
Di sebuah restoran yang menyajikan olahan seafood. Keempatnya duduk dalam diam. Setelah menyelesaikan acara makan malam mereka dalam suasana yang begitu canggung.
Mereka tadi terpaksa harus mencari makanan dulu karena rasa lapar yang mendera. Para pelayan sudah membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Yang tersisa di atas meja hanyalah minuman dan air mineral.
Tentu yang paling canggung di sana adalah Karin. Setelah kejadian di sasana tadi. Setelah kejadian Max yang menciumnya dan menyatakan perasaannya. Malah membuat perasaan Karin tidak karuan. Namun yang mendominasi adalah perasaan malu. Ingin rasanya dia menenggelamkan dirinya di dalam gelas orange juice yang isinya tinggal separo di hadapannya.
Joon menatap Nina dengan senyum yang tidak hilang dari bibirnya. Bagaimana ia tidak terus tersenyum. Dengan dalih melihat Max yang mencium Karin. Membuat Joon juga tidak mau kalah. Lantas mencium Nina setelah keduanya meninggalkan ruang latihan menuju ruang ganti.
Sedang yang ditatap tengah menatap Max dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Apa yang sudah terjadi dengan kedua manusia beda gender di hadapannya itu.
Padahal Max justru asyik memandang wajah Karin yang duduk di hadapannya. Wajah Karin benar-benar merah seperti kepiting rebus. Membuat Max semakin gemas melihatnya.
"Jadi, apa yang sudah terjadi di antara kalian? Ada yang kami tidak tahu?" tanya Nina tegas membuatnya seperti seorang hakim yang tengah mengadili tersangkanya. Dan tersangkanya tentu saja Karin dan Max.
"Ahh, itu... tidak terjadi apa-apa," jawab Karin terbata-bata. Rasa gugup dan malu menjadi satu.
"Aku jatuh cinta pada Karin dan ingin memacarinya," kali ini jawaban Max langsung membuat Karin membulatkan matanya. Satu tendangan langsung melesat ke tulang kering Max di bawah meja.
"Aduuh. Rin sakit. Belum puas kamu mukulin aku?"
"Belum. Aku memang belum puas menghajarmu."
"Astaga Bos. Tolong aku."
"Usaha sendiri!" jawab Joon acuh.
"Sudah, sudah. Lalu mau kalian bagaimana? Kalian tidak mungkin seperti ini terus. Seperti Tom ketemu Jerry aja kalian ini."
"Bukan Tom ketemu Jerry, By. Tom sama Jerry nggak mungkin bisa ciuman."
Ucapan Joon sontak membuat Karin ingin protes. Tapi urung mengingat yang mengatakan hal itu adalah Bos Kutub mereka. Menjawab bisa langsung dikirim ke kutub beneran.
"Lee Joon diamlah," dan Joon langsung membuat tanda bahwa dia tidak akan buka mulut. "Jadi Karin apa keputusanmu? Menerima atau menolak lamaran Max?"
"Ha? Lamaran? Nina dia nembak aku bukan ngelamar aku," protes Karin.
"Kamu tahu kan tahu siapa Max. Aku nggak mau kamu di apa-apain sama Max. Jadi mending kalian nikah aja sekalian."
"Nggak mau. Aku nggak mau nikah sama dia."
"Loh Rin kurangnya aku apa? Aku tidak kalah dengan Bos Joon. Bahkan kamu juga bilang kalau aku lebih ganteng dari.... siapa bos namanya."
"Jeon Jungkook. Dan satu lagi jangan bawa namaku saat kamu berurusan dengan wanita. Bisa hancur reputasiku nanti," jawab Joon penuh ancaman.
"Ah elah Bos, bantuin anak buah dikit napa? Nah itu Rin. Kamu sendiri bilang aku lebih ganteng dari Jeon Jungkok."
"Kapan aku bilang begitu?"
"Kemarin malam. Di kamarnya Bos."
Nina langsung mengeplak lengan Lee Joon. Yang langsung meringis menahan sakit di lengan kekarnya. Karena itu berarti Max tahu dari Joon.
Dan bertambahlah kadar malu Karin. Yang tadi hanya lima puluh persen. Kini sudah komplit jadi seratus persen. Apalagi saat mendengar kata kemarin malam di kamarnya Bos. Bisa di pastikan jika Max sudah mendengar semua pembicaraannya dengan Nina. Dan itu berarti, Max tahu kalau dia juga sebetulnya suka dengannya.
Sontak Karin mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk menahan malu, melihat ke arah Max yang tengah menatapnya dengan penuh cinta dan senyum semanis madu itu kembali hadir di wajah tampan Max.
"Aku juga mendengarnya Rin."
"Dengar apa?" mencoba menunjukkan jutek mode on-nya.
"Dengar kalau kamu juga sebenarnya suka sama aku." Wajah Karinpun kembali merona merah menahan malu. Terciduk tentang perasaannya ke Max.
"Katakan padaku. Apa yang kamu inginkan dariku agar kamu mau memberiku kesempatan. Untuk membuktikan kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu."
Karin memandang Nina. Seolah meminta saran. "Terserah kamu. Seperti yang aku katakan perasaanmu adalah milikmu."
__ADS_1
Karin terdiam sejenak. Dari semua hal yang ada dalam diri Max. Hanya satu yang membuatnya ragu. Kebiasaan ONS- nya itu.
"Hentikan kebiasaan ONS-mu dan aku akan mempertimbangkan perasaanmu." Karin berkata setelah terdiam cukup lama.
"Hanya itu?"
"Dan semua urusan yang berhubungan dengan klub malam. Jangan pernah pergi ke sana lagi."
"Siap Nona!" jawab Max sumringah.
"Jadi kita jadian? Aseeeek Bos aku punya pacar!" Seru Max.
"Siapa bilang kita jadian?" tanya Karin.
"La itu tadi?" Max heran.
"Dan satu lagi. Kan aku belum selesai ngomong. Kamu dalam masa trial 3 bulan."
"Ha? 3 bulan? Sudah kayak anak magang saja aku."
Joon langsung meledakkan tawanya. Dan kembali mendapat tatapan horor dari Nina.
"Ha, ha, ha By lihatlah Max. Dia yang seorang penakhluk wanita bisa kalah di tangan temanmu. Ha, ha, ha..."
Tawa Joon terus terdengar menggema di ruangan VVIP restoran itu. Joon tidak berhenti tertawa meski sudah mendapat tatapan intimidasi dari Nina.
"Maaf,By. Maaf," ucap Joon sambil terbata-bata. Berusaha menghentikan tawanya.
"Iissh si Bos mah begitu. Seneng bener lihat anak buah menderita," ucap Max bersungut-sungut.
"Sorry Max. Sorry. Tidak ada yang tanpa perjuangan di dunia ini. Apalagi untuk mendapatkan seorang p*****n," kalimat terakhir diucapkan sambil berbisik hingga hanya Max yang bisa mendengarnya.
Max pun terdiam. Iya juga ya? Selama ini dia tidak pernah mendapatkan seorang p*****n tiap kali ONS dengan banyak wanita.
"Dan kamu tidak boleh menyentuh Karin sampai kalian menikah. Itu syarat dariku," Nina menambahkan.
"Kalau Karin yang mau," Max meringis karena Karin menendang lagi tulang keringnya di bawah meja.
"Oh Sayang, please deh jangan nendangin kaki aku mulu. Lecet nanti kamu lo yang rugi."
Karin mendelik mendengar ucapan Max. Namun sekaligus bahagia di waktu bersamaan. Mendengar Max memanggilnya sayang. Hatinya berdesir mendengar panggilan Max untuknya.
"Ingat kamu masih dalam masa percobaan. Dan setelah 3 bulan aku bilang kalau aku masih mempertimbangkan perasaanmu."
Max lemas seketika. Betapa susahnya menakhukkan makhluk cantik bergelar per***n di depannya itu. Tidak ada ONS, tidak ada klub malam. Oh, apa jadinya hidup Max tanpa dua hal itu.
"Sudah terima saja," kali ini Joon berkata.
"Oke Sayang, aku menerima syaratmu," ucap Max setelah diam beberapa saat.
Ya, Max akan berusaha kali ini. Mungkin sudah saatnya dia berubah menjadi lebih baik. Begitulah setidaknya yang ada di pikiran Max.
"And for your informantion Nona Karin. Max sudah mencicil perubahannya itu. Dia hanya duduk manis di rumahnya sebulan ini. Aku saksinya," ucap Joon.
"Dan jangan harap saya akan langsung percaya ya sama Pak Bos. Kan Pak Bos sama Max itu satu aliran beda server."
"Ha? Apa itu?" ucap Joon dan Max bersamaan.
"Rahasia!" jawab Karin sambil tersenyum. Kembali Max terpesona dengan senyum Karin yang terlihat begitu manis di mata Max.
"Pak Bos, bisa tidak kalau Pak Bos pecat Stella" tanya Karin. Yang membuat Max hampir tersedak air mineral. Pun dengan Joon.
"Kamu cemburu dengan Stella?" tanya Joon langsung tanpa basa-basi.
"Siapa yang cemburu? Saya cuma tidak suka lihat dia aja" berusaha menutupi rasa malunya. Belum apa-apa dia sudah ketahuan cemburu. Sedang Max langsung sumringah mendengar kecemburuan Karin.
__ADS_1
"Lihat dia dekat dengan Max," Joon mencoba mengerjai Karin.
"Aah Pak Bos ni,"
"Sorry Rin, aku tidak bisa pecat Stella. Dia tidak melalukan kesalahan kecuali dekat dengan calon pacarmu."
"Booos!" teriak Max.
"Kamu nggak dengar. Trialmu 3 bulan. Jadi selama belum lolos trial berarti kan masih calon," ujar Joon santai.
"Boos mah nggak asik," ucap Max dengan muka cemberutnya.
"Jangan khawatir sayang, aku tidak akan dekat-dekat dengan Stella lagi," bujuk Max kemudian.
"Kalau dia mepet kamu terus?"
"Aku akan lari."
"Kalau dia ngejar kamu terus."
"Aku pastikan kamu akan menghajarnya untukku. Betul tidak?" ucap Max sambil menaik turunkan alisnya.
Karin hanya mengulum senyumnya membenarkan ucapan Max. Joon memandang Nina yang tertawa mendengar ucapan Max dan Karin. Sedikit heran dengan perasaan gadis yang ada di sampingnya. Karin saja sudah menunjukkan rasa cemburunya walaupun belum mengakui kalau ia juga mencintai Max.
Tapi Nina. Bahasa tubuh dan semua perilakunya menunjukkan kalau dia juga mencintai dirinya. Tapi untuk cemburu, Nina tidak pernah menunjukkan hal itu.
Namun Joon juga ingat jika dirinya memang membatasi dirinya untuk bergaul dengan wanita manapun. Bahkan dalam urusan pekerjaan pun dia selalu meminta staf pria untuk menghandle pekerjaan yang langsung berhubungan dengan dirinya. Termasuk bertemu klien. Jika klien itu wanita dia akan mengutus Max untuk mengurusnya.
Terkadang Joon ragu dengan perasaan Nina kepada dirinya. Benarkah gadis itu juga mencintainya? Terlebih kemarin dia mengetahui jika Adam muncul kembali di antara mereka. Dan Joon bisa melihat keraguan di mata gadis itu.
"Aaaah, sebenarnya bagaimana perasaanmu kepadaku, Baby?"
Batin Joon sambil tanpa sadar tangannya membelai lembut rambut panjang Nina yang tergerai indah di punggung gadis itu.
"Ada apa?" tanya Nina.
"Ahh tidak. Tidak ada apa-apa. Apa sudah selesai? Ada yang masih mau dibeli?" tanya Joon untuk menghilangkan kebimbangan hatinya.
Mobil mulai melaju meninggalkan restoran. Keempatnya masih terdiam. Masih larut dengan pikiran masing-masing.
"Nina aku ngantuk. Aku capek," gumam lirih Karin.
"Belum juga babak belur yang pengen kamu hajar. Kamu sudah capek," ucap Nina sambil melirik Max yang mengemudi sambil cengar-cengir tidak karuan.
"Ah, kamu Nin. Jangan ngomporin mulu kenapa?" ucap Max menanggapi perkataan Nina.
Nina hanya tersenyum simpul. "Tunggu. Tunggu dulu sejak kapan kalian menjadi akrab?" tanya Joon yang curiga melihat hubungan akrab Max dan Nina.
"Ah elah Bos nggak usah cemburu gitu napa? Sesama bawahan bukankah harus saling mengakrabkan diri"
Joon hanya memicingkan matanya memandang Max yang masih terus fokus pada kemudinya.
"Bos, jangan berpikir yang aneh-aneh. Kami akrab cuma sebatas rekan kerja. Nggak akan lebih."
"Awas ya kalau macam-macam di belakangku."
Max menghela nafasnya. Sudah tahu kalau dia itu cuma cinta sama Karin. Masih juga dicurigai ada perasaan dengan Nina. Nasib-nasib jadi anak buah.
******
Buat para ARMY jangan ngamuk ya. Yang bilang Max lebih ganteng dari Jungkook itu Karin ya. Bukan author. Kalau author mah fans beratnya Jungkook.
Jadi jaangann marah. Salam peace and happy reading✌✌✌🤣🤣
***
__ADS_1