
Minggu itu berlalu dengan cepat. Mengingat kesibukan masing-masing yang sangat padat. Membuat waktu seakan berlari melewati mereka. Setelah hari itu dimana Nina dan Joon bertemu di ruangan baru Nina. Mereka berdua nyaris tidak ada waktu untuk bertemu.
Kadang mereka hanya bertemu sekilas saat meeting atau sekedar bisa melihat dari kejauhan.
"Aku satu kantor dengannya hanya berbeda lantai. Tapi untuk bertemu pun susah," batin Joon suatu pagi.
Saat melihat gadis itu sudah masuk lift. Dan nampak tergesa-gesa. Dia sendiri baru saja turun dari mobilnya.
Begitupun Nina. Kesibukannya membereskan departemen keuangan nyaris tidak membuatnya istirahat dengan benar. Dia dan Karin benar-benar kewalahan di buatnya.
Tapi untunglah sejak hari itu, hari di mana ia menunjukkan kemampuannya di hadapan para stafnya. Pandangan mereka terhadap Nina mulai berubah. Tidak lagi meremehkan dan memandang sebelah mata kepada Nina.
"Awal yang lumayan baik," kata Nina.
Nina dengan sikapnya yang tegas dan tanpa basa basi mulai disegani di departemennya. Dia sering kali turun langsung ke lantai 30 untuk mengecek pekerjaan anak buahnya.
"Tidak perlu takut untuk bertanya jika memang kalian tidak mengerti dengan datanya atau ada yang terlihat tidak beres dengan datanya katakan langsung padaku," ucap Nina seperti seorang guru pada muridnya.
"Bagaimana?" Karin bertanya setelah Nina kembali ke lantai 34
"Lumayan, dalam beberapa hari semua berjalan lancar. Tapi kita tetap harus waspada."
"Betul katamu."
"Aku heran bagaimana dulu Joni bisa membuat anak buahnya mengerjakan laporan tanpa curiga jika ada yang tidak beres dengan datanya."
"Mungkin ia begitu pandai dalam menyembunyikannya. Seperti dalam kasus Irfan waktu itu. Irfan sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia lakukan saat itu."
"Atau mereka memang terlalu bodoh untuk menyadari ada yang tidak beres dengan datanya atau...." keduanya saling pandang.
"Ada yang mengancam mereka," ucap mereka bersamaan.
"Kamu benar. Seperti yang pernah kamu alami dulu," kata Karin
"Uhhhm mungkin juga."
"Untungnya orang yang bernama Joni itu sudah tidak ada.
"Ada di penjara bagus untuknya."
"Ehh kamu nggak tahu. Dia itu dibunuh beberapa hari setelah ditangkap. Dia dibunuh di penjara." Info Karin.
"Ha? Masak sih?"
"Kamu nggak nonton berita?"
Nina menggelengkan kepalanya. Keduanya kembali mengamati dua monitor besar di hadapan mereka. Memperlihatkan suasana di departemen keuangan. Ya, Joon memberikan akses CCTV ke departemen keuangan setelah Nina protes hari itu.
"Apa maksudmu aku harus berkantor di lantai 34?"
"Sudah aku bilang aku tidak ingin jauh darimu."
"Tapi aku tidak bisa mengawasi mereka."
"Aku kan sudah bilang. Kamu akan punya kendali penuh atas departemen keuangan jika kamu menerima posisi itu. Termasuk untuk mengakses CCTV di seluruh ruangan di departemen keuangan tanpa terkecuali. Itu ada dalam genggamanmu."
Dan inilah hasilnya. Dua layar monitor tambahan berada samping meja kerjanya. Sehingga dia dengan mudah bisa memantau anak buahnya ketika bekerja.
"Uuuh... weekend ini rasanya pengen tidur seharian di kasur deh," ucap Karin.
"Pengennya aku juga iya. Tapi kayaknya nggak bisa deh. Dia baru WA weekend ini tante Sofia pengen ketemu."
"U lala yang mau ketemu camer."
"Camer apaan sih?"
"Camer, calon mertua apa lagi."
"Entahlah, Rin." Karin mengubah posisi berdirinya jadi menghadap Nina.
"Jangan bilang kamu masih ragu dengan perasaan kamu. Kamu nggak lihat betapa bucinnya Lee Joon sama kamu."
Nina terdiam. Dia juga bisa melihat itu. Tapi entahlah.
"Jangan sampai kamu menyesal. Di mana lagi kamu bisa mencari pria seperti itu. Ingat kesabaran seseorang ada batasnya." Nina terdiam mendengar perkataan Karin.
"Aku aja nyari duplikatnya nggak dapat-dapat. Kamu yang dapat originalnya malah kebingungan. Ambil keputusan cepat sebelum dia diambil orang. Kamu tahu kan yang ngantri banyak, udah kayak gerbong kereta api." Ucap Karin sambil menepuk bahu Nina. Lantas keluar dari ruangan Nina. Meninggalkan Nina yang kembali terdiam mendengar ucapan Karin
Sementara itu,
__ADS_1
"Anda yakin mau melakukannya tuan?" tanya Doni pada atasannya. Hari itu Mike memutuskan untuk jalan-jalan sendiri. Membawa mobil sendiri.
Mike mengangguk meyakinkan sang asisten. "Hubungi saya jika anda memerlukan sesuatu."
Mike kembali mengangguk. Lantas mulai membawa mobilnya keluar dari kawasan MH GROUP.
"Cobalah untuk banyak mengambil waktu sendiri. Cobalah untuk membuat pikiranmu jernih. Itu akan membantu terapimu."
Beberapa saat, Mike melajukan mobilnya mengikuti arus kendaraan yang mulai padat. Malam minggu, biasa. Cukup lama dia berkendara. Hingga dia melihat sosok yang begitu familiar akhir-akhir ini. Seorang gadis masih dengan setelan kerjanya berdiri di sebuah halte bis. Tidak jauh dari tempatnya berhenti menunggu lampu merah menjadi hijau.
"Itukan Maya. Kenapa dia masih di sini? Bukannya dia sudah pulang dari tadi."
Lampu hijau menyala. Mobil Mike mulai mendekat ke arah halte.
Tiin, tiin, tiiin,
Bunyi klakson mobil itu mengagetkan Maya. Sontak ia mencari sumber suara. Dan sedikit terkejut melihat atasannya tengah melihat dirinya dari dalam mobilnya. Maya mendekat ke arah mobil Mike.
"Ya Tuan. Ada apa?"
"Masuklah. Aku antar pulang."
"Ha?" Maya melongo mendengar perkataan bosnya.
"Cepatlah masuk dulu. Di belakang mulai ngantri."
Secepat kilat Maya masuk ke mobil Mike. Karena benar, di belakang mereka mulai terdengar bunyi klakson yang menyuruh mereka untuk bergerak.
"Kamu baru pulang? Bukannya kamu sudah keluar dari tadi sore?" Mike membuka percakapan di antara mereka. Setelah beberapa waktu keduanya terdiam, hingga suasana canggung mulai terasa.
"Ah itu Tuan. Saya baru mampir ke tempat Ayah. Kirain bisa bareng ternyata Ayah ada pasien tambahan. Jadi pulang telat."
Mike melihat sekelilingnya dan menyadari kalau Dokter Pras bekerja di rumah sakit di daerah itu.
"Maya,"
"Ya, tuan."
"Bisa kamu panggil namaku saja jika sedang berada di luar kantor?"
"Tapi Tuan."
"Tapi Tuan itu tidak sopan. Anda kan lebih tua dari saya.Tidak pantas kalau saya langsung memanggil nama anda langsung."
"Terserah kamu mau panggil apa. Asal jangan panggil Tuan."
"Kalau Kakak boleh? Boleh saya panggil Tuan dengan Kakak kalau di luar kantor?"
Mike terdiam. "Boleh juga itu."
Maya langsung mengembangkan senyumnya. Membuat Mike yang kebetulan tengah menatap ke arah Maya terpana.
"Manis sekali senyumnya," batin Mike.
Mike seolah baru menyadari jika Maya lumayan cantik. Cewek berponi itu terlihat manis dan cantik di waktu yang bersamaan. Namun Mike segera menggelengkan kepalanya. Apa sih yang sedang dipikirkannya.
"Oh ya, kamu mau langsung pulang. Saya antar."
"Ehhmmm itu, itu..."
"Kenapa?"
"Kakak bisa turunkan aku di supermarket di depan itu. Aku mau belanja.Tadinya mau pergi sama ayah tapi tidak jadi."
"Oh.... kenapa tidak bilang dari tadi?"
Mike mulai mengarahkan mobilnya memasuki parkiran supermarket. Maya langsung turun. Bermaksud berterimakasih namun ia terkejut melihat Mike yang malah ikut turun.
"Kakak, kenapa ikut turun?"
"Aku juga pengen beli sesuatu."
"Oh"
Dan keduanya mulai memasuki supermarket. Lumayan ramai maklum weekend.
"Kak, Kakak bisa langsung beli barang yang Kakak mau. Nggak usah nungguin aku. Aku bakalan lama," ucap Maya saat dilihatnya Mike malah mengikutinya.
"Nggak apa-apa. Sekalian jalan-jalan."
__ADS_1
"Jalan-jalan? Di supermarket? Hello, Maya nggak salah dengar kan?"
Maya membatin dalam hati. Tapi di sisi lain dia juga senang. Bisa jalan berdua dengan orang yang dia suka. Sudah seperti orang kencan saja.
Keduanya lantas berbelanja berdua. Persis seperti pasangan muda yang tengah berbelanja. Apalagi sikap Mike yang nampak memperhatikan Maya.
Cukup lama mereka berdua berada di supermarket itu. Karena ternyata Maya belanja sayuran juga jadi cukup lama untuk memilihnya.
Merekapun mulai mengantri di kasir.
"Pakai ini?" Mike memberikan kartunya.
"Ah tidak perlu Kak, tadi ayah sudah memberikan kartu kreditnya," tolak Maya.
"Sudah gunakan ini saja. Daripada tidak pernah di pakai."
"Ha? Tidak pernah dipakai?"
Dan akhirnya Mike yang membayar belanjaan Maya. "Kak minta maaf. Saya merampok Kakak. Besok saya ganti. Sekarang cash saya nggak cukup buat nggantiin uangnya Kakak."
"Merampok? 2 juta itu nggak ada apa-apanya dibanding isi kartu itu," Mike tertawa dalam hati.
"Tidak apa-apa tidak usah diganti. Kan sudah aku bilang. Daripada nggak pernah di gunakan."
Maya hanya terdiam. Sedikit banyak Maya tahu, Mike bukanlah orang yang suka dibantah keinginannya.
"Terima kasih, Kak."
"Tidak masalah. Lalu ini mau kemana? Langsung pulang atau masih mau ke mana?"
"Aku sih pulang aja."
"Bagaimana jika temani aku makan. Aku belum makan."
Maya kembali terdiam. "Itung-itung buat ganti yang 2 juta tadi."
"Oke," kata Maya. Setidaknya jika untuk membayar harga makanan uangnya cukup.
Dia pikir Mike akan mengajaknya makan di warung pinggir jalan. Ternyata dugaannya salah besar. Sebab Mike membawa mobilnya masuk ke sebuah restoran Italia. Yang sudah dipastikan jika harganya tidak akan cukup dibayar dengan uang cashnya.
"Oh astaga, aku lupa jika Mike itu masuk golongan orang tajir alias kaya. Jadi mana mungkin dia akan sudi makan di warung pinggir jalan," batin Maya.
Akhirnya Maya dengan lesu mengikuti Mike masuk ke dalam restoran yang langsung disambut hangat oleh pelayan di sana.
"Sempurna sudah acaraku merampok bosku," batin Maya kembali
Maya pun tak heran jika pelayan di sana langsung mengenali Mike sebagai pelanggan di restoran itu. Dan dimulailah acara makan malam ala sultan itu. Itu menurut Maya loh...
Di sisi lain,
"Aku yakin papamu akan membunuhku jika dia tahu kamu bersamaku."
"Lalu akan aku pastikan jika saat itu kita akan pergi bersama."
"Kamu jangan konyol Dina."
Wanita yang di panggil Dina itu tertawa mendengar perkataan pria di depannya itu.
"Aku memang konyol sejak memutuskan untuk jatuh cinta padamu."
"Ish, ish, ish kamu ini. Aku tidak sedang bercanda."
"Kamu pikir aku juga sedang bercanda? Aku serius. Apalagi yang aku punya selain kamu. Ayahku sendiri. Aku bahkan sudah tidak mengenalinya lagi. Dia benar-benar sudah berubah," ucap Dina wajahnya berubah sendu.
Dan pria di hadapannya langsung memeluk tubuh gadis itu. "Bukankah kamu masih punya seorang adik angkat yang sangat kamu sayangi?"
"Tapi kita belum menemukannya."
"Kita akan menemukannya. Jangan khawatir. Dan kamu tidak akan sendiri lagi."
"Semoga kita bisa segera menemukannya."
Dan pria itu menganggukkan kepalanya.
Pradina Putri Afandi, nama gadis itu. Putri tunggal dari Burhanudin Afandi. Menjalin kasih dengan Doni Prasetya, yang tidak lain adalah asisten Mike, tanpa sepengetahuan ayah Dina. Mereka memang belum pernah mengatakan tentang hubungan mereka kepada tuan Burhan. Mengingat tuan Burhan pernah melarang putrinya itu untuk jatuh cinta pada pria manapun.
"Kita akan menemukan adik angkatmu dan semua akan baik-baik saja. Aku janji," ucap Doni berusaha menenangkan Dina. Wanita itu hanya mengangguk.
*****
__ADS_1