
Di sisi lain, Max terus saja menggerutu tiada henti.
"Ini sebuah perampokan," umpatnya dari tadi. Dia tengah berada di dalam mobilnya. Setelah mengantarkan Joon dari bandara. Ia bermaksud kembali ke kantor. Melanjutkan pekerjaannya yang sudah dipastikan akan bertambah banyak. Setelah tiba-tiba, bosnya itu langsung menyuruhnya untuk membelikan tiket penerbangan ke Jogja secepatnya untuk hari itu juga.
Dan bisa dibayangkan Max yang langsung calling sana, calling sini. Menghubungi semua koneksi yang ia punya di berbagai agensi tiket di bandara.
Tiket tercepat didapat setelah hampir setengah jam berjuang. Dengan penerbangan berjarak satu jam dari waktu itu, membuat keduanya langsung melesat ke bandara. Setengah memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh.
Untung jalanan mendukung aksi mereka waktu itu. Jika tidak, bisa dipastikan bosnya akan tambah mengamuk. Jalanan yang biasanya macet, hari itu nampak ramai lancar.
Max mencoba bertanya ada apa bosnya itu mendadak ingin pergi ke Jogja saat itu. Bosnya hanya menjawab ada hal penting yang harus diurusnya. Hal penting? Di Jogja? Apakah terjadi sesuatu dengan Sofia? Tapi jika terjadi sesuatu dengan tante Sofia pasti tuan Lee juga ikutan panik.
Tapi, tadi dia sempat melihat tuan Lee dan asisten Jo tampak tenang-tenang saja. Apa mereka mungkin belum tahu. Pikir Max waktu.
Mereka tiba di bandara hanya 25 menit sebelum pesawat take off. Joon melempar dasinya ke dalam mobil setelah melepasnya. Dengan cepat melesat keluar mobil diikuti Max, sampai didepan pintu check in, Joon berbalik dan berkata, "Berikan semua uang cashmu kepadaku!"
"Ha?" Max melongo
"Cepatlah aku tidak punya waktu ke ATM!" Teringat kalau di Jogja ia harus membawa exstra cash.
Dan dengan terpaksa, Max merogoh kantong jasnya, membuka dompetnya dan menyerahkan semua uang cashnya tanpa sisa karena Joon meminta semuanya.
"Pakai ini sementara," Joon mengulurkan kartu unlimited debetnya kepada Max.
Joon berlalu meninggalkan Max. Yang masih menggerutu meski sudah mendapat ganti kartu sakti dari bosnya. Dan iapun masih menggerutu hingga sampai ke kantornya.
"Apa kamu perlu dijemput, Nak?"
"Tidak Ma, aku akan naik taksi, berikan saja alamat rumah. Atau sharelock saja."
"Baik, Nak."
***
Joon turun dari kamarnya. Sudah mandi dan mengganti bajunya. Tampak segar.
"Nina?" tanya Sofia begitu dia melihat putranya.
"Dia tidur, biarkan saja dulu. Dia masih sangat shock."
"Kasihan dia, apa dia mau makan?"
"Belum mau, Ma."
"Pasti berat baginya dan keluarganya, kehilangan ayah dengan begitu tiba-tiba."
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ma?"
"Pak Adi mencoba menyelamatkan anak kecil yang kebingungan waktu menyeberang. Tidak tahunya dari depan ada truk yang tiba-tiba datang. Supirnya berkata tidak melihat pak Adi karena posisi pak Adi dan anak itu sudah masuk blind spot dan terjadilah."
Joon menghela nafasnya, menatap ke arah kamarnya. Betapa susahnya menenangkan Nina yang sebentar-sebentar masih menangis histeris mengingat ayahnya. Perlu perjuangan ekstra untuk membujuknya agar mau tidur walau sebentar.
"Makanlah dulu, Nak"
__ADS_1
Joon hanya menurut, menyadari memang perutnya terasa lapar.
Mereka makan dengan hening, tidak ada yang bicara. Semua hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Lalu bagaimana dengan anak kecil dan supir yang menabraknya?"
"Anak kecil itu tidak apa-apa. Keluarganya datang melayat,meminta maaf bahkan mereka menunggu sampai jenazah pak Adi dimakamkan. Sedangkan supir yang menabrak juga datang dan meminta maaf. Bersedia mengganti semua biaya pak Adi selama di rumah sakit. Dia terlihat sangat menyesal. Keduanya punya itikad baik terhadap keluarga Nina. Tapi yaah semua itu tidak akan mengubah keadaan. Iya kan?"
"Hah, andai semua masalah bisa diselesaikan dengan kata maaf atau andai jika kata mampu membawa orang mati hidup kembali," Joon berkata sambil menghela nafas.
"Kamu pikir ini di negeri dongeng?"
Dan keduanya hanya bisa tertawa di tengah kesedihan yang juga turut hinggap di hati mereka.
"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya. Maksud Mama apa kamu akan tetap membawa Nina ke kantor pusat. Melihat keadaan keluarganya sekarang."
Joon diam sejenak. Berpikir...
"Joon akan tetap membawanya ke kantor pusat. Tapi Joon tidak akan memaksa. Keputusan ada di tangan Nina. Joon hanya ingin Mama memastikan jika waktu itu tiba, pastikan Nina mengambil keputusan tanpa adanya paksaan."
"Kalau Nina menolak?"
"Entahlah, mungkin Joon yang akan turun menjemputnya" Sofia hanya tersenyum. Putranya benar-benar sudah dewasa.
"Mama tahu kan Joon sangat membutuhkan Nina di sana. Baik dalam pekerjaan ataupun hal lainnya."
"Apa ada masalah di kantor?"
"Apa kamu sudah menghubungi Papamu?"
"Sudah Ma, Papa bertanya apa dia perlu kesini juga."
"Lalu?"
"Aku bilang tidak perlu. Nanti kalau Papa ikut ke sini, Max bisa ngamuk."
Sofia hanya tertawa, senang mendengar hubungan baik putranya dan asistennya Max. Mengingat hanya Maxlah yang ada di samping Joon, saat Joon benar-benar terpuruk di masa lalu, karena permasalahan orang tuanya.
"Rencananya mau berapa hari di sini?"
"Aku tidak tahu Ma, akan kulihat keadaan Nina dulu. Mama kan tahu aku juga tidak bisa meninggalkan kantor lama-lama sekarang."
Sofia hanya ber-he em ria mendengar ucapan putranya.
******
"Tuan barang yang kita pesan akan sampai dalam beberapa hari lagi," lapor seorang pria kepada tuannya.
"Hemm, bagus sekali. Perintahkan Joni untuk mengurusnya."
"Baik, tuan."
"Pastikan tidak ada kesalahan sama sekali dalam pengiriman kali ini!"
__ADS_1
Dan sekali lagi, pria yang merupakan asistennya itu membungkukkan badannya, mengiyakan permintaan tuannya. Lantas berlalu dari hadapan tuannya.
"Jika pengiriman kali ini berhasil, bayangkan saja keuntungan yang bisa aku dapat."
Akhirnya sebuah tawa terdengar di ruangan itu. Tuan Burhan tertawa sangat puas membayangkan keuntungan yang akan ia dapat.
"Terima kasih Jae Ha berkatmu bisnisku berjalan sangat lancar."
*****
Joon perlahan masuk ke dalam kamarnya membawa nampan makanan. Ketika dia masuk, dilihatnya Nina yang sudah terbangun. Duduk bersandar di headboard ranjang Joon. Tatapan matanya kosong.
"Baby," panggil Joon pelan.
Nina sontak menoleh ke arah Joon. Joon tersenyum setidaknya kali ini Nina langsung merespon panggilannya.
"Makanlah."
Nina menggeleng "gak selera" gumamnya.
"Mau aku suapin?" Nina kembali menggeleng. Joon menghela nafas pelan.
"Apapun itu sangat sulit sekali untuk membujuk anak ini."
Hingga akhirnya setelah berjuang dengan berbagai macam rayuan yang bisa Joon pikirkan. Gadis itu mau juga memakan makanan yang Joon bawa.
"Ini pasti ada yang salah, bagaimana bisa aku melakukan semua ini," merasa tidak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Pulanglah," ucap Nina tiba-tiba.
"Ya?"
"Kerjaanmu pasti banyak, jadi pulanglah aku tidak apa-apa."
"Aku akan pulang setelah kupastikan kamu baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu waktu untuk menerima semua ini. Ini terlalu mendadak untukku."
"Baiklah kita bicarakan lagi hal ini besok."
Mata Nina kembali berkaca-kaca. Perlahan air mata mulai turun membasahi pipinya. Tak terkira kesedihan dan kehilangan yang ia rasakan.
"Aku hanya perlu waktu, ya aku hanya perlu waktu."
Sesungguhnya, manusia hanya memerlukan waktu untuk menerima sebuah kejadian yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Lantas mencoba berdamai dengan keadaan. Menghadapi apapun dengan kelapangan hati. Hanya itu yang bisa di lakukan agar tidak membuat hidup kita terasa berat untuk dijalani.
Begitupun Nina, mencoba menerima apapun takdir yang Tuhan berikan untuknya. Karena sadar, apapun yang ia lakukan tidak akan membuat ayahnya hidup kembali.
"Mencoba menerima keadaan, lantas berdamai dengannya."
Nina menarik nafasnya pelan. Mencoba mencari kekuatan di dalam dirinya. Ia harus kuat demi ibu dan adiknya yang kini menjadi tanggung jawabnya.
*****
__ADS_1