Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 77


__ADS_3

Nina memandang wajah Joon yang masih terlelap. Pria itu tidur menggunakan tangan yang ia lipat sebagai bantalnya. Sudah hampir seminggu ini Nina dirawat di rumah sakit. Guna pemulihan pasca trauma yang di alaminya.


Dan sejak seminggu ini pula, pria ini tidak pernah meninggalkan sisinya, barang sedetikpun. Setiap kali Nina membuka mata. Lee Joon selalu ada di sampingnya. Menjadi sasaran kala Nina tidak lagi mampu mengendalikan dirinya. Tak jarang, Nina tanpa sengaja akan memukul atau mencakar pria itu.


Tiap kali itu terjadi, pria itu akan segera memeluk dirinya. Berusaha menenangkan dirinya. Ternyata hal itulah yang paling ampuh untuk meredam ingatan Nina tentang hari itu.


"Maafkan aku," bisik Nina lirih. Satu jemarinya merapikan anak rambut Joon yang menutupi wajah pria itu. Perlahan dibelainya lembut wajah Lee Joon.


Nampak sekali jika pria itu tidak punya banyak waktu untuk merawat dirinya sendiri. Bulu-bulu halus mulai tumbuh di wajah Joon, membuatnya justru semakin tampan. Walaupun Nina sebenarnya menyukai pria berwajah klimis.


Wajah Joon juga nampak kusut. Efek dari tidur yang kurang. Karena sejak di rawat Nina sering terbangun di malam hari. Butuh waktu lama baginya untuk bisa tidur kembali, membuat pria itu mau tidak mau akan menemani Nina sampai Nina tertidur.


Sedang di saat siang. Ketika Nina terlelap tidur. Pria itu akan langsung work from hospital. Mengecek email bahkan kadang melakukan meeting virtual dengan para kliennya, yang ingin membahas masalah kerjasama langsung dengan dirinya.


"Maafkan aku," sekali lagi Nina berucap. Tak lama dia pun kembali memejamkan matanya. Bersamaan dengan Lee Joon yang membuka matanya. Mata pria itu berkaca-kaca. Mendengar permintaan maaf dari Nina.


Dia yang salah dalam hal ini. Karena ulah gilanya memicu trauma pada gadis yang begitu ia cintai. Dalam hati Joon berjanji akan selalu melindungi gadis itu dalam keadaan apa pun juga.


Seminggu berlalu dengan cepat. Dalam minggu itu, hal yang paling menggemparkan terjadi. Penangkapan pengusaha terkenal Burhanudin Affandi dengan tuduhan pembunuhan terhadap adik kandungnya Henri Mahardika dan istri, Vina Qasrina. Menjadi trending topik baik di media cetak dan online.


Burhan baru saja membaca laporan tentang asal usul Nina yang ternyata benar putra Adi Pratama. Sang sahabat, yang berarti jika Nina adalah Karen, putri angkatnya. Burhan shock seketika. Tidak ada kata yang mampu keluar dari bibirnya. Terlebih lagi dalam laporan itu juga dituliskan bahwa Adi Pratama sudah meninggal hampir 1,5 tahun yang lalu. Burhan hanya bisa menangis lirih.


Laporan itu masih berada di tangannya. Ketika seorang perwira polisi masuk dengan beberapa anak buahnya. Membawa surat perintah penahanan atas dirinya. Atas tuduhan pembunuhan Henri sang adik dan istrinya. Serta beberapa tuduhan penggelapan dana.


Alhasil, Burhan tidak mampu melawan. Hanya bisa pasrah ketika para polisi itu menggelandang dirinya. Dengan tangan yang sudah diborgol. Para karyawan hanya bisa melongo melihat bos besar mereka di gelandang polisi. Disertai kilatan lampu kamera para wartawan yang telah menunggu di lobi kantor. Guna meliput berita penangkapan itu.


Dan tentu saja, orang lain yang paling terkejut dengan berita ini adalah Dina. Saat itu dia berada di apartemen Doni. Dina langsung terduduk di sofa ruang tengah apartemen Doni.


Tangisnya langsung pecah. Bersamaan dengan pintu apartemen yang terbuka. Doni langsung menghambur masuk dan memeluk Dina.


"Apa semua ini benar? Apa benar Papa yang telah membunuh om Henri dan tante Vina?" tanya Dina dengan air mata yang sudah berurai deras di kedua pipinya. Doni hanya mengangguk.


"Apa Mas sudah tahu hal ini sebelumnya?" tanya Dina lagi.


"Maaf. Kami hanya ingin kamu tidak ikut merasa bersalah," balas Doni.


"Tapi jika seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi mereka? Bagaimana, bagaimana bisa aku bertemu kak Mike?" isak Dina.


"Tenangkan dulu dirimu. Kita bicarakan lagi hal ini nanti," kata Doni menenangkan. Akhirnya Dina hanya bisa menurut, merasa tidak ada pilihan lain. Hatinya begitu kecewa dengan perbuatan papanya.


Dina berjalan gontai keluar dari kantor polisi tempat ayahnya ditahan. Wajah sedih dan kecewa terukir jelas di wajah sembabnya. Bermaksud ingin meminta penjelasan sekaligus menjenguk sang ayah. Namun perlakuan yang diterima Dina malah membuatnya semakin terpuruk.


"Pergi saja sana. Jangan urusi urusan Papa!"


Hanya sebaris kata itu yang keluar dari bibir sang ayah. Bahkan untuk menemui Dina pun papanya enggan.

__ADS_1


Air mata kembali mengalir di pipinya. Membuat dia sama sekali tidak tahu kakinya melangkah. Hingga satu tarikan tangan membuatnya mendongakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk.


"Kak, Kak Mike," ucapnya lirih.


Dan di sinilah keduanya. Duduk berhadapan di sebuah restoran Jepang yang kebetulan tidak jauh dari kantor polisi tempat ayah Dina ditahan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Mike yang sejak tadi hanya memperhatikan Dina yang menundukkan kepalanya. Tidak mau menatap wajahnya seperti biasa.


Dina hanya diam saja. Mike tahu yang Dina rasakan. "Maaf. Maafkan papa, Kak " sebaris kata yang keluar dari bibir Dina diiringi isak tangis yang mulai terdengar. Beruntung Mike memesan VIP room. Jika tidak pasti banyak orang akan mengira Mike telah berbuat sesuatu hingga membuat Dina menangis.


"Harusnya kakak yang minta maaf," jawab Mike.


"Kenapa? Kakak tidak salah apa-apa. Sudah jelas Papa yang sudah melenyapkan om Henri dan tante Vina. Menghancurkan keluarga Kakak," ujar Dina.


"Kamu tidak marah dengan Kakak?" tanya Mike lagi.


"Buat apa aku marah sama Kakak. Sudah jelas siapa di sini yang bersalah. Kenapa Kakak baru melaporkannya sekarang?" tanya Dina. Mike tentu merasa heran. Kemarin dia sempat khawatir. Kalau tindakannya ini akan membuat Dina sedih dan kecewa dengan dirinya. Namun nyatanya berbeda.


Walaupun Dina terlihat sedih dan kecewa tapi dia sama sekali tidak marah dengan dirinya.


"Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Mike lagi.


"Aku tidak apa-apa Kak. Sungguh. Kecewa dan sedih. Itu sudah pasti. Tapi setiap perbuatan bukankah harus mendapat balasannya. Dan Papa sudah waktunya dapat balasan atas semua perbuatannya. Yang seharusnya sudah dari dulu ia dapatkan," jawab Dina.


"Kakak tidak bohong kan? Kakak tahu. Sebetulnya aku takut bertemu Kakak. Aku seperti tidak punya nyali untuk menemuimu. Mengingat apa yang sudah Papa lakukan ke keluarga Kakak," ucap Dina sendu.


"Jangan bicara seperti itu. Sekarang tinggal kita berdua. Jadi mari lupakan semuanya dan kita buka lembaran baru," ujar Mike. Dina langsung mengangguk mendengarnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mike setelah sesi makan siang mereka selesai.


"Aku mau ke tempat camermu," jawab Dina. Mike seketika mengerutkan dahinya.


"Kenapa? Apa kamu depresi? Kamu frustrasi dengan semua kejadian ini?" tanya Mike cemas.


"Mungkin aku otw depresi dan frustrasi. Jadi aku perlu sedikit berkonsultasi dengan camermu. Biar aku nggak beneran gila," jawab Dina.


"Kamu ini? Bikin Kakak cemas saja," balas Mike.


"Seneng deh ada yang mencemaskanku."


"Memangnya Doni tidak pernah mencemaskanmu?" tanya Mike.


"Selalu.Tapi kalau Kakakku sendiri yang mencemaskanku, kan lain rasanya," sahut Dina sambil terkekeh.


"Kamu itu bisa saja."

__ADS_1


*******


Dua minggu berlalu. Keadaan Nina sudah membaik. Dia sudah bisa diajak bicara, mulai membuka diri pada orang lain selain Joon. Karin, Dina, Maya dan Dita bergantian menjenguk Nina. Jika sedang tidak sibuk.


Nindy beberapa kali menelepon. Gadis kecil itu masih berada di Surabaya. Dia akan menikah.Ya gadis kecil yang manja itu malah akan menikah lebih dulu. Karena itu pula tuan Lee dan Sofia ikut pergi ke Surabaya. Menjadi wakil orang tua untuk asisten Jo. Yang memang yatim piatu sejak lama.


Nindy sedikit merajuk karena dia sebetulnya menginginkan Nina jadi pendamping pengantin perempuan.Hal itu langsung membuat Joon mengerutkan alisnya. Joon pikir sejak kapan mereka menjadi akrab. Tanpa Joon tahu jika Nina dan Karinlah mak comblang keduanya.


Joon masuk ke kamar Nina dengan wajah kesalnya. Nina yang tengah membaca buku Harry Potter seri 5 "Harry Potter dan Orde Phoenix" langsung menghentikan kegiatan membacanya.


"Ada apa?" tanya Nina yang sudah mulai bisa diajak berkomunikasi.


"Nindy baru saja merampokku. Ini gila!" ucap Joon.


"La?"


"Aku tadi bermaksud menelepon asisten Jo, minta maaf nggak bisa datang ke pernikahan mereka. La malah si manja itu bilang. "Nggak datang gak papa. Yang penting hadiahnya." La aku tanya "emang kamu mau apa?" tahu nggak dia jawab apa"


Nina menggeleng. "Dia bilang kalau dia sudah lama ngiler lihat mobilku. La mobil yang mana? aku pikir.Kamu tahu, dia minta Bugatti Veyron-ku."


"Salah siapa pakai nantangin kamu minta apa. Diminta Bugatti-nya pusing tujuh keliling. Terus sekarang bagaimana?"


"Ya aku negolah. Nggak mungkin dong aku ngasih Veyron-ku. Mahal. Susah lagi dapatnya. Kamu tahu, aku harus menyuruh Mark yang beli dulu. Baru aku impor ke sini masuk dari Italia. Kalau langsung masuk ke sini harganya bisa naik 2 kali lipat," jelas Joon


"Lalu kenapa kalau Mark yang beli harganya normal?" tanya Nina. Dia sedikit banyak tahu soal beberapa teman Lee Joon.


"Dia kan pemegang lisensi tunggal Eropa untuk Bugatti," jelas Joon.


"Ooo. Terus negomu hasilnya apa?"


"Gadis manja itu mau ditukar dengan Chiron. Ya biarpun lumayan 4,8 M. Dari pada aku harus kehilangan Veyron-ku. 34 M, Baby. Bisa habis tabunganku."


"Eh tuan muda Lee, tabunganmu yang mana satu yang habis? Yang di depan itu yang habis. Kan gak masalah kalau tabungan yang ada di bank depan itu yang habis. Asal yang di Swiss masih utuh. Betul nggak? Jangan dikira aku nggak tahu ya jumlah rekeningmu berapa. Sok-sok-an main drama kamu bakalan bangkrut beliin mobil 5 M," oceh Nina. Joon langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sambil nyengir kuda.


"Susahnya punya cewek yang ngerti soal keuangan," batin Joon.


*******


Up siang-siang. Sambil nungguin bocil ngejar mentok di halaman.


Jangan lupa buat like, vote, gift and comment ya,


Happy reading and salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘


*****

__ADS_1


__ADS_2