Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 74


__ADS_3

Braakkkk,


Bunyi pintu yang ditutup kasar membuat Burhan menghentikan aktivitasnya sejenak. Melihat sang putri masuk dengan wajah marahnya. Burhan hanya menghela nafasnya. Tiap kali masuk ke ruang kerjanya. Putri tunggalnya itu pasti marah-marah.


"Papa keterlaluan!" maki Dina begitu sudah berada di depan ayahnya.


"Maksudmu apa?" tanya Burhan dengan wajah datarnya.


"Apa Papa yang menyuruh Heri untuk melecehkan Nina?" tanya Dina to the poin.


"Heri? Aku pikir tidak pernah memerintahkan Heri untuk melakukan apapun pada Nina atau entah siapapun itu. Tapi baguslah kalau begitu. Berarti keluarga itu sedang kacau balau," batin tuan Burhan.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Burhan santai.


"Jadi benar Papa yang melakukannya? Apa Papa tidak tahu siapa Nina?" Dina bertanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nina? Kekasih tuan muda Lee. Kalau Papa tidak salah," jawaban sang ayah yang begitu santai membuat Dina emosi.


"Apa Papa tidak menyelidiki dulu siapa Nina sebelum Papa membuatnya menderita?" kali ini air mata sudah turun di pipi Dina.


"Well, you know I don't really care about that,"


"Pa, Nina adalah Karen. Putri angkatmu. Adikku. Apa Papa tidak tahu itu. Dan Papa tega menyuruh Heri untuk melecehkan Karen!" Dina berteriak. Ucapan Dina bagai petir di siang hari bagi Burhan.


"Kau bohong! Nina tidak mungkin Karen! Dia ada di Jogja. Dia bukan Karen!" sangkal Burhan. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Nina adalah Karen. Itu mustahil. Ini pasti salah. Ini pasti tidak benar," bisik hati Burhan.


Kenangan seorang gadis kecil yang tengah tertawa riang saat berada di gendongannya terlintas di pikirannya.


"Ayah, Ayah jangan pergi ya."


"Tidak, Ayah tidak akan pergi ke mana-mana. Ayah akan selalu ada buat Karen. Akan selalu melindungi Karen."


"Papa tidak percaya kalau Nina adalah Karen. Bahkan Bu Ratna pun ada di sana Pa. Papa masih tidak percaya?" ucap Dina sambil terisak. Burhan hanya diam membisu. Matanya berkaca-kaca.


"Apakah Nina adalah Karen. Kalau benar. Berarti aku sudah menghancurkan kehidupan putri angkatku.Putri yang aku cintai sama seperti aku mencintai putri kandungku Dina," tangis hati Burhan.


"Apa Papa tidak tahu bagaimana keadaannya? Apa Papa mau tahu? Dia trauma. Dia takut bertemu orang. Dia menangis dan histeris setiap ada orang yang mendekatinya. Dia sangat menderita!" teriak Dina di depan Papanya.


Kembali Burhan hanya diam saja. Tanpa Dina tahu, sudut mata tuan Burhan sudah mengembun. Untuk pertama kalinya Burhan meneteskan air matanya. Setelah hampir sepuluh tahun dia tidak mengenal yang namanya kesedihan.


"Apakah itu benar kamu Karen?" batin Burhan.


"Papa benar-benar jahat. Papa keterlaluan. Dina benci Papa!" teriak Dina kembali. Lantas melesat keluar dari ruangan papanya.


Meninggalkan Burhan yang akhirnya benar-benar menangis. Dia begitu menyesal jika benar Nina adalah Karen. Berarti dia sudah membuat putri angkatnya itu menderita secara tidak langsung.


"Roy, kamu carikan data tentang Nina, kekasih tuan muda Lee," perintahnya melalui ponselnya.


******


Ceklek,


Pintu apartemen Doni terbuka. Doni yang seperti biasa berada di balkon langsung menoleh. Melihat sang kekasih datang. Senyum di wajahnya langsung mengembang. Namun detik berikutnya senyum itu memudar ketika dilihatnya wajah sang kekasih yang sembab. Jelas jika dia baru saja menangis.


"Sesuatu terjadi?" tanyanya.


Bukannya menjawab, Dina malah langsung menghambur masuk ke pelukan Doni. Di sana Dina kembali menangis.

__ADS_1


"Apa yang terjadi hmm?" kembali Doni bertanya.


"Papa yang menyuruh Heri untuk melakukan hal itu pada Nina " jawab Dina di sela-sela tangisnya. Doni hanya menghela nafasnya. Dina melepas pelukannya.


"Mas sudah tahu jika Papa adalah dalangnya?" Dina memastikan. Doni hanya mengangguk.


"Sejak awal kami tahu jika Heri bekerja pada Papamu. Tapi kami belum mendapatkan bukti kalau papamu adalah dalang di balik semua kejadian ini. Bahkan sampai hari ini, Heri tidak mau mengaku siapa orang yang telah menyuruhnya. Dia hanya mengatakan kalau melakukan ini semua karena ingin balas dendam pada adikmu dan tuan muda Lee," jelas Doni.


"Kenapa Mas tidak pernah cerita padaku?"


"Mas tidak ingin menambah beban pikiranmu. Itu saja."


"Tapi kalau seperti ini. Aku jadi merasa tidak enak pada yang lain. Aku putri kandung dari pembuat onar itu."


"Bagaimanapun juga dia tetap ayahmu. Soal itu yang lain sudah paham dengan posisimu. Jadi mereka tidak terganggu dengan statusmu yang putri seorang tuan Burhan. Karena kamu memang tidak ada hubungannya dengan semua kejadian ini."


"Tapi Mas....."


"Tidak usah merasa tidak enak seperti itu. Mereka tidak pernah menyalahkanmu," hibur Doni.


Mendengar hal itu. Dina menangis lagi, Doni kembali memeluk Dina. Dina sedih, kecewa dan marah di waktu bersamaan.


"Sudah jangan menangis lagi," kata Doni sambil menciumi puncak kepala Dina.


Pikiran Dina benar-benar kacau. Dia tidak tahu harus bagaimana. Hanya saja dia tiba-tiba dia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Doni. Dada bidang pria berusia 29 tahun itu selalu ada untuknya. Pria itu sama sekali tidak pernah meninggalkan Dina. Tidak peduli apapun yang terjadi.


Bahkan ketika sang papa memerintahkan orang-orangnya untuk menculiknya saat itu. Yang berakhir dia harus tidur di rumah sakit selama tiga hari. Hal itu pun tidak membuat pria itu berpikir untuk meninggalkannya.


Perlahan Dina melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah tampan pria yang ada di depannya itu. Wajah tampan dengan garis wajah khas orang Bandung yang memang terkenal tampan dan cantik. Dan entah datang darimana keberanian itu. Dina perlahan berjinjit dan "cup" sebuah kecupan mendarat di bibir tebal Doni. Pria itu terkesiap dengan apa yang Dina lakukan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Doni heran dengan dengan sikap kekasihnya itu.


Tapi kali ini Dina begitu ingin melakukannya lagi. Efek dari semua kejadian ini. Membuat akal sehat Dina hilang entah ke mana.


Perlahan Dina mengalungkan tangannya di leher Doni. Membuat pria itu heran.


"Ada apa?" tanya Doni heran.


"Aku menginginkanmu, Mas," bisik Dina parau. Doni seketika bingung dengan sikap Dina.


"Maksud kamu apa?" tanya Doni lagi. Namun Dina tidak menjawab. Gadis itu malah mencium Doni kembali. Kali ini Doni merasa merasa ada yang aneh dengan ciuman Dina. Ada has*** yang ingin dipenuhi dalam ciuman Dina.


"Dina, Dina, Din tunggu dulu. Apa yang kamu lakukan?" kembali pria itu bertanya.


Namun Dina tidak menjawab. Dina meraih kerah kemeja Doni dan kembali mencium pria itu dengan panas. Entah apa yang merasuki pikiran Dina kala itu.


Beberapa saat ciuman mereka terlepas. Dengan perlahan Dina mulai membuka kancing kemeja miliknya. Memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang mulus. Seketika Doni menelan salivanya. Menekan has***nya yang juga ikut naik. Melihat tubuh atas Dina yang kini hanya berbalut pakaian dalam berwarna putih. Benar-benar menggoda.


Doni hanya pria biasa. Pria normal. Tentu saja dia langsung tergoda melihat tubuh mulus sang kekasih. Selama hampir dua tahun berpacaran mereka hanya berpelukan dan berciuman tidak lebih. Doni selalu berusaha menahan dirinya untuk tidak melewati batasannya. Tapi malam ini sepertinya dia tidak akan bisa menahan dirinya lagi.


"Apa kamu juga tidak menginginkannya?" tanya Dina yang sudah membuang kemejanya ke sembarang arah. Mendekati Doni yang berkali-kali menelan salivanya. Berusaha mempertahankan akal warasnya. Namun akal warasnya buyar seketika, ketika jemari Dina perlahan mengusap lembut dada bidang Doni yang masih terbalut kemeja kerjanya yang berwarna hitam.


"Dina apa yang kamu lakukan" bisik Doni parau. Dina tidak menjawab. Detik berikutnya, Dina mencium Doni, dan Doni yang sudah mulai dikuasai na***, langsung membalas ciuman Dina yang semakin panas.


Hingga tanpa sadar. Keduanya sudah berada di ranjang Doni. Keduanya sudah sama-sama po***. Tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka. Malam itu untuk pertama kalinya mereka melewatkan malam panas mereka. Dan berakhir ketika malam sudah melewati puncaknya.


*****


Matahari mulai menampakkan dirinya di langit. Sinarnya mulai menerobos tirai berwarna putih yang menutupi jendela apartemen Doni. Membuat dua insan yang masih bergelung malas di atas ranjang itu, hanya menggeliat pelan. Tanpa ada niat untuk bangun.

__ADS_1


Perlahan Doni membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Dina yang masih terlelap sambil memeluk tubuhnya. Seulas senyum terbit di bibirnya. Terlintas kembali bagaimana panasnya malam yang baru saja mereka lalui.


Berulang kali Doni bertanya pada Dina. Apakah gadis itu benar-benar ingin menyerahkan mahkotanya padanya. Dan Dina langsung mengangguk. Masih terngiang bagaimana Dina berteriak ketika miliknya akhirnya berhasil menerobos milik Dina setelah berulang kali mencoba. Membuat Doni sadar. Dia adalah yang pertama untuk Dina. Bahkan kuku-kuku Dina langsung mencengkeram lengannya. Membuat Doni ikut meringis.


Doni kembali tersenyum. Wanita dalam dekapannya itu kini sudah menjadi miliknya. Seutuhnya. Doni menebarkan pandangannya ke kamarnya. Pakaian mereka bertebaran di sembarang tempat. Menandakan kalau mereka pun kini masih sama-sama polos. Hanya berbalut selimut Doni yang berwarna hijau toska.


Dina menggeliat pelan dalam tidurnya. Dan gerakan Dina sukses membuat yang di bawah sana langsung merespon.


"Ah sial, dia sudah ķetagihan," rutuk Doni dalam hatinya.


Padahal semalam bukan hanya sekali keduanya mencapai pelepasan mereka. Setelah rasa sakit yang Dina rasakan hilang. Doni terus memacu gadis itu hingga lewat tengah malam. Membuat Doni benar-benar bisa memenuhi has***nya.


"Sudah bangun ha?" tanya Doni lembut ketika Dina menggeliat lagi.


"Sakit," rengek Dina.


"Maafkan aku," ucap Doni. Dina menggeleng.


"Aku yang memaksamu Mas," ujar Dina.


"Apa kamu menyesal?" tanya Doni. Dina langsung mendongakkan kepalanya. Tindakan Dina itu membuat dada Dina terlihat menggoda. Dina menggeleng.


"Aku akan bertanggungjawab. Kita akan segera menikah," ucap Doni.


"Kita akan menikah setelah Nina dan Lee Joon menikah lebih dulu. Aku harus memastikan jika adikku yang satu itu benar-benar bisa bahagia. Apa Mas tidak masalah harus menunggu lagi. Kalau Mas tidak mau menunggu. Mas bisa pergi. Aku tidak apa-apa," ucap Dina dengan wajah sendu. Tanpa sadar Dina memainkan jemarinya di dada bidang Doni. Membuat pria itu langsung memejamkan matanya. Menahan has***nya yang kembali naik.


"Apa dia sengaja melakukannya. Apa dia mau menggodaku lagi. Ah dasar," umpat Doni dalam hati.


"Mas, aku tidak masalah jika Mas tidak menungguku lagi. Yang terjadi malam ini, semua salahku. Aku yang memulainya. Jadi tidak....," kata-kata Dina terputus ketika Doni dengan cepat mencium bibir Dina.


"Berhenti bicara yang tidak-tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap menunggumu. Kamu pikir aku sama dengan bajingan di luar sana. Yang kabur setelah mendapat apa yang diinginkan," ucapan Doni membuat Dina langsung tersenyum.


"Benarkah? Mas mau menungguku?" ucap Dina sambil menaikkan sedikit tubuhnya. Membuat dada Dina yang semalam membuatnya menggila terlihat dengan jelas.


"Tentu saja aku akan menunggumu. Bagaimana bisa aku meninggalkan wanita yang bisa begitu panas dan liar di ranjang ini ha?" ucap Doni sambil berbisik di telinga Dina. Tubuh Dina kembali meremang. Terlintas bagaimana Doni begitu pandai membawanya melintasi cakarawala. Menuju indahnya surga dunia.


"Mas juga begitu hot," ucap Dina malu-malu. Dan masih tanpa sadar jemari Dina malah menusuk-nusuk dada bidang Doni.


"Lalu apakah kamu sedang menggodaku lagi?" tanya Doni sambil menaikkan alisnya.


"Ha?" Dina melongo. Melihat ke arah mata Doni menatap. Sontak dengan cepat Dina menaikkan selimutnya guna menutupi dadanya.


"Tidak usah ditutupi. Aku sudah melihatnya bahkan mencicipinya," ucap Doni.


"Iihh Mas mesum," rajuk Dina. Gadis itu malah bergerak semakin tidak karuan.


" Berhenti bergerak. Atau kamu bisa membangunkan dia lagi," ucap Doni yang disambut pelototan mata Dina.


"Maaaassss!" teriak Dina, yang langsung dibungkam dengan ciuman oleh Doni. Hingga kegiatan panas itu kembali terjadi.


*****


Haduh, maaf author khilaf. Seperti kata dokter Pras. Otak waras author lagi hilang entah kemana. Tidak pernah kepikiran bakal ada part ini untuk Doni dan Dina. Hanya tiba-tiba saja langsung muncul begitu saja.


Anyway, up pagi-pagi readers, semoga pada suka ada sedikit part yang hot,


Jangan lupa buat dukung author ya. Ditungguin ni like, vote, comment dan gitf-nya juga ya,


Happy reading and salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘

__ADS_1


****


__ADS_2