
Mengabaikan wajah Joon yang terlihat masam. Ketiganya memulai makan malam mereka. Kedua pria itu sudah melepas jas dan juga dasi mereka. Menyisakan kemeja slim fit di tubuh keduanya.
Penampilan keduanya tentu saja menarik perhatian para pejalan kaki untuk ikut makan di warung pinggir jalan itu. Sebagian besar ingin melihat dua pria tampan yang tiba-tiba saja nyasar makan di warung tenda pinggir jalan itu.
"Makan ya?" bujuk Nina pada Joon yang masih memasang wajah kesalnya.
"Nggak mau!" balas Joon.
"Ini enak lo," Nina kembali membujuk Joon.
"Pedes, Baby," akhirnya Joon mengutarakan alasannya enggan memakan ayam goreng yang menjadi menu makan malam mereka. Melihat betapa lahapnya Nina, Max dan Karin kala menyantap menu makan malam mereka. Membuat Joon sedikit merasa tergoda.
"Punyamu gak pedes. Coba dulu deh. Enak lo," kali ini Nina berinisiatif untuk menyuapi Joon. Sejenak Joon tertegun ketika tangan Nina sudah ada di depan mulut Joon.
"Kalau Bos nggak mau. Aku mau Nin. Bolehkan sayang?"
Demi apapun Joon ingin memukul Max yang dengan santainya menggoda Nina di depan Karin dan dirinya.
"Rin tolong kondisikan pacarmu ini," sarkas Joon. Namun Karin hanya mengedikkan bahunya.
"Jadi mau nggak nih. Kalau nggak mau beneran aku kasih Max lo," ancam Nina. Joon langsung membuka mulutnya demi mendengar ancaman Nina. Mengunyah perlahan makanannya. Wajahnya berubah senang begitu ia merasakan makanannya.
"Makanya Bos, sekali-sekali makan di tempat beginian. Jangan di resto bintang 5 mulu. Di sini juga nggak kalah kok rasanya," ucap Max di sela-sela makannya.
Joon tidak terlalu menggubris ucapan Max. Ia lantas mengikuti langkah Max, menggulung kemejanya sampai ke siku. Dan mulai menikmati makan malamnya. Nina dan yang lainnya mengulum senyum. Melihat betapa lahapnya Bos Kutub mereka menyantap makan malamnya.
*****
Max kembali ke rumah sakit seorang diri. Joon dan yang lainnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Doni belum sadar dan pacar Doni juga sudah datang untuk menjaga Doni. Membuat Joon dan yang lainnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Dan baru esok hari berencana untuk menjenguk Doni.
Sedang Max bermaksud untuk menemui pacar Doni, menjelaskan tentang kejadian yang menimpa kekasihnya. Max merasa tidak pantas jika hanya Riko yang menjelaskan.
"Selamat malam, Mbak " sapa Max ketika seorang wanita cantik, duduk di samping ranjang Doni. Max langsung menduga jika itu adalah kekasih Doni.
"Selamat malam juga. Anda?"
"Saya Max Aldrian. Yang kebetulan tahu tentang kejadian ini dari Maya."
"Terima kasih sudah menolong Mas Doni. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika anda tidak menolongnya. Oh ya, perkenalkan nama saya Dina."
"Senang berkenalan dengan anda, Mbak Dina.
"Ah jangan terlalu sungkan dengan saya. Terima kasih sekali lagi sudah menolong Mas Doni"
"Eh sama-sama Mbak. Ngomong-ngomong apa mbak Dina mengenal orang ini?" ucap Max sambil menunjukkan foto Heri si ponselnya.
"Itu kan orang yang bekerja dengan Papa, jangan-jangan ini semua ulah Papa," batin Dina.
Beberapa kali Dina memang melihat Heri hilir mudik di kantor papanya. Sehingga menduga jika pria itu bekerja untuk papanya.
"Saya tidak tahu orang itu tuan Max. Memangnya ada apa?"
"Orang ini yang telah menculik Doni. Tapi berhasil kabur saat kami ingin menangkapnya."
"Berarti benar dugaanku. Apa mungkin Papa adalah orang ada di balik penculikan Doni" kembali Dina membatin dan kali ini kemarahan jelas terlihat di matanya.
******
Blaammm,
__ADS_1
Suara pintu yang ditutup keras menandakan jika ada orang yang masuk ke ruangan tuan Burhan. Dina hari itu bermaksud bertanya pada ayahnya. Apakah ia dalang di balik penculikan Doni.
Dina baru saja masuk. Menutup pintu dengan keras bermaksud menunjukan kemarahan. Namun begitu ia masuk, dirinya justru disambut pemandangan yang alih-alih menurunkan amarahnya. Namun semakin menaikkan amarahnya.
Bagaimana Dina tidak bertambah marah. Dilihatnya sang ayah sedang berciuman panas dengan seorang wanita yang tengah duduk di paha sang ayah. Bisa Dina lihat dengan jelas, bagaimana tangan sang ayah yang menyusup ke dalam rok wanita itu. Dan wanita itu tampak sangat menikmati tindakan sang ayah.
"Eheemmmm," Dina berdehem.
Deheman Dina sukses membuat kedua orang itu terkejut. Dan segera saja menyudahi kegiatan mereka. Wanita itu yang tak lain adalah Rita dengan cepat turun dari paha tuan Burhan. Merapikan pakaian dan penampilannya yang berantakan. Lantas melesat keluar dari ruangan itu setelah mengangguk pada tuan Burhan dan Dina. Yang langsung mendapat tatapan membunuh dari Dina.
Dina bukannya tidak tahu gosip yang beredar di kantor. Jika sang ayah ada main dengan salah satu pegawainya. Namun baru kali ini dia menangkap basah sang ayah tengah bermesraan dengan wanita itu.
Berbeda dengan Rita yang terkejut karena dirinya terciduk tengah bermesraan dengan Bosnya. Terlebih yang memergoki aksi mereka adalah putri Bosnya sendiri. Tuan Burhan, papa Dina justru terlihat santai. Seolah tidak terjadi apa-apa. Dia hanya merapikan sedikit jasnya dan mengusap bibirnya yang terlihat basah.
"Apa Papa sudah tidak mempunyai malu. Melakukan hal seperti itu di kantor dan astaga, Papa melakukannya dengan wanita yang usianya bahkan tidak jauh beda denganku. Apa Papa sudah tidak waras?" cecar Dina dengan amarah yang berusaha dia tahan mati-matian.
"Kenapa memangnya. Dia sendiri yang mau melakukannya dengan Papa. Dina, Papa masih normal. Papa masih memerlukan s*** dalam kehidupan Papa," ucap Burhan santai di hadapan putri tunggalnya itu.
"Tapi setidaknya jangan melakukannya di kantor dan di jam kantor. Dan pilihlah yang sesuai dengan usia Papa."
"Apa peduli Papa. Kantor ini milik Papa. Terserah papa mau melakukan apa di kantor Papa. Sudahlah jangan membahas hal ini lagi. Ada apa kamu menemui Papa?" tanya Burhan. Karena ia tahu putrinya itu tidak akan menemuinya tanpa tujuan. Dina memang selalu menghindari papanya. Hubungan mereka memang tidak bagus akhir-akhir ini.
"Apa Papa yang sudah menculik Mas Doni?" tanya Dina to the poin. Memang itulah tujuan Dina menemui sang Papa.
Mendengar pertanyaan sang putri membuat wajah Burhan langsung berubah. Ada kemarahan yang terlukis di wajah tuan Burhan.
"Apa maksudmu, Dina?"
"Apa Papa yang sudah memerintahkan orang untuk menculik Mas Doni. Dan menghajar Mas Doni. Hingga dia terluka seperti itu," Dina masih berusaha menahan emosinya.
"Memangnya kalau iya kenapa?" jawab Burhan tanpa basa basi. Emosi Dina meledak seketika.
"Hah! Itu belum seberapa. Ayah bisa saja melenyapkannya jika saja orang-orang itu tidak datang menolong kekasihmu itu," ucap Burhan yang membuat Dina diam seketika.
"Tunggu dulu, papa bilang kekasih? Apa papa sudah tahu jika dia dan Doni punya hubungan asmara," batin Dina.
"Jangan kamu pikir Papa tidak tahu jika kamu menjalin kasih dengan si Doni itu. Papa diam saja asalkan dia tidak membuat ulah. Tapi kalau dia berani ikut campur urusan Papa. Papa tidak akan segan-segan untuk melenyapkannya. Yang kemarin itu anggap saja itu peringatan dari Papa. Dia beruntung orang-orang itu berhasil menolongnya. Jika tidak....," Burhan menggantung ucapannya.
"Papa kejam. Apa Papa tidak berpikir tentang kebahagiaanku. Hanya mas Doni yang bisa membuat Dina bahagia, Pa," Dina hampir menangis. Kemarahan yang tadi sempat meluap-luap. Kini berganti dengan rasa kecewa. Mendengar perkataan Papanya sendiri.
"Peduli apa Papa dengan kebahagiaan. Siapapun yang menghalangi rencana Papa akan Papa singkirkan. Dengarkan itu. Jadi peringatkan saja kekasihmu itu. Jangan berani-berani mencampuri urusan Papa terutama soal Mike. Katakan itu pada kekasihmu. Sekarang pergilah. Jangan mengganggu Papa."
"Papa jahat. Tidak punya perasaan. Dina benci Papa!" raung Dina sambil keluar dari ruangan sang Papa.
Sedang Burhan hanya memejankan mata mendengar makian putri satu-satunya.
"Perasaan Papa sudah mati sejak mereka meninggalkan Papa," gumam Burhan.
"Dan aku Burhan tidak akan berhenti sampai mereka menderita. Merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan " ucap tuan Burhan dengan emosi yang meluap-luap.
Kemudian dia mengambil ponselnya. "Datanglah ke kamarku," ucapnya singkat. Dia butuh pelampiasaan saat ini. Lantas dengan cepat dia melesat masuk ke pintu di sebelah kirinya. Di mana di dalamnya sebuah ranjang king size sudah tersedia. Melepas jas dan dasinya.
Tak lama terdengar pintu dibuka. Dan masuklah Rita. "Anda memanggil saya, tuan?"
"Iya, dan aku sangat membutuhkanmu sekarang"
Tanpa basa-basi Burhan langsung menyerang Rita. Yang langsung mendapat sambutan dari Rita. Selanjutnya hanya suara erangan nikmat yang terdengar dari ruangan itu.
******
__ADS_1
Hari sudah menjelang sore. Ketika Dina sampai di ruang rawat inap Doni. Ruang VIP yang Joon dan Max sediakan untuk Doni.
Dina merasa perlu menenangkan diri sejenak. Hingga dia tidak langsung ke rumah sakit setelah bertengkar lagi dengan Papanya. Dia tidak mungkin menampilkan wajah sembabnya di depan kekasihnya itu. Hal hanya akan menambah beban pikiran Doni.
Ceklek, pintu kamar ruang VIP itu terbuka. Dina masuk berusaha menampilkan senyum terbaiknya di hadapan sang kekasih. Dilihatnya seorang perawat yang tengah mengganti infus Doni.
Senyum langsung mengembang di wajah Doni begitu melihat sang kekasih hati datang.
"Terima kasih, Sus," ucap Dina ramah pada perawat itu. Dina memang meminta satu perawat khusus untuk memantau keadaan Doni jika dia tidak berada disana. Mengingat Doni hanya seorang diri di Jakarta. Semua keluarganya berdomisili di Bandung.
"Bagaimana keadaanmu Mas? Maaf sudah meninggalkanmu sendirian," ucap Dina sendu.
"Sudah lebih baik. Tidak apa-apa. Aku juga baru satu jam yang lalu bangun. Lalu mendapat visit dari dokter. Jadi aku tidak merasa sendirian," jawab Doni.
Dina mendekat. Dan bisa Doni lihat dengan jelas bahwa gadis yang berada di hadapannya ini baru saja menangis.
"Ada yang terjadi?" tanya Doni lembut.
Dina menggeleng. Doni menghela nafasnya.
"Ya sudah jika tidak mau cerita," ucap Doni lagi. Ucapan Doni sukses membuat tangis Dina kembali meledak. Tangis yang dari tadi sudah coba Dina tahan. Dina memang tidak akan bisa menyembunyikan apapun di hadapan Doni.
Melihat kekasih hatinya menangis, dengan perlahan direngkuhnya tubuh Dina dalam pelukannya.
"Papa jahat Mas. Papa jahat. Dia yang sudah melakukan ini pada Mas," ucap Dina di sela-sela tangisannya.
"Mas tahu, begitu orang-orang itu menanyakan dimana kak Mike-mu berada. Mas sudah tahu jika mereka itu orang suruhan Papamu " jelas Doni.
"Beruntungnya Maya langsung menghubungi Max untuk meminta bantuan. Jika tidak. Mas tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Mas,"
Mendengar hal itu, tangis Dina semakin kencang.
"Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Luka ini juga tidak seberapa. Bukankah kita tahu ini resikonya jika kita melawan Papamu. Yang penting sekarang kita harus semakin waspada. Papamu tidak akan tinggal diam mengenai hal ini."
Dina mengangguk. "Lalu selanjutnya bagaimana?"
"Kita akan membicarakannya dengan Tuan Muda Lee dan Max. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang. Aku juga sudah menghubungi ayah. Untuk ikut memantau keamanan tuan Mike selama di Bandung. Kita harus membuat terapi tuan Mike berhasil bagaimanapun caranya."
Keduanya terdiam. Hingga bunyi pintu yang dibuka mengalihkan pikiran Doni dan Dina.
"Uuuppss, sorry menganggu," ucap Max santai.
"Tidak apa-apa," sahut Doni. Perlahan Dina melepaskan diri dari pelukan Doni.
Joon, Max beserta Nina dan Karin masuk ke ruangan Doni di rawat. Sesaat mereka hanya saling berpandangan hingga Max memperkenalkan mereka satu persatu. Namun yang membuat mereka heran adalah ketika Nina dan Dina saling memandang satu sama lain. Seolah tengah menilai satu dengan lainnya. Hingga akhirnya suara Nina membuyarkan keheningan itu.
"Mbak Dina ya?" ucap Nina dengan mata berkaca-kaca.
Semuanya heran dengan perkataan Nina. Terlebih Dina. Dia memandang Nina dengan pandangan tidak percaya.
*****
Hayo Dina siapanya Nina?🤔🤔
Penasaran? Jangan lupa like, vote and komen.
"Happy reading, readers 🤗🤗🤗"
******
__ADS_1