Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 17


__ADS_3

Nina sedang berbaring di ranjangnya. Tubuhnya begitu lelah. Hari ini dia baru saja pulang dari dinas keluar kotanya. Tugas yang harus diikuti oleh semua anak baru. Termasuk dirinya dan Karin. Dia baru saja mencoba memejamkan matanya, mencoba beristirahat. Sebelum mengambil makan malamnya.


Ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. "Heri? Mau ngapain lagi sih?" gerutu Nina.


Satu nama itu beberapa hari ini selalu mengganggunya. Teman satu kantor beda divisi, itu tiba-tiba mengatakan kalau ia menyukai Nina. Membuat Nina sedikit terkejut. Bukannya apa, Heri termasuk idola di kantornya. Wajahnya lumayan tampan dengan proporsional tubuh yang yah boleh dibilang okelah. Keluarganya juga cukup tajir.


Tapi Nina tegas menolaknya. Tidak ingin memberi harapan palsu pada Heri. Sebab Nina tidak memiliki perasaan apapun pada Heri. Tapi parahnya, Heri tetap tak mau menyerah. Hampir setiap hari, terus berusaha mengambil hati Nina. Yang terkadang malah membuat Nina jadi illfeel.


"Malam Nina, lagi ngapain?" bunyi pesan itu. Bukannya dijawab tapi malah langsung dihapus oleh Nina.


Nina tidak menjawab pesan dari Heri. Bermaksud agar pria itu tidak menaruh harapan lebih pada pertemanan mereka.


Tiing,


"Loh kok nggak dijawab sih," bunyi pesan dari Heri lagi.


"Iiih, lama-lama aku blokir juga ini nomer!" Nina kembali menggerutu. Nina benci situasi seperti ini, membuat suasana kerja jadi tidak menyenangkan.


Dan berikutnya beberapa pesan dari Heri tetap Nina abaikan. Akhirnya membuat Heri berhenti mengirimi Nina pesan.


"Hah" Nina menarik nafasnya lega. Tiba-tiba tiing, sebuah pesan masuk lagi. Dia pikir itu dari Heri lagi. Hampir-hampir dia mau menghapus pesan itu. Ketika sempat dilihatnya pengirimnya adalah Karin, sahabat karibnya.


Sebuah link tertera di pesan Karin, diikuti oleh sebuah pesan Karin yang berbunyi, "*C*oba buka deh, aku jamin kamu bakal jadi manusia paling bahagia sedunia."


Nina mengernyitkan dahinya. Heran. Penasaran, dibukanya link itu, yang langsung menayangkan seorang pria yang tengah bersiap memainkan piano. Pria yang langsung membuat senyum di bibir Nina terbit tanpa sadar.


"To someone out there, that i really miss you much" ucap pria itu, membuat Nina seketika tersenyum.


(Untuk seseorang di luar sana, yang sangat aku rindukan)


Dan sebuah lagu mulai mengalun lembut dari bibir pria itu


if i die tonight


i'd go with no regrets


if it's your arms


i knows that i was blessed


and if you're eyes are the last thing i see


then i know the beauty heaven holds for me


but if i make it through


if i live to see the day


if i'm with you


i'll know just what to say


the truth be told


girl you take my breath away


every minute,every hour, every day


cause every moment


we share together

__ADS_1


is even better than the moment before


if everyday was


as good as today was


then i can't wait till tomorrow comes


a moment in time


is all that given you and me


a moment in time


yeah it's something you shoul seize


so i won't make


the mistake of letting go


everyday you're here


i'm gonna let you know


cause every moment


we share together


is even better than the moments before


if everyday was


as gòod as today was


each morning that i get up


i'll love you more than ever


so girl i'll never go away


never stray


Lagu yang sangat Nina kenal. Dan Nina tidak menyangka jika Joon menyanyikan lagu itu. Nina benar-benar merasa bahagia. Senyum jelas terkembang di balik wajah cantik Nina.


"Bagaiman Nona? Masih meragukan kebucinan si tuan menyebalkan?" Nina hampir tertawa membaca pesan Karin.


"Kamu apa-apaan sih Rin?"


"Ha, ha, ha boleh aku bayangkan wajah bahagiamu saat ini, pasti wajahmu sedang bersinar terang seterang lampu seribu watt," kembali Karin menggoda Nina.


Nina benar-benar tersipu malu. Sebab yang dikatakan Karin benar adanya. Dia benar-benar bahagia. Bolehkah Nina berharap bahwa lagu itu memang untuknya?


"Hei, halo! Pasti bengong sambil senyum-senyum sendiri," kembali tebakan Karin tepat sasaran. Nina langsung keki dibuatnya.


"Apaan sih? Lagian belum tentu lagu itu buat aku," ujar Nina berusaha menutupi perasaannya.


"Hah dasar kamu, kamu nggak lihat video itu baru dibuat. Aku rasa si makhluk menyebalkan itu juga rindu kamu,"


"Yey, siapa juga yang rindu?"


"Ya kamulah, masak aku. Kalau aku mah digituin sama dia, aku udah langsung bucin akut ke dia. Ini kamu, ditembak seorang Lee Joon sampai sekarang masih aja digantung nggak di kasih jawaban. Padahal tu gelang di pake aja tiap hari kagak mau di lepas. Kiri, kanan lagi tu makenya," oceh Karin.

__ADS_1


"Kamu tu ya sebenarnya juga suka sama dia, cinta sama dia. Cuma kamu tu gengsi buat ngaku. Bener nggak?" sambung Karin


"Masak sih?"


"Ye, masih nggak percaya. Tanya deh sama hati kamu sendiri. Pasti kamu tahu jawabannya"


"Kan aku udah bilang, si makhluk menyebalkan itu bukan jenis yang suka banyak ngomong. Dia itu tipe talk less do more. No yang kaya diiklan-iklan. Masih kurang bukti betapa bucinnya si makhluk menyebalkan itu sama kamu," buset deh Karin kalo sudah ngoceh sudah mengalahkan panjangnya emak-emak kalo lagi ngomel (piss mak piss mak🤣🤣🤣🤣)


Nina kembali terdiam. "Apa itu benar, jika aku juga punya perasaan yang sama."


Jika diingat perkataan Karin sama dengan perkataan Sofia.


"Anak tante, kamu tahu dengan benar kan? Dia tidak banyak bicara, lebih suka mengungkapkan apa yang dia rasakan dengan tindakan. Jadi kamu jangan berharap kalau dia akan berkata manis atau merayu seperti kebanyakan pria pada umumnya. Cukup rasakan apa yang ia rasakan melalui cara dia memperlakukanmu."


Ya, Joon memang tidak banyak bicara. Seperti lagu tadi, ia ingat Joon pernah bertanya.


"Apa yang kamu suka?"


"Ya?"


"Ya, makanan atau lagu apa yang kamu suka?"


"Aku suka apapun asalkan pedas, untuk lagu. Mungkin orang akan mengira aku adalah orang yang tidak update dengan perkembangan musik. Karena aku menyukai lagu "Moment" dari Westlife dan "Graduation" dari Vitamin C. Selera yang cukup kuno untuk zaman modern seperti sekarang."


"Ah, tidak juga. Tidak ada yang salah dengan yang namanya kuno. Malah itu terlihat unik dan yaa.. mengesankan."


Tidak disangka jika Joon masih mengingatnya.


Meninggalkan Nina yang tengah berbahagia gara-gara dengar Joon nyanyi lagu favoritnya. Joon justru sebaliknya. Pusing tujuh keliling dengan urusan kantornya. Dengan penyelidikannya, dengan rencana penjebakaannya.


"Oh damm it!" umpatnya. Dia menjatuhkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Matanya terpejam dengan ujung jarinya memijat pelan pelipisnya. Kepalanya rasanya ingin meledak.


"Oh astaga, ini bahkan lebih berat dari sekedar menciptakan lagu dan melodi."


Max yang mendengarnya hanya terkekeh. "Apa!" salak Joon.


"Nggak Bos, piss, piss," ucap Max sambil mengangkat tangannya membentuk tanda V.


"Padahal kata asisten Jo ini baru 50% dari keseluruhan tugas yang harus kau kerjakan."


"What!" Joon kembali terpekik. Kalau dia sudah memegang kendali penuh, bahkan dia mungkin tidak ada waktu untuk pacaran. "Oh tidak!" pekiknya dalam hati.


Joon memejamkan matanya sesaat, kemudian mengambil nafas dan mengeluarkannya. Berulang kali dia melakukannya. Lantas dia berdiri, menuju ke lemari pendingin. Mengambil sebotol air mineral, langsung menegaknya sampai tandas.


Berjalan kembali menuju mejanya. Menyalakan laptopnya yang lain. Hening sesaat. Max hanya diam melihat tingkah bosnya itu. Sedang dia masih sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Aha! Max kamu mau bermain-main dengan wanita cantik?"


Mendengar kata wanita cantik, wajah Max langsung berbinar.


"Tentu saja, siapa yang akan menolak untuk bermain dengan wanita cantik. Kecuali Bos, mungkin," seloroh Max


"Kamu mau mati ya?!"


"Aku mau wanita cantiknya Bos, nggak mau matinya. Mana Bos wanita cantiknya?"


"Oh astaga."


Asistennya yang satu ini akan langsung berbeda jika mendengar kata wanita cantik


Diperlihatkannya foto seorang wanita yang langsung membuat wajah Max semakin berbinar.

__ADS_1


"Bermainlah dengannya dan kita akan mulai menjebak tuannya." Dan Max langsung mengangguk penuh semangat.


****


__ADS_2