Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 60


__ADS_3

Nina berontak ketika Joon terus menciumi lehernya. Tubuh Joon kian menempel pada tubuhnya. Dada bidang itu semakin menekan dadanya sendiri. Sensasi aneh mulai ia rasakan di sekujur tubuh ketika Joon tidak sekedar menciumi lehernya. Namun sesekali juga menjilatinya.


"Lee Joon berhenti! Berhenti!!. Stop!! Stop!! Nina terus berontak. Suaranya mulai tersengal akibat nafasnya yang mulai memburu tidak beraturan.


"Aduh, baru juga begini. Si junior sudah bereaksi," batin Joon ditengah aksinya mencumbui Nina.


Joon sama sekali tidak ada niat untuk melakukan hal lebih pada gadis yang terus saja berontak di bawah tubuhnya itu. Hanya berniat menggodanya. Namun sialnya justru dirinya yang terkena imbasnya. Juniornya on seketika.


Merasa tidak ada tanggapan dari Joon. Nina terus berontak namun tenaganya tentu saja tidak sebanding dengan tenaga Joon.


"Tidak, tidak boleh. Ini tidak boleh terjadi. Pria ini bisa hilang kendali," bisik hati Nina.


"Oke, oke, oke aku memang cemburu pada gadis kecil itu," ucap Nina setengah tersengal. Dia sendiri mulai kehilangan kendali dirinya. Mencoba peruntungan dengan mengiyakan tuduhan Joon. Kalau dia memang cemburu pada Nindy.


Joon menyeringai mendengar perkataan Nina.


"Ulangi lagi. Aku tidak dengar," ujar Joon. Pria itu masih betah berada di ceruk leher Nina. Berusaha menetralisir hasratnya yang mulai naik.


"Aku cemburu! Aku cemburu! Menjauhlah Lee Joon kamu berat! Sesak!" Nina sudah bisa berteriak.


Perlahan Joon mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Nina yang merona serta nafasnya yang masih memburu. Joon hanya tersenyum. Melihat wajah Nina seperti itu terbit niatnya lagi untuk mengerjai kekasihnya itu.


"Baik, tapi kamu tetap harus dihukum," ucap Joon dengan nada menggodanya.


"Memang yang tadi masih kurang. Geli tahu rasanya," Nina bergidik ngeri mengingat sentuhan wajah Joon di lehernya. Yang menimbulkan sensasi aneh di tubuhnya.


"Oh itu belum seberapa Nona," jawab Joon santai. Padahal dia sendiri juga mati-matian menahan diri.


"Apalagi sekarang? Cepatlah bangun. Kamu bikin gerah aja!"


"Gerah ya buka baju saja."


"Oh, Lee Joon yang benar saja. Jangan bercanda"


"Aku serius Nona. Kamu tahu aku senang sekali ketika kamu bilang cemburu pada Nindy," ucap Joon kini wajahnya kembali mendekat ke wajah Nina.


"Hei, hei kamu mau ngapain lagi? Lee Joon hhmmmptt...."


Teriakan Nina tenggelam di tengah tautan bibir Joon yang mulai mencium Nina. Hangat dan lembut. Nina ingin kembali berontak namun entah mengapa yang terjadi justru sebaliknya. Ia begitu menikmati ciuman lembut dari Joon. Hingga beberapa saat kemudian, Joon perlahan melepaskan tautan bibirnya. Dipandanginya wajah Nina yang matanya masih terpejam dengan wajah merah merona. Joon tersenyum.


"Itu adalah hukuman untukmu. Beraninya kamu marah padaku hanya karena cemburu pada gadis kecil itu," ucap Joon lembut sesaat setelah keduanya saling menatap satu sama lain.


Detik berikutnya. Joon langsung bangkit dari atas tubuh Nina dan langsung melesat masuk ke kamar mandi. Menguncinya dari dalam. Mulai menolong juniornya yang harus segera dituntaskan rasa hausnya.


"Ahhh berapa lama lagi aku bisa bertahan. Ini saja sudah sangat menyiksa. Aaaaaarrhhhhgg Nina kamu membuatku gila," teriak Joon di dalam hati.


Sedang Nina langsung melongo melihat tingkah Joon. Dia yang polos, tentu tidak pahan jika Joon perlu pelepasan setelah kejadian tadi.


********


Sedang di tempat lain. Satu pasangan lagi juga sedang menikmati waktu kencan mereka. Berjalan-jalan sambil sesekali melihat-lihat barang yang mereka anggap menarik. Senyum kebahagiaan jelas tergambar di wajah Max dan Karin.


"Mau beli apa sayang?" tanya Max.


"Tidak tahu. Soalnya kemarin habis belanja sama bu Bos. Dan minggu depan ada rencana mau ngemall sama Maya dan mbak Dina," jawab Karin dengan tangannya bergelayut manja di lengan Max. Membuat siapa saja pasti iri melihat kedua pasangan itu.


Max memang tampan di atas rata-rata. Pun Karin dengan kecantikan eksotisnya yang khas. Membuat semua orang yang melihatnya pasti memuji keserasian keduanya.


"Heemm sudah deh kalau ketemu gengknya. Pasti lupa sama pacarnya."


"Aduh sayang. Jangan ngambek dong," bujuk Karin.


"Kamu harus memberiku hadiah nanti," ucap Max dengan senyum misteriusnya.


"Memang kamu lagi pengen apa? Aku beliin."


"Kamu bercanda ya. Aku punya semua yang aku mau."

__ADS_1


"Lalu kamu mau hadiah apa?" tanya Karin penasaran.


"Nanti aku ambil sendiri. Jangan khawatir," balas Max santai.


Tanpa sadar, kemesraan mereka berdua mendapat tatapan panas dari seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan Max dan Karin.


"Sudah jangan diliatin terus. Nanti tambah sakit hati lo," ucap pria yang berdiri di samping wanita itu.


"Apa kurangnya aku sih dibanding si Karin itu," ujar Stella. Ya wanita itu adalah Stella yang tidak sengaja berada di mall yang sama dengan Max dan Karin.


"Tidak ada yang kurang darimu sayang. Lebih malah. Kamu cantik, s**** dan sangat panas di ranjang," ucap pria itu sambil berbisik di telinga Stella. Bisikan Heri mampu membuat amarah Stella hilang seketika.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Dan pria itu sama sekali tidak bisa melihat kelebihanmu. Jadi lupakan saja dia."


"Kamu betul. Buat apa aku berharap padanya. Padahal dia sama sekali tidak melirikku."


"Nah itu baru wanitaku. Ayo kita makan dulu. Lapar dari tadi cuma ngeliatin orang yang tidak berguna," ucap Heri sambil berjalan masuk ke sebuah restoran.


Berbeda dengan Max dan Karin yang sudah meninggalkan mall. Dan mulai menyusuri jalanan ibukota di malam hari.


Mereka berhenti di sebuah tempat yang menyuguhkan pemandangan langit malam. Dengan jutaan bintang berkerlap-kerlip bak berlian di hamparan pekatnya malam.


"Cantiknya," gumam Karin. Max jarang membawanya ke tempat seperti ini. Biasanya mereka ke mall. Restoran atau tempat-tempat semacam itu. Tapi kali ini berbeda.


"Kamu suka?" tanya Max dan langsung diangguki oleh Karin.


"Berapa perempuan yang sudah kamu bawa ke sini?" tanya Karin kepo. Dengan wajah dan tampilan Max tidak bisa Karin pungkiri. Pasti bejibun deretan mantannya.


"Kamu yang pertama," jawab Max sambil menatap Karin intens.


"Bullshit. Omong kosong. Jujur saja. Aku nggak marah kok," ucap Karin sambil mengalihkan pandangan matanya keluar jendela mobil. Berusaha menghindari tatapan Max yang seolah-olah bisa menghipnotisnya.


"Bisa bahaya ini, tatapan matanya bikin jantung gak kuat. Deg-degan nggak karuan," bisik hati Karin.


"Bukannya begitu. Hanya berusaha realistis aja. Cowok kayak kamu pasti mantannya bejibun," ucap Karin asal. Masih belum berani memandang mata Max.


"Cowok kayak aku? Maksudnya bagaimana ya?" Max penasaran bagaimana Karin akan mendeskripsikan dirinya.


"Ya ganteng, tajir. Body bagus... Uuuupss," ucap Karin tanpa sadar. Membuat Karin langsung menutup mulutnya sendiri.


Senyum langsung terkembang sempurna di bibir Max. Mendengar sederet pujian keluar dari bibir Karin.


"Kamu sedang memujiku?" tanya Max dengan nada sedikit menggoda.


"Ah itu, itu tadi aku keceplosan," Karin malu setengah mati. Wajahnya sudah merona merah. Membuat Max gemas dibuatnya.


"Tapi aku nggak bohong Sayang. Cuma kamu yang pernah aku ajak ke sini. Biasanya sih ke sini sama Bos dulu ketika masih jadi penyanyi. Ke sini buat cari inspirasi," jelas Max.


"Yang benar? Nanti ada yang protes lo."


"Karina Saraswati kayaknya omongan tante Sofia benar deh. Soal aku yang bakal berubah jika sudah ketemu batunya. Apalagi jika batunya segedhe kamu. Gimana coba mau mindahinnya." ucapan Max sukses membuat Karin tertawa terbahak-bahak.


"Cantik sekali,"


"Ahh... Sayang kamu pinter banget deh ngelawaknya," timpal Karin, masih dengan tawa di wajahnya. Max semakin gemas dibuatnya. Hingga tiba-tiba tangan Max terulur meraih tengkuk Karin. Dan sepersekian detik berikutnya bibir mereka sudah bertaut sempurna.


"Ha? Ini apa lagi?" batin Karin ingin menjerit.


Karin mengedip-ngedipkan mata saking terkejutnya. Perlahan Max mulai mencium bibir Karin lembut.


"Manisnya..... bikin aku makin kecanduan saja," batin Max.


Beberapa waktu berlalu. Ketika dengan perlahan Max mulai melepaskan tautan bibirnya.


"I love you, Karina Saraswati."

__ADS_1


"I love you too, Max Aldrian."


******


Doni hanya dua hari dirawat di rumah sakit. Lukanya tidak terlalu parah. Hingga dokter tidak perlu menahannya lama-lama. Dan hari ini adalah kepulangannya.


Para pria menjemput Doni, sedang para wanita langsung berada di apartemen Doni dengan Dina sebagai leadernya. Menyiapkan makanan dan beberes apartemen Doni. Maklum hampir tiga hari ditinggal. Jadi keadaanya cukup berantakan.


"Bagaimana Bro? Sudah sehat?" tanya Max yang sudah sampai di rumah sakit dengan Ronald sebagai supir sekaligus bodyguard mereka.


"Lumayanlah."


"Kita harus lebih waspada. Beberapa kali orangku menangkap basah orang yang ingin menguntitmu. Entah apa tujuannya. Soalnya mereka tidak mau mengaku," sambung Max.


"Sebenarnya yang aku khawatirkan bukan kita. Tapi para wanita yang tengah berpesta di apartemenmu. Mereka lebih mudah untuk dilukai," ucap Joon yang langsung diangguki oleh Max dan Doni.


"Kalau dugaan kita benar. Dia adalah pelakunya. Maka dia tidak akan melukai Dina dan Nina," ucap Doni. Membuat Joon dan Max saling pandang.


"Kenapa? tanya Max.


"Karena Nina adik angkat Dina, yang berarti dia adalah anak angkat tuan Burhan, Tuan Muda Lee kekasihmu adalah anak angkat tuan Burhan," jelas Doni.


Joon terdiam sejenak. Namun kemudian dia berkata, "Lebih parah mana? Pacarmu malah anak kandungnya. Dan kamu tidak masalah. Sedang Nina hanya anak angkat. Nina bahkan tidak bertemu tuan Burhan bertahun-tahun. Jadi bagiku juga bukan masalah," ucap Joon santai.


"Aku menerima Dina apa adanya. Apapun yang orang tuanya lakukan tidak ada hubungannya dengan Dina," Doni kembali menjelaskan. Joon dan Max hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Doni.


Tak berapa lama mereka sampai di apartemen Doni. Di mana para wanita sudah menyambut mereka dengan berbagai masakan. Membuat para pria lapar seketika.


"Wah kurang satu couple lagi," seloroh Dina.


"Siapa Mbak?" tanya Karin kepo.


"Mike dan Maya."


"Ha? Mereka pacaran?" tanya Nina.


"Belum sih? Tapi Maya suka sama kak Mike."


Yang hanya di jawab anggukan oleh Nina dan Karin sambil ber- ooo ria. Mereka makan malam dengan meriah malam itu.


*******


"Tuan sepertinya hilangnya tuan Mike ada hubungannya dengan Tuan Muda Lee" lapor asisten Burhan.


"Yang aku dengar. Mereka sering bertemu akhir-akhir ini. Bahkan mereka juga terlihat berada di rumah sakit," sambung tuan Burhan.


"Ada kemungkinan yang menolong Doni waktu itu adalah orang-orang Tuan Muda Lee."


"Berani sekali dia ikut campur urusan kita."


"Kita bahkan sampai saat ini tidak bisa melacak di mana tuan Mike berada. Informasinya dia tengah berlibur ke Korea."


"Kau sudah menyelidikinya?"


"Sudah tuan, tuan Mike memang pergi ke Korea. Tapi saya tidak bisa mengetahui di hotel mana dia menginap."


"Mungkin dia mengambil villa pribadi."


"Itu mungkin saja. Saya masih terus menyelidikinya."


"Lanjutkan saja."


"Baik, Tuan."


"Aku tidak akan segan-segan jika kamu berani ikut campur urusanku. Apalagi sampai merusak rencanaku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Tuan Muda Lee. Seperti halnya yang ayahmu lakukan dulu," gumam tuan Burhan.


******

__ADS_1


__ADS_2