
Dan setelah tahu, jika Joon mematai-matai CCTV di apartemennya. Nina merubah cara berpakaiannya di rumah. Karin sempat heran dengan temannya itu. Sebab ia tahu betul dengan kebiasaan Nina. Sekian lama bersama tentu ia tahu dengan jelas sifat sahabatnya itu.
"Kamu kenapa?"
"Apanya?"
"Baju kamu."
"O..... aku merasa agak dingin akhir-akhir ini"
"Kecilin aja AC nya."
"Nggak perlu."
"Kamu nggak lagi sakit kan?"
"Nggak. Emang kenapa?"
"Kamu pakai kaos sama training. Biasanya juga pake baju kebangsaan kalau di rumah," mengacu pada tank top dan hot pants mereka.
Nina pun melirik ke CCTV. Setelah itu ia sadar. Jika Karin pun juga tengah memakai baju kebangsaan mereka. Ia langsung menarik tangan Karin ke kamar.
Tempat di mana satu-satunya yang tidak di pasangi CCTV seperti yang Joon katakan.
"Satu-satunya tempat yang tidak aku pasangi CCTV adalah kamat tidur utama. Bahkan kamar tidur tamu pun aku pasangi CCTV. Jadi bertingkahlah sesukamu ketika sedang berada di kamarmu," ucap Joon kala itu.
"Kamu gila ya?" Karin berteriak ketika Nina memberitahu jika Joon bisa meretas data alias hacker. Terlebih lagi ia bisa meretas CCTV apartemennya.
"Dia yang gila bukan aku."
"Hiii...sudah seperti psikopat aja pacarmu itu. Bos sama asisten sama gilanya. Yang satu hobi main perempuan. Yang satu hobi ngintipin orang."
Karin pun telah tahu tentang Max karena Nina langsung memberitahu Karin beberapa hari yang lalu. Dan dia sama terkejutnya dengan Nina seperti saat Nina tahu dari Joon.
"Tapi Nin, apa Joon tidak pernah bertindak yang aneh-aneh denganmu?"
"Tidak pernah sih. Hanya sebatas peluk dan cium nggak lebih. Kalau lebihpun kamu tahu kan aku bisa melakukan apa?"
"Iya juga sih. Aku percaya kok sama kamu. Cuma heran aja. Ada pria semacam pacarmu yang tahan untuk tidak berbuat lebih ketika ada kesempatan."
"Entahlah aku juga tidak tahu. Tapi dulu dengan Adam, dia juga tidak aneh-aneh denganku"
"Ye... itu karena dia udah dapat dari Mita."
"Iya juga ya."
"Pacarmu normal nggak?"
"Maksudmu?"
"Dia doyan perempuan nggak?"
"Ha? apa lagi tu?"
"Ampun dah polos banget ni anak. Maksudku dia bukan g*y atau sejenisnya. Kamu tahu nggak banyak selentingan di kantor kalau bos kita tu nggak doyan perempuan."
Nina pun melongo mendengar penjelasan sahabatmu itu. "Terus aku harus gimana. Kamu nggak nyuruh aku buat buktiin dia doyan perempuan atau nggak kan?"
"Ya nggaklah. Emang aku sahabat apaan. Nyuruh kamu tidur sama pacarmu."
Dan ucapan Karin langsung mengapatkan keplakan dari Nina.
"Sembarangan kalau ngomong."
"Kan aku sudah bilang tidak mungkin."
Keduanya lantas terdiam. Tanpa mereka sadari seseorang mengumpat di ujung sana.
"Sialan, bagaimana mereka bisa menganggapku tidak suka perempuan? Apa aku harus membuktikan kejantananku?"
Ya meski Joon tidak memasang CCTV, ternyata Joon memasang alat perekam. ia memasang jauh sebelum kedatangan Nina. Keterlaluan juga sih sebenarnya. Padahal ia sebetulnya tidak selalu memantau CCTV apartemen sejak Nina datang. Hal itu paling ia lakukan jika ia tengah rindu dengan kekasihnya itu.
Namun perubahan pakaian Nina tidak bertahan lama. Karena hanya dalam beberapa hari ia sudah kembali memakai pakaian kebangsaannya. Karin pun kembali melongo melihat sahabatnya itu kembali ke selera asal.
"Udah nggak kedinginan lagi?" tanya Karin.
__ADS_1
"Nggak!" jawab Nina ketus. Ia tahu sahabatnya itu tengah menyindirnya.
"Udah siap dipelototin tu badan sama pacarmu?"
"Bodo amat. Yang penting dia nggak megang-megang aku. Kamu tau kan aku nggak suka pura-pura. Inilah aku peduli amat dengan pandangan orang."
"Iya-iya. Peace man. Peace man," kata Karin sambil mengangkat tangannya membuat kode damai dengan jari tangannya. Dia tahu temannya itu jika sedang marah. Mereka tengah menikmati es krim di ruang tengah sambil menonton televisi. Sadar jika mereka bisa saja menjadi tontonan seseorang di seberang sana.
Padahal yang dijadikan tersangka sudah beberapa hari ini tidak sempat mengintip sang kekasih lewat CCTV, dikarenakan kesibukannya yang membludak. Tidak terbendung. Padahal dia sudah lembur tiap hari tapi berkas-berkas dihadapannya seolah tidak berkurang.
Terakhir kali ia mengintip lewat CCTV adalah, ketika gadis itu tengah melepas kaos dan trainingnya menyisakan pakaian kebangsaannya. Sambil berteriak marah ke arah CCTV. Seolah tahu seseorang tengah melihatnya. Dengan berkacak pinggang Nina berteriak
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan tentang aku. Aku nyaman dengan pakaian ini. Dan aku tetap akan memakainya. Tidak peduli denganmu!" teriak Nina.
Joon yang awalnya terkejut dengan ulah Nina lantas tertawa terpingkal-pingkal. Sebenarnya Joon sudah mulai terbiasa dengan pakaian Nina. Toh dia tidak memakainya di luar apartemennya. Tidak berbeda dengannya yang hanya memakai underwearnya ketika sedang tidur.
*****
Keduanya berjalan beriringan sambil sesekali menikmati kopi yang mereka beli di kafe bawah apartemennya.
Sudah beberapa hari ini mereka tidak di antar pak Man lagi. Mereka sudah mulai hafal dengan jalan menuju kantor. Yang jika ditempuh dengan berjalan kaki hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 20 menit.
Mengingat ternyata apartemen dan kantor mereka satu kawasan. Dan pak Man banyak memberitahu jalan-jalan tikus yang aman untuk pergi ke kantor.
Mereka memutuskan untuk berjalan kaki setiap paginya dan pulangnya jika tidak terlalu lelah. Itung-itung olahraga kata mereka.
Bruuuk,
"Aduh!" Nina meringis ketika bahunya tidak sengaja ditabrak orang. Untung kopi yang tengah di bawanya tidak tumpah ke bajunya.
"Maaf, maaf. Saya terburu-buru," suara seorang pria meminta maaf.
Sontak Nina menatap pria yang juga tengah menatapnya itu. Dan keduanya sontak berteriak
"Kamu!" ucap keduanya bersamaan.
"Kamu ngapain di sini?" kali ini Karin yang berbicara dengan tampang judesnya.
Bagaimana keduanya tidak langsung memasang muka judes ketika tahu siapa yang baru saja menabrak Nina. Dia adalah Adam mantan kekasih Nina.
" Nina? Kamu apa kabar? Maaf aku tidak sengaja. Aku ada meeting di sekitar sini. Kamu kerja di Jakarta juga?" oceh Adam sudah kayak rel kereta api aja panjangnya.
"Bukan urusan kamu!" sarkas Nina.
Entah mengapa Nina masih begitu emosi tiap kali teringat mantannya itu. Padahal ia sudah memaafkan kelakuan pria itu di masa lalu.
"Kamu masih marah sama aku? Aku benar-benar minta maaf Nin sama kamu."
"Sudah aku maafkan. Yuk Rin," kata Nina lantas mengajak Karin berlalu dari sana.
"Nin, Nina, Nina tunggu dulu! Aku belum selesai ngomong!" teriak Adam namun tidak digubris oleh Nina dan Karin.
"Bikin mood aku langsung hancur aja ketemu makhluk yang satu itu," gumam Nina yang langsung diangguki Karin
Sementara Adam tersenyum senang. Merasa ada kesempatan untuk bisa bersama Nina lagi. Belakangan Adam sangat menyesali keputusannya waktu itu . Ketika dia lebih memilih Mita daripada Nina hanya karena Mita mau memberikan yang Adam mau. Yaitu s***.
Karena akhir-akhir ini ini melihat gelagat Mita yang aneh. Hingga ketika ia selidiki ternyata Mita ada main dengan salah satu direktur di tempat Adam bekerja. Walaupun mereka belum putus tapi Adam terlanjur kecewa dengan sikap Mita.
Lebih memilih orang yang lebih kaya dibanding dirinya. Mereka menjalin kasih di belakang Adam.
Bertemu Nina lagi membuat Adam bertekad untuk mendapatkan cinta ğadis itu lagi. Senyum bahagia lantas terbit di bibir Adam. Dari id card yang sempat Adam baca ketika bertemu Nina tadi, dia tahu di mana gadis itu bekerja.
Sedang Nina langsung mengumpat sepanjang jalan menuju kantor. Dan Karin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya.
Nina masih mengomel tidak karuan ketika sudah masuk kedalam lift. Untung mereka hanya berdua ketika masuk. Tapi ketika pintu akan tertutup tiba-tiba ada yang nyelonong ikut masuk.
"Pagi Pak Wakil Presiden Direktur," sapa Karin. Joon hanya mengangguk. Karin pun menghela nafasnya. Mulai hafal dengan tingkah bosnya yang satu itu. Tapi tumben bosnya cuma sendirian. Biasanya sudah satu paket dengan asistennya.
Tapi bagus juga sih ia tidak harus bertemu Max pagi itu. Mengingat pria itu sering bersikap manis pada Karin akhir-akhir. Apa coba maksudnya kadang Karin berpikir seperti itu.
"Pagi, Baby," sapa Joon manis pada Nina. Sedang yang disapa hanya melirik pada Joon. Mengingat pertemuannya dengan Adam telah membuat mood paginya berantakan.
"Pagi juga Pak Bos," jawab Nina pada akhirnya menirukan sapaan Max pada Joon.
Perlahan Joon mendekat ke arah Nina lantas berbisik ke telinga gadis itu.
__ADS_1
"Aku senang banget deh kamu sudah kembali ke tingkah aslimu. Betul, kamu tidak perlu berpura-pura di depanku. Apalagi menutupi apapun dariku. Dan lagi aku menyukai ketika kamu memakai apa yang kalian sebut pakaian kebangsaan. Bisa menaikkan moodku." Ucapan Joon langsung membuat Nina membulatkan matanya.
"Ha? dia dengar apa yang aku bicarakan dengan Karin."
"Kamu ngintip lagi ya?"
"Tidak hanya mendengar obrolan absurd kalian."
"Itu sama saja pak Bos."
"Ya jelas beda. Kalau ngintip sembunyi-sembunyi. La ini kamu tahu kalau kamu lagi diliatin. Lagi pula aku cuma dengar nggak ngeliat," kilah Jòon penuh penekanan.
"Lee Joon," ucap Nina dengan rahang tertahan menandakan kalau ia tengah kesal. Membuat Joon puas bisa menggoda sang kekasih pagi itu.
Dan alhasil godaan Joon di pagi itu pun membuat Nina semakin kesal. Hingga ketika pintu lift terbuka di lantai 34 Nina langsung melesat keluar tanpa memperdulikan Joon.
Karin akan menyusul keluar ketika Joon tiba-tiba berkata. "Dan anda Mbak Karin, jaga ucapan anda tentang saya. Anda jangan berkata yang tidak-tidak di hadapan Nina."
Karin hanya diam tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Joon.
"Apa anda ingin saya membuktikan kalau saya normal dengan cara menghamili sahabat anda. Saya bisa membuat sahabat anda hamil saat ini juga jika anda mau. Jadi stop berpikir yang tidak-tidak tentang saya. Mbak Karin mengerti," ucap Joon dengan nada dingin sedingin es di kutub utara.
Uapan Joon yang lebih terdengar sebagai ancaman membuat Karin sadar ke mana arah pembicaraan bosnya itu.
"Alamak, si kutub utara ini dengar pembicaraan ku waktu itu. Habislah aku," batin Karin menatap horor ke arah bosnya.
"Anda mengerti, Mbak Karin?" tanya Joon lagi
"Ah iya-iya pak Bos," balas Karin gelagapan.
Detik berikutnya Karin langsung melesat keluar dari lift. Menghindari tatapan intimidasi dari bosnya kutubnya itu.
"Ganteng sih ganteng tapi kalau aura hantunya sudah keluar, semua yang ada di kuburan kalah semua," gumam Karin sambil mengedikkan bahunya ngeri.
"Ah... bagaimana dia dengar ucapanku waktu itu. Kan waktu itu kita bicaranya di kamar nggak ada CCTV di sana."
"Lagi ngelamunin apa?" suara Max mengagetkan Karin.
"Iissh satu lagi hantunya nongol, bikin kaget aja," umpat Karin di dalam hati.
"Bikin kaget aja," bentak Karin
"Kamunya yang melamun. Lagi ngelamunin apa sih?" ucap Max manis, kadang bikin hati Karin meleleh. Tapi hal itu buru-buru di sangkalnya.
"Nggak boleh suka sama ni orang. Nggak boleh suka. Bekas pakai orang lain."
Begitu ucapan Karin dalam hati tiap bertemu Max. Max memang sering hilir mudik ke lantai 34 memberikan instruksi kepada Dita, sekretaris Joon. Namun hal itu dianggap lain oleh Karin. Dipikirnya Max sering hilir mudik ke lantai 34 karena ingin bertemu Stella, pacarnya.
"Tu kan melamun lagi. Ngelamunin apa sih?"
"Ah.. nggak itu. Aku rasa aku baru saja ketemu hantu di lift deh. Soalnya hawanya horor banget. Bikin merinding."
"Kamu juga bisa lihat hantu?"
"Bisalah, orang hantunya Bos Kutubmu."
"Kayak Nina dong bisa lihat hantu waktu itu."
"Ha? Nina bisa lihat hantu? Kayaknya dia nggak bisa lihat hantu deh."
"Nggak tahu. Tapi dia bilang gitu. Nggak cuma ketemu hantu, kita juga ketemu siapa itu. Ah... aku lupa namanya. Heri kalau nggak salah waktu."
"Ha? Kalian ketemu Heri? Bagaimana ceritanya?"
Baru saja Max akan menjawab. Satu suara menyela, muncul dari belakang Max. Membuat Karin memutar mata matanya malas. Lantas melesat pergi dari sana.
"Rin, Karin tunggu dulu," teriak Max.
"Sayang kamu di sini?"
Sayup-sayup suara Stella masih terdengar di telinga Karin seiring dia menjauh dari tempat itu.
"Dasar menyebalkan," umpat Karin pelan.
***
__ADS_1