Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 59


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak membawa Nina sekalian?" tanya Sofia ketika mereka sudah duduk di meja makan untuk sarapan keesokan paginya.


"La Mama ini sebenarnya mau ketemu siapa sih? Joon atau Nina?" heran Joon.


"Ya kalian berdua. Kamu sendiri sudah kayak bang toyib. Nggak pernah pulang," omel Sofia.


"He he, sorry Ma. Joon pulangnya malam terus. Jadi kalau mau balik kesini malas. Sudah capek."


"Terus kamu jadi penunggu di apartemennya Max. Selagi tu anak dinas."


" Mama pikir Joon ini hantu apa. Ya gaklah, Joon tinggal berdua sama Max. Max sudah nggak pernah dinas lagi. Ya walau kadang-kadang mampir ke apartemen sebelah," jawàb Joon sambil nyengir.


"Awas kalo kamu macam-macam sama Nina." ancam Sofia.


"Nggak Ma, nggak. Joon masih bisa menahan diri walaupun godaan datang mendera," jawab Joon membuat sang papa yang sedang tadi hanya menyimak obrolan ibu dan anak itu ikut menimpali.


"Haaiiish, sejak kapan kutub utara ini mencair Ma?" seloroh tuan Lee.


"Ya sejak ketemu sama apinya."


"Isshh, kalian ini. Gak asyik," gerutu Joon.


"Katanya Max jadian sama Karin?" tanya Sofia penasaran.


"Iya. Habis tu Max ketemu batunya. Bikin dia duduk manis aja di rumah. Kayak kucing rumahan."


"Bagus dong kalau begitu. Dia bisa menghentikan kebiassaannya itu."


"Oh ya Pa, Mama dengar Stella dipecat?" tanya Sofia.


Tuan Lee hanya mengangguk, membenarkan. Sejenak berpandangan dengan Joon.


"Jadi ada lowongan dong?"


"Kenapa memangnya?" tanya tuan Lee heran. Tidak biasanya, istrinya itu bertanya soal pekerjaan.


"Itu Ina kemarin menelepon. Katanya Nindi mau ke sini. Jalan-jalan sekalian menghabiskan liburannya. Gimana kalau sementara biar dia bantu-bantu kerjaan asisten Jo,"


"Ya Papa sih tidak masalah,"


"Bagus. Nanti biar Mama telepon Nindi biar dia main ke sini."


"Dia sudah di Jakarta, Ma? tanya Joon.


"He em. Dia datang semalam. Sekarang tinggal di rumah lama mereka"


Joon hanya ber-ooo ria.


******


"Beneran kamu sudah ketemu Mbakmu?" suara ibu Nina terdengar antusias di seberang.


"Beneran Bu. Ternyata pacarnya mbak Dina itu temannya Joon dan Max."


Terdengar sang ibu hanya ber-o ria di seberang.


"Rencananya liburan akhir tahun ini kita mau pulang buat nengokin Ibuk."


"La iki trus piye? La adikmu kadung pengen tahun baruan di situ e?


(La terus ini bagaimana? Adikmu terlanjur ingin tahun baruan di situ)


"La kalian pengen ke sini?"


"Itu adikmu yang pengen. Ibuk cuma nganterin."


"La ibuk apa tidak pengen ngompreng sama tante Sofia?"


"Yo pengen to nduk. Wong wis suwe ora ketemu. Kangen"


(Ya ingin, sudah lama tidak bertemu. Rindu)

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Nanti Ibu sama Risma aja dulu yang kesini. Nanti setelah tahun baruan kita baru pulang bareng ke Jogja. Bagaimana?"


"Ibu setuju saja," jawab Bu Ratna diikuti sorakan sang adik yang terdengar sangat senang bisa tahun baruan di ibukota.


"Yes, bisa tahun baruan di Jakarta," kembali teriakan sang adik terdengar.


Nina hanya mengulum senyum. Lantas keluar kamar. Namun masuk kembali.


"Kenapa sih datang nggak bilang-bilang," gerutu Nina yang ternyata masuk ke kamar lagi untuk mengganti baju. Bukan mengganti sih sebenarnya. Hanya melapisi tank top dan hot pants-nya dengan kaos dan training pendek.


"Sorry, ada yang ngundang sarapan jadi cuss aja," ucap Max yang ternyata sudah duduk manis sambil menikmati sarapannya. Sepiring nasi goreng seafood.


"Pantesan tu anak juga pake baju mendingan," batin Nina yang melirik ke arah Karin yang hanya bisa nyengir kuda.


"Ya halo Bos."


"^..^"


"Bisa."


"^...^"


"Oke, sebelum makan siang."


Max menutup teleponnya. Nina dan Karin yang tengah menikmati sarapannya hanya bertanya lewat pandangan.


"Pak Bos memintamu datang ke rumah sebelum makan siang."


"Ya?"


"Kita akan pergi sebentar lagi. Minggu kadang suka macet. Apalagi ke arah rumahnya Bos."


Singkat kata, sebelum makan siang mereka sudah sampai di rumah Joon. Disambut antusias oleh Sofia.


"Kalian ini jahat. Sampai melupakan tante sendirian," adu Sofia.


"Iissh Tante jangan gitu dong," kali ini Karin yang menjawab.


"Iya nih, Mama drama banget deh. Jangan percaya. Siapa bilang Mama sendirian. Orang tiap hari dia keluar buat arisan sama genk sosialita-nya," ucap Joon santai.


"Oh ya Max, selamat akhirnya kamu kembali ke jalan yang benar. Selamat buat kalian berdua. Baik-baik ya berdua."


"Ah Tante. Memangnya Max selama ini tersesat apa?"


"Iya kamu tersesat. Tersesat di klub tiap malam." balas Sofia sambil mengedipkan mata.


"Ih Tante mah gitu," jawab Max sambil memanyunkan bibirnya.


"Jaga baik-baik anak gadis orang. Jangan di apa-apain dulu sebelum sah."


"Max akan berusaha. Tapi tidak janji," sontak jawaban Max mendapat keplakan dari Karin yang sudah duduk di sampingnya.


"Apaan sih. Sakit tahu."


"Itu mulut kalau ngomong tolong dikondisikan," gerutu Karin, langsung disambut ledakan tawa yang memenuhi seisi ruang tengah.


Suara tawa itu terhenti ketika bik Sum, ART dirumah Joon datang mengantarkan seorang gadis cantik. Berusia sekitar 20an. Memakai dres selutut berwarna tosca. Yang begitu masuk ke ruang tengah langsung memeluk Joon tanpa aba-aba. Membuat Nina yang berdiri di samping Joon langsung menunjukkan rasa tidak sukanya.


"Kak Joon, lama tidak bertemu. Nindy kangen kakak," ucap gadis yang bernama Nindy. Joon menatap Nina. Yang wajahnya semakin merah menahan amarah. Joon sudah mengangkat kedua tangannya ke atas. Tidak ingin membalas pelukan gadis itu.


Sedang yang lain hanya melongo melihat pemandangan itu. "Kakak nggak kangen sama Nindy?" ucap gadis itu lagi manja.


"Lepasin dulu," ucap Joon dingin.


Akhirnya Sofia yang melerai pelukan gadis itu. Mereka semua kini sudah duduk di ruang tengah. Sambil menunggu makan siang mereka siap. Dengan Nindy yang masih menempel di dekat Joon.


Max dan Karin hanya bisa mengulum senyumnya. Melihat bagaimana Bos mereka pusing tujuh keliling menghadapi Nindy. Di tambah wajah Nina yang semakin masam. Mereka berdua benar-benar ingin tertawa tapi takut dosa. Eh salah takut dipotong gajinya.


Hingga akhirnya Nina memutuskan pergi ke dapur dengan alasan ingin membantu Sofia dan bik Sum.


"Baby, kamu mau kemana?" tanya Joon ketika melihat Nina pergi ke dapur.

__ADS_1


"Kabur ke laut!" jawab Nina dengan nada juteknya yang sudah on.


Joon bermaksud menyusul. Tapi Nindy mencegahnya.


"Ihh kakak di sini aja sama Nindy. Biar mereka aja yang ke dapur."


"Kamu tu apa-apaan sih. Lepasin nggak?" Joon juga marah. Dia tidak suka disentuh-sentuh oleh orang yang tidak dia suka.


Bukannya melepas, justru Nindy semakin bergelayut manja di lengan Joon. Nina yang melihatnya dari dapur semakin kesal.


"Cemburu bilang bos," bisik Karin yang tiba-tiba sudah ada didekatnya.


"Siapa juga yang cemburu? Heran aja kok ada ya orang yang mau dipegang-pegang gitu sama cewek," gerutu Nina sambil memanyunkan bibirnya.


"Itu namanya cemburu Mbak," goda Karin lagi.


"Siapa juga yang cemburu?" jawab Nina penuh dengan penekanan di tiap ucapannya.


Dan hal itu hanya disambut tawa tertahan Karin. Suķses membuat Nina semakin kesal.


Makan siang kali itu berlangsung dalam suasana mencekam. Ya cuma Nina doang sih, yang menunjukkan sisi horornya. Sedang yang lain hanya mengulum senyum masing-masing. Melihat pertunjukkan di depan mereka.


Nina dengan wajah kesalnya, Joon yang terus berusaha menghindari Nindy yang terus ingin menempel padanya. Ditambah Nindy yang tidak paham atau entah dengan situasi saat itu. Membuat makan siang mereka bak drama Korea dengan berjuta konflik tersaji di sana.


Tuan Lee dan Sofia sudah kehabisan kata membujuk Nindy agar tidak menganggu Joon yang tengah makan. Begitu alasan mereka, padahal keduanya paham jika Nina sudah masuk jealous mode on. Sedang Nindy yang memang seperti Ina katakan, manja dan sangat susah diatur. Sama sekali tidak bisa dinasihati.


Alhasil setelah acara cuci piring selesai, Nina langsung berpamitan mau tidur. Melesat masuk ke kamar Joon. Tentu saja setelah Max dan Karin juga berpamitan karena ingin pergi berdua alias kencan.


Braakkk,


Pintu kamar Joon dibanting lumayan keras. Kebiasaan Nina kalau marah suka nekad. Main banting aja tu pintu. Dia terus menggerutu dalam hatinya. Tidak pekalah, gampanganlah, murahanlah. Aduuh keluar deh semua tu kata makian dari bibir tipis Nina.


Sedang di bawah, Joon langsung marah besar pada Nindy. Tidak peduli gadis itu hampir menangis. Tidak peduli ucapan sang Mama agar tidak memarahi Nindy.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, ha?" tanya Joon dengan wajah merah menahan amarah.


"Nindy cuma kangen sama Kakak. Pengen dekat sama Kakak," jawab Nindy dengan wajah takut melihat kemarahan di wajah Jòon.


"Kamu tahu? Pacar Kakak marah gara-gara kamu nempel terus sama Kakak."


"Joon, sudah. Sudah. Nanti dia nangis," kali ini Tuan Lee yang bicara. Dia tahu putranya itu tidak pandang bulu kalau sudah marah. Mau sudah tua. Mau masih anak-anak semua akan diamuknya.


"Sudah sana. Naik sana. Bujuk Nina. Dia pasti marah sekali," ucap Sofia. Dia harus segera mengusir Joon dari tempat itu. Kalau tidak, Joon akan terus memarahi Nindy.


Mendengar nama Nina, Joon langsung naik ke kamarnya. Tidak peduli Nindy yang terus memanggilnya.


Joon membuka pintu kamarnya perlahan. Dilihatnya Nina yang berbaring di ranjangnya. Tidur atau pura-pura tidur Joon tidak tahu.Dia lantas ikut naik ke ranjangnya. Lalu memeluk tubuh Nina dari belakang. Mengingat Nina tidur dengan memiringkan badannya. Dikecupnya puncak kepala kekasihnya itu. Dihirupnya dalam-dalam aroma dari rambut kekasihnya itu.


Joon sedikit merasakan pergerakan tubuh Nina.


"Baby, masih marahkah?" tanya Joon. Yang wajahnya sudah ada di bahu Nina. Hembusan nafas Joon membuat Nina yang sebenarnya hanya pura-pura tidur, jadi merinding. Namun Nina masih diam. Mode marahnya masih on.


"Beneran ini masih marah?" tanya Joon kali ini dia mengecup leher jenjang Nina setelah Joon menyingkirkan helaian rambut Nina dari sana. Dan hal itu sukses membuat Nina kelabakan. Jantungnya seolah ingin melesat keluar. Saking berdebarnya.


"Lee Joon apa yang kamu lakukan. Iiih geli tahu," akhirnya Nina tidak bisa pura-pura tidur lagi. Ketika pria itu semakin berani dengan menggesek-gesekkan bulu halus diwajahnya. Membuat tubuh Nina meremang seketika.


Joon menarik sudut bibirnya. Merasa berhasil menggoda Nina.


"Kenapa? Kamu cemburu pada Nindy?" tanya Joon setelah Nina mengubah posisi tidurnya jadi telentang. Bermaksud menghindari serangan Joon. Tapi ternyata malah membuat posisinya semakin menguntungkan Joon.


Bagaimana tidak. Pria itu dengan segera mengubah posisi tubuhnya juga. Menjadi tepat diatas tubuh Nina. Bertumpu pada dua tangan kekarnya. Dan tatapan intens Joon semakin membuat Nina tidak karuan.


"Menjauh dariku!" ucap Nina seraya tangannya berusaha mendorong jauh dada bidang Joon yang Nina rasa sangat dekat dengannya.


"Katakan dulu kenapa kamu marah? Apa kamu cemburu?"


"Aku tidak cemburu. Menyingkirlah dariku," Nina terus berusaha melepaskan diri dari posisi yang menurut Nina sangat tidak nyaman dan sangat berbahaya. Baru kali ini Nina dan Joon berada di posisi sedekat ini.Bahkan keduanya bisa merasakan detak jantung masing-masing yang seolah bermaraton ria di dada mereka.


"Katakan kenapa kamu marah padaku? Kalau tidak aku akan menghukummu karena sudah marah padaku tanpa alasan yang jelas," ucap Joon. Nina hanya terdiam. Hukuman model apa yang pria itu akan lakukan dengan posisi mereka seperti ini.


"Bagaimana? Mau mengaku atau tidak?"

__ADS_1


Nina hanya terdiam. Tidak tahu apa yang ingin ia katakan sebenarnya. Hingga akhirnya Nina terpekik tertahan ketika dengan tiba-tiba Joon sudah menciumi lehernya. Mencumbunya dengan lembut.


****


__ADS_2