
Nina menatap berkas yang diberikan oleh salah satu stafnya. Melihatnya sekilas lantas tersenyum smirk.
"Kalian ingin aku merevisi laporan ini di hadapan kalian?"
"Iya, Bu," jawab staf Nina kompak.
Mereka pikir dengan bertanya seperti itu. Direktur mereka yang baru itu tidak tahu cara melakukannya. Senyum kemenangan sudah nampak di wajah staf Nina.
"Bu direktur, pak Irfan perlu dua hari untuk mengerjakan laporan itu," celetuk seorang stafnya.
"Benarkah, Pak Irfan?" Yang dipanggil Pak Irfan langsung memasang muka serius.
"Betul Bu, dua hari itu pun full lembur," jawabnya mantap.
"Dan dua hari itu, Anda tidak bisa menemukan kesalahan dalam data yang anda masukkan."
"Datanya benar Bu. Saya yakin itu." Nina kembali tersenyum.
"Kita lihat, apa yang bisa kita ditemukan disini."
Nina melirik Karin yang langsung mengangguk, sebuah laptop sudah tersedia di atas meja dan sudah terhubung dengan layar proyektor di ruang rapat.
"Show time," bisik Karin.
Dan dimulailah jari Nina menari lincah di atas keyboard laptop itu. Memasukkan data begitu cepat. Terlihat jika dia begitu lihai dalam hal itu. Para staf itu melongo dibuatnya. Sedang Karin, menatap wajah para staf itu dengan ekspresi mengejek yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kalian membangunkan ratu angka yang sedang tidur," bisiknya pelan namun masih bisa di dengar Rita yang berdiri di belakangnya. Yang mungkin tanpa disadari oleh semua orang saat ini dia sedang merekam aksi Nina menggunakan ponselnya.
Tak berapa lama,
"Selesai," tombol enter telah ditekan dan hasil laporan itu terpampang jelas di layar proyektor.
Para staf menganga tidak percaya. Laporan yang digadang-gadang pak Irfan diselesaikan dalam dua hari full lembur, direvisi direktur baru mereka dalam waktu tak kurang dari 15 menit.
Mereka benar-benar tidak percaya. Apalagi laporan itu benar-benar akurat tanpa kesalahan sama sekali.
"Anda tahu di mana letak kesalahannya Pak Irfan?" Yang ditanya hanya diam saja. Masih shock. Dia pusing tujuh keliling waktu menyelesaikan laporan itu. Tapi direktur mereka yang baru mengerjakannya seperti perhitungan satu ditambah satu anak SD. Terlihat sangat mudah sekali.
"Anda, entah sengaja atau tidak, entah sadar atau tidak menambahkan potongan satu persen dari angka ini. Yang sebenarnya tidak diperlukan. Karena Anda sudah memotongnya di awal. Angkanya cuma satu persen,tapi satu persen itu dari angka satu trilyun. Jadi bisa kalian bayangkan berapa yang sudah pak Irfan potong dari laporan ini. Dan potongan itu tidak tahu ke mana perginya," jelas Nina panjang lebar.
Kembali para staf Nina terkejut, bagaimana jelinya mata direktur mereka yang baru ini. Bahkan kesalahan sekecil itu dia bisa menemukannya.
"Ada yang ingin Anda jelaskan pak Irfan?"
"Tapi Bu, seingat saya seperti itulah data yang diberikan kepada saya."
"Siapa yang memberikan datanya?"
"Pak Joni, Bu."
"Lantas Anda mengerjakannya tanpa menelitinya terlebih dahulu? Begitu?"
Pak Irfan hanya terdiam. Pantas saja sepertinya ada yang salah dengan laporannya saat itu. Ternyata itu masalahnya.
"Maafkan saya Bu, saya kurang teliti," akhirnya kata itu yang keluar dari mulut pak Irfan. Membuat yang lain saling menyenggol. Bukan ini yang mereka rencanakan.
"Pekerjaan kita adalah mengelola data keuangan yang akan disinkronkan dengan uang yang benar-benar masuk ke perusahaan. Adalah tugas kita untuk mencari tahu bila ada yang tidak sinkron dengan keduanya. Bukan malah membiarkannya. Itu akan mengacaukan perusahaan. Yang paling fatal akibatnya adalah bisa membuat perusahaan bangkrut. Membuat kalian kehilangan pekerjaan. Itu yang kalian inginkan?"
Mereka semua diam.
"Kita sama-sama bekerja di sini. Sama-sama mencari uang. Jadi pikirkanlah kembali tindakan kalian selama ini. Dan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya. Tetap bertahan dengan cara kerja seperti ini atau berubah menjadi lebih baik."
"Hanya satu hal yang saya pastikan. Semua laporan yang akan keluar dari departemen kita akan melalui double cek. Lewat saya dan asisten saya. Jadi jika dengan asisten saya masih bisa lolos. Jangan harap bisa lolos dari saya."
__ADS_1
"Itu saja. Dan satu lagi. Meski saya tidak berkantor di sini. Saya pastikan kalian semua tidak akan lolos dari pengamatan saya."
"Mereka mendapat semua data yang mereka kerjakan dari pak Joni," Karin berkata setelah semua keluar dari ruang rapat itu.
"Apa mungkin Pak Joni yang memanipulasi datanya?"
"Entahlah, tapi itu kan satu-satunya dugaan yang kita punya."
"Mari bekerja keras. tidak akan mudah mengatasi para pencuri itu."
Karin mengangguk, lantas keduanya menghela nafas.
"Sebenarnya soal curi mencuri ini kembali ke hati masing-masing. Bagi kita yang menganggap mencuri salah, kita akan berusaha untuk menghindarinya. Tapi bagi mereka yang tidak punya nurani. Mereka akan melakukannya tanpa rasa bersalah. Jadi yang bisa kita lakukan hanya mencegahnya. Memperkecil kemungkinan itu terjadi," ucap Nina.
"Betul sekali. Aku setuju denganmu," timpal Karin.
Lama keduanya terdiam. Hingga bunyi ponsel masing-masing memecah keheningan. Keduanya mengeryitkan alis mereka.
Mendapat pesan yang sama dari nomor yang berbeda.
"Naiklah ke lantai 34." Bunyi singkat pesan itu.
"Disuruh ngapain lagi sih?" gerutu Nina begitu ia keluar dari lift di lantai 34.
Karin mengedikkan bahunya. Tak lama mereka melihat Max yang langsung melambaikan tangannya dengan wajah sumringah. Berbeda dengan wanita yang ada disebelahnya.
Ya, Stella yang berada di sebelah Max tampak memasang wajah masam. Terlihat tidak suka dengan kehadiran Nina dan Karin di tempat itu.
Lantai 34 adalah lantai para sekretaris. Dimana sekretaris tuan Lee dan Lee Joon berkantor di sana. Hanya mengerjakan tugas mereka tanpa boleh naik ke lantai 35. Terutama ruangan Joon begitulah aturannya. Hasil kerja mereka dihandle oleh para asisten pribadi masing-masing. Asisten Jo untuk tuan Lee dan Max untuk Lee Joon.
Stella adalah sekretaris tuan Lee yang akhir-akhir ini begitu lengket dengan Max. Walau Max tidak pernah mengatakan pacaran tapi dari luar mereka nampak seperti orang pacaran. Padahal hubungan mereka hanya sebatas hubungan yang saling menguntungkan, di atas ranjang tentunya. Setidaknya itulah menurut Max.
Begitupun saat Nina melihatnya. Setengah berbisik ia bertanya pada Karin. "Mereka pacaran ya?"
Begitu mereka mendekat. Max dengan segera menghampiri keduanya. Hingga membuat Stella kesal merasa diabaikan.
Max memberi kode agar mereka mengikutinya.
"Bos menunggumu di dalam, masuklah," ucap Max berdiri di sebuah pintu yang masih tertutup.
"Untukmu akan kutunjukkan ruanganmu," ucapnya ke arah Karin.
Begitu Nina masuk, dirinya dibuat terpukau dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Sebuah ruangan bernuansa biru muda terhampar di depan matanya. Dia sangat menyukai warna itu belum lagi dengan desain interiornya. Dia sampai melongo dibuatnya. Terlihat cantik di mata Nina.
"Kamu menyukainya, Baby?" suara baritone yang begitu ia kenal mengagetkannya.
Pria itu berdiri, bersandar pada meja kerjanya. Dengan kedua kakinya menyilang. Menambah kesan menjulang tinggi pria itu. Dia meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanannya di atas meja. Seolah menyambut si pemilik ruangan.
Nina mengangguk menjawab pertanyaan Joon. Senyum terlukis jelas di wajah Nina.
"Kamu menyiapkannya untukku?" tanyanya saat sudah berada di depan Jòon.
"Ehhmm, tidak juga. Aku hanya memberi perintah. Max yang menyiapkannya."
"Selalu seperti itu. Jangan terlalu keras pada Max. Sudah banyak yang dia handle."
"Kenapa kita jadi membahas Max. Aku sedang membahas kantormu, Baby."
"Aku menyukainya jangan khawatir. Aku menyukai apapun yang kamu berikan untukku," jawab Nina tanpa sadar. Matanya masih sibuk mengamati ruangannya.
"Termasuk gelang yang aku hadiahkan untuk kelulusanmu?"
"Yang itu?"
__ADS_1
"Kalau kamu tidak menyukainya. Untuk apa kamu terus memakainya," goda Joon sambil mengangkat pergelangan tangan kiri Nina. Di mana gelang itu berada.
Sontak Nina berusaha menarik kembali tangannya berusaha menyembunyikannya dari Joon.
"Ini, ini...." Nina gelagapan tidak tahu harus menjawab apa. Berterus terang gengsinya masih terlalu tinggi. Menyangkal dia sudah tertangkap basah sekaligus dengan buktinya.
"Ini apa. Kenapa tidak mengaku saja?" kembali Joon bertanya. Wajahnya sudah berada di depan wajah Nina. Wajah Nina sudah merona merah karena malu.
"Iya, iya aku menyukainya. Dan aku memakainya sejak kamu memberikannya padaku. Puas kamu?" jawab Nina sambil memanyunkan bibirnya.
Joon tersenyum puas bisa mengerjai Nina sekaligus mendapat jawaban dari pertanyaannya.
Dan selanjutnya Joon merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Eh, eh?"
Nina berusaha berontak namun Joon enggan melepaskan pelukannya.
"Diamlah, sebentar saja."
"Nanti kalau ada yang melihat bagaimana?"
"Apa peduli kita? Lagipula tidak ada yang tahu aku ada di sini."
"Lalu kamu masuk dari mana? Sampai-sampai tidak ada yang tahu kamu ada di sini. Punya ilmu menghilang ya kamu?"
Joon hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos Nina. Baru saja tadi pagi ia mendengar bahwa gadis dalam pelukannya itu mengeluarkan taringnya di departemen keuangan. Membuat para staf terkejut dengan kemampuan yang di milikinya. Tapi sekarang, dalam sekejap mata gadis itu sudah bertingkah seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
"Benar-benar gadis yang menarik," batin Joon
"Kok malah diam sih. Kamu masuk dari mana?"
Dan akhirnya Joon melepaskan pelukannya. Lantas menuntun gadis itu ke sebuah lukisan. Lukisan yang tingginya sama dengan sebuah pintu.
"Ini apa?"
"Ini jalan rahasia," bisik Joon.
"Untuk ke mana?"
Perlahan Joon mendorong lukisan itu perlahan. Dan dugaan Nina ternyata benar itu adalah sebuah pintu. Di dalamnya terlihat tangga yang menuju ke atas.
"Tangga itu langsung menuju ke ruanganku di lantai atas."
"Ha? Jadi kamu juga menyiapkan ini?"
"Ruanganmu berada tepat di bawah ruanganku. Aku membangunnya sejak setahun yang lalu. Jadi aku bebas keluar masuk ke ruanganmu tanpa ada yang akan mengetahuinya," ucap Joon sambil mengerlingkan matanya.
"Ini rahasia. Bahkan Max pun tak tahu."
"Dan satu lagi dibalik pintu itu ada kamar pribadi. Kamu bisa menggunakan jika kamu merasa lelah."
Nina hanya terdiam mendengar semua penjelasan Joon. Tidak menyangka jika pria di depannya ini begitu memperhatikan dirinya.
"Ada apa, Baby? Apa kamu tidak menyukainya. Kita bisa mengubahnya jika ada yang tidak kamu sukai."
Namun Nina hanya terdiam, membuat Joon bingung. "Baby, are you okay?"
"Aku baik-baik saja. Hanya saja ini terlalu berlebihan. Aku menyukainya. Terima kasih," ucap Nina langsung menghambur masuk ke pelukan Joon. Merasakan betapa hangatnya pelukan Joon yang segera membalas pelukan Nina. Tidak menyangka dengan reaksi Nina. Joon merasa bahagia.
"Semuanya akan aku lakukan untukmu, Baby. Semuanya," ucap Joon sambil mengecup lembut pucuk kepala Nina.
Ahh... Joon benar-benar bahagia hari ini.
__ADS_1
*****