
Suasana heboh terjadi di kantor sekretaris di lantai 34. Dimana semua orang sudah berkumpul. Ada Max, Karin,Dita, Nindy dan asisten Jo.
"Jadi beneran pak Bos punya adik kembar?" tanya Karin kepo.
Ini sudah dua hari sejak kejadian penculikan Nina oleh Jae Kyung. Adik kembar Lee Joon.
"Iya dan kabarnya dia menculik Nina. Untuk membuat tuan muda Lee Joon marah," jawab asisten Jo.
"What apa dia sudah gila? Berani melakukan itu pada istri kakaknya. Pak Bos marah tidak," tanya Max.
"Tentu saja marah. Jimmy bilang mereka hampir menembak satu sama lain ketika dia dan yang lainnya datang," jelas asisten Jo
"Wah seru tu. Kita ketinggalan tontonan seru nih," potong Max.
"Kamu ini. Terus Ninanya gimana? Nggak apa-apa kan?" tanya Dita.
"Nina sih nggak apa-apa. Walau katanya sempat pingsan," jawab asisten Jo.
"Siapa juga yang nggak shock. Dua kali diculik," ucap Nindy santai.
"Resiko jadi istri orang hebat sekaliber Lee Joon," seloroh Max. Yang diangguki oleh yang lain.
"Tapi kepo deh seperti apa sih wajah kembarannya tuan muda Lee," tanya Dita.
Kredit instagram @eunwo_holic
"Ini fotonya," ucap asisten Jo sambil menunjukkan foto yang dikirim Jimmy melalui ponselnya.
"Ooo beda di warna rambut doang. Yang lain plek sama tuan muda Lee," ucap Dita lagi.
"Itu rambutnya diwarnai. Aslinya mah katanya rambutnya juga hitam. Maklum model. Begitu kata Jimmy," jelas asisten Jo.
"Dia model? Cocok sih," ucap Karin.
"Dia juga majalah fashion sendiri," tambah asisten Jo.
"Hebat banget dia," puji Nindy.
"Lah kita tahu Bos Kutub aja hebat begitu. Masak adiknya nggak. Kan gak adil," seloroh Max.
"Iya juga ya," ucap Dita.
****
Hari berganti pagi di Seoul. Sinar matahari menerobos masuk melalui tirai jendela berwarna ungu lembut, Nina menggeliat pelan dari tidurnya. Meraba-raba sampingnya. Sedikit aneh mendapati suaminya sudah tidak ada disampingnya.
Perlahan bangun dan sejenak duduk di tepi ranjang. Memperhatikan keadaan kamar dimana dia tidur. Ini kamar yang berbeda dari tempat pertama kali ia bangun di rumah ini.
"Manis sekali kamar ini," gumam Nina. Dia pikir untuk siapa Jae Kyung mendesain kamar ini.
Masuk ke kamar mandi. Membersihkan dirinya. Mencoba mencari baju ganti. Dan aha, dia menemukannya di walk in closet. Hampir dua hari ini dia tidak keluar kamar. Pusing masih sering melandanya. Hingga membuat Lee Joon melarangnya untuk keluar kamar.
Memakai baju ganti berupa dres berwarna peach yang entah milik siapa. Karena dia tidak merasa memiliki dres seperti itu. Namun pas sekali ditubuhnya.
Dia perlahah keluar dari kamarnya. Sepi, lagi-lagi hal itu yang dia rasakan di rumah ini. Berjalan menuju ke arah tangga.Sekilas dia melihat sosok seorang pria yang tengah berdiri diujung tangga bawah sedang berbicara melalui ponselnya.
Tidak menyadari kehadiran Nina pada awalnya. Namun ketika dia selesai menggunakan ponselnya. Dia berbalik. Mencium aroma yang beberapa hari ini begitu mengganggu pikirannya. Dan dia, Jae Kyung begitu terpana saat melihat sang kakak ipar yang tengah berjalan turun ke arahnya.
__ADS_1
Ingat part Kate Winslet ketika dia menuruni tangga kapal Titanic dengan Leonardo DiCaprio menunggunya di ujung tangga. Kira-kira seperti itulah situasinya.
Hanya bedanya. Meski Jae Kyung benar-benar terpesona pada kakak iparnya. Sama seperti Leo yang terpesona pada Kate. Tapi Jae Kyung sama sekali tidak berani mengambil telapak tangan Nina lantas menciumnya. Seperti yang Leo lakukan pada Kate.
Keduanya hanya saling diam ketika bertemu di ujung tangga. Jae Kyung benar-benar terpesona pada kecantikan kakak iparnya.
"Tidak ingin membiarkan aku lewat. Atau ingin aku gigit atau banting seperti waktu itu?" suara lembut Nina mengembalikan fokus Jae Kyung.
Jae Kyung perlahan malah mencondongkan tubuhnya ke depan. Membuat Nina naik satu anak tangga lagi. Menghindari jarak yang terlalu dekat dengan iparnya itu.
"Aku mau saja kau gigit atau kau banting lagi. Asal kau mengganti tempatnya," balas Jae Kyung dengan senyum smirk-nya.
"Maksudmu?" tanya Nina heran.
"Kau bisa menggigitku tapi ditempat lain bukan di lenganku. Dan kau bisa membantingku asal bukan di lantai. Kau bisa membantingku di kasurku misalnya," ujar Jae Kyung dengan wajah menggodanya.
"Kau benar-benar minta dihajar lagi ya? Minggir!" ucap Nina.
"Kalau aku tidak mau," goda Jae Kyung.
"Maka kau akan mendapat ini," dan Nina dengan cepat mencubit pinggang Jae Kyung yang langsung berteriak keras.
"Aahhhhh, shii*t!!" umpat Jae Kyung pada kakak iparnya. Entah untuk yang ke berapa kalinya dia sendiri tidak ingat.
Nina pikir cara itu akan efektif untuk menghentikan keusilan adik iparnya itu. Sama seperti saat menggunakannya pada suaminya sendiri. Mengingat mereka kembar. Ternyata benar. Berhasil dan Jae Kyung akhirnya memberi jalan kepada kakak iparnya.
"Di mana ruang makannya. Aku lapar?" tanyanya pada Jae Kyung yang ternyata masih mengikutinya.
"Ahh Nina ini sakit sekali. Ini KDRT," ucap Jae Kyung sambil mengekori langkah Nina. Mengusap-usap pinggangnya sendiri.
"Kau bukan suamiku. Lagipula kau pantas mendapatkannya" ucap Nina santai.
"Berhentilah bicara. Dimana ruang makannya?" tanya Nina lagi.
"Lurus saja. Lewat pintu itu," ucap Jae Kyung.
Mereka sampai diruang makan sesuai dengan arahan Jae Kyung. Sebuah ruang makan yang mewah. Nina mendudukkan diri di deretan kursi sebelah kiri dan Jae Kyung di deretan sebelah kanan. Membuatnya dengan leluasa bisa memandang kakak iparnya.
Kredit Pinterest.com
Beberapa maid melayani mereka. Ada sarapan nasi goreng yang menandakan ada orang yang sudah sarapan sebelum mereka.
"Ingin sesuatu yang lain, Nyonya?" tanya seorang maid kepada Nina.
"Ini sudah cukup. Hanya bisa tolong siapkan jus alpukat. Saya biasa meminumnya setiap pagi," ucapnya lembut pada maid itu. Dan maid itu-pun mengangguk lantas undur diri ke dapur.
"Kau begitu baik bahkan pada maid. Tapi kau begitu dingin padaku. Ck, ck, ck sungguh pilih kasih," keluh Jae Kyung.
Namun Nina tidak menanggapinya. Hanya lirikan tajam setajam elang yang menjadi jawaban atas keluhan Jae Kyung.
"Kemana semua orang?" tanya Nina sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Siapa?" tanya Jae Kyung.
"Suamikulah, papa, mama. Adikku, Jonathan," ucap Natasya.
"Aku? Kau tidak menanyakan aku?" Jae Kyung kembali menggoda kakak iparnya.
__ADS_1
"Kau sudah jelas ada didepanku. Untuk apa aku menanyakan tentangmu. Jadi ke mana mereka semua?" tanya Nina sedikit kesal.
"Suamimu mengurus barang-barang kalian di hotel sekalian check out. Appa dan Eomma pergi ke makam kakek. Adikmu ya jalan-jalanlah mau apa lagi," terang Jae Kyung. Tetap fokus pada Nina.
Nina hanya terdiam mendengar penjelasan Jae Kyung.
Dan sarapan pagi itu rupanya pertemuan mereka yang pertama dan terakhir. Karena sejak sarapan itu. Keduanya tidak lagi bertemu. Jae Kyung begitu sibuk dengan majalah fashion-nya. Ditambah kadang-kadang ia juga menerima job modelling. Membuatnya tidak memiliki waktu banyak di rumah.
Sedang Nina,dua hari sejak hari itu. Mereka memutuskan kembali ke Jakarta. Menyusul tuan Lee dan tante Sofia yang sudah lebih dulu pulang. Bahkan kepulangannya kali ini. Jae Kyung tidak bisa mengantar mereka. Dengan alasan ada deadline yang harus ia kejar. Dan tidak bisa ia tinggalkan. Namun tidak masalah bagi Nina.
Malam setelah kepergian Nina dan Lee Joon. Jae Kyung masuk ke kamar yang ditempati Nina dan Lee Joon. Merebahkan dirinya di ranjang king size di kamar itu. Perlahan dia masih bisa mencium aroma Nina yang tertinggal di sana.
Dia bukannya tidak mengantar Nina dan suaminya alias kakaknya. Dia hanya mengantar kepergian mereka dari kejauhan. Enggan menampakkan diri di hadapan mereka.
Entah mengapa. Dia begitu sulit mengalihkan hatinya untuk tidak memikirkan kakak iparnya itu.
"Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku pasti sudah gila," guman Jae Kyung. Berulangkali dia sudah berkata pada hatinya untuk tidak menaruh hati pada kakak iparnya. Tapi nyatanya hatinya tetap tidak bisa melakukan hal itu.
Terlebih malam sebelum kepulangan Appa dan Eommanya. Keduanya secara khusus memintanya untuk tinggal bersama mereka di Jakarta. Mereka ingin keluarga mereka bisa berkumpul.
Bahkan Appanya sejak dia lahir sudah menyematkan dua kewarnegaraan pada kedua putranya. Agar suatu saat mereka tidak mengalami kesulitan saat ingin tinggal di dua negara itu. Jae Kyung menghela nafasnya. Belum habis masalah dengan hatinya. Ini sudah ada lagi permintaan dari Appa dan Eommanya yang membuatnya semakin pusing.
"Aahhh pusing," teriaknya. Lantas keluar dari kamar itu. Meraih jaket dan kunci mobilnya. Tak lama mobil Ferrari F8 berwarna merah itu memasuki sebuah klub malam di kota Seoul.
Kredit Pinterest.com
"Hai, what's up bro. Long time no see. Busy sangat ke?" tanya seorang temannya dengan logat Melayu yang sangat kental.
"Tak punya waktu ke sini. Apa kau punya mainan baru di rumah?" tanya temannya yang lain.
"Diamlah kalian semua!" bentak Jae Kyung. Membuat yang lain tergelak.
"Hai, Jay lebih baik kau segera cari partner sana. Biar kau tidak marah-marah terus," usul temannya.
Jae Kyung terdiam sejenak. Dia memang sudah lama tidak berc****. Lebih tepatnya sejak dia mengenal Nina. Istri kakaknya. Tapi malam ini entah kenapa, usul temannya itu tampak begitu menggoda hatinya. Dia ingin melupakan sejenak wajah wanita yang sepenuhnya telah menjadi milik kakaknya itu.
Dilihat teman-temannya yang lain sudah mulai pemanasan dengan partner masing-masing. Bisa dipastikan jika sebentar lagi mereka semua akan masuk ke room masing-masing.
"Berikan aku satu," teriaknya pada seorang bartender yang sudah akrab dengannya. Dan tahu persis keinginannya. Dan tak lama seorang wanita cantik dan seksi sudah datang menghampirinya.
Wanita itu langsung duduk di paha Jae Kyung.
"Let's have some fun, baby," ucap Jae Kyung sensual setengah berbisik di telinga wanita seksi itu.
Dan kumatlah lagi kebiasaan ONS-nya Jae Kyung yang sudah hampir 2 minggu ini sembuh gegara hadirnya sang kakak ipar, Nina.
******
Up lagi readers, masih soal galaunya perasaan Jae Kyung ke Nina. Kira-kira ke depannya jadi kaya apa ya? Masih mikir ni authornya 🤔🤔🤔
But anyway, tetep ya like, vote, gift and komennya jangan lupa. Biar author tambah semangat buat up,
Terima kasih sudah mampir,
Happy reading, and salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘
***
__ADS_1