Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 64


__ADS_3

Kantin hari itu ramai tidak seperti biasanya. Setidaknya seperti itulah yang Karin dan Dita rasakan ketika mulai menyantap makan siang mereka.


"Kenapa sih dengan kantin hari ini. Sepertinya ada yang beda," tanya Karin sambil memulai suapan pertamanya. Sedang Dita malah melongo menatap lurus ke depan dengan ekspresi wajah tidak percaya.


"Oh no, Rin aku nggak salah lihat kan?"


"Apa sih?" karena tangan Dita dari tadi sibuk menarik-narik tangannya hingga acara makan siangnya sedikit terganggu. Nina hanya tersenyum ketika melihat kemana arah mata Dita.


Karin sontak ikut terkejut. "Astaga, jadi mereka beneran go public?" tanya Karin.


"Belum mereka masih dalam taraf PDKT. Asisten Jo bilang mau mencobanya dulu," ucap Nina kalem.


"Whattt!! Jadi ini alasannya kamu minta nomor telepon gadis kecil itu tadi pagi?" tanya Dita dan Nina mengangguk.


"Wow!!" satu kata yang keluar dari bibir Karin.


Mereka bebas mau bertingkah sesukanya karena mereka makan siang di area khusus dengan akses VIP. Nina memintanya pada Max setelah makan siang pertama mereka waktu itu. Ruang VIP yang kedap suara sehingga tidak perlu khawatir orang lain akan mendengar pembicaraan mereka.


Asisten Jo dan Nindy memang makan siang di tempat yang sama dengan mereka. Namun meja makan mereka yang berjauhan, memungkinkan kalau kedua orang itu tidak mendengar apa yang tengah trio ini bicarakan.


"Lihat, si Nindy seneng banget deh kayaknya. Sedang Om Jo kelihatan banget canggungnya," kata Karin sambil tertawa.


"Ya maklumlah. Ini kan first time-nya Om Jo makan sama perempuan. Biasanya juga berdua mulu sama tuan Lee," jawab Nina.


"Beneran kalau asisten Jo belum pernah pacaran sebelumnya?" tanya Dita dan langsung diangguki oleh Nina dan Karin.


"Wah masih perjaka dong," tambah Dita.


"Kenapa gak mbak Dita ambil aja dari dulu. Kan kalau begini tinggal mbak Dita doang yang jomblo di lantai 34 " seloroh Karin sambil bercanda.


"Eiitts gak bisa. Dan siapa bilang kalau Mbak jomblo. Nggak lihat apa ini apa?" jawab Dita sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis kirinya.


"Mbak sudah tunangan?" tanya Nina antusias.


"Lebih malah. Mbak tu sudah nikah. Anak mbak satu," ucap Dita santai. Nina dan Karin langsung melongo.


"Ahhh, Mbak Dita bohong," Karin berujar tidak percaya.


"Bohong darimananya? Nih lihat," jawab Dita sambil menunjukkan foto pernikahannya dan fotonya bertiga dengan suami dan seorang anak perempuan yang terlihat manis dan imut.


"Aduh imutnya anak Mbak! Jadi beneran Mbak Dita sudah nikah?" Karin memastikan dan langsung diangguki oleh Dita.


"Wah selamat ya Mbak Dita. Nggak nyangka Mbak Dita sudah nikah dan punya anak. Padahal body masih okay," ucap Nina.


"Selamat apanya. Wong itu nikahnya sudah lama. Anakku saja sudah tiga tahun."


"Ya kan kita baru tahu. Berarti Mbak Dita sudah nikah dong. Waktu mulai jadi sekretarisnya pak Bos," tanya Karin kepo.


"He e. Dan itu malah salah satu jadi pertimbangan kenapa tuan muda Lee memilihku jadi sekretarisnya. Padahal kalian tahu, kandidat lainnya, beeuuuhhh sudah kaya mau pemilihan Putri Indonesia dandannya. Cantik, seksi pokoknya semua mereka keluarkan untuk menarik perhatian tuan muda Lee waktu itu," kenang Dita.


"Memang pak Bos turun sendiri buat interview gitu?" tanya Karin kembali. Sedang Nina hanya ikut menyimak.


"Iya, maka itu seleksinya jadi heboh. Siapa sih yang nggak heboh lihat pacarmu Nona?" timpal Dita yang membuat Nina nyengir.


"Iya. Heboh kayak orang lihat pertandingan bola antara Persija Jakarta vs Persib Bandung. Ujung-ujungnya rusuh," batin Nina.


"Aku tu sempat nggak yakin sama sekali kalau aku bakal diterima. Yah secara, lihat saingan aku seperti ajang kontes ratu kecantikan. Tapi tidak disangka tuan Max bilang kalau aku yang diterima. Nggak percaya aku waktu itu," Dita menjeda ceritanya. Meminum air mineralnya.


"Kemudian tuan muda Lee berkata. Kamu tahu kenapa aku memilihmu? Karena kamu sudah menikah. Ada hati yang sedang aku jaga saat ini. Jadi aku tidak mau menyakiti hatinya dengan memilih sekretaris yang masih single," cerita Dita sambil menatap lurus ke arah Nina. Yang langsung mengembangkan senyumnya.


"Awalnya aku tidak paham dengan yang dikatakan oleh tuan muda Lee. Aku pikir itu mamanya. Aku baru sadar ketika kamu masuk setahun yang lalu. Oh, jadi ini to alasannya tuan muda Lee memilihku waktu itu. Tapi aku bersyukur banget bisa kerja sama tuan muda Lee," Dita mengakhiri ceritanya.


"Tu kurang apa lagi coba. Gitu aja diajak nikah susahnya minta ampun," Karin berkata sambil melirik tajam ke arah Nina.


"Iya- iya nanti aku pertimbangkan."

__ADS_1


"Tu kan Mbak. Jawabannya pasti seperti itu. Diambil orang baru tahu rasa nanti," ujar Karin pedas.


"Dia setia banget lo sama kamu Nin. Selama Mbak jadi sekretarisnya Tuan Muda selalu menghindari bertemu dengan klien wanita. Kalau ada klien wanita, Tuan Max yang menghandlenya. Nah kalau sampai ada klien wanita yang lolos bisa bertemu Tuan Muda. Berarti mereka licik mengganti schedule-nya. Kayak yang waktu itu," terang Dita.


"Iya dia ngamuk kayak orang kesurupan," timpal Karin. Karena Max pernah cerita ke Karin.


Nina terdiam. Hingga dering ponselnya terdengar.


"Ya, mbak Dina"


"^...^"


"Minggu ini?"


"^....^"


"Bisa. Oke kita ketemu di sana besok."


"Mbak Dina?" tanya Karin.


"Iya ngajakin ketemuan. Katanya ada yang mau diomongin."


Dita dan Karin hanya ber-oooo ria. Mengakhiri makan siang mereka. Lalu kembali ke lantai 34. Meninggalkan asisten Jo dan Nindy yang masih menikmati makan siang mereka.


****


Max masuk ke ruangan Joon dengan tergesa-gesa. "Ada apa?" tanya Lee Joon.


"Dokter Pras diserang," lapornya singkat.


"Apakah dia terluka?"


"Sedikit. Hanya memar dan lebam. Mereka memaksa ingin membawa dokter Pras. Tapi dia menolak. Karena itulah mereka memukulinya."


"Dia sudah aman. Hanya saja dia melarang kita memberitahu Maya. Nanti dia ikutan panik."


"Dia semakin berani bertindak."


"Perketat keamanan di sekitar rumah dokter Pras. Takutnya mereka menyerang lagi."


"Siap,Bos!"


"Aku ingin sekali menyeretnya ke penjara. Tapi bukti yang aku punya belum cukup untuk menjeratnya. Aku heran kenapa aku tidak bisa meretas CCTV di rumah Mike ketika pembunuhan itu terjadi," guman Lee Joon.


******


"Lagi-lagi gagal! Lagi-lagi gagal! Apa yang sebenarnya bisa kalian lakukan?" Burhan marah karena keinginannya bertemu dokter Pras gagal.


"Maaf Tuan. Kami tidak tahu jika dokter Pras punya pengawal bayangan."


"Aku tidak peduli!"


"Maaf Tuan sekali lagi. Maafkan kami."


"Sepertinya aku sendiri yang harus menemuinya. Akan aku hancurkan dia kalau dia berani mencampuri urusanku soal Mike."


Hening sejenak.


"Apakah hacker sewaanmu sudah bisa meretas database LJ GROUP?"


"Itu.... mereka belum bisa meretasnya, Tuan."


Tuan Burhan menghela nafasnya. "Keamanan mereka sangat ketat. Bahkan beberapa waktu terakhir ini, mereka menambah lapisan firewall di database mereka. Semakin sulit untuk meretasnya. Sebab menurut hacker sewaan kita, firewall yang mereka gunakan hampir sama dengan yang dimiliki Pentagon."


"Ah sudahlah. Keluar sana. Aku pusing mendengar laporanmu yang tidak pernah berhasil itu."

__ADS_1


Asisten tuan Burhan hanya bisa keluar ruangan itu dengan wajah kusut. Tidak tahu apa, dia sudah bekerja keras untuk melakukan semua perintah tuannya itu. Tapi tetap saja tidak pernah dianggap.


******


Seorang pasien baru saja keluar dari ruangan dokter Pras. Ketika tiba-tiba seorang pria masuk menyelinap tanpa permisi.


"Maaf, sepertinya daftar pasien saya sudah habis. Apa anda pasien susulan?" tanya dokter Pras, ketika tiba-tiba pria itu sudah duduk di kursi, tempat biasanya pasien duduk untuk diperiksa.


"Jangan khawatir Dokter, saya tidak akan lama. Sepertinya saya sendiri yang harus datang menemui Anda sendiri. Setelah kemarin saya gagal mengundang Anda untuk bertemu saya." ucap pria itu sambil membuka maskernya.


"Tuan Burhan," terkejut sudah pasti. Hanya saja dokter Pras tidak menyangka jika Burhan sendiri yang datang menemuinya. Ada sedikit rasa takut dalam diri dokter Pras. Mengingat pengawal bayangannya hanya bisa berjaga sampai lobi rumah sakit. Tidak bisa menjaga dokter Pras ketika berada di dalam rumah sakit.


Masih teringat jelas bagaimana orang suruhan Burhan menghajarnya ketika dia menolak untuk ikut dengan mereka. Rasa perih dan nyeri masih bisa ia rasakan di beberapa bagian tubuhnya. Meski kejadian itu sudah 2 hari yang lalu.


"Apa yang Anda inginkan Tuan Burhan?" tanya dokter Pras berusaha tenang sambil menutupi ketakutannya.


"Apa yang sudah Anda lakukan pada Mike," tanya tuan Burhan to the poin.


"Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya seorang dokter lakukan. Menolong pasien sebisa saya," jawab dokter Pras tegas.


"Anda melawan perintah saya?"


"Tidak ada seorangpun yang bisa memerintah seorang dokter, Tuan. Kecuali hati nurani mereka. Kami sudah terikat dengan sumpah dokter. Dan kami tidak mungkin mengingkarinya."


"Dasar kurang ajar!! Berani sekali kamu bicara seperti itu kepadaku!"


"Saya hanya bicara fakta,Tuan."


Kali ini emosi Burhan benar-benar terpancing. Dia merangsek maju, langsung mencengkeram kerah baju Dokter Pras. Dokter itu terkejut. Namun dia pun pasrah tidak berusaha melawan.


Dia sadar dari awal. Konsekuensi apa yang mungkin dia bisa terima, jika dia tetap bersikeras ingin menolong Mike. Tapi melihat senyum Maya yang selalu terlihat bahagia jika berada disamping Mike. Membuat Dokter Pras berani mengambil resiko itu. Sebab keadaan Mike pun masih bisa disembuhkan.


Terlebih ketika beberapa hari lalu, gadis kecilnya itu bercerita jika dia dan Mike sudah jadian. Hingga dia pun semakin bertekad untuk menyembuhkan Mike.


Apalagi dari hasil evaluasi terapi mereka yang terakhir. Hasilnya sangat bagus. Rasa sakit di kepala Mike hampir dipastikan sudah menghilang. Dan pria itu, perlahan mulai mengingat sedikit demi sedikit masa lalunya, tanpa merasa sakit kepala seperti biasanya. Mike hanya perlu waktu, sampai seluruh ingatannya pulih seperti sedia kala.


"Kamu tahu aku bisa menghancurkanmu dan putrimu jika kamu berani menyentuh Mike?"


"Silahkan saja jika tuan ingin menghancurkan kami. Saya di sini hanya seorang dokter yang ingin berusaha untuk menyembuhkan Mike. Saya tidak peduli ada urusan apa Anda dengan Mike. Yang jelas saya hanya ingin agar Mike bisa hidup lebih baik. Agar dia bisa bahagia sama seperti orang lain."


"Persetan dengan kebahagiaan " raung tuan Burhan. Lantas dengan cepat menghempaskan tubuh dokter Pras ke dinding rumah sakit itu.


Tubuh dokter Pras terjatuh di lantai rumah sakit. Rasa sakit ia rasakan di punggungnya. Dokter Pras hanya bisa meringis menahan rasa sakit


"Aku peringatkan lagi. Jangan mencampuri urusanku dengan Mike atau Anda akan merasakan akibatnya," ancam tuan Burhan lantas keluar dari ruangan dokter Pras.


Dokter berusaha duduk dan "aaaarrgghhh" ringisan lirih keluar dari mulutnya.


"Halo, Don. Dia baru saja dari tempatku."


"Ah tidak. Aku tidak apa-apa. Dia hanya sedikit mengancamku. Jangan khawatir. Bilang saja pada Maya jika aku tidak pulang malam ini. Katakan aku ada dinas dadakan keluar kota. Jangan membuatnya khawatir."


Sederet pesan ia tujukan untuk Maya. "Ayah akan lakukan apapun untukmu, Nak. Asal kamu bahagia. Walaupun nyawa ayah taruhannya," ucapnya lirih. Setetes air mata perlahan turun di sudut kedua matanya.


Begitu besar perjuangannya agar putri tunggalnya bisa bahagia.


*****


Halo readers seperti biasa jangan lupa buat vote, like and coment seperti biasa ya,


Happy reading,


And salam sayang dari author 😚😚😚


*****

__ADS_1


__ADS_2