
Braaakkkkk,
Bunyi pintu ruang UGD dibuka. Dengan cepat para perawat itu mendorong brankar pasien dengan Nina diatasnya. Terus meringis menahan sakit di perutnya sejak tadi.Tangan Jae Kyung tak lepas dari genggamannya.
Setelah Nina merasa tidak tahan dengan rasa sakit di perutnya. Akhirnya dia menuruti Jae Kyung untuk pergi ke rumah sakit. Jae Kyung jelas panik luar biasa. Seumur-umur belum pernah dia menghadapi wanita yang akan melahirkan.
Dia berusaha terus fokus pada kemudinya ketika dia terus mendengar ringisan wanita itu di kursi belakang. Ditemani bik Sumi yang terus berusaha menenangkan dan memberi petunjuk kepada Nina guna mengurangi rasa sakitnya.
"Tarik nafas Non. Pelan-pelan. Lalu hembuskan. Jangan mengejang dulu," ucap Bik Sumi berkali-kali.
"Aduh Bik, sakit," rintih Nina. Jae Kyung yang duduk di kursi kemudi makin panik dibuatnya.
Begitu ia tiba di UGD, dia langsung berteriak memanggil perawat yang ada untuk segera menolong kakak iparnya.
Jae Kyung sempat berhenti di pintu UGD, dia tahu tidak boleh masuk. Tapi tangan Nina dan tatapan mata Nina seolah meminta Jae Kyung untuk masuk ke dalam.
"Hubungi semua orang Bik," teriak Jae Kyung sebelum ikut masuk ke ruang UGD.
Di dalam, Jae Kyung bener-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya menggenggam tangan Nina. Seolah ikut menguatkan agar Nina terus bertahan.
"Jangan pergi sampai Lee Joon datang aku mohon," ucap Nina ditengah ringisan dan usahanya menahan sakit. Yang semakin lama semakin tidak karuan rasanya.
"Aku akan di sini jangan khawatir," ucap Jae Kyung.
"Suamimu akan segera datang," ucap Jae Kyung lagi.
"Ini sudah bukaan 7" ucap seorang dokter wanita. Nina jelas terkejut ketika dokter wanita itu memasukkan tangannya ke dalam miliknya untuk mengecek pembukaan rahimnya. Rasanya sungguh sakit menambah deretan rasa sakit yang terus melandanya.
"Hubungi dokter Rita segera. Dia pasien dokter Rita dan ini kehamilan kembar. Bawa dia masuk ke ruang bersalin. Dia menginginkan persalinan normal," deretan informasi dan perintah terus terdengar di ruang itu.
Tak lama Nina sudah dipindahkan ke ruang bersalin. Jelas dengan suasana yang masih sama. Beberapa perawat tampak menyiapkan perlengkapan yang Nina dan Jae Kyung sendiri tidak tahu apa.
Tubuh bagian bawah Nina sudah polos. Hanya ditutupi selimut khas rumah sakit. Namun detik berikutnya selimut itu sudah berganti dengan kain putih. Para perawat juga sudah memakai perlengkapannya masing-masing. Baju seperti orang mau operasi, hair caps, sarung tangan medis serta masker yang menutup sebagian besar wajah mereka. Semua tampak siap menunggu perintah.
"Jay..." ucap Nina lirih. Mengalihkan pandangan Jae Kyung dari menatap keseluruhan ruang bersalin itu. Khawatir dan panik. Dua kata yang mampu mewakili perasaan Jae Kyung saat ini.
"Ya?" Jae Kyung langsung menatap Nina. Wanita itu sedikit mendongak karena posisi Jae Kyung tepat di atas kepalanya. Agar Jae Kyung bisa menggenggam kedua tangan Nina. Mencoba menggantikan sementara tempat sang kakak. Untuk memberikan support kepada Nina.
"Jangan pergi jika Lee Joon tidak datang. Akan susah sampai ke sini di saat jam seperti ini," ucap Nina ditengah menarik nafas dan menghembuskan nafas.
"Dia pasti datang tepat waktu. Dia akan melakukan apapun untuk sampai kesini," uca Jae Kyung menenangkan.
"Aahhhhhhh," ringis Nina ketika rasa sakit itu datang lagi. Membuat pegangan tangan Nina menguat dalam genggaman tangan Jae Kyung.
"Ya Allah sesakit inikah rasanya melahirkan. Astagfirullah al adzim," bisik Nina dalam hatinya.
Dan seperti yang Jae Kyung katakan. Lee Joon akan melakukan apapun untuk sampai ke rumah sakit. Mengingat pengalaman terdahulu. Jelas dia tidak bisa membawa mobilnya melintasi padatnya jalanan pelabuhan Tanjung Priok.
__ADS_1
Hingga akhirnya dia memilih menggunakan ojek konvensional lagi. Menunggu ojol akan membutuhkan waktu lebih lama. Dia langsung melesat meninggalkan pelabuhan peti kemas terbesar se-Indonesia itu. Setelah memberitahu Doni situasinya.
"Pergilah. Semoga semua berjalan lancar," doa Doni. Yang dijawab anggukan Lee Joon.
Lee Joon begitu khawatir ketika bik Sumi menghubungi hanya mengatakan, "Non Nina mau melahirkan. Sekarang ada di rumah sakit biasanya,"
Lee Joon panik bukan kepalang. Dia pikir tengah menyelesaikan semua dinas lapangannya agar bisa fokus menemani Nina jika sudah masuk bulan kelahiran bayi-bayinya.
"Kalian sudah tidak sabar ingin melihat dunia rupanya," bisik hati Lee Joon.
Bisa dibayangkan jauhnya jarak yang ditempuh dari Tanjung Priok ke Jakarta Pusat.
(Kata eike jauh nggak tahu deh menurut kalian)
Dokter Rita masuk sudah berganti pakaian. Sejenak melihat laporan medis Nina. Lantas mengecek pembukaan rahim Nina. Kembali Nina menegang kala dokter Rita mengecek pembukaan rahimnya menggunakan jarinya.
"Sepertinya si kembar sudah tidak sabar ingin melihat dunia. Jadi mereka akan lahir lebih awal. Seperti keinginan Ibu. Kita akan mencoba persalinan normal. Karena kepala bayinya pun sudah teraba. Posisinya sudah siap. Jadi kita akan menunggu sebentar lagi sampai bukaannya penuh. Ingat yang semua Ibu pelajari saat senam hamil dulu ya. Jangan mengangkat bok***, jangan memejamkan mata saat mengejang. Oke Ibu," jelas dokter Rita panjang lebar.
Yang intinya jelas Nina tidak paham.Karena lebih fokus pada rasa ingin mengejang yang setiap saat datang menerpa. Membuat Nina meraih apapun untuk mengurangi rasa sakitnya.
Tak jarang dia membenamkan kukunya ke dalam genggaman tangan Jae Kyung. Membuat pria itu ikut meringis entah untuk yang ke berapa kali.
Suasana tiba-tiba semakin heboh. Ketika Nina mengejang dan sesuatu terasa tumpah di bawah sana.
"Dok, air ketubannya pecah," ucap seorang perawat. Dan kembali dokter Rita mengecek pembukaan rahim Nina.
"Persiapkan semua kemungkinan pasien akan melahirkan sebentar lagi. Dua set. Ini kelahiran kembar," perintah dokter Rita lagi. Dan para perawat dengan sigap langsung bergerak menyiapkan perintah dokter Rita.
"Ketuban sudah pecah Bu. Dan kepala si kembar sudah terlihat. Kita akan masuk ke proses persalinan sebentar lagi. Begitu ada keinginan mengejang. Tarik nafas yang panjang lewat hidung lalu gunakan untuk mendorong bayinya keluar. Paham?" jelas dokter Rita. Dan Nina mengangguk.
Sedang Jae Kyung semakin pucat. Masak dia yang harus menemani kakak iparnya melahirkan.
"Kamu di mana to Kak. Cepetan datang. Anakmu sudah mau lahir," teriak Jae Kyung dalam hati.
Tiba-tiba genggaman tangan Nina semakin erat. Seolah wanita itu tengah mengumpulkan semua kekuatannya. Detik berikutnya. Nina berusaha mendorong bayinya sekuat tenaga. Sambil terus mendengarkan instruksi dokter Rita dari bawah sana.
Peluh bercucuran di wajah Nina.Wajahnya memerah menahan sakit yang luar biasa. Huh, Nina menghembuskan nafasnya kasar. Percobaan pertamanya gagal.
Melihat hal itu. Entah keberanian datang dari mana. Jae Kyung mencium kening Nina dengan lembut. Sesaat kedua pasang mata itu bertemu. Nina cukup terkejut dengan tindakan Jae Kyung itu.
"Berusahalah. Mereka menunggu," ucap Jae Kyung membuat Nina berkaca-kaca.
Tepat saat itu, pintu ruang bersalin dibuka dengan kasar. Dan masuklah Lee Joon. Jae Kyung menarik nafas lega. Perlahan melepas genggaman tangan Nina.
"Aku pergi. Kakak sudah datang," ucap Jae Kyung.
"Terima kasih," balas Nina lirih.
__ADS_1
"Jangan lupa upahnya. Girl you're mine," ucap Jae Kyung tersenyum, Nina pun ikut tersenyum.
Semua melongo melihat dua pria tampan saling bertukar tempat.
"La yang tadi itu adiknya to. Tak kira bapaknya si kembar," ucap dokter Rita membuat para perawat itu sadar kalau ayah si kembar sendiri adalah kembar identik.
"Sorry Dok, sudah ngapusi dokter. La kakak saya ke Priok dulu. Nggak tahunya istrinya mau melahirkan," ucap Jae Kyung sambil nyengir ke arah dokter Rita. Lantas menatap ke arah sang kakak yang sudah menggantikan posisinya tadi.
"Naik ojek lagi? Lagi-lagi kayak ayam kecemplung got gitu," ejek Jae Kyung.
"Aiisshh keluar sana," usir Lee Joon. Membuat semua kembali melongo. Bisa-bisanya bercanda di ruang bersalin.
"Iya-iya aku keluar. Selamat berdeg-degan ria. Nina semangat!!" ucap Jae Kyung berkaca-kaca. Lantas berbalik keluar dari ruang bersalin.
Ketika Jae Kyung berbalik dengan cepat Lee Joon mencium lembut kening sang istri.
"Maaf," ucapnya lirih. Nina menggeleng. Detik berikutnya kontraksi itu datang lagi. Kali ini rasanya lebih kuat. Nina menggenggam telapak tangan Lee Joon. Membenamkan kuku-kukunya di sana. Diiringi usaha Nina mendorong keluar bayinya.
Tepat ketika Jae Kyung menutup pintu. Sayup-sayup dia mendengar suara tangisan bayi Nina yang baru saja lahir.
"Welcome to the world, my girl."
Entah mengapa namun Jae Kyung yakin yang barusan lahir tadi adalah bayi perempuan Nina dan Lee Joon.
Begitu Jae Kyung ia disambut Papa, Mama, Bu Ratna. Risma dan Jonathan juga ada.Padahal setahu Jae Kyung Risma disuruh istirahat total karena kehamilan pertamanya itu nyidamnya parah sekali.Hingga Bu Ratna nyaris tidak bisa ikut mengurusi kehamilan Nina. Dan menyerahkan semua urusan kepada Mamanya.
"Bagaimana?" tanya semua orang bersamaan.
"Sudah lahir satu," ucap Jae Kyung pelan
"Alhamdullillah," ucap semua orang kembali.
Jae Kyung lansung mengambil tempat duduk di samping mamanya. Mamanya langsung menggenggam erat jemari putra bungsunya itu.
"Everything is gonna be okay. Semua akan baik-baik saja," ucap Sofia dan Jae Kyung mengangguk.
**
Up lagi readers,
Beneran deh part-nya Lee Joon dan Nina hampir habis. Author agak sedih gitu 😥😥ðŸ˜ðŸ˜ soalnya ini karya pertama author. Berat banget buat mengakhiri kisah mereka walaupun tak jamin happy ending . Tapi mau gimana lagi yang harus berakhir ya berakhirlah,
Anyway thank's sudah mampir semua,
Happy reading semua,
Love you all 😘😘😘😘
__ADS_1
*****