
Braaak,
Suara meja digebrak terdengar menggema di seluruh ruangan. "Apa maksudmu kita sudah tidak bisa mencuri lagi dari LJ GROUP?"
"Rita mengatakan sulit sekali memanipulasi data akhir-akhir ini,Tuan."
"Kurang ajar. Berani sekali direktur kecil itu bermain-main denganku. Apa kamu sudah bisa memastikan kalau wanita yang bersama Lee Joon waktu itu adalah direktur baru itu?"
"Maaf Tuan, untuk hal itu kami belum bisa mengetahuinya sampai sekarang. Sepertinya LJ GROUP sangat melindungi direktur keuangan mereka yang sekarang. Karena tidak ada data tentang direktur yang baru itu. Mereka masih meletakkan profile Tuan Joni sebagai direktur keuangan pada data perusahaan."
"Aneh sekali."
"Iya Tuan, selain informasi dari Rita, kita tidak ada informasi lain tentang direktur baru itu. Tapi satu hal yang bisa dipastikan tuan."
"Apa itu?"
"Tuan Lee Joon dan wanita itu sepertinya punya hubungan yang istimewa. Kita bisa menggunakan wanita itu untuk menghancurkan Tuan Lee Joon."
"Kamu benar. Aku jadi ingin sedikit memberikan peringatan untuk putra Lee Jae Ha itu."
"Perintahkan Heri untuk melakukan hal itu."
"Baik tuan."
"Apa yang akan mereka lakukan pada orang yang bernama Lee Joon itu?"
Tanpa sadar seseorang mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.
"Halo, apa kamu bisa melakukan sesuatu untukku?" ucap seseorang itu setelah mendengar pembicaraan sang ayah dengan asistennya. Setelah dia masuk ke dalam kamarnya.
"Apalagi yang akan ayah lakukan? Tidakkah cukup dengan apa yang sudah ayah lakukan pada Kak Mike?" ucap gadis itu, tanpa sadar air matanya telah turun membasahi pipinya.
Dia tidak tahu dengan jelas apa yang sudah ayahnya lakukan. Dia hanya tahu jika sang ayah sudah memanipulasi sebagian ingatan Mike, adik sepupunya yang ia panggil kakak. Karena usia Mike yang lebih tua darinya.
Kapan semua akan berakhir. Dia hanya ingin hidup damai tanpa memiliki rasa bersalah terhadap orang-orang yang telah di sakiti ayahnya.
"Bersabarlah sebentar lagi. Kata ayahku. Jika kita sudah bertemu dengan keluarga Tuan Lee Jae Ha. Mereka akan membantu kita menyelesaikan masalah ini. Jadi bertahanlah dan bersabarlah sedikit lagi. Setelah itu kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau."
Ucapan pria itulah, satu-satunya penyemangat untuknya, di kala ia hampir putus asa dan menyerah dengan sikap ayahnya yang sudah berubah.
****
Mood Lee Joon yang begitu bagus di pagi hari. Langsung berubah drastis di siang hari. Ia memasuki lobi kantor, dengan wajah mendung siap memberikan sengatan petir jutaan volt kepada siapa saja yang berani mengusiknya.
Jangankan mengusiknya, melihat wajah rupawan itu berubah menjadi gelap, sudah membuat para karyawan langsung menyingkir dari hadapan bos muda mereka itu.
Takut terkena sambaran kemarahan, yang kekuatannya sama dengan petir yang menggelegar kala hujan deras melanda.
Braaaakkkk,
Pintu ruangan Joon dihempas Joon dengan kasar. Untung kagak lepas tu pintu dari engselnya. Max yang ingin menyusul masuk urung melakukannya.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Nina tiba-tiba sudah ada di depan Max membawa map coklat di tangannya.
Max menghela nafas. "Dia ngamuk? Kenapa?" tanya Nina.
"Menurut schedule yang aku terima dari Dita. Kita akan bertemu dengan wakil pak Rudi. Tidak tahunya pak Rudi sendiri yang datang."
"Lah kan bagus. Kalian bisa nego langsung sama yang punya."
"Masalahnya Nona, pak Rudi bawa anak ceweknya. Ya ngamuklah pacarmu. Mana anaknya pak Rudi genit banget lagi."
"Kan bagus ada pemandangan di sela-sela nego kalian."
"Masih mending bawa kamu, sama mandangin kamu pas lagi nego sama klien."
"Isssh ngomong apa sih kamu."
"Aku ngomong yang sebenarnya. Udah sana, kamu bujuk pacar kamu itu sebelum dia hancurin kantornya."
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu si Rudi itu bawa anaknya untuk menggodaku?" bentak Joon begitu mendengar pintu dibuka. Nina masih diam saja. Berjalan perlahan mendekati Lee Joo yang tengah berdiri menghadap jendela di ruangannya.
"Kenapa kamu diam, Max? Kamu tahu kan aku tidak suka ada wanita saat kita meeting dengan klien."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu mengajakku ketemu klien waktu itu?" suara lembut itu langsung membuat Joon membalikkan badannya.
Kemarahan yang tadi hampir saja meledak, lenyap seketika entah ke mana. Di hempaskan oleh suara lembut Nina yang seperti hujan turun di kala panas mendera.
"Baby, maaf, maaf aku tidak tahu jika ini kamu. Aku tidak bermaksud membentakmu. Sungguh," ucap Joon. Suaranya melembut seketika, tidak menyisakan kemarahan sama sekali. Nina masih terdiam. Membuat Joon sekarang yang kebingungan. Marahkah kekasihnya itu padanya.
"Jangan terlalu menyalahkan Max. Memangnya apa yang wanita itu lakukan padamu?"
"Dia mencoba menggodaku."
"Lalu apa kamu mempan digoda oleh wanita itu?" ucap Nina sambil mengusap lengan Joon dengan lembut.
"Tentu saja tidak. Hanya satu wanita yang bisa menggodaku," bisik Joon di telinga Nina.
"Benarkah? Bolehkah aku tahu siapa dia?" jawab Nina. Kali ini dia bergelayut manja di lengan Joon.
"Dia ada di depanku. Dan sedang menggodaku," ucap Joon. Jawaban Joon sontak membuat Nina melepaskan tangannya dari lengan Joon.
"Siapa juga yang sedang menggodamu."
"Lantas itu tadi apa namanya?" menyusul Nina yang mulai menjauh darinya. Menuju sofa.
"Aku sedang melakukan anger management."
"Benarkah? Tapi bagiku itu seperti kamu sedang menggodaku. Baby!"
Joon meraih pergelangan tangan Nina, membuat gadis berbalik arah. "Kalau begitu selesaikan anger managementmu dengan benar."
"Itu sudah selesai. Buktinya kamu sudah tidak marah lagi."
"Siapa bilang aku sudah tidak marah. Aku masih marah. Dan aku membutuhkan ini untuk benar-benar menghilangkan kemarahanku."
Detik berikutnya, Joon sudah menautkan bibirnya ke bibir Nina. Menciumnya dengan lembut untuk beberapa lama. Sedikit memberikan ******* kecil di bibir Nina. Nina seketika memejamkan matanya menikmati ciuman lembut dari Joon.
"Ini baru bisa menghilangkan kemarahanku," ucap Joon dengan seringai puas di bibirnya. Jemarinya mengusap lembut bibir Nina yang berwarna pink alami itu.
Bibir yang seolah sudah menjadi candu bagi Joon. Membuat Joon selalu ingin menikmati bibir itu setiap waktu.
"Kamu pikir aku peduli jika mereka melihatnya. Kamu tidak keberatan jika aku melakukannya lagi?" goda Joon.
"Dasar ya. Sudah cukup. Aku nggak bisa nafas tahu!" protes Nina.
"Tapi kamu menyukainya kan, Baby?"
Kali ini Nina tidak menjawab, hanya wajah kesalnya yang menyiratkan bagaimana kesalnya gadis itu pada pria dihadapannya itu.
"Oh ya apa ada hal penting kamu mencariku. Atau kamu mencariku karena rindu padaku."
"Haiissh pria ini. Aku datang untuk menanyakan ini. Apa maksud dari proposal ini? Nina menyerahkam map coklat yang tadi dibawanya.
*****
Nina sedang menikmati pemandangan kota Jakarta malam hari. Dia tengah menunggu Karin yang turun ke lantai bawah mengambil laporan. Karin meminta Nina untuk menunggunya sekitar setengah jam. Lalu mereka akan bertemu di lobi.
Dia ingat percakapannya dengan Joon siang tadi tentang map coklat yang dia bawa.
"Itu proposal dari MH GROUP," ucap Joon sambil menghela nafasnya.
"Iya aku tahu. Tapi apa kamu tahu, propsal ini tidak beres. Apa mereka pikir kalau kita akan meloloskan proposal mereka."
Joon hanya terdiam. Membuat Nina heran. "Ada yang salah? Atau ada sesuatu?"
"MH GROUP adalah perusahaan milik Michael Mahardika. Dia adalah temanku."
"Temanmu? Lalu maksud temanmu ini apa dengan menyerahkan proposal ini. Apa mereka sedang mencoba untuk merampokmu?"
"Entahlah, aku memanggilnya Mike. Kami dulu bertiga, aku, Mike dan Max adalah teman akrab. Tapi entah mengapa tiba-tiba Mike menghilang setelah kedua orang tuanya meninggal. Karena dibunuh."
Nina menutup mulutnya dengan tangannya. "Astaga."
"Beberapa waktu lalu kami bertemu dan dia menyerahkan proposal ini. Sebagai bentuk kerjasama. Tapi anehnya dia tidak mengenali kami. Baik aku atau Max"
"Itu aneh," ucap Nina.
__ADS_1
"Karena itulah aku sengaja menahan proposal ini dan menunggumu. Untuk menganalisanya. Aku tahu ada yang tidak beres dengan proposal itu. Lalu ada satu hal lagi yang ingin aku selidiki."
Joon meraih laptopnya. Lantas membukanya. "Masih ingat laporan yang kamu kerjakan dua tahun lalu? Kamu masih ingat filenya?"
Nina mengangguk. "Ketiklah nama file itu."
Joon menyerahkan laptop kepada Nina. Gadis itu lantas mengetikkan nama file itu di kolom pencarian. Joon menekan tombol enter. Dan "file yang anda cari tidak ditemukan" alias tidak ada.
"Itu jika kamu yang melacaknya. Tapi lihatlah ini."
Jari Joon lantas bergerak dengan cepat di atas keyboard laptopnya. Beberapa kode yang entah Nina sendiri tidak tahu itu apa, diketik Joon berulangkali. Hingga akhirnya, "Lihatlah."
Betapa terkejutnya Nina, melihat file itu berisi aliran dana menuju ke sebuah rekening atas nama Michael Mahardika.
"Jadi temanmu yang selama ini mencuri darimu?"
"Jangan mengambil kesimpulan dulu. Lihatlah ini lagi."
Dan kembali Joon menuliskan beberapa kode dan hasil akhirnya adalah "unknown result."
"Bagaimana bisa? Bukankah hasil akhirnya tadi adalah sebuah rekening. Itu berarti mereka hanya menggunakan nama temanmu. Apa mereka ingin mengadu domba kalian?"
"Entahlah."
"Lalu rencanamu apa?"
"Aku belum memikirkannya. Jujur aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi Mike."
Nina menarik nafasnya pelan. Tiba-tiba saja sepasang tangan memeluknya dari belakang. Nina sedikit terkejut. Namun kemudian dia mencium wangi parfum yang sangat ia kenal.
"Sedang memikirkan apa hmmm?" bisik Joon tepat di telinga Nina, membuat tubuh Nina merinding seketika. Ditambah lagi dada bidang Joon yang ketat menempel di punggung Nina.
"Tidak ada. Hanya sedang memikirkan temanmu Mike."
"Apa kamu ada ide?" kali ini Joon sudah meletakkan wajahnya di bahu Nina. Membuat jarak keduanya hanya beberapa senti saja. Hembusan nafas beraroma mint tercium dari bibir Joon. Kedua pipi mereka saling menempel. Posisi mereka benar-benar sangat dekat. Membuat jantung Nina berdetak tidak karuan.
"Bagaimana kalau kamu memutuskan menerima proposal mereka dengan revisi. Aku sudah menemukan poin-poin di mana mereka telah melipatgandakan angkanya. Kamu ingin menahannya lebih lama saat kalian bertemu bukan?"
Joon mengangguk. "Bawa aku bersamamu ketika kalian bertemu. Dan suruh temanmu itu membawa direktur keuangannya atau terserah siapa. Aku akan bernegosiasi dengan mereka untuk menurunkan angka yang sudah mereka lipatgandakan. Itu akan sedikit menahan mereka."
"Kamu pintar, Baby." Puji Joon.
"Jadi, bisakah kamu mengajariku cara membobol bank yang ada di depan itu. Sebagai hadiah."
Joon terkekeh, "Kamu perlu berapa, Sayang?"
"Uuuuhhhm banyak. Aku ingin beli ini, beli itu. Ingin ini, dan itu banyak sekali."
"Minta saja sana sama doraemon. Itu kan lagunya Doraemon."
"Hei, kamu tahu lagu Doraemon?"
"Bagaimana tidak tahu. Itu tontonan Mama kalau hari Minggu. Katanya biar dikira ada anak kecil. Nonton Doraemon. Padahal kamu tahu. Tv-nya ke mana, Mamanya ke mana"
"Kok aku nggak tahu?"
"Kan kamu kalau datang siang. Ya sudah habis Doraemonnya. Emang kamu mau beli apa sih?"
"Tidak tahu. Cuma weekend ini kita mau ngemall. Cuci mata."
"Ya, ya besok aku bobolkan bank depan itu."
"Serius?"
Joon mengangguk. "Asseeeeeek."
Joon kembali terkekeh melihat tingkah Nina. "Tapi untuk sekarang aku mau kasih hadiah yang ini."
Dengan cepat Joon membalikkan tubuh Nina. Menyandarkan tubuh gadis itu di kaca jendela kantor Nina, lantas kembali mencium bibir gadis itu. Hampir sama dengan kejadian tadi siang. Nina sedikit meremas ujung jas Lee Joon. Saat keduanya sama-sama terhanyut dalam kehangatan ciuman mereka.
Ah bikin baper aja, iya nggak, iya nggak para reader..🤣😁😁
*******
__ADS_1