Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 25


__ADS_3

Dalam beberapa hari berikutnya. Berita tentang Joni, si direktur keuangan yang ditangkap polisi karena kasus narkoba, menjadi buah bibir di perusahaan Joon. Banyak yang tidak menyangka dengan hal itu.


"Perasaan pak Joni baik banget, nggak nyangka kalau dia ikut yang begituan." Komen seorang staf.


"Iya, padahal gajinya besar lo, masih aja nyari tambahan." Timpal yang lain.


"Yah begitulah manusia, udah dikasih banyak aja masih kurang. Apa kabarnya kita?"


"Iya, ya beneran nggak nyangka."


Beberapa selentingan karyawan yang Joon dengar ketika ia memasuki lobi kantornya. Para karyawan itu langsung berhenti bergosip saat melihat sang pimpinan melintas. Buru-buru mereka membungkukkan badannya, memberi hormat. Yang seperti biasa Joon abaikan.


"Ah, adem aku liat Pak Bos."


"He e. Bisa awet muda kita liat pemandangan kaya beginian tiap hari."


"Iya-iya" sambung yang lain.


"Tapi aku penasaran deh sama Pak Bos ini. Belum pernah aku dengar dia jalan sama wanita manapun. Dulu waktu dia masih jadi penyanyi juga kayak gitu."


"Iya ya. Padahal tiap hari cewek-cewek yang datang ke sini kepengen ketemu banyaknya minta ampun," jawab karyawan yang lain menunjuk ke arah meja resepsionis yang mulai padat dipenuhi para wanita yang ingin bertemu dengan Pak Bos mereka. Pak bos, begitu para karyawan itu memanggil Joon. Padahal mungkin Joon bisa saja ngamuk kalau dipanggil bapak. Masih muda katanya.


"Kamu mikir nggak, jangan-jangan Pak Bos kita nggak doyan perempuan."


"Ha, masak sik?"


"Habisnya kita nggak pernah lihat dia jalan sama cewek manapun."


"Iya, tiap hari cuma berduaan sama tuan Max."


"Tapi kalau tuan Max normal."


"Darimana kami tahu?"


"Soalnya aku pernah lihat dia ciuman sama mbak Stella, sekretaris tuan Lee. Hot banget tahu."


"Ya, sayang dong kalau Pak Bos nggak doyan perempuan."


Dan gosip itu seperti biasa berakhir ketika tiba waktunya bekerja dimulai.


Max masuk ke ruangan Joon dengan wajah berbinar. Bagaimana tidak glowing dia baru saja dapat hot morning kiss dari Stella sekretaris tuan Lee.


Terlebih dia kebetulan juga mendengar tentang gosip para karyawan mengenai bosnya itu.


"Pagi Bos."


Joon mengalihkan pandangan matanya dari laptop miliknya. Memandang Max yang tampak begitu bahagia.


"Kamu salah minum obat. Pagi-pagi sudah senyum-senyum nggak jelas gitu."


"Issh bos mah nggak bisa lihat orang bahagia dikit aja." Joon menatap heran pada orang kepercayaan itu. Tidak menimpali perkataan Max.


"Makanya Bos pacaran, biar bisa bahagia."


Kali ini joon melotot, berani-beraninya Max mengatakan itu padanya. "Maksud kamu apa? Ngomong sembarangan, mau aku pecat seperti Joni?"


"Eeh jangan dong Bos. Maksud saya Bos pacaran gitu biar nggak dianggap aneh-aneh sama karyawan bos."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Karyawan bos itu pada bilang kalau Bos itu nggak doyan perempuan padahal yang ngantri di bawah banyak."


Mata Joon mendelik ke arah Max. "Mereka berani bilang seperti itu? Mau aku pecat apa mereka itu?"


"Ish, ish, ish jangan asal main pecat aja. Lagian yang mereka omongin ada benarnya juga."


"Kamu mendukung mereka?"


"Bukan mendukung tapi ini kenyataan. Apa salahnya sih bos pacaran. Bos tinggal milih cewek satu terus ajak jalan. Beres deh. Nggak ada dah tu gosip yang bilang kalau Bos nggak doyan perempuan."


"Aku tidak mau asal jalan dengan wanita manapun. Nanti kasusnya seperti Michi dan Vivi" jawab Joon kemudian setelah diam beberapa saat.


"Iya juga" Max mengiyakan. Orang seperti bosnya memang tidak bisa sembarangan memilih wanita.


Teringat dua wanita yang pernah gila-gilaan mengejar Joon membuat Max ngeri. Untung yang satu dikirim ke luar negeri oleh sang papa. Sedang yang satu meski kadang masih mengganggu tapi masih bisa dikendalikan.


Pasalnya Joon telah memerintahkan kepada satpam dan resepsionis untuk tidak membiarkan wanita manapun untuk naik ke lantai 35 kecuali sang mama. Dengan alasan apapun.


Hingga ketika ada seorang wanita yang mengaku hamil anak Joon pun tetap tidak diizinkan masuk. Dan hal itu membuat Max benar-benar tidak bisa menghentikan tawanya selama seharian penuh. Bagaimana tidak, menyentuh perempuan saja tidak pernah apalagi sampai menghamilinya.


"Emang ada ya istilah hamil online?" canda Max waktu itu. Dia kembali meledakkan tawanya membuat Joon yang sedari tadi sudah marah bertambah marah.


"Maka bawalah dia segera kemari," ucap tuan Lee yang tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka. Max langsung menghentikan tawanya.


"Tuan Besar," sapa Max sambil membungkukkan badannya.


Tuan Lee hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapan mereka.


"Apa mungkin ini sudah waktunya?"


Joon terdiam sedikit berpikir. Lalu kembali berjalan menuju lobi kantor. Sejenak berhenti di meja resepsionis. Membuat para resepsionis itu sigap berdiri dan memberi salam kepada orang kedua di perusahaan itu. Mereka sejenak terpesona dengan ketampanan atasannya itu. Hingga suara dingin nan tegas dari Joon membuyarkan tatapan terpersona mereka.


"Ambil saja atau bagikan ke yang lain juga tidak apa-apa," jelas Max membuat wajah para resepsionis itu berbinar senang


"Beneran Tuan, boleh diambil semua hadiah-hadiah ini?"


"Iya ambil saja."


"Baik Tuan, terima kasih."


Max hanya mengangguk lantas berlalu.


"Wah, seneng banget. Lihat, ini barang mahal semua lo."


"Iya-iya..... iiihh seneng banget." Para resepsionis itu setengah berteriak saking senangnya.


******


"Ke mana kita hari ini?" tanya Joon ketika Max sudah menyusulnya masuk ke dalam mobil.


Max lantas mengecek ponselnya. Dahinya berkerut melihat nama orang yang akan mereka temui.


"Kenapa Max?" Joon kembali bertanya ketika Max tak kunjung menjawab.


"Kita akan bertemu dengan investor dari MH GROUP," jawab max singkat.


Max masih berpikir mungkinkah MH itu singkatan dari Michael Mahardika. Jika itu benar maka yang akan mereka temui adalah Mike.


Keduanya masih diam. Hingga mobil mereka memasuki kawasan restoran XX yang terkenal mewah dan elit.

__ADS_1


Keduanya disambut langsung oleh manajer restoran yang langsung mengantarkan mereka ke ruang VVIP restoran di lantai 4.


Dan Max benar-benar terkejut karena orang yang akan mereka temui adalah Mike. Begitupun Joon. Lama tidak bertemu tapi Joon tetap mengingat wajah Mike. Tapi berbeda dengan Mike yang bersikap seolah tidak mengenal mereka berdua. Padahal dulu ketiganya adalah teman akrab.


Mike berdiri langsung bermaksud ingin menjabat tangan Joon. "Senang bertemu dengan Anda, tuan Lee Joon."


Joon hanya terdiam. Sedikit terkejut dengan sikap Mike.


"Mike ini kamu beneran Mike kan?" mengabaikan salam dari Mike, Joon justru memeluk Mike.


"Anda mengenal saya tuan?" tanya Mike bingung


"Kamu tidak ingat aku. Ini aku Lee Joon."


Mike sejenak terdiam. Ada sekelebat bayangan masa lalu yang tiba-tiba melintas di pikirannya. Seolah-olah ia memang begitu akrab dengan suara pria di hadapannya itu. Tapi hal itu buru-buru ditepisnya.


"Ah maaf mungkin anda salah mengenali orang." Joon tertegun. Mungkinkah dia salah dalam mengenali teman lamanya itu.


"Mungkin Anda benar. Saya mungkin terlalu merindukannya sehingga saya melihat bayangan teman saya di diri Anda."


"Anda sepertinya sangat dekat dengan teman Anda itu."


"Kami sudah lama tidak bertemu. Ada sedikit salah paham di antara kami."


Jawab Joon sambil menempatkan dirinya di sofa yang sangat nyaman dengan Max yang selalu setia di sisinya.


Pembicaraan tentang bisnispun berlangsung. Hingga di akhir pembicaraan terjadi kesepakatan untuk saling mempelajari dokumen perjanjian masing-masing. Dan menjadwalkan untuk bertemu di lain waktu.


Joon dan Max keluar terlebih dulu dari restoran.


"Aku yakin dia Mike, Max."


"Aku juga Bos. Tapi ada yang aneh dengan sikap Mike, Bos."


"Maksudmu?"


"Entahlah, dia sepertinya mengenal kita Bos, tapi dia seperti berpura-pura tidak mengenal kita."


"Kalau begitu selidiki dia. Aku yakin dia adalah Mike teman kita. Apa mungkin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi dia terlihat baik-baik saja."


"Baik Bos."


"Akan aku balas apa yang sudah ayahmu lakukan pada keluargaku, Lee Joon!" ucap Mike pelan sambil memperhatikan Joon yang mulai meninggalkan restoran.


Namun tiba-tiba, kepalanya terasa sakit seperti mau meledak saat teringat kata-kata Lee Joon. Dan saat Joon memeluknya dia merasakan kehangatan seorang teman yang telah lama ia rindukan. Sang asisten buru-buru meraih obat di kantong jasnya. Lantas memberikan kepada tuannya yang langsung meminumnya.


" Anda tidak apa-apa, Tuan?"


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir," jawab Mike setelah merasa lebih baik.


"Perlu dijadwalkan untuk berkonsultasi dengan dokter Pras?"


"Tidak, tidak perlu. Ini hanya sakit kepala seperti biasanya"


Sang asisten hanya terdiam. Sedang Mike merasa aneh karena tiba-tiba perasaannya berkata bahwa ia mengenal Lee Joon dengan baik.


"Ah... perasaan macam apa ini?" batin Mike bingung dengan dirinya sendiri.


Baik Joon maupun Mike masing-masing terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


****


__ADS_2