Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 56


__ADS_3

Kedua wanita itu berjalan gontai meninggalkan kantor LJ GROUP.


"Tuan, saya di pecat," ucap Rita pada seseorang di seberang sana. Stella menatap Rita tidak percaya. Jika Rita memiliki atasan lain, selain pimpinan mereka di LJ GROUP.


"Baik, saya akan kembali," kata Rita kembali.


"Kamu ikutlah denganku jika masih ingin bekerja," ucap Rita pada Stella.


"Tapi kita kan sudah di black list. Tidak bisa di terima di manapun," Stella sedikit ragu dengan ajakan Rita.


"Itu tidak akan berlaku di kantor tuanku. Ikut saja. Daripada kamu nganggur. Nggak punya pekerjaan. Lagi pula Heri juga bekerja di sana."


Mendengar nama Heri membuat mata Stella berbinar. Setidaknya ada yang dia kenal tempat barunya nanti.


"Baiklah aku ikut. Terima kasih sebelumnya."


"Kita punya rasa sakit hati yang sama pada orang yang sama," balas Rita yang langsung diiyakan Stella.


*******


"Sepertinya aku terlalu meremehkan kemampuan anak itu," ucap Tuan Burhan.


Merasa terlalu meremehkan kemampuan Lee Joon membuatnya kehilangan satu-satunya informan yang ada di LJ GROUP.


Terlebih ketika Rita memberitahu jika data yang kemarin dia dapatkan adalah palsu. Membuatnya semakin kesal saja.


"Maaf Tuan, data yang saya dapatkan kemarin ternyata palsu. Mereka berhasil mengecoh saya," lapor Rita yang ternyata sudah berada di hadapan tuan Burhan.


"Tidak masalah, kita bisa mendapatkannya lain waktu," jawab tuan Burhan santai walaupun hatinya kesal bukan main.


Ditatapnya wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu. Rita, seorang gadis yatim piatu yang di biayai oleh tuan Burhan. Umurnya mungkin tidak jauh berbeda dengan Dina, putrinya. Wajahnya lumayan cantik. Sudah ikut bekerja pada tuan Burhan sejak lulus dari kuliah. Sebagai bentuk balas budi pada tuan Burhan. Tapi kemudian ikut menjadi mata-mata bersama Joni kala itu.


"Kemarilah," ucap tuan Burhan menunjuk pahanya.


Tanpa ragu, Rita mendekati Tuan Burhan. Lantas menurut, duduk di paha tuan Burhan. Sungguh hal itu sudah seperti hal yang biasa mereka lakukan.


"Apa kamu merindukan malam panas kita?" tanya tuan Burhan sambil tangannya sudah mulai bergerilya di paha Rita.


"Tentu saja, Tuan."


Tuan Burhan menyeringai. Dia memang perlu hiburan saat ini. Dan hiburannya sudah ada di depan mata. Dan ternyata oh ternyata Rita adalah partner ranjang tuan Burhan selama ini.


*****


"Aku akan bekerja di tempat yang sama denganmu. Mereka memecatku."


Begitulah pesan yang Stella kirim kepada Heri. "Benarkah? Wah senang dong bisa ketemu tiap saat."


"Tentu saja. Malam ini kita bertemu di tempat biasa. Bersenang-senang seperti biasa."


"Tentu saja. Sampai bertemu nanti malam kalau begitu."


Senyum mengembang seketika di wajah Stella. Membayangkan malam panas yang akan mereka lewati malam ini.


******


"Beneran Rita dan Stella dipecat?" tanya Nina.


Karin hanya mengangguk.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika mereka adalah pelakunya " kembali Nina berkata.


"Aku juga. Aku terkejut ketika Max memberitahuku siapa pelakunya."


"Heran ya kurang apa sih kantor ini kepada mereka. Yang aku tahu kantor ini benar-benar mensejahterakan para karyawannya. Bahkan ada pinjaman yang bisa diajukan jika karyawan dalam kondisi darurat keuangan."


"Itu namanya kurang ajar, bu Direktur," canda Karin.


"Benar Rin katamu, kurang ajar," Nina ikut tersenyum mendengar ocehan temannya itu.


Keduanya sedang berada di ruangan Nina. Mengerjakan berkas-berkas mereka.


"Berarti ada lowongan dong," ucap Karin.


"Buat gantiin Rita mau cari yang baru atau ngambil orang lama?"


"Gimana kalau Neni, dia lumayan oke. Pekerjaannya pun boleh dibilang bagus."


"Boleh juga. Aku merasa kalau dia punya potensi. Kinerjanya bagus seperti katamu," tambah Nina.


"Kalau kamu setuju. Aku akan turun memberitahunya. Kita tidak bisa lama-lama membiarkan posisi Rita kosong. Kita juga yang repot nantinya."


"Baik kamu sàja yang urus. Beri dia satu bulan percobaan, kita lihat bagaimana dia menghandle posisi Rita."


"Oke."


*******


Hari ini adalah keberangkatan Mike untuk liburan palsunya. Terapi berkedok liburan yang telah mereka rencanakan beberapa waktu lalu. Dan ternyata mereka mengikuti saran Max, untuk mengirim Mike ke Korea. Seperti biasa dia akan transit di Singapura. Lantas kembali ke Bandung.

__ADS_1


Semua berjalan lancar pada awalnya. Hingga suatu siang, ponsel Max berdering. Dia mengerutkan dahinya. Sebuah panggilan dari nomor asing muncul di layar ponselnya.


"Ya, halo. Maaf dengan siapa ini?"


" Ha....halo, bisa bicara dengan tuan Max Aldrian?" terdengar suara seorang gadis di seberang. Suaranya terdengar panik dan ketakutan.


"Ya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tuan, bisakah Tuan menolong Tuan Doni. Beberapa orang membawanya dengan paksa dari kantor," kembali suara gadis itu terdengar panik.


"Maksud Anda?"


"Saya akan jelaskan nanti. Bisakah Tuan menolong tuan Doni dulu. Saya takut terjadi apa-apa dengannya."


"Baiklah. Apakah kamu tahu ke mana mereka membawa Doni?"


"Itu, itu saya tidak tahu. Tapi saya mempunyai plat nomor mobil mereka."


"Baiklah kirimkan nomor plat itu kepadaku. Bisa saya tahu dengan siapa saya berbicara."


"Saya Maya, sebentar akan saya kirimkan nomor platnya."


Tuuut, sambungan terputus.


"Maya? Bukankah dia sekretaris Mike?"


Tiiing, sebuah pesan masuk. Sebuah nomor plat mobil tertulis di pesan itu.


"Halo, lacaklah nomor plat ini. Cari dan temukan di mana lokasinya," ucap Max memberi perintah pada anak buahnya.


"Ada apa?" tanya Joon ketika melihat wajah Max yang terlihat panik saat memasuki ruangannya.


"Ada masalah. Doni diculik."


"Maksudmu?" tanya Joon yang kini menghentikan aktivitasnya. Memeriksa berkas dan menandatanganinya.


"Maya menelepon. Dia bilang Doni dibawa paksa oleh orang yang tidak dikenal dari kantor."


"Kamu sudah menyelidikinya?"


"Ronald, sedang bergerak melacak plat mobil yang digunakan untuk membawa Doni."


Joon menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Sedang Max duduk di depan meja kerjanya. Menunggu laporan dari anak buahnya yang bernama Ronald.


"Ya, halo Ronald. Apa kamu menemukannya?"


"Ya tuan, kami menemukannya mobil itu. Orang yang Anda cari sepertinya sedang mereka sekap. Kami harus bagaimana?"


"Baik tuan" jawab Ronald.


"Bagaimana?" tanya Joon.


"Mereka menemukannya. Aku menyuruh mereka untuk membebaskan Doni. Kalau menunggu kita, akan kelamaan. Doni sudah menghilang 3 jam. Takutnya mereka melakukan sesuatu yang buruk pada Doni."


"Lagi pula kita juga tidak bisa menunjukkan diri kita pada mereka. Itu bisa mengancam keselamatan orang terdekat kita. Belum saatnya," tambah Joon.


"Bos benar. Kita juga belum tahu siapa pelaku di balik penculikan Doni. Ini sangat mencurigakan."


"Aku akan mencoba meretas CCTV kantor Mike," ucap Joon.


Meraih laptopnya. Lantas memulai aksinya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Hingga....


"Heri?"


"Heri? Maksudmu Heri yang waktu itu?"


Joon mengangguk. Lantas membalikkan layar laptopnya agar menghadap Max.


"Bos benar. Ini Heri. Tapi kenapa dia menculik Doni? Masak iya dia alih profesi jadi penjahat?" ucap Max tidak percaya.


"Mungkin saja dia sangat frustrasi karena tidak punya pekerjaan. Jadi alih profesi jadi penjahat."


"Itu karena Bos memblacklist namanya dari dunia perbisnisan."


"Siapa suruh dia mencuri dan melukai Nina."


"Iya-iya, terserah Boslah pokoknya."


Obrolan absurd mereka terhenti ketika ponsel Max berdering. Dan nama Ronald tertera di sana. Max langsung mengangkatnya.


"Iya Ron, bagaimana?"


"Kami berhasil menyelamatkannya, Tuan. Tapi dia sepertinya mengalami luka yang cukup parah."


"Bawa dia ke rumah sakit. Aku akan menyusul segera."


"Doni dibawa ke rumah sakit. Katanya lukanya agak parah."


"Ayo kita pergi kalau begitu."

__ADS_1


Keduanya lantas keluar dari ruangan Joon. Menyusul Ronald yang membawa Doni kerumah sakit.


"Kalian mau ke mana?" tanya Nina dan Karin yang bertemu mereka di lobi.


Jam 7 malam, memang sudah waktunya pulang.


"Mau ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit?" Karin yang bertanya.


"Eh itu Doni terluka. Dia baru saja diculik."


"Ha? Doni asistennya Mike, temanmu itu?


"He em."


Jawab Joon dan Max hampir bersamaan.


"Parahkah?"


"Entahlah. Ini kita juga baru mau melihatnya. Mau ikut?" tawar Max.


"Boleh juga tu. Lihat jalanan waktu malam."


"Haisssh, sudah kaya orang kurang piknik saja kalian ini. Jalanan aja pakai diliatin," timpal Joon.


"Lah baru tahu ya kalau kita ini kurang piknik."


"Perlu liburan kayaknya ini Bos."


"Ambil liburan yuk akhir tahun ke Korea. Sambil nonton BTS," ajak Karin ke Nina. Kedua pria itu seketika memutar matanya malas.


"Korea lagi. Korea lagi," protes Max.


"Ihh diam kenapa. Lagian kita kan nabung dulu. Nggak minta dibayarin kalian," kali Karin yang berdebat.


"Sudah-sudah jadi ke rumah sakit nggak?" Nina melerai.


"Jadi dong," jawab Max dan Karin bersamaan.


Dan disinilah mereka kembali. Di UGD sebuah rumah sakit. "Bagaimana keadaannya" tanya Max kepada Ronald yang menunggu di sana.


"Tuan itu mengalami retak di tangan kanannya. Juga memar dan lebam. Serta ada beberapa jahitan di kepalanya. Mereka lumayan juga menghajar tuan itu," jelas Ronald.


"Namanya Doni. Asisten Michael Mahardika."


"Apa kalian melihat orang yang telah menculik Doni?" kali ini Joon bertanya.


"Jumlah mereka lumayan banyak tuan. Tapi sepertinya ada satu orang yang menjadi pimpinan mereka?"


"Apakah orang ini? tanya Max sambil menunjukkan foto Heri di ponselnya.


"Iya betul, Tuan. Dia orangnya."


Max dan Joon saling berpandangan. "Ada masalah?" tanya Nina setelah keluar dari ruang di mana Doni dirawat.


"Ulah Heri lagi."


"Maksudmu? Heri yang menculik Doni?"


Ketiga pria itu menganggukkan kepalanya.


"Tujuannya apa? Kita kan tidak punya hubungan apa-apa dengan Doni selain urusan bisnis."


"Itu yang sedang kita selidiki."


"Oke Ronald. Istirahatlah dengan yang lain. Bergantilah jaga dengan yang lain. Sementara kami akan ada di sini."


"Baik, Tuan. Saya akan menyuruh yang lain untuk menggantikan kami." Joon dan Max hanya mengangguk.


Doni telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter berkata retak di tangan kanan Doni tidak terlalu parah. Jadi hanya perlu diperban dalam seminggu ke depan. Untuk mengurangi pergerakan di area tangan yang retak. Doni masih belum siuman ketika dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia dibius untuk mengurangi rasa sakit ketika para dokter itu harus menjahit beberapa luka di bagian kepala Doni.


"Siapa yang akan menungguinya?"


"Katamu orang tuanya ada di Bandung."


"Aku sudah menelepon Maya. Katanya dia akan menelepon pacarnya Doni. Dia sedang menuju kemari."


"Maya. Sekretarisnya Mike. Dia yang menelepon Max tadi siang. Memberitahu jika Doni diculik. Jadi kita bisa bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Kalau tidak. Entah apa yang akan terjadi pada Doni," jelas Joon.


"Tumben dia hari ini ngomongnya banyak," batin Nina.


"Doni masih tidur. By the way aku lapar," ucap Karin manja.


"Ya sama kita juga lapar. Belum makan."


"Lalu Doni bagaimana?"


"Tunggu dulu, aku akan menghubungi Riko. Dia tadi berjaga di depan. Biar dia ke sini untuk menjaga Doni sebentar. Selagi kita pergi makan."

__ADS_1


Dan tak lama keempatnya sudah duduk di sebuah warung makan pinggir jalan.


******


__ADS_2