
Nina benar-benar takjub, dengan pemandangan yang ada di depan mereka. Berada di tengah jembatan kayu yang berada di atas laut wilayah pantai Ancol.
Dia bisa melihat kerlap-kerlip lampu yang menghiasi pemandangan langit malam ibukota Jakarta.
"Kamu suka, Baby?" Nina langsung mengangguk dengan senyum terkembang sempurna di wajahnya. Sejenak dia hanya terdiam menikmati pemandangan yang ada di depannya.
Disertai angin malam yang mulai bertiup. Membawa hawa dingin yang menerpa kulit tubuh mereka. Untungnya Lee Joon sempat menyuruh Nina untuk memakai salah satu jaket miliknya. Mengingat gadis itu hanya memakai kemeja lengan panjang saat berangkat tadi pagi.
Setelah puas menikmati pemandangan yang ada di depannya. Nina beralih menatap Lee Joon. Pria yang sedari tadi juga menatap Nina dengan jutaan perasaan di hatinya. Cinta yang ia rasakan pada gadis yang ada di depannya, membuat ia bertekad untuk membuat gadis itu senantiasa tersenyum.
Lama Nina menatap Lee Joon. Jelas Lee Joon bisa melihat binar cinta di mata indah gadis itu. Walau Joon bukan pria yang harus mendapat ungkapan cinta setiap hari. Tapi ia rasa perlu untuk mendengar kata cinta keluar dari bibir indah gadis yang saat ini tengah menatapnya. Ya, walau itu hanya sekali. Itu sudah cukup untuknya.
"Kamu suka?" Nina bukannya menjawab. Namun ia langsung masuk ke pelukan pria yang ada di hadapannya itu. Oh, sepertinya Joon harus tetap bersabar menunggu kata cinta keluar dari bibir Nina.
Karena sedikit banyak ia mulai paham, bahwa gadis yang ada di dalam pelukannya itu bukan jenis yang mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan.
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Semuanya. Kamu selalu ada untukku. Kamu selalu membuatku bahagia."
Joon tersenyum. "Apa sekarang kamu sudah jatuh cinta padaku?" tanya Joon menggoda. Ia tahu pertanyaannya akan sulit untuk mendapat jawaban.
Tapi tidak berapa lama, ia bisa merasakan gadis itu menganggukkan kepalanya di dada bidang Joon. Joon semakin melebarkan senyumnya. Dan membawa gadis itu semakin dalam dalam pelukannya.
***
Braaakkkk,
Suara benturan terdengar. Meski tidak terlalu keras tapi cukup membuat tubuh mungil Nina terhuyung ke belakang. Beruntung ia dengan cepat bisa mendapatkan kembali keseimbangannya. Jika tidak bisa dipastikan kalau ia akan terjengkang ke belakang.
"Maaf, Tuan. Maaf, saya tidak melihat anda," ucap Nina dengan wajah penuh rasa bersalah. Walau pria paruh baya yang ia tabrak masih bisa berdiri kokoh. Sedang Nina harus berusaha keras agar tidak terjatuh.
Namun Nina juga mengakui kalau itu semua salahnya. Langsung berlari dari toilet tanpa melihat ada orang atau tidak di depan toilet itu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Kami juga salah berada di depan toilet," kali ini seorang pria yang berada di samping pria paruh baya itu yang menjawab. Mungkin pria itu asistennya, pikir Nina.
Sedang pria paruh baya yang ditabraknya hanya menatapnya dengan tajam. Ihh... tatapannya bikin merinding. Sereeem... pikir Nina.
"Kalau begitu sekali lagi saya minta maaf. Saya permisi." Nina langsung melesat pergi dari sana. Agar hawa horor yang ia rasakan tadi cepat hilang.
Nina tengah berada di restoran untuk menemui klien bersama Joon dan Max. Dia pikir kenapa juga ia harus ikut. Urusan cari investor kan tugasnya Joon. Bukan tugasnya. Jadi dia pikir buat apa Joon mengajaknya.
"Sudah?" tanya Joon saat Nina sampai di parkiran. Di mana mobil mereka siap menunggu.
"Maaf lama. Baru nubruk hantu di depan toilet."
"Kamu bisa lihat hantu?" kali ini Max yang bertanya. Nina masih bersikap biasa saja kepada Max. Setelah Joon memberitahu siapa Max. Toh, selama ini Max tidak pernah melakukan hal yang aneh kepada Nina. Jadi buat apa dia merubah sikapnya.
Mungkin benar kata Joon. Kalau Max bisa menempatkan ke-brengsekannya pada orang yang tepat. Ooo...gadis yang tepat maksudnya.
"Bisa. Orang tadi hantunya berdiri di depan toilet."
Joon dan Max saling berpandangan. Lantas saling mengedikkan bahu. Tidak paham ke mana arah pembicaraan Nina. Mereka baru saja akan masuk ke dalam mobil ketika tiba-tiba suara seorang laki-laki terdengar.
"Wooo... lihat, siapa ini?"
Dan terkejutlah Nina dan Joon melihat Heri di depan mereka.
"Setelah membuatku jadi pengangguran dan tidak mendapat pekerjaan sampai sekarang, kamu masih bisa hidup bahagia, hah?" sarkas Heri.
Nina kembali terkejut. Heri masih menuduhnya jika dia yang membuat Heri dipecat.
"Kenapa diam? Dasar wanita sialan!" seketika Heri bergerak maju bermaksud menyerang Nina. Tapi baru saja ia akan melayangkan pukulan. Max dengan sigap menahannya lantas mendorong tubuh Heri. Membuat tubuh Heri terhuyung ke belakang.
"Jaga sikap Anda, Tuan Heri!" kali ini Joon yang bicara.
__ADS_1
"Kamu?" Sedikit terkejut dengan kehadiran Joon. Apalagi melihat Max dengan sikap waspadanya. Seolah siap menghajarnya setiap saat.
"Ya. Ini saya. Anda masih mengingat saya bukan?"
"Kamu siapa sebenarnya? Berani-beraninya ikut campur urusanku dengan perempuan sialan ini!"
"Jaga bicara Anda!" suara Max memperingatkan.
"Biarkan dia bicara, Max. Saya kekasih Nina. Dan saya akan memberitahumu sesuatu. Bukan Nina yang membuatmu di pecat. Tapi aku sendiri yang memecatmu."
Heri tentu saja terkejut. Begitu pun Nina. "Siapa kamu sebenarnya?"
"Seharusnya kamu mencari tahu dulu dengan siapa kamu mencari masalah."
"Siapa sebenarnya orang ini. Dilihat dari penampilannya dia sepertinya bukan orang sembarangan. Berbeda dengan penampilannya waktu itu," Heri membatin.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang anda lakukan sendiri," ucap Joon tajam. Emosi Heri langsung naik.
"Kurang ajar!" teriak Heri lantas menyerang Joon membabi buta. Nina memundurkan tubuhnya. Joon dengan sigap menempatkan tubuh Nina di belakangnya.
Belum juga pukulan itu sampai kepada Joon. Max dengan sigap langsung menahannya, memutar tubuh Heri lantas memitingnya. Membuat tubuh Heri tidak bisa bergerak karena Max menghimpitnya ke badan mobil mereka.
"Sudah saya bilang jangan main-main dengan saya. Atau saya bisa membuat kamu tidak bisa mendapat pekerjaan di manapun," ucap Joon setengah berbisik.
"Kamu jadi kamu yang sudah membuatku tidak bisa bekerja di mana-mana?"
Joon hanya tersenyum. Mengiyakan pertanyaan Heri. "Jadi jangan pernah menyalahkan Nina atas apa yang sudah terjadi pada anda!"
"Kurang ajar! Dasar br*n***k! Akan ku hancurkan kalian semua," raung Heri.
Raungan Heri membuat satpam di tempat itu langsung datang menghampiri. "Bawa dia pergi, Pak. Sebelum mengganggu kenyamanan pengunjung yang lain," pinta Max. Satpam restoran langsung membawa Heri pergi.
"Ingat kalian semua. Aku akan menghancurkan kalian semua. Ingat itu. Dasar br***ek," teriak Heri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Joon saat mobil sudah melaju kembali ke kantor.
"Kamu yang memecat Heri?"
Dan rupanya. Kejadian di restoran itu tidak lepas dari pengamatan pria paruh baya itu. Yang tidak lain adalah tuan Burhan. Seringai mengerikan terbit di wajahnya. Seolah menemukan celah untuk mengalahkan lawannya.
"Cari laki-laki itu. Dan tawarkan kesepakatan dengannya."
"Baik, Tuan"
Tuan Burhan sedikit pusing akhir-akhir ini. Menurut laporan anak buahnya. Departemen keuangan begitu ketat diawasi akhir-akhir ini. Di bawah direktur yang baru, mereka sama sekali tidak bisa berbuat banyak. Untuk melakukan penggelapan dana seperti ketika Joni yang memimpin departemen keuangan.
Beberapa kali anak buahnya mencoba untuk memanipulasi data. Tapi hal itu tetap saja bisa dideteksi oleh direktur yang baru ini.
Hal ini membuat tuan Burhan begitu penasaran dengan sosok direktur yang baru ini. Dia seorang wanita, masih muda. Tapi kemampuannya luar biasa. Harus Tuan Burhan akui jika kemampuan direktur yang baru ini cukup membuatnya pusing kepala.
Namun tiba-tiba ia teringat video yang dikirim salah satu anak buahnya.
"Bukankah wanita yang menabrakku tadi cukup mirip dengan wanita yang ada di video yang anak buahnya kirimkan waktu itu," guman Tuan Burhan.
Dan bisa di lihatnya jika wanita yang menabraknya itu mempunyai hubungan yang istimewa dengan Lee Joon. Dari yang Yuan Burhan lihat, bagaimana Lee Joon melindungi wanita itu, menunjukkan kalau wanita itu mempunyai posisi yang penting di sisi Lee Joon.
"Selidiki apakah wanita yang menabrakku tadi adalah direktur keuangan yang baru di LJ GROUP," perintahnya pada asistennya, setelah asistennya itu kembali di sisinya.
"Baik, Tuan,"
"Apakah dia menerimanya?"
"Iya Tuan. Dan dia bersedia untuk mulai bekerja besok."
"Bagus. Bagus."
"Dia akan jadi pion yang bagus untuk mengacaukan dan mengganggu Lee Joon," setidaknya begitulah pemikiran tuan Burhan.
__ADS_1
******
"Kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu?" tanya Nina begitu mereka memasuki ruangan Joon.
"Aku bahkan belum memberikan laporanku tentang penggelapan dana yang dilakukan oleh Heri. Tapi kantor sudah memecatnya," kembali Nina bertanya. Rasa ingin tahunya sangat tinggi soal hal ini.
Joon terlihat santai sambil meraih laptopnya.
"Lee Joon aku sedang bicara," ucap Nina gemas, merasa diabaikan oleh pria di hadapannya. Yang malah sibuk dengan laptopnya.
"Iya Baby, aku dengar" jawab Lee Joon sambil menyerahkan laptopnya kepada Nina.
"Apa ini?"
"Lihat saja dulu," ucap Joon lantas berdiri mengambil minuman ringan dari lemari pendingin di sudut ruangan.
"Ini...." Nina membulatkan matanya menatap ke arah laptop dan Joon bergantian.
"Kamu bisa meretas data? Kamu hacker?" tanyanya antara ragu dan ingin tahu.
"As you see," jawab Lee Joon santai
"Aku tahu kamu pasti bimbang dengan laporan itu. Jadi aku yang memecatnya."
Nina terkejut tentu saja. Tapi lebih terkejut dengan kenyataan bahwa pria di hadapannya seorang hacker.
"Sejak kapan kamu melakukannya?"
"Cukup lama. Untuk sekedar bisa mengawasi seseorang," ucap Joon dengan satu alisnya yang terangkat. Menimbulkan kesan misterius pada pria itu.
"Kamu, kamu. Apa kamu mengawasiku?" tanya Nina sedikit ragu.
"Menurutmu?" Joon balik bertanya.
Hacker yang handal bisa meretas data manapun yang ia mau. Dan dia belum tahu level pria di hadapannya ini dalam meretas data.
Kalau dilihat dari cara menjawabnya bisa dipastikan kalau Lee Joon mengawasinya selama ini. Tapi sejauh mana. Hanya hal-hal umum saja. Atau sampai hal-hal yang pribadi juga ia awasi.
Nina menatap penuh selidik pria di hadapannya itu. Yang balik menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Pakailah pakaian yang sopan walau di rumah," ucap Lee Joon santai disertai tatapan mesum ke arah Nina.
"Kamu meretas kamera CCTV di apartemen?" Nina hampir berteriak ketika mengatakan hal itu. Namun seketika dia kembali terdiam.
Kalau Jòon meretas kamera cctv apartemen berarti dia tahu semua tingkah lakunya selama ini. Oh tidak, dia kalau di apartemen seringkali hanya mengenakan tank top dan hot pants saja. Apa Joon mengetahuinya. Dia menatap horor ke arah Lee Joon. Oh tidak, ingin sekali Nina kabur dari tempat itu saat itu juga. Atau pinjem jurus menghilangkan diri ala-ala penyihir itu. Dia malu setengah mati. Apalagi melihat tatapan Lee Joon. Oh, siapa saja tolong bawa aku pergi dari sini.
"Aku sudah melihatnya Baby, sangat seksi dan menggoda," ucap Joon dengan tatapan seolah ingin menelan Nina bulat-bulat.
Nina bergidik ngeri mendengar ucapan Jòon. "Kamu tidak bisa melakukan itu. Itu area pribadi dan itu melanggar privasi," ucap Nina sambil meraih bantal sofa untuk menutupi tubuhnya. Sadar sedikit banyak pria di hadapannya ini sudah melihat tubuhnya yang hanya berbalut tank top dan hot pants, yang tentu saja mengekspos bentuk tubuhnya.
Lee Joon hanya tersenyum melihat tingkah Nina. "Tidak usah ditutupi. Aku sudah sering melihatnya."
"Sampai ingin rasanya aku mencicipinya, oh fix aku sudah tertular virus mesumnya Max," batin Joon.
"Itu kan rumahku, jadi aku bebas melakukan apapun di sana."
"Tapi kan aku tinggal di sana."
"Tidak masalah."
"Lee Joon!" teriak Nina, biasa jika sudah masuk mode kesal akut.
"Tunjukkan saja hal itu padaku. Jangan tunjukkan pada orang lain," ucap Joon dan Nina langsung membulatkan matanya.
"Dasar mesum. Kamu sudah ketularan Max ya?"
Joon mengedikkan bahunya. "Ah.... dan ngomong-ngomong soal Max. Berhati-hatilah ketika memakai "itu" dirumah. Jangan sampai Max melihatnya. Hanya aku yang boleh melihatnya."
__ADS_1
"Dasar mesum!" teriakan Nina menggelegar di ruangan Joon. Joon tersenyum. Seru sekali rasanya mengerjai gadis cantik di hadapannya itu.
*******