Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 100


__ADS_3

Jae Kyung terus membawa Nina berlari menjauh. Menghindari kejaran Heri.Yang terus mengejar mereka di belakangnya.


"Jay, aku lelah," keluh Nina. Dia juga merasakan perutnya mulai bergejolak tidak nyaman lagi.


"Bertahanlah sebentar. Kita harus sampai jalan raya didepan itu," pinta Jae Kyung. Tangannya terus menggenggam erat jemari tangan Nina. Berusaha memberikan support dan semangat pada Nina.


Tapi mereka belum sampai ke jalan raya. Ketika Heri dengan tiba-tiba menabrak mereka dari belakang. Keduanya langsung tersungkur ke aspal. Rupanya Heri berhasil menyusul mereka.


Nina meringis sambil memegangi perutnya.


"Baik-baik saja, hmmm?" tanya Jae Kyung cemas melihat wajah pucat Nina.


"Aku baik," jawab Nina setengah tersengal.


"Jay awas!" teriak Nina. Nina melihat Heri akan menyerang Jae Kyung dengan sebilah pisau ditangannya.


Jay menahan serangan Heri dengan kedua tangannya. Takutnya pisau itu akan melukai Nina. Karena jarak mereka yang begitu dekat.


"Pergilah dulu. Aku akan menahannya," pinta Jae Kyung.


"Tapi...." balas Nina ragu.


"Cepatlah!" lagi-lagi Jae Kyung memintanya pergi, membuat Nina dengan cepat berusaha meninggalkan tempat itu. Ah kenapa tempat itu jadi begitu sepi. Dia pikir ingin berteriak minta tolong.Tapi pada siapa jika tidak terlihat satu orangpun disana.


"Jangan ikut campur urusanku Lee Joon!" Heri memanggil Jae Kyung dengan nama kakaknya.


"Aku akan tetap mencampurinya," balas Jae Kyung. Lantas dengan cepat mendorong mundur tubuh Heri.


"Kurang ajar!" teriak Heri.


Keduanya lantas terlibat baku hantam yang sengit. Mencoba saling menjatuhkan satu sama lain. Tendangan, pukulan silih berganti mereka lesakkan ke tubuh lawan.


Bunyi "buuuugggghhh, "buuugghhh" khas orang berkelahi terdengar di jalan sepi itu. Memecah kesunyian hari yang mulai merayap malam.


"Aku hanya perlu mengulur waktu agar Nina bisa mencapai jalan. Mencari taksi atau setidaknya mencari bantuan," batin Jae Kyung.

__ADS_1


Memikirkan Nina membuat fokus Jae Kyung melemah. Dan "sreeeetttrt,"


"Aaahhhhhh," ringisan keluar dari bibir Jae Kyung. Satu goresan yang cukup dalam mendarat di lengannya. Merobek jaketnya. Darah langsung mengalir deras dari luka itu. Heri menyeringai lantas melangkah pergi meninggalkan Jae Kyung, yang jatuh terduduk sambil menahan nyeri di lengannya.


"Ahhh ini kenapa rasanya sakit sekali.Sial bajingan itu mengejar Nina," kesal Jae Kyung. Berusaha berdiri lantas mencoba berlari menyusul Nina dan Heri.


Sementara itu, Nina sudah hampir sampai di jalan raya. Ketika tiba-tiba saja Heri sudah muncul di belakangnya. Entah seberapa cepat pria itu berlari.Tahu-tahu sudah berada dibelakang Nina dan memegang tangan Nina. Mencengkeramnya erat.


"Hah? Lepaskan! Lepaskan! Tolong! Tolong!" teriak Nina.


Jika Heri berhasil sampai ke sini. Apa mungkin hal buruk terjadi pada Jae Kyung. Seketika rasa panik menghantam hati Nina.


"Diamlah! Jangan berteriak!" ancam Heri. Pria itu membawa Nina masuk ke dalam gudang kosong di sisi kiri jalan itu. Namun belum sampai masuk ke dalam, Nina menginjak kaki Heri. Pria itu spontan melepaskan cengkeraman tangannya pada Nina. Memcoba berlari kembali ke arah jalan raya. Tapi usahanya sia-sia karena dengan cepat Heri bisa menangkapnya lagi.


"Sudah kubilang berhenti mencoba lari dariku!" teriak Heri kesal. Menahan tubuh Nina dari gerakannya yang terus ingin melepaskan diri.


"Tolong! Tolong!" teriak Nina ketika melihat beberapa orang melihat di kejauhan. Hal itu membuat Heri marah. Dan "plak" satu tamparan mendarat di pipi mulus Nina.


"Aaaarrgghhhh," Nina berteriak saking kerasnya Heri menampar pipinya. Bekasnya langsung membiru lebam.


Nina hanya bisa memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Seumur-umur belum pernah ada yang menampar dirinya. Air mata mulai menetes di pipinya. Bahkan Nina merasakan rasa asin khas darah dibibirnya. Bisa dipastikan jika bibirnya juga terluka.


"Tolong!" Nina kembali berteriak, membuat Heri semakin kalap. Dia menarik tubuh Nina. Membawanya kembali masuk ke dalam gudang. Sedang Nina terus meronta mencoba melawan. Hingga "sreeettttt" satu goresan mendarat di lengan kirinya.


Kembali ringisan terdengar dari bibir Nina. Dilihatnya darah mulai membasahi lengan dresnya yang berwarna toska itu.


"Itu akibatnya jika kau terus melawanku!!" sarkas Heri.


"Heri lepaskan aku! Aku mohon!" Nina memohon. Dia sudah tidak tahan lagi. Perutnya semakin tidak karuan rasanya dari tadi. Dia masih terus berusaha melepaskan diri dari Heri yang sudah berhasil membawanya masuk ke gudang kosong itu.


Sampai didalam Heri tanpa basa basi langsung menyerang Nina. Mencoba melecehkan wanita itu sekali lagi. Seperti keinginannya 2 tahun lalu. Nina jelas tidak ingin kejadian itu terulang lagi.


Susah payah dia terus melawan. Mencoba menahan pria itu agar tidak bisa menyentuh dirinya. Hingga Heri kembali emosi dan "plak" satu tamparan kembali mendarat di pipi Nina. Panas dan perih kembali Nina rasakan. Tubuhnya ambruk ke lantai tanah berdebu.


Heri dengan cepat berusaha menindih tubuh Nina. Namun belum juga berhasil melakukannya. Satu tarikan tangan kuat membuat Heri terjengkang ke belakang.

__ADS_1


"Berani kau menyentuhnya!" teriak suara itu. Jae Kyung berhasil menyusul mereka.


Nina langsung menangis histeris melihat Jae Kyung.


"Sudah tidak apa-apa. Aku disini. Jangan takut," ucap Jae Kyung lembut. Merengkuh tubuh ringkih itu ke dalam pelukanya.


Tanpa mereka sadari. Heri bersiap memukul Jae Kyung dengan sebilah balok di tangannya.


Dan "duuukkk" bunyi pukulan balok itu mengenai kepala Jae Kyung. Pria itu tersungkur seketika. Heri dengan cepat menarik Nina berdiri. Membawanya menjauh dari Jae Kyung. Jae Kyung berusaha bangun meski kepalanya rasanya sakit bukan main.


"Jae Kyung bangun! Bangun! Kau tidak boleh terluka! Jae Kyung bangun!" teriak Nina, dan langsung mendapat pukulan di perutnya. Meski tidak terlalu kuat namun sangat menyakitkan bagi Nina.


"Aaahhh" Nina meringis kembali. Perutnya terasa sakit sekali. Sedang Heri hanya menyeringai. Melihat hal itu Jae Kyung marah. Mendekat ke arah Heri bermaksud menghajarnya. Tapi Heri dengan cepat membawa Nina keluar dari pintu di sisi kiri mereka, yang ternyata langsung menghadap ke jalan raya.


Dengan puluhan kendaraan yang berlalu lalang. Tanpa peduli dengan apa yang tengah terjadi dengan tiga orang di sisi jalan itu.


"Cobalah untuk menyelamatkannya," ucap Heri santai. Sambil mendorong setengah melempar tubuh Natasya ke tengah jalan raya dengan padatnya jalan kendaraan yang tengah melintas.


Jae Kyung jelas terkejut bukan main dengan ulah Heri. Tidak menyangka jika pria gila itu akan melakukan hal tersebut. Secepat kilat Jae Kyung berusaha mengejar tubuh Nina yang langsung jatuh terduduk di aspal jalan raya. Ketakutan jelas melanda dirinya.


Hal ini lagi yang terjadi padanya. Terjebak di tengah jalan raya. Beberapa kendaraan langsung berhenti begitu melihat sosok Nina di tengah jalan. Mereka pasti mengira Nina pastilah orang gila atau orang yang mencoba bunuh diri.


Berusaha berdiri. Berusaha mencari jalan menepi. Beberapa kendaraan tampak memberi jalan padanya. Hingga tiba-tiba sebuah klakson panjang mengagetkannya. Sebuah mobil meluncur dengan kecepatan penuh ke arahnya. Silau lampu mobil itu membuat Nina tidak mampu bergerak. Hanya bisa melihat mobil itu semakin dekat ke arahnya.


Entah kenapa tiba-tiba Nina menyentuh pelan perutnya. Memejamkan matanya. Hingga satu suara kembali membuatnya membuka matanya kembali.


"Nina No!! Menyingkir dari sana!" teriak suara itu. Lantas menyambar tubuh Nina. Membawanya masuk kedalam pelukannya. Memutar tubuhnya. Hingga merasa yakin kalau dialah yang akan menyentuh aspal lebih dulu.


***


Up lagi readers, persiapan besok seharian mungkin gak bisa up,


Happy reading dan terima kasih sudah mampir, love you all 😘😘😘


*****

__ADS_1


__ADS_2