
Salah satu hal yang paling sulit dikendalikan adalah perasaan. Jae Kyung jelas mengalami hal itu. Semua rasa sedih, kecewa, marah, cinta yang tak akan pernah bisa ia miliki, membuatnya kehilangan kendali atas dirinya.
Nina jelas marah dengan sikap adik iparnya, yang berani menciumnya. Dia pikir dengan menghindari pria ini sebisa mungkin mampu menghapus rasa yang pria ini miliki untuk dirinya.
"Berani kau melakukan itu padaku? Kau adik iparku. Tidak pantas kau menciumku seperti itu!" Nina berteriak. Kemarahan jelas nampak diraut wajah ayunya.
"Aku tidak peduli!" Jae Kyung tak kalah keras berteriak.
"Kalau kau tidak peduli padaku. Setidaknya pikirkanlah kakakmu," ucap Nina melembut.
"Jangan menasehatiku! Perasaanku adalah milikku. Jadi terserah padaku!" ucap Jae Kyung.
Nina menghela nafas.Dia pikir tidak akan berguna menghadapi orang yang tengah marah. Dia berlalu sambil mendorong pelan dada Jae Kyung. Karena pria itu menghalangi langkahnya.
Tapi bukannya memberikan jalan. Jae Kyung malah merengkuh tubuh Nina. Lantas menghempaskannya ke sofa dibelakang Nina.
"Jae Kyung apalagi ini!" teriak Nina kembali emosi.
"Aku akan mendapatkanmu kali ini. Tidak peduli dengan yang lain. Bahkan kakakku sekalipun " ucap Jae Kyung lantas membuka jaketnya. Menyisakan kaos oblong putihnya. Yang membungkus ketat tubuh atletis pria itu.
Dejavu itu kembali muncul diotak Nina.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" pekik Nina dalam hati.
"Jae Kyung apa kau sudah gila?!" ucap Nina terus merangsek mundur menjauh dari jangkauan Jae Kyung.
"Anggap saja iya. Aku sudah lama tergila-gila padamu kakak ipar," seringai Jae Kyung.
"Mundur jangan mendekat! Aku milik kakakmu. Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Aku bilang berhenti! Jangan mendekat!" teriak Nina.
Jae Kyung seolah tidak peduli dengan teriakan Nina. Pria itu merangsek maju. Dengan satu gerakan, Jae Kyung berhasil menindih tubuh Nina. Lantas menciumnya dengan brutal.Tidak peduli bagaimanapun Nina meronta. Jae Kyung benar-benar tidak memberikan celah sedikitpun bagi Nina untuk melepaskan diri.
"Selamatkan aku. Aku mohon. Jangan biarkan ini terjadi lagi padaku," batin Nina.
Derai airmata sudah mengalir di kedua pipi Nina. Sedang Jae Kyung semakin brutal mencium bibir Nina. Mengabaikan Nina yang sudah berderai air mata.
Hingga entah mendapat kekuatan dari mana. Nina dengan sekuat tenaga mendorong dada Jae Kyung. Membuat pria itu terjatuh ke lantai. Dengan cepat Jae Kyung berdiri kembali. Lalu hendak mendekati Nina lagi.
Hingga "plak" satu tamparan mendarat di rahang kokoh Jae Kyung. Pria itu terkesiap seketika. Melihat Nina dengan air mata bercucuran dan penampilan yang berantakan. Membuatnya tersadar seketika.
Ya, dia pernah berjanji untuk tidak pernah membuat kakak iparnya itu menangis. Tapi nyatanya dia sendiri yang telah membuat air mata kakak iparnya itu menganak sungai tanpa bisa ia hentikan.
"Nina.....," ucap Jae Kyung lirih.
"Aku kecewa padamu. Aku membencimu Lee Jae Kyung!" teriak Nina. Sepersekian detik berikutnya Nina menghilang dibalik pintu. Yang ditutup begitu kasar.
__ADS_1
Meninggalkan Jae Kyung yang hanya bisa meraup wajahnya kasar. Menyesali segala kebodohan dirinya.
"Dasar bodoh!" rutuknya pada diri sendiri.
Dia masih bingung dengan apa yang baru saja ia lakukan pada Nina. Ketika ponselnya berdering. Nama sang kakak muncul di layar.
"Kenapa kakak menghubungiku? Apa dia sudah tahu yang aku lakukan pada istrinya," perang batin Jae Kyung.
"Ya kak? Ada apa?" tanya Jae Kyung berusaha bersikap biasa.
"Apa istriku bersamamu? Barusan mama bilang menyuruhnya ke tempatmu?" ucap sang kakak dari seberang. Ucapan kakaknya terdengar panik.
"Dia baru saja pergi. Kenapa?" tanya Jae Kyung.
"Gawat! Bisa kau temukan dia cepat. Bawa dia kembali. Setidaknya jangan biarkan dia sendiri," pinta Lee Joon. Kali ini tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Jae Kyung tidak mengerti.
"Heri, orang yang menculik Nina hampir 2 tahun yang lalu. Tadi pagi kabur dari penjara. Diperkirakan kalau dia akan mengincar kakakmu lagi!" ucap Lee Joon.
Duaarrr, ucapan Lee Joon membuat Jae Kyung terkejut bukan kepalang.
"Bisa kau berikan aku foto orang itu?" tanya Jae Kyung ikut panik.
"Akan aku kirimkan," ucap Lee Joon singkat. Lantas memutuskan panggilannya.
"Ini adalah pria yang dia lihat di gate apartemen. Oh shi*t!" umpatnya.
Dia secepat kilat meraih jaketnya. Lantas melesat keluar dari apartemennya. Memasuki lift menuju lobi. Berharap dia bisa menemukan kakak iparnya sebelum orang itu.
Di lobi dia mengedarkan pandangan. Mencari sosok kakak iparnya. Namun nihil. Dia tidak menemukan kakak iparnya.
"Pak, apa kau melihat kakak iparku?" tanya Jae Kyung pada satpam.
"Oh Bu Nina, belum, saya belum melihatnya keluar," jawab satpam itu. Kepanikan Jae Kyung bertambah.
"Kak, aku tidak menemukannya," lapor Jae Kyung menghubungi kakaknya.
"Dia belum keluar dari sana. Cincinnya belum keluar dari sana. Dia masih digedung itu," ucap Lee Jae Kyung.
"Aku akan mencarinya lagi," balas Jae Kyung.
"Aku akan menuju ke sana," sahut Lee Joon.
Sementara itu,
__ADS_1
Di tangga darurat lantai 24, Nina meringkuk di balik pintu tangga darurat. Dia pikir tidak mungkin turun dalam keadaan berantakan dan berderai air mata. Pasti akan jadi perhatian banyak orang. Jadi dia memilih untuk menenangkan diri dulu.
Disini, ditempat yang jarang ada orang yang akan menggunakannya. Kecuali darurat. Dia masih terisak. Mengingat bagaimana adik iparnya bisa melakukan hal itu padanya.
Hatinya begitu kecewa dan sedih. Butuh beberapa waktu bagi Nina untuk menenangkan diri. Sampai dia merasa lebih baik. Dia berdiri, mengusap sisa airmata di pipinya. Membetulkan dresnya yang sedikit berantakan. Dia teringat meninggalkan hand bagnya di apartemen Jae Kyung. Ketika dia hanya berpikir bagaimana dia bisa keluar dari apartemen Jae Kyung.
Tiba di lobi. Suasana sudah sepi. Padahal hari masih petang. Tapi baguslah. Dia tidak perlu menjawab pertanyaan orang tentang keadaan dirinya. Yang mungkin masih terlihat kusut. Dia yakin jika wajahnya pasti bengkak saat ini.
Berjalan menuju gate apartemen. Berpikir untuk mencari taksi. Pulang ke Bogor. Dia masih di kawasan parkir apartemen itu. Ketika sebuah suara, menyapanya. Suara yang begitu familiar. Serta meninggalkan kenangan buruk diotaknya.
"Halo Baby, senang melihatmu lagi," sapa suara itu.
Nina menoleh kesamping. Matanya langsung membuat. Tangannya seketika menutup mulutnya saking terkejutnya. Nina reflek memundurkan langkahnya.
"Kau, bagaimana bisa kau bisa.... bisa....disini?" tanya Nina ketakutan.
"Aku sañgat merindukanmu, Nina. Lihatlah ck, ck,ck dirimu benar-benar bertambah cantik. Tidak sia-sia usahaku kabur dari penjara," ucap pria itu yang tak lain adalah Heri.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya ha?" tanya Nina mulai frustrasi.
Mengapa hari itu datang lagi dalam hidupnya. Susah payah dia berusaha melupakan semua hal mengerikan itu. Tapi hari ini semua terulang lagi. Membuat semua usahanya sia-sia saja.
"Keinginanku? Masih sama. Ingin menghabiskan waktu denganmu. Apalagi sekarang kau bertambah cantik. Membuatku tidak sabar untuk menghabiskan malam bersamamu," ucap Heri sambil menyeringai penuh makna.
"Jangan bermimpi. Suamiku akan menemukanku. Dan menolongku. Seperti waktu itu," ucap Nina. Sambil melirik ke kanan ke kiri. Berpikir untuk melarikan diri.
Namun hal itu dilihat oleh Heri.
"Jangan berpikir untuk melarikan diri. Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini," ancam Heri kembali.
Nina baru saja akan melarikan diri dari sana. Saat tiba-tiba tangan Heri sudah menahan tubuh Nina.Dengan satu tangannya dia gunakan untuk membekap mulut Nina. Mencegahnya agar tidak berteriak.
Nina jelas panik. Berusaha berteriak namun tidak bisa. Bekapan tangan Heri begitu kuat.
"Lepaskan dia!" satu suara terdengar. Nina seketika mengangkat wajahnya.
"Siapa kau? Berani ikut campur urusanku!" bentak Heri.
"Siapa aku bukan urusanmu! Lepaskan saja dia!" ancam pria itu.
Nina sendiri tidak percaya. Jika pria itu kini berdiri didepannya. Berusaha menolongnya. Mengingat apa yang baru saja ia lakukan.
******
Up lagi readers,
__ADS_1
Thank's for reading,
***