Selama dalam perjalanan, dia terus mengenang masa lalu dengan Melinda saat mereka masih di Singapura.


"Melinda." Lirih Dika, hanya nama sang anak yang dia ucapkan.


Berpuluh menit kemudian, Dika sudah sampai dikediamannya bersama dengan Anyelir. Jika Jenny masih ada, mungkin akan menjadi rumahnya dan Jenny.


Saat tiba di ruang utama, Dika mendengar tawa bahagia dari Ameera dan Anyelir.


"Aku mau nanti kalo udah lahir, tinggal di sini dulu yah bu." Pinta Ameera.


"Iya boleh, biar ibu gak terlalu kesepian."


Mereka terus melanjutkan obrolan seru ibu dan anak, dulu pun Dika pernah terlibat obrolan menyenangkan dengan sang anak Melinda. Dika melangkah gontai, menuju kamarnya.


"Apa aku ayah yang buruk untuk mu nak?" gumamnya sambil menatap foto Melinda kecil, dia sungguh cantik perpaduan dirinya dan Jenny. Tapi semakin besar, aura Jenny terlihat dalam Melinda.


Dika mengehela napas dengan pelan, lalu dia memejamkan matanya. Apa yang terjadi, sungguh membuatnya lelah. Melihat wajah kecewa Melinda, ibu dan papinya. Membuat Dika sakit, dia pun malu untuk menemui sang anak.


Di dapur


"Kayanya tadi aku, denger suara mobil bu."


Anyelir memutuskan untuk melihat mobil milik siapa.


"Dika, dia sudah pulang? Tumben."


Anyelir memutuskan untuk ke kamar, takut Dika sakit atau apa. Tak biasanya suaminya itu pulang awal, biasanya Dika pulang pukul lima atau tujuh jika telat.


"Ibu ke kamar dulu nak," pamit Anyelir, di jawab anggukan oleh Ameera.


Sesampainya di kamar, Anyelir mendapati Dika sedang di balkon kamar. Matanya terpejam, dan sudut bibir yang terluka. Usapan lembut membuat Dika membuka matanya, dan mendapati senyum manis Anyelir.


"Sayang, kamu baik-baik saja? Kamu sakit? Kenapa sudah pulang?" cerca Anyelir khawatir.


"Aku baik-baik saja sayang, hanya sedang pusing." Jujur Dika.


"Kenapa? Kamu kepikiran Melinda lagi?" Namun Dika tak menjawab, dia masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Anyelir berusaha memahami Dika, Melinda yang selalu menurut pada Dika. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk hidupnya sendiri.


"Apa aku jahat? Apa aku ayah yang gagal?" lirih Dika.


Anyelir duduk di sisi Dika, dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Tidak, mungkin kamu terlalu takut kehilangan dia setelah menikah. Dari bayi kamu merawatnya, jadi ada tak rela melepaskan anak yang kita sayang. Padahal Melinda selalu ingin bertemu dengan mu, kamu tidak gagal sayang. Hanya saja keadaan yang membuatnya berubah," tutur Anyelir.


"Dari mana kamu tahu kalau Melinda selalu ingin bertemu dengan ku?"


"Axel, setiap hari dia selalu meminta ku untuk membujuk mu, agar datang menemui Melinda atau menghabiskan waktu dengannya. Aku tahu saat Melinda sakit pun kamu diam-diam memperhatikannya dari jauh kan?" tebak Anyelir, di jawab anggukan Dika.


Memang saat Axel meminta Dika ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Melinda. Dika diam-diam datang memperhatikannya dari jauh, dan Anyelir memperhatikan itu saat akan menjenguk Melinda. Namun urung, karena Ameera merengek ingin bertemu dengannya.


Dika terdiam dia membenarkan ucapan Anyelir, kala itu setelah pengusiran pada Axel. Dia sungguh mencemaskan sang anak, yang menurut keterangan perawat memiliki alergi terhadap semua jenis ikan. Sama halnya, Jenny dulu tak menyukai ikan.


Namun yang paling membahagiakan bagi Dika adalah, ketika mengetahui sang anak mengandung cucunya. Saat itu Dika terisak, dan rasanya ingin memeluk Melinda. Tapi dia merasa malu padanya karena telah mengacuhkannya selama ini, alasan Dika mengeluarkan Melinda dari perusahaan agar Melinda tak terlalu lelah. Tapi menurut Mario, itu sangat keterlaluan.


"Aku ingin bertemu dengannya," celetuk Dika.


"Kita bertemu bersama, Aaron juga merindukan kakak yang selalu dia sayangi. Berbeda dengan Ameera, Aaron lebih sayang Melinda." Kekeh Anyelir.


"Aaron memang begitu, karena dia anak ku." Ujar Dika.


"Jangan lupa dia juga anak ku, aku yang hamil sayang." Ketus Anyelir, membuat Dika tertawa dan mencubit pipi Anyelir.


Anyelir menatap Dika yang ceria, tak lagi bersedih dia akan menghubungi Axel untuk melakukan makan malam bersama.


*****


Rumah sakit keluarga Johnson, Fransiska sungguh tak dapat menahan diri untuk memberitahu Alzeta. Tentang istri Axel yang begitu mirip, dengan Jenny mereka tau jika Jenny sudah berpulang saat melahirkan.


Tapi mereka tak pernah bertemu dengan bayi milik Jenny, pasalnya Dika menghabiskan waktu di Singapura. Sedangkan saat beranjak dewasa, Melinda pun sibuk dengan karirnya sendiri.


Fransiska pun mengirimkan pesan pada Alzeta, berharap dia membaca secepatnya tapi mungkin itu hanya tinggal harapan. Karena Alzeta, tengah menangani pasien di ruang operasi.


Rasa penasaran Fransiska tak sampai di situ, dia memutuskan untuk mencari tahu latar belakang Melinda. Namun tak dapat menemukan apa pun di sana, Melinda menutup kisah hidupnya dari dunia luar.


Alzeta dan Fransiska sudah menikah, dan mereka di karuniai dua orang anak. Yang pertama laki-laki seusia Aaron anak Dika, dan yang ke dua perempuan masih duduk di sekolah menengah pertama.

__ADS_1


****


Semoga suka, maaf typo 💜


__ADS_2