
"Halo, Bro," sapa Joon
"What's up, Bro?" jawab seseorang di ujung sana.
"Kamu di mana?" tanya Joon.
"I'm on a bussiness trip. Anything important?" balas orang itu lagi.
"Bisnis nguntitin anak gadis orang?" tanya Joon to the poin.
"Oh what? How did you know?" orang itu terkejut Joon tahu apa yang dilakukannya.
"Kamu nggak tahu siapa aku?" ucap Joon lagi.
"Oh my God. Aku lupa."
"Jadi berhenti ngikutin adik iparku. Kamu buat dia takut. Kalau suka, bilang baik-baik," saran Joon, memandang pria yang tak lain adalah Jonathan Kusuma dari layar laptopnya. Pria itu tengah duduk manis di mobil Fortuner-nya sambil mengamati Risma yang tengah membeli nasi goreng di abang-abang pinggir jalan. Tidak jauh dari rumah lek-nya yang ada di Jogja. Jo memarkir mobilnya di sebelah lampu merah. Dan ada CCTV di sana. Dari situlah Joon tahu kegiatan Jo.
"Risma, dia adikmu?" tanya Jo surprise.
"Dia adiknya Nina.Jadi sama saja kan, dia seperti adikku. Untung aku belum jadi kirim bodyguard buat ngawal Risma. Kalau tidak habis kamu dihajar ma bodyguardku," ucap Joon.
"Pantas saat aku melihatnya. Aku seperti pernah melihat wajahnya. Garis wajahnya mirip dengan kekasihmu."
"Iyalah, orang adiknya. Jadi berhenti mengikutinya. Kamu membuatnya takut. Kalau kamu suka dia. Ngomong baik-baik. Temuin ibunya juga. Ibunya cemas banget, takut anaknya diculik. Trus kamu apa-apain," oceh Joon.
"Astaga. Bagaimana bisa mereka berpikiran seperti itu?" ucap Jo sambil memijat pelipisnya.
"Ya, mereka pasti mikir yang aneh-aneh. Orang kamunya gitu. Suka sama anak orang, bukannya nembung baik-baik, tapi malah lebih kayak penculik yang lagi ngincer mangsanya."
"Ha? Nembung? Apa lagi itu?" tanya Jo tidak paham dengan bahasa Joon.
"Izin, Bro izin," jelas Joon.
"Ooooo," Jo hanya ber-ooo ria.
"Jadi sekarang pulang. Besok temuin ibunya dan minta izin sama ibunya buat ngejar anaknya." nasihat Joon.
"Ibunya lagi nggak ada. Ini dia nginep tempat saudaranya," jelas Jo.
"Aku tahu. Ibunya lagi otw balik. Besok sampai. Dia nginep tempat saudaranya juga gegara lu," oceh Joon.
"La?" tanya Jo.
"Ya dia takut kamu culik. Gimana sih? Udah sana pulang dulu. Besok baru temuin ibunya buat minta izin macarin anaknya," pinta Joon, langsung mematikan ponselnya.
Sejenak Joon kembali memandang layar laptopnya. Segera menutupnya setelah mobil Jo berlalu dari sana.
"Kenapa? Jo naksir Risma?" tanya Max yang datang membawakan berkas-berkas yang harus ditanda tanganinya.
"He e," jawab Joon singkat.
Dia baru saja merampungkan sesi acara tanda tangannya yang lumayan menggunung. Ketika ponselnya kembali berdering. Joon mengerutkan dahinya. Nomor internasional, dengan kode yang mengharuskan Joon meng-secure line ponselnya. Agar tidak bisa di bajak. Alias diretas pembicaraannya oleh orang lain. Hanya satu orang yang akan menggunakan hal seperti ini ketika menghubungi seseorang.
"Yes, Crown Prince? Any problem?" sapa Joon. Orang yang di ujung sana terkekeh geli.
"Jangan memanggilku seperti itu," ucap pria itu. Kali ini gantian Joon yang terkekeh. Dia tahu orang yang tengah menghubunginya itu tidak suka dengan panggilan itu.
"Ha, ha, oke, oke. Long time no see. So what's up, Bro?" sapa Joon akhirnya.
"Tolong carikan Nika," ucapnya sendu.
"La Vero ke mana? Bukannya kamu selalu menjaganya 24 jam," tanya Joon.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana kali ini dia bisa lolos," cerita pria di ujung sana. Sedang Joon kembali membuka laptopnya. Memasukkan beberapa kode dan hasilnya membuatnya mengerutkan kedua alisnya.
"Kali ini dia pintar. Membuang semua pelacak yang ada di dirinya," Joon berkata.
"Nah itu dia. Aku sampai berpikir. Kali ini kalau dia sampai ketemu. Bakal aku tanemin chip GPS di tubuhnya. Biar dia bisa aku lacak keberadaannya " ucap pria di ujung sana.
"Jangan seperti itu, Bro. Itu sama saja kamu mengekang kebebasannya. Kamu tahu sendiri adikmu itu tipe pemberontak. Tidak suka diatur." tutur Joon teringat bagaimana karakter gadis bernama Vero yang tengah mereka bicarakan. Pria yang diujung sana hanya diam tidak menjawab.
"Jadi kali ini kenapa dia kabur. Kamu menyuruhnya melakukan apa?" sambung Joon ketika pria di ujung sana hanya diam.
"Aku memintanya bertunangan dengan seseorang yang di pilih oleh parlemen," balasnyaa singkat.
"Apalagi karena hal itu. Aku juga ogah kalau jadi dia. Lagian kamu kan rajanya. Kamu bisa menolak keinginan parlemen kan?"
"Lee Joon aku meminta tolong padamu. Jangan membuatku tambah pusing," ucap pria itu lagi.
"Dia menuju Asia Tenggara?" ucap JΓ²on sambil mengerutkan alisnya.
"Iya. Makanya aku langsung menghubungimu. Siapa tahu kamu bisa melacaknya."
"Kenapa kamu tidak minta Fao untuk melacaknya?"
"Ya, kamu tahu Fao kayak gimana. Teman rasa pacar-nya adikku itu. Sudah pasti dia akan menutupi di mana adikku berada."
"Ha? Teman rasa pacar? Sejak kapan kamu tahu istilah itu?" tanya Joon, tangannya masih terus menari di keyboard laptopnya.
"Ya habisnya, kamu lihat dua orang itu seperti apa. Padahal Fao sudah punya pacar."
"Dia tidak masuk ke sini. Aku mengeceknya di seluruh data imigrasi di semua pintu masuk bandara di negeri ini. Dan juga matanya tidak terdeteksi di seluruh CCTV bandara di negara ini. Dia hanya bisa keluar tanpa bisa kamu lacak, jika dia mengubah identitas dan menipu semua kamera CCTV agar tidak bisa mendeteksi matanya" jelas Joon. Membuat pria di ujung sana terdiam.
"Halo Mark, Bro are you still there?" ucap Joon ketika pria yang dia panggil Mark itu hanya terdiam.
"Yes, I'm still here. Any suggestion?" tanya Mark.
"Aku sudah bertanya padanya. Dia bilang tidak tahu. Kamu tahu kan kalau dia bilang tidak tahu, maka tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya. Bagaimana bisa aku melawan hacker sekelas Fao. Nanti aku lawan. Habis semua dataku diobrak-abriknya. Bisa kacau semua nanti," keluh Mark.
"Kali ini adikmu memilih partner yang tepat untuk bisa kabur darimu," Joon sendiri mengakui kemampuan Fao sebagai seorang hacker. Seorang tentara berpangkat Letnan dengan kemampuan meng-hack data yang benar-benar luar biasa. Kemampuannya masih satu tingkat di atas Lee Joon. Hingga kadang Joon-pun dibuat kelimpungan jika harus berhadapan dengan Fao.
"Jangan meledekku Lee Joon. Lagian mereka adalah partner pembuat onar dari dulu."
"Ha, ha, ha" Lee Joon malah tertawa. Max yang sedari tadi menyimak pembicaraan bosnya itu menghentikan aktivitasnya, mengecek email dan berkas-berkas.
"Jangan tertawa, Lee Joon," ucap Mark lagi.
"Oke, oke. Apa kamu sudah menghubungi Adrian. Aku dengar sekarang dia terdampar di negara sebelah," tanya Joon karena sepertinya dia mendapatkan petunjuk samar mengenai gadis yang dia panggil Vero itu.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Mark.
"Hanya seperti jejak data yang sudah dihapus tapi masih ada bekasnya. Data dengan nama Catarina E. Bukankah itu nama tengah Vero," ucap Joon serius.
"Kemana dia pergi?" tanya Mark antusias.
"Dia masuk ke KLIA, Kuala Lumpur lalu terbang lagi ke Senai, Johor Bahru."
"Oh fix, aku harus mencari Adrian jika dia memang terdampar di Malaysia," sahut Mark.
"Lagian adikmu ngapain di Johor Bahru. Nggak mungkin kan dia kerja. Yang ada di Johor Bahru kan kebanyakan pabrik," tanya Joon heran.
"Entahlah apapun itu. Aku harus segera menemukannya. Dia meninggalkan semua kartunya. Ponselnya. Semua. Tapi yang membuatku khawatir adalah karena dia masih dalam tahap observasi setelah operasi cangkok sumsum tulang belakangnya," jelas Mark.
"Kalian menemukan kandidat yang cocok pada akhirnya," tanya Joon.
"Iya. Karena itu aku sangat khawatir," ucap Mark lagi.
__ADS_1
"Dia pasti baik-baik saja. Dia pintar menjaga diri." Joon mencoba menenangkan Mark.
"Aku tidak terlalu khawatir kalau dia terluka fisiknya. Aku hanya cemas soal hatinya. Seumur hidup dia belum pernah hidup di luar tembok istana. Tidak tahu seperti apa dunia di luar sana," ujar Mark.
"Jangan terlalu mencemaskannya. Kita akan segera menemukannya" hibur Joon.
"Aku harap begitu. Aku tutup dulu. Terima kasih atas bantuannya," ucap Mark.
"It's okay. Jangan terlalu sungkan. Lagipula Vero sudah seperti adikku sendiri."
"Okay aku tutup dulu. Good night everyone," tutup Mark.
"You're welcome Prince Mark Victor Emmanuel." Joon menutup teleponnya.
"Ada masalah?" tanya Max.
"Vero kabur. Dan kemungkinan ada di JB," jelas Joon singkat.
"Ooo," Max hanya ber- oo ria.
"Oh ya, Kai menghubungiku beberapa waktu lalu. Dia bilang akan kembali ke sini," sambung Max.
"Kenapa... kakek tua itu memaksanya lagi?" tanya Joon.
"Ada masalah financial dengan TV mereka. Kamu tahu, Kai ahli di bidang keuangan sama seperti Nina," balas Max.
"Jadi kakek tua itu ingin Kai membereskan masalah yang dibuat oleh nenek sihir itu?" tanya Joon. Teringat satu nama, yang membuat sahabatnya itu memilih kabur ke Surabaya daripada tinggal di Jakarta.
"Entahlah. Kenapa sih Kai terlalu nurut sama kakek tua itu. Padahal tanpa embel-embel nama Hadiwinata-pun, Kai masih bisa hidup," ujar Max heran.
"Kamu kan tahu Kai melakukan hal itu hanya untuk membalas budi kakek tua itu, yang telah mengadopsi dan membesarkannya. Padahal ya seperti yang kamu katakan. Tanpa nama Hadiwinata-pun Kai bisa hidup. Kita tahu anak itu dari kecil suka bermain saham sama seperti asisten Jo. Jadi duitnya dah banyak," kekeh Joon.
"Jangan-jangan kali ini Kai disuruh pulang untuk dinikahkan dengan adik tirinya. Tiffanny. Rumor yang beredar seperti itu," tambah Max.
"Dia bilang tidak akan menikah sebelum bisa bertemu dengan tutup botol-nya," jelas Joon.
"Tutup Botol?"
"Teman masa kecilnya. Cinta pertamanya." tambah Joon.
"Oalah. Tapi kok namanya Tutup Botol ya," tanya Max heran.
"Ya kamu tanya sendirilah sama Kai," balas Joon sambil menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali melihat ke arah Nina yang sedang membaca buku.
Aktivitas yang disarankan oleh dokter Pras. Untuk membantu Nina mengalihkan dan mengendalikan traumanya. Dan ternyata efektif. Frekuensi Nina histeris dan menangis sudah mulai berkurang. Tidak separah dulu.
Pekerjaan mereka selesai. Max langsung undur diri karena harus menjemput Karin yang lembur di kantor. Sepeninggal Max. Joon langsung menuju ke ranjang Nina. Dilihatnya gadis itu sudah tertidur. Joon lantas masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama tidurnya.
Selama Nina dirawat fix Joon jadi ikut pindah ke rumah sakit. Makan, tidur dan bekerja semua ia lakukan dari sana. Sang Mama yang selalu mengecek keperluan Joon dan Nina setiap hari.
Sudah berganti baju. Perlahan Joon ikut naik ke atas ranjang seperti biasanya. Menyingkirkan buku yang baru saja Nina baca. Lantas merebahkan tubuhnya di samping Nina. Joon memiringkan tubuhnya. Ditatapnya wajah Nina yang tengah terlelap. "Cup" satu kecupan mendarat di kening dan bibir Nina.
"Good night, Baby, have a nice dream," ucap Joon. Lantas ikut memejamkan mata. Menyusul Nina ke alam mimpi.
****
Hai up lagi nih. Pada penasaran nggak dengan nama-nama baru di atas. Ada sebagian dari nama itu adalah bagian dari novel aku selanjutnya. Belum aku bikin sih cuma bayangan ceritanya sudah ada. Sementara aku fokus sama yang ini dulu.
Jadi jangan lupa dukungannya ya biar author semakin semangat nulis. Biarpun harus kucing-kucingan sama bocilku.
Jangan lupa buar like, vote, gift and komen ya,
Happya reading, and salam sayang dari author muah ππππ
__ADS_1
****