Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 84


__ADS_3

Nina sedang menikmati makanannya. Makan pagi jelas bukan. Makan siang kok yo hampir jam 2. Wislah mboh sing penting makan katanya.


Tenaganya benar-benar terkuras habis. Setelah entah berapa lama ia harus melayani na*** sang suami. Yang di hari pertama berhasil mencetak gol. Pria itu langsung berubah menjadi singa yang kelaparan.


Bahkan tadi di kamar mandi. Jika ia tidak mengeluh lapar dan dingin. Mungkin Lee Joon belum mau melepaskannya. Nina benar-benar geleng-geleng kepala melihat pria yang kini duduk di depannya tengah menyantap spagetti aglio olio-nya dengan nikmat.


Sesekali memandangi wajah Nina dengan senyum tak lekang dari bibirnya. Wajahnya terlihat begitu puas dengan binar bahagia yang seolah tidak ada habisnya.


Sementara Nina menyantap makanannya dengan malas. Dia merasa semua tulangnya remuk. Lelah bukan main. Pria di hadapannya ini benar-benar sudah "menghajarnya" habis-habisan


"Habiskan makananmu. Kamu memerlukan tenaga yang banyak untuk menghadapiku," ucap Joon dengan senyum di bibirnya.


"Haiiisssh. Tidak bisakah kita libur dulu. Kamu pikir ini perang apa?" jawab Nina bersungut-sungut.


"Oh tidak bisa. Lagipula ini memang perang kok. Tapi perang yang nikmat dan bikin ketagihan," balas Joon dengan ekspresi mesumnya. Nina seketika mendengus kesal.


"Makan dan habiskan. Atau kamu yang aku makan di meja ini," goda Lee Joon.


"Hubbbyyyy!" teriak Nina yang disambut kekehan tawa dari Lee Joon.


"Joon saja yang amatiran sudah membuatku remuk redam. Apa kabar Karin yang harus menghadapi Max yang sudah pro dengan jam terbang sangat tinggi," batin Nina sambil menyuapkan aglio olio-nya ke dalam mulutnya.


Seperti batin Nina. Di unit sebelah. Tepatnya di kamar Max. Karin benar-benar kewalahan menghadapi Max. Terhitung sejak semalam hingga saat ini menunjukkan pukul 2 siang. Max belum mau melepaskan Karin dari kungkungannya.


Max yang hampir setahun puasa. Benar-benar meluapkan has***nya yang dia tahan selama itu. Mereka berhenti hanya untuk sarapan dan makan siang. Setelah acara makan selesai. Max kembali menerkam Karin.


"Sebentar lagi sayang," ucap Max sambil terus memacu tubuhnya.


Namun herannya Karin. Meskipun bibirnya terus minta berhenti tapi tak lama iapun kembali mende*** nikmat. Tatkala Max terus memacu dirinya dengan lembut dan penuh cinta.


"Bisa aku pastikan, aku tidak akan bisa berjalan besok pagi," batin Karin.


"Oh sh*it. Kenapa istriku begitu nikmat. Aku bahkan tidak bisa berhenti untuk terus menikmati tubuh indahnya. Astaga ini benar-benar luar biasa," batin Max sambil terus memacu tubuh Karin.


Membawanya terbang, melintasi cakrawala. Dan bersama-sama menikmati indahnya surga dunia yang baru saja mulai mereka rasakan.


*****


Hari berganti. Pesta pernikahan Karin dan Max sukses digelar di tempat yang sama dengan venue pesta pernikahan Lee Joon dan Nina. Tentu dengan konsep yang berbeda. Karin menyukai hal-hal yañg mewah.


Terlihat jelas dari dekorasi pesta pernikahan. Dan juga gaun pengantin yang ekornya menjuntai panjang. Gaun yang juga dibuat oleh Dina, kakaknya Nina.


Ya, memang orang yañg paling sibuk mungkin adalah Dina. Dalam waktu tak kurang dari 2 bulan harus membuat 4 gaun pengantin. Untuk Nina dan Karin sudah beres. Berikutnya untuk dirinya sendiri yang harus siap dalam 3 minggu ke depan. Dan yang terakhir untuk Maya untuk pernikahannya bulan depan.


Setelah pesta pernikahan Karin dan Max. Kedua pasang pengantin baru itu akhirnya memutuskan untuk mulai masuk kerja. Pekerjaan mereka harus segera di kerjakan. Jika tidak akan mengganggu rencana honeymoon berjamaah mereka.


Kedua pria itu nampak semakin bersinar setelah menikah. Wajah bahagia jelas tergambar di wajah tampan mereka. Membuat para karyawan semakin bersemangat untuk menggosipkan bos tampannya itu. Seperti biasa para pria itu tidak memperdulikannya.


Nina dan Karin hari itu makan siang di kantin seperti biasanya. Ditemani Dita dan Nindy seperti biasa. Dita dan Nindy saling berpandangan melihat Nina dan Karin yang nampak begitu lesu.


"Kenapa dengan kalian?" tanya Dita heran. Nina dan Karin hanya saling pandang kemudian sama-sama menghela nafas.


"Mereka pasti kewalahan menghadapi suami mereka," tebak Nindy dan skak mat tepat di sasarannya.


Nina dan Karin semakin terlihat lesu. Lelah sekali mereka rasakan.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Dita memastikan.


"Sepertinya bener deh Mbak omonganku yang kemarin. Kalau suami mereka bakalan betah berjam-jam," bisik Nindy pada Dita dengan kekehan kecil keluar dari bibir Nindy. Dita sontak mengulum senyumnya mendengar ucapan Nindy.


"Aduh, pengennya tidur seharian tanpa ada yang ngganggu," keluh Karin yang langsung diangguki oleh Nina.


"Dia baru melepaskanku pagi ini," keluh Karin.


"Sama," balas Nina pelan. Obrolan kedua pengantin baru itu membuat Dita dan Nindy tertawa terbahak-bahak.


"Jangan tertawa!" ucap Karin kesal. Bukannya berhenti, tawa Dita dan Nindy justru semakin kencang.


"Dasar teman gak ada akhlak. Teman menderita kalian malah tertawa," sungut Karin kembali.


"Menderita apanya? Wong tak jamin kalian menikmatinya kok. Iya nggak?" jawab Nindy, yang membuat wajah Nina dan Karin merah karena malu. Ketahuan jika mereka sebetulnya juga menyukai hal yang baru itu.


"Haiishh kamu ini Nindy," sahut Nina dengan wajah meronanya.


"Ha, ha, ha, Mbak lihat wajah pengantin baru kita. Sudah seperti kepiting rebus. Saking malunya," teriak Nindy keñcang. Nina dan Karin benar-benar merasa malu dengan ulah Nindy.


"Sudah, sudah jangan digodain terus. Kasihan. Kayak kita nggak pernah mengalaminya saja," ucap Dita.


"Iya sih Mbak. Tapi kayaknya kita dulu nggak parah-parah amat deh seperti mereka," jawab Nindy.


"Ya tentu saja beda. Lihat dong siapa suami mereka. Mereka bibit unggul kualitas premium " canda Dita yang langsung mendapat pelototan mata dari Nina dan Karin.


"Ha, ha, ha Mbak Dita benar. Plus mereka berdua limited edition," tambah Nindy. Tawa keduanya pecah seketika.


"Kalian pikir suami kita tas branded keluaran terbaru apa," ucap Nina.


"Aiihhhh anak ini. Benar-benar jadi nggak beres setelah nikah " tambah Karin.


Kedua pria itu kelimpungan mencari istri mereka masing-masing. Setelah makan siang dengan klien dan kembali ke kantor. Mereka tidak menemukan istri mereka di ruangan masing-masing.


Mereka sudah bertanya kepada Nindy dan Dita namun keduanya mengaku melihat Karin dan Nina masuk ke ruangan Nina setelah makan siang mereka.


Hingga Joon teringat ada satu tempat yang belum dirinya cari. Keduanya melongo melihat kedua istri mereka tidur dengan lelap di kamar rahasia di ruangan Nina.


"Aku tidak tahu kamu membangun ini di ruangan istrimu Bos," ucap Max.


"Ini rahasia. Mereka sepertinya benar-benar kelelahan," gumam Joon.


"Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku setelah berhasil mencetak gol kemarin," kata Joon lagi. Max pun ikut mengangguk.


"Aku juga sama Bos," sahut Max.


"Biarlah mereka tidur dulu di sini. Sepertinya kamu harus punya satu yang seperti ini di ruangan istrimu. Buat jaga-jaga," ucap Joon sambil menaikturunkan alisnya.


"Sepertinya Bos benar. Aku akan membuatnya dalam waktu dekat ini," sahut Max.


Minggu itu pun berlalu. Minggu ini adalah keputusan sidang pengadilan tuan Burhan ayah Dina.


Mereka semua ikut menghadiri sidang untuk menunjukkan dukungan kepada Dina dan Nina. Sidang putusan itu tidak berlangsung lama. Karena banyaknya bukti yang memberatkan tuan Burhan. Sehingga majelis hakim tidak dapat menolak tuntutan jaksa penuntut umum.


Mereka menginginkan terdakwa dihukum dengan hukuman yang paling berat yaitu hukuman penjara seumur hidup atau kalau bisa hukuman mati malah. Hal itu membuat Dina dan Nina langsung menangis di pelukan Doni dan Joon.

__ADS_1


Namun majelis hakim lantas mempertimbangkan bahwa pihak Mike yang mewakili korban sudah memaafkan perbuatan tersangka dan hanya ingin melanjutkan proses persidangan yang sudah terlanjur bergulir.


Juga pernyataan bahwa tersangka telah menyesali perbuatannya telah menghilangkan dua nyawa dengan sengaja dan terencana. Sehingga majelis hakim memberikan hukuman 20 tahun penjara potong masa tahanan pada tuan Burhanudin Affandi.


Dina dan Nina menangis pilu. Sedang tuan Burhan hanya bisa menundukkan kepalanya sambil meneteskan air matanya. Menyatakan menerima putusan pengadilan tanpa ingin mengajukan banding kepada majelis hakim.


"Sudah sedihnya jangan kelamaan. Setidaknya kamu masih menemuinya," hibur Joon.


"Tapi papa bilang dia tidak ingin bertemu dengan aku dan Mbak Dina" jawab Nina masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Saat ini mereka sudah duduk di sofa bed ruang tengah apartemen mereka. Setelah mendengar putusan hakim mereka semua langsung pulang. Karena tuan Burhan menolak untuk bertemu dengan siapapun. Termasuk Dina dan Nina.


Joon menghela nafasnya. Dia teringat ketika tiba-tiba tuan Burhan menghubunginya untuk bertemu.


Flashback on


"Ada yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" tanya Joon dingin.


"Kamu benar-benar duplikat ayahmu. Dingin dan tidak berperasaan, itulah kesanku padamu waktu pertama bertemu. Namun melihat betapa kamu mencintai Nina mungkin penilaianku akan sedikit berubah" ucap Burhan.


"Jangan bertele-tele tuan Burhan," ucap Joon. Sebenarnya dia tidak terlalu suka berhadapan dengan Burhan entah kenapa. Ucapan Joon membuat Burhan menghela nafasnya.


"Bujuk Nina agar berhenti menemuiku," ucapnya pelan.Joon mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan Burhan.


"Berhubungan dengan seorang narapidana hanya akan mencoreng nama baiknya. Aku tidak ingin kedua putriku dikaitkan dengan kejahatan yang telah aku lakukan. Mereka tidak ada hubungannya dengan kejahatanku. Dan aku tidak mau mereka ikut menerima imbas dari perbuatanku di masa lalu," jelas Burhan. Joon sedikit terkejut dengan sikap Burhan yang begitu menyayangi kedua putrinya.


"Jika Anda begitu menyayangi mereka mengapa Anda melakukan kejahatan yang seharusnya bisa Anda hindari?" tanya Joon heran mengapa baru sekarang Burhan ingat dengan kedua putrinya.


"Aku khilaf hingga tidak sadar bahwa aku sudah memiliki harta yang paling berharga di dunia ini," jawabnya sendu.


Joon hanya bisa menghela nafasnya. Khilaf, ya satu kata itu benar-benar bisa menghancurkan seseorang. Sama halnya seperti yang pernah terjadi pada dirinya.


"Sejujurnya saya sendiri tidak terlalu peduli dengan yang namanya nama baik ataupun reputasi. Karena itu hanya berhubungan dengan penilaian orang lain kepada kita. Anda tahu siapa saya di masa lalu. Saya tidak peduli dengan semua itu. Yang terpenting bagi saya adalah orang yang saya cintai bahagia. Saya tidak peduli dengan yang lain," jelas Joon. Burhan hanya bisa terdiam mendengar semua perkataan Joon.


"Oh Sofia, putramu benar-benar luar biasa," bisik Burhan dalam hati.


"Jika tidak ada lagi yang ingin Anda sampaikan saya permisi," ucap Joon sambil berlalu dari hadapan Burhan. Ketika Joon sudah diluar ruangan. Dia mendengar Burhan terbatuk-batuk.


"Ada masalah dengan kesehatannya?" tanya Joon pada petugas yang berjaga.


"Dia terus mengalami batuk dalam beberapa minggu terakhir ini. Namun menolak untuk diperiksa dan diobati," jawab petugas itu.


"Laporkan kepadaku jika ada sesuatu yang serius terjadi padanya," perintah Joon. Petugas itu mengangguk paham.


Flashback off


******


Hai, hai, hai up lagi readers,


Jangan lupa dukungannya ya para readers yang budiman. Seperti biasa cukup like, vote, gift and comment,


Terima kasih atas dukungannya,


Happy reading and salam sayang dari author, muah 😘😘😘


**

__ADS_1


__ADS_2