Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 88


__ADS_3

Kemeriahan konser BTS itu berakhir dengan pertengkaran sepasang suami istri. Atau lebih tepatnya kemarahan si istri kepada sang suami. Nina lebih banyak mengomel kepada Lee Joon. Sedang Lee Joon tampak pasrah menghadapi kemarahan sang istri. Meski ia juga sesekali menyela omelan sang istri.


"Pokoknya tidak ada La...Laaa..aish mbuhlah kuwi baik di garasi papa ataupun basement apartemen," Nina mulai acara meng-omelnya.


"Tapi kan Baby, aku sudah lama tidak lama beli mobil," rengek Joon, yang lain langsung menahan tawa melihat pria sekelas Joon merengek pada istrinya.


"Terus kalau sudah lama tidak beli mobil kenapa? Pokonya tidak ada. Wong yang ada saja jarang dipakai," lanjut Nina.


"Tapi yang ini bakalan dipakai, By" bujuk Joon.


"Iya, buat pamer satu Jakarta gitu? Nggak pokoknya nggak," tegas Nina. Nina teringat pesan Sofia yang berpesan untuk sedikit mengontrol kegilaan Lee Joon soal hobinya mengkoleksi mobil mewah. Joon akhirnya tidak berkutik jika sang istri sudah bilang tidak. Mereka keluar dari pintu VIP


"Oh ya, Mas Doni jangan sampai kamu ikutan membantu si gila mobil ini buat datengin tu mobil ke sini. Kalau Mas Doni ikut-ikutan aku akan suruh mbak Dina buat pending jatah mas Doni buat seminggu," ucap Nina penuh ancaman.


"Alamak!! Aku kena juga," umpat Doni pelan. Yang lain langsung tertawa terbahak-bahak.


"Pokoknya kalau yang marah Nyonya Besar semua kena imbasnya," seloroh Maya.


"Haishh kalian diamlah. Kalian pulang saja dulu. Aku akan menyusulnya," ucap Joon. Pria itu melesat menuju jalanan. Karena Nina bukannya masuk mobil tapi malah keluar menuju jalanan di sekitar Olympic Seoul Stadium.


"Hati-hati! Ingat dia nekat kalau lagi marah," teriak Karin. Yang dijawab lambaian tangan Joon yang mulai menjauh. Sebagai tanda dia mengerti.


"Nekat? Nekat gimana?" tanya Dina.


"Ya nekat nggak mikir dua kali buat berbuat sesuatu," jawab Karin. Sambil masuk ke mobil jemputan masing-masing.


Sementara itu yang lain sudah dalam perjalanan kembali menuju ke hotel, Joon harus berdesak-desakkan dengan orang yang masih banyak berlalu lalang di sekitar tempat itu.


Joon beberapa kali harus memicingkan matanya. Memindai keberadaan sang istri di tengah para Army yang masih berada di sekitar stadium.


Sementara itu, Nina hanya berjalan mengikuti ke mana arah kakinya melangkah. Puncak musim dingin sudah lama berlalu. Tapi rasa dingin masih terasa menusuk di kulit. Nina menaikkan kerah coat-nya. Guna menahan serangan hawa dingin yang cukup menyiksa bagi orang Indonesia yang tidak pernah merasakan yang namanya musim dingin.


Buggghhhh,


"Aaawww," Nina sedikit meringis. Bahunya terasa nyeri.


"Kebiasaan gak ilang-ilang. Suka nabrak orang," gumamnya pada diri sendiri.


"Mianhae. I didn't mean to bump into you," ucap Nina.


"It's okay. Yeppeun," jawab sebuah suara yang Nina identifikasi sebagai suara seorang pria.


"Are you okay?" tanya pria itu lagi.


Nina lantas mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk. Terkejutlah ia melihat wajah pria yang dia tabrak. Wajahnya 11,12 dengan wajah suaminya, Lee Joon. Walaupun Nina jelas tahu dia bukan suaminya.


"Oh, I'm fine don't worry. I have a bad habbit to hit people when I'm in hurry," jawab Nina masih dengan wajah terkejut.


"Everyone often do the same thing when they're in hurry," ucap pria itu lagi.


"Ah, I see."


"Are you alone?" tanya pria itu.


"Oh, I come with my husband. But now, I don't know where he is," jawab Nina.


"Do you come from Indonesia? I can speak Indonesian," ucap pria itu.


"Beneran? Tahu gitu dari tadi ngobrol pakai bahasa Indonesia," ujar Nina sambil tersenyum lega.


Pria itu sekali lagi terpesona pada senyum Nina.


"Perasaan apa ini? Masak iya aku jatuh cinta pada istri pria itu. Oh come on, yang benar saja," batin pria itu.


"Baiklah aku pergi dulu kalau kamu tidak apa-apa. See you later, Yeppeun," ucap pria itu. Memakai maskernya lantas berlalu dari hadapan Nina. Karena dia melihat Lee Joon dari kejauhan. Sedang berjalan mendekat ke arah Nina.

__ADS_1


" Baby!" panggil Joon.


"Apa?!" tanya Nina galak.


"Astaga, masih marah?" tanya Joon balik.


"Masih, kalau kamu masih ngotot pengen beli mobil itu" jawab Nina ketus.


"Oh come on Baby, masak kita jauh-jauh ke Korea hanya untuk bertengkar" ucap Joon.


"Salah siapa?" jawab Nina kembali.


"Okay, okay aku yang salah. Maaf,Mianhae , Sorry, Ngapunten..."


Dan permintaan maaf Joon dalam empat bahasa itu sontak membuat Nina tergelak. Melupakan rasa marahnya.


"Sudah nggak marah?" tanya Joon saat melihat Nina yang sudah bisa tersenyum.


"Asal jangan beli mobil lagi " tegas Nina.


"Iya, iya aku nggak beli mobil...(Sekarang, nggak tahu deh nanti)," jawab Joon sekaligus berbisik dalam hati.


Jawaban Joon membuat Nina mengembangkan senyumnya. Dan pria yang tadi bertabrakan dengan Nina, kembali terpesona dengan senyum Nina. Serta jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.


Karena ternyata pria itu tidak pergi dari tempat itu. Hanya masuk ke mobil CRV yang terparkir tidak jauh tempat Nina dan Joon yang kini tengah berpelukan. Mengawasi mereka.


"Kamu tadi bicara sama siapa, Baby?" tanya Joon yang sempat melihat Nina tengah berbicara dengan seseorang.


"Oh, itu. Aku tadi menabrak orang," jawab Nina sambil nyengir.


"Kebiasaan dari dulu. Kalau jalan nggak lihat depan" gerutu Joon.


"Karena itu tugas kamu buat lihatin jalan," ucap Nina sambil bergelayut manja di lengan kokoh sang suami. Berjalan ke arah hotel tempat mereka menginap.


"Tapi kan Hubby, orang itu mirip banget sama kamu. Cuma rambutnya aja warna abu-abu atau silver entahlah gak begitu jelas," ucap Nina.


"Jadi cancel ya, soal aku tidur di sofa malam ini," ucap Joon. Karena tadi Nina sempat menyuruhnya tidur di sofa jika Joon masih bersikeras membeli mobil itu.


"Iya, iya" jawab Nina.


"Yes! Bisa dong "ngadon" sampai pagi," goda Joon.


"Hubby, mesum iiihh," gerutu Nina.


"Lah dia sudah janji bakalan ngasih servis terbaik.Jika aku mau nemenin nonton Jungkok cs. Kan sudah aku kabulin," balas Joon.


"Iya, iya," jawab Nina. Membuat Joon berkata "yes" lagi. Nina hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kenapa kepala pria itu isinya hal-hal mesum sih?" batin Nina.


Begitu sampai di kamar superior mereka. Nina langsung melesat masuk ke kamar mandi. Dengan alasan untuk membersihkan diri. Sedangkan Joon, seperti biasa memainkan ponsel sambil duduk di sofa empuk yang berada di dekat jendela. Sembari menunggu Nina keluar dari kamar mandi.


"Hubby," panggil Nina dengan nada menggoda. Joon langsung menatap sang istri. Mengabaikan ponselnya. Joon sampai ternganga melihat penampilan sang istri. Nina terlihat begitu menggoda. Mengenakan lingerie seksi berwarna merah. Joon hanya bisa menelan salivanya berkali-kali.


Apalagi ketika Nina dengan langkah menggoda mendekati Lee Joon, langsung mendudukkan tubuhnya di atas paha Lee Joon. Dengan perlahan dielusnya lembut wajah sang suami.


Mulai dari pipi hingga ke rahang kokoh milik sang suami. Satu tangannya mulai membuka kaos polos hitam Lee Joon. Membuangnya ke sembarang arah. Jemari Nina mulai mengusap turun ke arah leher, dada bidang suaminya. Terus turun ke perut sixpack suaminya. Hingga mulai mengurai ikat pinggang celana jeans suaminya.


Sedang Joon hanya menikmati setiap sentuhan sang istri sambil sesekali bibirnya menciumi aset kembar Nina yang begitu menggoda. Tersembunyi di balik lingerie tipis yang dikenakan Nina. Dengan dua tangan Lee Joon membelai lembut punggung mulus Nina. Sesekali bergerak turun mere*** bo**** sang istri.


"Aku akan berikan servise terbaik untukmu tuan Lee Joon" ucap Nina di sebalik telinga Lee Joon.


Nina mulai melakukan **** *** pada Lee Joon. **** *** berlangsung cukup lama. Hingga terdengar de***** Lee Joon. Menandakan dia sudah mencapai puncaknya. Lee Joon menarik nafasnya panjang. Berusaha menetralisir ha****tnya. Detik berikutnya Lee Joon kembali terkejut. Ketika Nina merapatkan pahanya. Dan dalam satu kali hentakan memasukkan miliknya ke milik suaminya yang sudah kembali on.


"Oh, Baby. This is so amazing" ucap Joon parau. Memejamkan mata sambil menikmati gerakan liar sang istri. Yang seolah tengah menari indah di atas pangkuannya.

__ADS_1


Dan benar seperti perkataan Lee Joon. Kalau mereka akan "ngadon" sampai pagi. Karena mereka baru melepaskan penyatuan mereka ketika dini hari menjelang.


Dengan peluh bercucuran di tubuh polos keduanya. Karena pada akhirnya Lee Joon merobek paksa lingerie Nina dan membuangnya ke sembarang arah. Ketika Lee Joon sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Tanpa mereka sadari, hal yang sama juga terjadi di tiga kamar lainnya. Dimana mereka semuanya benar-benar "ngadon" sampai pagi.


Hari berganti, tiba hari bagi tiga pasangan suami istri untukkembali ke Jakarta. Karena waktu liburan mereka sudah habis. Sementara Nina dan Lee Joon mengambil liburan lebih lama dari tiga pasangan yang lain.


"Maklum Bos Besar. Suka-suka dia," seloroh Mike.


"Jangan ribut lagi. Jangan bertengkar lagi," pesan Karin. Nina dan Lee Joon memang menikah yang pertama di antara mereka. Pacaran juga paling lama. Tapi entah mengapa ketiga pasangan yang lain itu. Lebih mengkhawatirkan rumah tangga Nina dan Lee Joon. Dari pada rumah tangga masing-masing.


Menurut mereka, walaupun baik Nina maupun Lee Joon saling mencintai. Tapi terkadang keduanya kurang dewasa dalam menghadapi masalah. Nina yang terkesan seperti anak kecil kalau sedang ada masalah. Dan Lee Joon yang temperamental.


Walau selama 4 bulan pernikahan mereka. Lee Joon benar-benar ngemong Nina, lebih banyak bersabar dalam menghadapi tingkah Nina. Ninapun sedikit banyak mulai merubah tingkah kekanakannya, menjadi lebih dewasa. Bisa disimpulkan jika keduanya belajar bersama melalui pernikahan mereka.


"Iya-iya. Hush, hush pulang sana!" usir Joon.


"Iya, kita pulang dulu. Jangan khawatir bodyguard yang lain sudah datang," ucap Max.


"Siapa?" tanya yang lain hampir bersamaa.


"Jonathan Kusuma dan Risma Karisma," jawab Max.


"Risma diizinin Ibuk?" tanya Nina.


"Mestinya iya. Mereka akan tiba dalam 2 jam," kembali Max menjawab. Yang lain mengangguk tanda setuju.


"Ini tinggal Nindy yang protes. Minta liburan juga," tambah Karin.


"Iya, iya nanti bisa dijadualkan," ucap Lee Joon.


Akhirnya ketiga pasangan itu bertolak kembali ke Jakarta. Meninggalkan Nina yang memeluk Joon seolah tidak ingin lepas. Membuat Joon heran.


"Kamu kenapa By," tanya Joon.


"Nggak kenapa-kenapa. Cuma pengen aja meluk kamu. Hangat dan nyaman," ucap Nina.


"Ya sudah nanti kita bikin sampai panas nggak cuma hangat," goda Joon. Nina seketika memutar matanya malas.


"Mulai lagi deh mesumnya," ujar Nina.


Malam mulai menyelimuti langit kota Seoul, ketika Nina dan Joon keluar dari Incheon Airport. Masuk ke mobil jemputan mereka. Mulai meninggalkan bandara menuju ke hotel mereka menginap.


Suasana jalan raya kota Seoul agak lengang kala itu. Nina mulai mengantuk mengingat semalam dia memang kurang tidur. Meletakkan kepalanya di dada sang suami. Mencoba untuk memejamkan mata sebentar.


Tangan Lee Joon reflek mengusap lembut rambut Nina. Membuat Nina merasa bertambah nyaman. Joon tengah mengecek beberapa email masuk yang dikirim oleh Dita, sekretarisnya.


Ketika suara benturan terdengar dari sisi sebelah Nina.


Braaaakkkkk,


Suaranya begitu memekakkan telinga. Sontak Nina menjerit. Sedang Lee Joon langsung mengeratkan pelukannya. Melindungi kepala Nina dari benturan yang mungkin terjadi. Justru kepalanya sendiri yang terbentur kaca pintu mobil sebelah Joon. Pusing seketika ia rasakan.


Suasana hening sesaat.


******


Up lagi ya readers,


Dukung author terus ya. Jangan lupa like, vote, gift dan comment-nya.


Terima kasih,


Happy reading, and salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘

__ADS_1


**


__ADS_2