Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 85


__ADS_3

Pasangan pengantin baru itu akhirnya tertidur di sofa bed, ruang tengah apartemen mereka. Dengan posisi Nina memeluk Joon. Setelah sesi curhat panjang soal Burhan yang tidak mau menemui Dina dan Nina. Berakhir dengan Joon yang harus ekstra sabar memberi pengertian.


Soal alasan tuan Burhan tidak ingin membuat nama baik Dina dan Nina tercoreng karena memiliki ayah seorang narapidana kasus pembunuhan dan korupsi. Nina pada akhirnya mengerti akan sikap papanya itu.


Nina masih memakai dres yang ia pakai tadi pagi. Sedang Joon sudah melepas jasnya sejak mereka tiba di apartemen mereka. Menyisakan kemeja putih yang sudah Joon buka kancingnya.


Tidur Joon sedikit terusik ketika Nina semakin menduselkan kepalanya ke ceruk leher sang suami. Spot favorit Nina sejak menikah. Lagi, pergerakan Nina membuat yang di bawah sana bereaksi seketika.


"Baby....," panggil Joon parau.


"Nggghhh....," Nina menggumam tidak jelas. Sehingga suara yang ditimbulkan malah mirip sebuah des***n. Joon langsung membalikkan posisi tubuh mereka. Nina tentu saja terkejut, tiba-tiba mendapat serangan dari sang suami.


Lee Joon mulai mencumbui Nina dengan panas, Hingga Nina tidak bisa lagi menolak keinginan sang suami. Mereka kembali bergelut panas di sofa bed mereka. Hingga sore menjelang.


Hari berganti dengan cepat. Pernikahan Dina akhirnya sampai juga pada waktunya. Semua berjalan dengan lancar. Mulai dari akad hingga resepsi. Selama itu, kembali tuan Lee dan Sofia yang menjadi wakil untuk Dina.


Dina merasa sangat bahagia. Karena Sofia memperlakukannya bak anak sendiri. Dina seolah mendapat sosok seorang ibu yang telah lama hilang.


"Sayang, kita jadi berasa tua banget," ucap tuan Lee seusai acara pernikahan Dina dan Doni.


"Iya, ya Mas. Sudah berapa kali menikahkan anak orang," timpal Sofia.


"Bulan depan masih ada lagi. Tu si Mike masih mengantri."


"Oh iya. Mas bener. Bener-bener deh berasa tua. Ngomong-ngomong yang pada kondangan itu bosen nggak ya, lihat kita mulu tiap kondangan. Dikiranya nanti kita rajin bener bikin hingga anak kita banyak gitu," oceh Sofia sambil terkekeh.


"Bomat, bodo amat. Yang penting aku mau tidur dulu. Capek. Malam ini kita off dulu ya," sahut tuan Lee yang langsung mendapat keplakan dari Sofia.


"Dasar mesum. Cocok kalau anaknya banyak," timpal Sofia. Tanpa dihiraukan sang suami yang telah masuk ke alam mimpi.


Sementara itu, seorang pria dengan pakaian khas tahanan penjara. Tampak tengah duduk terdiam di sel tahanannya. Sesekali ia terbatuk. Akhir-akhir ini batuknya semakin parah. Namun, ia tetap menolak untuk diperiksa dan diobati.


Selama itu Nina dan Dina sering menjenguknya. Tapi Burhan selalu menolak untuk menemui kedua putrinya. Walaupun ia sangat merindukan mereka.


Pada akhirnya hanya masakan kedua putrinyalah, yang bisa mengobati kerinduannya pada Dina dan Nina. Karena tiap kali datang, kedua putrinya itu selalu membawa makanan yang mereka masak sendiri. Selalu meminta kepada penjaga untuk memberikan pada ayah mereka.


Burhan baru saja menghabiskan makanan pemberian kedua putrinya. Udang balado dan soto betawi. Salah satu makanan kesukaannya. Siang tadi keduanya berkunjung. Tapi seperti biasa dia menolak untuk bertemu, hingga sebuah pesan disampaikan penjaga kepadanya.


"Papa, Dina sudah menikah dengan Mas Doni kemarin. Semoga Papa selalu merestui dan mendoakan kebahagiaan Dina."


Begitu bunyi pesan yang disampaikan penjaga kepadanya. Air mata akhirnya menetes di sudut matanya. Apalagi beberapa hari sebelumnya. Secara mengejutkan Ratna datang berkunjung. Kali ini Burhan bersedia menemuinya.


"Apa kabarmu, Burhan?" tanya Ratna. Memandang iba pada sahabatnya.


"Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat. Jangan khawatir," jawab Burhan. Memandang ke arah Ratna yang tampak berkaca-kaca. Burhan menghela nafasnya.


"Jangan bersedih untukku. Aku sedang menjalani apa yang sudah aku tanam," tambah Burhan.


"Apa kau tidak menyesal?" tanya Ratna.

__ADS_1


"Apa gunanya menyesal sekarang. Aku tidak menggunakan akalku untuk mempertimbangkan tindakan yang aku ambil. Dan inilah hasilnya," balas Burhan sendu.


"Apa kamu tahu? Bahkan Adi, sampai dia akan pergi. Hanya kau yang ada di pikirannya. Dia begitu mencemaskanmu."


"Maaf," satu kata keluar itu dari bibir Burhan.


"Lalu apa kata maaf itu berguna sekarang?" tanya Ratna. Burhan menggeleng.


"Kamu seharusnya sekarang hidup berbahagia bersama dua putrimu. Mereka sangat menyayangimu," ucap Ratna kembali.


Burhan hanya diam saja. Rasa sesal saja tidak cukup untuk menebus semua kesalahannya pada semua orang. Pada akhirnya dia sadar jika dia memang pantas mendapat semua ini sebagai balasan atas semua perbuatannya di masa lalu.


Ratna yang hanya melihat tuan Burhan terdiam lantas bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah pintu keluar. Sebelum keluar dia sempat berkata. "Baik-baiklah di sini dan jaga kesehatanmu." Ratna jelas kecewa dengan sikap Burhan.


Di masa lalu Ratna memang pernah mencintai Burhan muda. Namun kegilaan Burhan muda pada Sofia membuat Ratna memilih mundur. Mengubur rasa cintanya dalam-dalam. Lantas mencoba membuka hatinya dengan menerima Adi Pratama, ayah Nina. Untuk menjadi suaminya.


Ratna merasa beruntung. Adi bersedia menerima dirinya pa adanya. Kehidupan cinta mereka berlangsung harmonis. Hingga maut benar-benar memisahkan mereka.


Satu baris kata Ratna yang langsung membuat air mata tuan Burhan menetes tak terbendung. Penyesalannya yang datang terlambat. Tidak mampu membuat keadaannya menjadi lebih baik. Andai saja... andai saja.... waktu bisa diputar kembali. Tentu dia akan memilih melepaskan semua dendam dan ambisi yang menguasainya kala itu.


Dendam dan ambisi yang membawanya pada penyesalan tak berujung, menemaninya di sisa umurnya. Di balik dinginnya jeruji besi ruang sel tahanannya.


Perlahan di raihnya pena yang tadi dia minta kepada petugas. Dengan bahu yang bergetar hebat dan batuk yang seringkali datang melanda. Dia mulai menulis di atas sehelai kertas itu. Diiringi air mata yang turun membasahi pipi tuanya.


******


Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal ke ponsel Joon. Membuat pria tampan yang tengah memeriksa beberapa berkas dengan kacamata baca yang bertengger manis di hidung mancungnya itu, mengerutkan dahinya.


Dia pikir siapa yang tahu nomor pribadinya selain orang-orang terdekatnya.


"Halo," sapa Joon.


Sebuah jawaban terdengar dari ujung sana. Joon langsung menutup ponselnya. Lantas melangkah menuju tangga penghubung ruang kerjanya dan ruang kerja sang istri.


Joon pikir baru saja dia akan membujuk tuan Burhan untuk berobat. Tapi kenyataannya berkata lain.


"Baby, ikutlah denganku cepat " ucapnya saat membuka pintu lukisan di ruang kerja sang istri.


"Ada apa?" tanya Nina yang juga tengah memakai kaca mata bacanya.


"Nanti aku jelaskan. Tinggalkan saja pesan pada Karin. Biar dia yang menyelesaikan pekerjaanmu hari ini." Ucap Joon, lantas menarik lembut tangan sang istri. Serta meraih tas Nina. Membawanya melesat turun ke lobi. Di mana Toyota Rush sang suami sudah menunggu. Tak berapa lama mobil itu sudah bercampur dengan padatnya jalanan ibu kota.


"Max, tolong handle pekerjaanku hari ini. Apa yang aku khawatirkan sepertinya terjadi," ucap Joon pada Max melalui bluetooth headsetnya. Lantas mematikannya begitu Joon selesai bicara.


Perkataan Joon membuat Nina yang baru saja mengirim pesan pada Karin, langsung menatap sang suami.


"Ada yang serius terjadi?" tanya Nina. Tapi belum sempat Joon menjawab. Ponsel Nina berbunyi. Nama sang kakak tertera di sana. Joon hanya bisa menarik nafasnya. Seolah tahu apa yang terjadi.


*****

__ADS_1


Pemakaman tuan Burhan hanya dihadiri keluarga terdekat saja. Kedua kakak beradik itu masih saling berpelukan di atas makam sang ayah. Sudah tak terhitung, air mata yang mengalir dari mata keduanya, sejak mereka diberitahu tentang kematian sang ayah mereka.


Nina hanya bisa terdiam. Tidak bersuara apapun, ketika berita itu disampaikan dokter rumah sakit yang menangani Burhan.


"Pasien mengidap kanker paru-paru dan sudah stadium 4. Sudah menjalar ke organ vital lainnya. Jadi kami minta maaf. Kami sudah berusaha, namun nyawa pasien tidak bisa kami selamatkan."


Dina langsung berteriak histeris. Menangis tidak terkendali, ketika mereka diperlihatkan jasad sang papa yang sudah terbujur kaku. Sedang Nina seolah dejavu dengan apa yang dilihatnya. Ingatan tentang kematian ayah tercinta, kembali menyeruak di pikirannya.


Dia hanya terdiam, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hanya air mata yang akhirnya mengalir deras sebagai jawaban atas rasa apa yang tengah ia rasakan sekarang.


"Baby," panggil Joon, Nina seketika menatap wajah suaminya. Detik berikutnya, suara tangis itu akhirnya pecah juga, saat Lee Joon meraih tubuh Nina. Merengkuhnya dalam pelukannya.


"Pasien sepertinya tahu jika dia menderita kanker paru-paru. Tapi pasien menolak dirawat. Hingga kami terlambat untuk menanganinya."


Laporan yang Joon dapat dari petugas dan dokter yang menangani Burhan. Joon hanya bisa menarik nafasnya pelan.


"Dia sudah putus asa dengan hidupnya. Menanggung rasa bersalah pada orang-orang yang ia rasa, telah ia sakiti. Merasa penyesalannya tidak akan berguna dalam penebusan kesalahannya. Membuatnya lemah secara fisik dan mental. Ditambah dengan kanker paru-paru. Cukup cepat untuk bisa mengakhiri hidup seseorang dalam arti yang sebenarnya," jelas dokter Pras beberapa waktu lalu.


Perlahan di sentuhnya bahu sang istri. Nina refleks menoleh. Sebuah uluran tangan ia sambut. Jòon dengan lembut menarik tubuh sang istri berdiri. Semua pelayat sudah pergi. Tinggal mereka berempat. Doni dan Dina. Joon serta Nina


"Kita pulang sekarang ya? tanya Joon.


Nina terdiam. Seolah belum rela meninggalkan papa angkatnya sendirian.


"Dia tidak sendiri. Mungkin sekarang mereka sedang..."


"Bermain catur?" potong Nina menyelesaikan kalimat Joon. Doni dan Dina seketika mengulum senyum. Tangis mereka sudah berhenti dari tadi sebenarnya. Meninggalkan sembab di wajah ayu ķeduanya.


"Nah itu tahu. Kita pulang ya. Besok kita ke sini lagi. Mau hujan, biarin papamu reunian sama ayahmu dulu. Nanti juga dia bakal dikenalin sama kakek dan nenek Suryo sama ayahmu," bujuk Joon, yang membuat ketiga orang lainnya hampir meledakkan tawanya. Namun urung dilakukan. Mengingat mereka tengah berada di area pemakaman.


"Kamu pikir ini reuni SMA apa?" jawab Nina bersungut-sungut.


"Ayo pulang kalau begitu," ajak Doni kali ini. Keempatnya mulai beranjak meninggalkan area pemakaman setelah berpamitan kepada Burhan.


Sejatinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kematian. Semua manusia pasti akan mengalami yang namanya mati. Kapan? Kita tidak tahu. Yang jelas saat ini kita tengah mengantri di loket kematian. Giliran itu kapan datang, kita tidak tahu. Karena kita sama-sama tidak tahu nomor antrian kita.


******


Hai, hai, hai up lagi nih,


Diusahakan untuk up tiap hari. Karena ada satu judul lagi yang tengah author kerjakan.


Jadi jangan lupa untuk tetep dukung author ya. Cukup like, vote, gift and commemt,


Happy reading readers, terima kasih atas dukungannya,


Salam sayang dari author, muah, 😘😘😘


*****

__ADS_1


__ADS_2