Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 49


__ADS_3

Hari mulai gelap. Malam mulai merayap menyelimuti bumi. Namun Nina belum juga kembali. Ketiga orang itu tengah menunggu Nina di apartemen Joon. Karin menatap nyalang pada Joon yang duduk di depannya.


Max sudah menceritakan apa yang terjadi di restoran tadi siang. Tentu saja Karin langsung ikut emosi.


"Kalau dia bilang tidak ya tidak!" Karin berkata tanpa takut pada Joon.


"Aku melihatnya dengan mataku sendiri Karin!" balas Joon tidak mau kalah.


"Apa kamu tahu, kadang yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataannya. Dia itu sayang sama kamu cuma mulutnya aja nggak bisa ngomong," sahut Karin lagi. Karin benar-benar ingin menghajar Bosnya yang satu itu. Tapi ditahan Max. Bodo amat kalau dia akan dipecat gegara menghajar bosnya sendiri.


"Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita tidak dipercaya oleh orang yang kita sayang."


"Oh God," kata-kata Nina kembali terngiang di telinga Joon.


"Bos, Nina kembali."


Ucapan Max sontak membuat Joon mengangkat wajahnya. Beberapa saat setelah Nina masuk ke mobil Mike. Asisten Doni mengirimkan pesan kepada Max. Mengatakan jika Nina meminta diturunkan di depan sebuah Mall. Yang tidak jauh dari restoran tempat mereka makan.


Mereka ingin menyusul tapi dicegah Karin. Biarkan dia sendiri dulu begitulah kata Karin. Mengenal betul bagaimana watak sang sahabat paling tidak suka diganggu kalau sedang marah. Nanti juga pulang jika sudah baikan. Ucap Karin lagi.


Alhasil Joon mengirimkan dua pengawal bayangan untuk mengawasi Nina. Mengingat gadis itu langsung membanting ponselnya begitu ia turun dari mobil Mike. Tahu jika Joon bisa melacak keberadaan dirinya melalui ponselnya. Dia sedang ingin sendiri.


Berjalan gontai menyusuri jalanan tanpa arah tujuan. Persis kayak orang lagi putus cinta. Beberapa pria tampak ingin mengganggu Nina. Namun urung mereka lakukan. Melihat dua orang berpakaian hitam berjalan di belakang Nina. Seolah tengah mengawal gadis itu. Tanpa Nina sadari.


Nina berjalan sambil menundukkan wajahnya, ketika memasuki lobi apartemennya. Penampilannya begitu kusut. Wajahnya sembab, sebab ia tidak berhenti menangis sepanjang hari ini. Bahkan supir taksi yang mengantarkannya pulang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tampilan Nina yang kacau.


"Lagi putus cinta Mbak?"


Nina hanya mengangguk.


"Cari yang lain aja. Mbaknya cantik pasti banyak yang mau.


"Nggak bisa Pak. Cinta saya sudah mentok sama dia."


Nina sendiri heran dengan mulutnya sendiri. Kalau di depan orang lain dia dengan lancar bisa mengakui kalau dia memang mencintai Joon. Tapi kalau di depan Joon. Lidahnya seakan kelu untuk mengatakan hal itu.


"Baby," sapa lembut suara itu.


Nina langsung mengangkat wajahnya. Melihat Lee Joon berdiri di depannya. Penampilannya sama berantakannya dengan dirinya. Pria itu sudah membuang dasinya entah ke mana. Dua kancing kemeja teratasnya sudah terbuka. Sekilas menampilkan dada bidangnya yang pelukable. Pasti nyaman sekali jika Nina bisa berada di sana.


"Astaga bahkan dia terlihat begitu tampan dengan tampilannya yang berantakan. Dan astaga lagi bagaimana bisa otaknya malah traveling ke mana-mana," rutuk Nina dalam hati.


Nina mengabaikan Joon. Terus berjalan memasuki lobi yang terlihat sepi. Bahkan Pak Satpam yang biasa berjaga di depan pun tidak terlihat.


"Baby, kita perlu bicara."

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Silakan kamu percaya dengan apa yang kamu lihat."


Nina lelah sekali. Ingin ia langsung tidur dan melupakan hari ini.


"Jadi kamu ingin aku percaya kalau kamu benar-benar mau kembali pada si brengsek itu," ucap Joon. Emosinya naik lagi. Melihat sikap Nina yang terus mengabaikannya. Joon yang seumur-umur tidak pernah diabaikan orang saat bicara, tentu langsung marah ketika ada orang yang berani melakukan itu padanya. Tak terkecuali Nina.


Melihat Joon yang emosinya mulai naik lagi, membuat Karin dan Max hanya bisa menepuk jidat mereka. Karin sudah mewanti-wanti Joon untuk tidak menggunakan emosinya saat menghadapi Nina. Tapi dasar Bos Kutub.


Joon memang susah untuk mengendalikan emosi jika sudah marah. Yang bisa mengendalikan emosinya hanya Mamanya dan sekarang di tambah Nina. Namun karena yang membuat emosi Joon naik adalah sang pawang. Bisa dipastikan tidak ada yang bisa mengendalikan emosi Joon saat ini. Kecuali mereka menelepon Sofia yang lagi ada di rumahnya. Di Bogor.


"Terserah kamu!" kali ini jutek mode on-nya sudah level akut.


"Kamu tidak ingin menjelaskannya kepadaku," suara Joon bahkan terdengar lebih dingin daripada saat ia menghadapi klien killernya. Ada ya klien killer? Ada, klien yang negonya susah minta ampun.


"Bukankah kamu sendiri yang lebih memilih untuk mempercayai apa yang kamu lihat, daripada mendengar penjelasanku?" suara Nina menggelegar di lobi apartemen itu. Beruntung tidak ada orang saat itu. Kalau ada bisa viral di medsos.


Joon terkesiap. Keduanya hanya saling pandang untuk beberapa saat. Nafas Nina terengah-engah, menahan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Ingin sekali ia menghajar pria di hadapannya itu dengan segala jurus taekwondo yang ia kuasai.


Namun alih-alih melakukannya. Nina justru melempar tasnya lantas berjalan keluar dari lobi. Kembali menuju jalan raya. Dia pikir pulang adalah pilihan tepat, ternyata ia salah. Keadaan justru memburuk ketika ia bertemu Joon.


"Baby, tunggu dulu. Kamu mau ke mana?"


"Ke manapun asal tidak ada kamu. Bertemu denganmu hanya akan membuat emosiku naik," teriak Nina.


Marah, kesal, kecewa, sedih semua bercampur menjadi satu. Membuat otak Nina tidak berpikir jernih.


"Baby, tunggu!"


Mendengar Joon yang mengejarnya, malah membuat Nina semakin cepat berlari. Dia bahkan tanpa pertimbangan langsung menyeberang jalan raya. Membuat Joon membelalakkan matanya.


Tidak peduli banyaknya kendaraan yang tengah melintas, Nina langsung menyeberang jalan. Namun langkahnya yang tergesa-gesa membuatnya terserimpet kakinya sendiri. Alhasil tubuh Nina terjatuh di kerasnya aspal jalan raya. Di tengah ramainya orang yang tengah memacu kecepatan kendaraan mereka.


"Aaaw," Nina meringis menahan sakit di tubuhnya. Detik berikutnya mata Nina membulat. Sebuah mobil dengan kecepatan penuh tengah melaju ke arahnya. Entah pengemudinya melihat Nina atau tidak. Mobil itu semakin dekat ke arahnya. Bahkan bisa Nina lihat bahwa mobil itu semakin cepat melaju ke arahnya.


Bukannya segera bangun, Nina malah seperti seseorang yang terkena hipnotis. Tubuhnya tidak mampu ia gerakkan. Padahal insting di kepalanya menyuruh dia untuk segera pergi dari tempat itu.


"Inikah kematianku?" bisik Nina dalam hati. Ketika mobil itu semakin dekat ke arahnya.


Mobil itu hanya berjarak beberapa senti saja dari tubuh Nina. Nina bahkan sudah memejamkan matanya. Bersiap menyambut kematian yang mungkin saja akan segera datang.


Namun tiba-tiba saja, sepasang tangan kekar meraih tubuh Nina. Membawa Nina ke dalam pelukan hangat yang beberapa saat lalu ia bayangkan. Tak ayal lagi perbuatan orang itu membuat Nina lolos dari mautnya.


"Wussssh," bunyi angin yang ditinggalkan oleh mobil itu saat tidak berhasil menabrak Nina. Bisa dibayangkan betapa cepatnya mobil itu saat akan menabrak Nina. Tapi detik berikutnya terdengar bunyi " braaaakkkkk," yang cukup memekakkan telinga Nina. Dan sebuah ringisan terdengar seolah tengah menahan sakit.


"Aaakkkhhh."

__ADS_1


Selanjutnya kedua tubuh itu terhuyung kembali ke depan. Membuat keduanya kembali terjatuh ke aspal. Beruntung mobil yang tengah melaju langsung sigap menginjak rem. Hingga tidak menabrak kedua tubuh itu.


Nina terjatuh lebih dulu. Kepalanya membentur aspal. Namun telapak tangan Joon yang sedari tadi ditempatkan di belakang kepala Nina sedikit menjadi pelindung. Hingga kepala Nina tidak langsung berbenturan dengan kerasnya aspal. Tak pelam rasa sakit pun Nina rasakan juga.


"Aaarggghhh,"


Keduanya meringis hampir bersamaan. Joon dengan cepat bangun dari atas tubuh Nina. Karena posisinya jatuh menimpa tubuh Nina. Sakit luar biasa ia rasakan pada pinggangnya.


Sejenak Nina hanya terdiam. Menyadari bahwa yang baru saja menyelamatkannya adalah Lee Joon.


"Lee Joon," ucap Nina lirih.


"Ya, Baby ini aku," jawab Joon sambil membantu gadis itu bangun. Sesaat kemudian rasa pusing tiba-tiba mendera kepala Nina. Dan perlahan pandangannya mulai mengabur. Seiring kesadarannya yang semakin menghilang. Antara sadar dan tidak, Nina masih bisa mendengar suara Lee Joon yang memanggil namanya. Panik. Itulah yang terdengar. Masih bisa ia rasakan bagaimana lembutnya telapak tangan pria itu. Menepuk-nepuk pipinya untuk mengembalikan kesadaraannya.


"Ahhh, badanku sakit semua dan aku lelah sekali."


Hal terakhir yang berada di pikiran Nina. Sebelum kegelapan merengkuh Nina sepenuhnya.


*******


"Ahhh..... sial bagaimana bisa gadis itu lolos?" umpat seseorang di sebuah jalanan yang sepi. Ia tengah menunduk mengganti plat nomor mobilnya. Selesai. Ia masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Oke, kamu bisa lolos kali ini. Tapi tidak lain kali. Akan aku pastikan jika kamu akan merasakan penderitaan yang sama denganku. Sama hancurnya denganku!"


Pria itu yang tidak lain adalah Heri. Menyeringai. Seolah menemukan cara yang tepat untuk membalaskan dendamnya pada Nina.


*****


"Tuan, Heri membuat masalah. Dia menabrak Lee Joon dan gadis itu."


"Biarkan saja. Toh dia tidak berhasil melenyapkan mereka kan?"


"Mereka berhasil lolos, Tuan."


"Hanya pastikan saja dia tidak membawa kita jika dia tertangkap."


"Baik, Tuan."


"Bagus sekali. Aku bisa menghancurkan mereka tanpa aku perlu mengotori tanganku sendiri," gumam tuan Burhan.


******


Ye double up. Aku tetep semangat up kok readers🤗🤗🤗


******

__ADS_1


__ADS_2