
Keduanya sudah duduk berdampingan di sofa ruangan Joon. Dengan Joon yang terus menatap Nina dengan jutaan perasaan bahagia yang jelas tergambar di wajahnya. Wajah Nina merona malu karena hampir setengah jam Joon sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya dari dirinya.
"Bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu?"
"Kenapa ada yang salah dengan tatapanku?"
"Nggak ada sih, cuma kamu buat aku semakin berdebar-debar saja."
Siapa juga yang tidak jadi salah tingkah, jika di tatap Joon dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan seperti itu. Bikin jantung auto maraton kayak habis lari keliling Jakarta.
Mungkin selain Nina, tidak ada orang lain yang akan menerima perlakuan seperti itu dari seorang Lee Joon.
"Aku benar-benar merindukanmu, Baby," Dan kalimat manis itu kembali terlontar dari bibir seksi Lee Joon. Yang menurut Nina sudah yang ke berapa kalinya. Entahlah. Sejenak Nina menatap Joon yang juga tengah memandang dirinya.
"Aku juga sebenarnya sangat merindukanmu, sangat merindukanmu," bisik Nina dalam hatinya.
Namun ia enggan untuk mengakuinya,
"Aku tahu kamu juga merindukanku, Baby. Aku bisa melihatnya di mata indahmu. Tapi mengapa kamu sulit sekali untuk mengakuinya lewat bibir indahmu. Padahal semua gesture tubuhmu menyiratkan jika kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Ah... sulit sekali untuk membuatmu mengakui perasaanmu kepadaku."
Monolog Joon dalam hatinya. Dengan pandangannya tetap mengunci sosok Nina di hadapannya. Sedang yang ditatap kini tengan meminum soft drink yang tadi Joon ambilkan. Mata Nina mulai mengamati ruangan Joon. Untuk menghindari mata Joon yang terus menatapnya.
"Jadi bisakah kamu memberi tahu semuanya kepadaku?" Nina berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Apa yang ingin kamu tahu? Tanyakanlah?"
Joon mulai menaikkan modenya ke mode serius. "Jadi kamu sekarang bekerja di sini?"
"Ya begitulah. LJ GROUP adalah milik papaku. Apa kamu tahu?"
Nina nyaris tersedak ludahnya sendiri. Mendengar jawaban dari Joon.
"Ha? LJ GROUP adalah milik om Lee Jae Ha, tidak mungkin. Dia pasti bohong."
"Kenapa? Kamu tidak percaya jika ini adalah milik papaku?"
"Oh itu. Aku hanya terkejut saja. Lalu sejak kapan kamu mulai bekerja di sini?"
"Beberapa bulan setelah liburan terakhirku di Jogja. Setelah aku menyelesaikan kontrakku. Apa kamu tidak melihat berita?"
Nina menggeleng.
"Lalu apa kamu yang memutasiku ke sini?" ini pertanyaan yang sangat ingin Nina ketahui jawabannya.
"Sejujurnya iya. Maafkan aku.
"Untuk?"
"Keegoisanku. Karena telah memaksamu untuk pindah ke sini. Aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak ingin jauh darimu. Maafkan aku."
Hati Nina benar-benar meleleh mendengar kejujuran Joon. Pria mana coba yang mau mengakui keegoisannya sendiri. Mungkin tidak ada yang berani melakukakannya. Nina terdiam sejenak.
"Apa kamu memaafkanku?"
"Oke, aku memaafkanmu kali ini." Senyum langsung terkembang di bibir Joon.
"Lalu untuk apa kamu menyuruhku kemari? Tidak mungkinkan kamu hanya akan menyuruhku untuk duduk saja di sini menemanimu. Aku juga tidak mau jika hanya di suruh duduk saja."
"Siapa juga yang menyuruh kamu ke sini hanya untuk duduk saja. Tapi kalau menemaniku, boleh juga tu idenya," jawab Joon sambil menaikturunkan alisnya. Mencoba menggoda Nina.
Gadis itu langsung mencubit lengan Joon.
__ADS_1
"Aaaa sakit, Baby. Ini belum apa-apa sudah KDRT aja."
Nina mendelik mendengar perkataan Joon. Bisa-bisanya bercanda saat ia sudah dalam mode serius.
"Oke, oke aku serius sekarang." Masih sambil mengusap-usap lengannya.
"Aku ingin kamu menggantikan posisi Joni. Kamu tahu Joni kan?"
"Posisi Joni. Berarti itu departemen keuangan?"
"Tapi posisi itu terlalu tinggi untukku. Aku tidak akan mampu menanganinya."
"Kenapa? Kamu bisa melakukannya di sana. Lalu apa bedanya dengan di sini?"
"Tuan Wakil presdir yang terhormat tentu saja ini berbeda. Kantor pusatmu menghandle berapa banyak kantor cabang. Aku tidak akan mampu."
"Tapi aku percaya kamu bisa melakukannya. Apa kamu sadar dengan kamu mengatakan betapa besarnya kantorku kamu sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah tanggungjawab yang juga besar. Apa aku benar?" Nina terdiam.
"Dan aku tengah mencari seseorang seperti itu. Bertanggungjawab dalam pekerjaannya."
"Kamu akan tahu apa yang sudah Joni lakukan. Bagaimana dia mengacaukan departemen keuangan. Kamu akan tahu begitu kamu menerima posisi itu."
"Lagipula apa kamu tidak penasaran dengan kasus yang pernah kamu temui hampir 2 tahun lalu?"
Kali ini Nina langsung menatap wajah Joon. Kasus itu, ya kasus itu benar-benar masih membuatnya penasaran sampai sekarang.
"Aku akan memberimu kendali penuh atas departemen keuangan jika kamu mau menerima posisi ini."
"Apa kamu tidak takut jika aku akan mencuri uangmu?" tanya Nina sambil memiringkan kepalanya.
"Ha... ha... ha, lakukanlah. Aku lebih rela kamu yang mencurinya dariku."
Tawa Joon langsung berhenti kemudian gantian dia yang menatap Nina sambil memiringkan kepalanya.
"Lakukanlah. Akan aku lihat berapa banyak yang bisa kamu curi dariku." Tantang Lee Joon.
"Lee Joon aku serius!"
"Aku juga serius, Baby. Aku lebih rela menyerahkan semuanya kepadamu daripada si breng**k itu yang mencurinya. Lagipula mana ada pencuri yang akan mengatakan kalau dia akan mencuri secara terang-terangan."
"Aku tidak sebodoh itu, Baby. Kamu tidak pernah berpikir untuk mencuri apapun dariku. Aku benar kan?"
"Apa kamu percaya padaku?"
Joon tersenyum.
"Tidak orang lain yang lebih aku percayai di dunia ini selain kamu. Bahkan papa dan mamaku saja bisa menipuku."
"Lalu bagaimana jika suatu hari aku ketahuan mencuri di kantormu."
"Kamu tidak akan mencurinya, kamu akan memintanya kepadaku. Aku jamin itu. Dan apapun yang kamu minta, aku akan berikan."
"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku minta gaji besar padamu?"
"Berapa banyak yang kamu mau?" tantang Joon
Nina tampak berpikir. "50 juta."
"Deal," jawab Jòon tanpa berpikir lagi.
"Eh... aku bercanda, berikan aku gaji standar saja. Lee Joon aku bercanda."
__ADS_1
Lee Joon tampak tak perduli. Karena dia sudah meraih ponselnya.
"Max, siapkan ruangan direktur keuangan di lantai 34."
"Hei, aku tidak bilang jika aku akan menerima posisi itu."
"Kamu akan menerimanya, Baby," ucap Joon sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Nina. Reflek, Nina langsung memundurkan tubuhnya. Namun dengan cepat Joon mengurung Nina menggunakan kedua tangannya di sandaran sofa. Nina tersudut. Sedang wajah Joon hanya beberapa senti dari wajahnya.
Sangat dekat hingga dia bisa mendengar hembusan nafas beraroma mint dari bibir Joon. Tangan Nina reflek menahan dada Joon agar tidak semakin dekat dengan tubuhnya. Dada Nina kembali berdebar kencang.
"Bagaimana Nona? Apa jawabanmu?"
Wajah Joon semakin dekat. Hidung mereka bahkan sudah saling bersentuhan. Bisa dipastikan bergerak sedikit saja bibir mereka yang selanjutnya akan bersentuhan. Nina semakin tak karuan dibuatnya. Bisa dirasakannya jika bibir lembut Joon sudah mulai menyentuh miliknya. Bahkan Joon sudah mulai memiringkan wajahnya. Bersiap untuk menciumnya. Hingga...
"Oke, oke, oke aku akan menerimanya," akhirnya Nina menjawab dengan nafas tersengal.
"Hampir saja dia menciumku lagi."
Dia pikir Joon akan menjauhkan wajahnya. Ternyata dia salah, karena sesaat kemudian Nina benar-benar merasakan pria itu kembali menciumnya. Walau hanya sekejap, namun hal itu sukses membuat jantung Nina berdisko ria. Detik berikutnya, Joon melepaskan ciumannya lantas menjauhkan tubuhnya. Kembali pada posisi duduknya.
"Ternyata bernegosiasi denganmu sangat sulit. Klienku akan sangat mudah berkata ya padaku. Tapi kamu...ck.. ck... ck.... Aku bahkan harus mengancammu agar kamu berkata ya."
Nina mendengus mendengar perkataan Joon. "Kamu menciumku bukan mengancamku."
Nina semakin memanyunkan bibirnya. Membuat Joon merasa semakin gemas.
"Ayo makan siang bersama. Bernegosiasi denganmu membuatku lapar."
Ucap Joon sambil menarik lembut tangan Nina. Membawanya menuju pintu. Dan ketika membuka pintu dilihatnya 3 orang yang nampak tengah meributkan sesuatu.
"Ada apa ini?" tanya Joon dingin. Nina dibuat heran karenanya.
"Orang ini begitu cepat berubah sifatnya. Kayak punya kepribadian ganda."
"Eh tidak apa-apa Bos, hanya sedikit salah paham saja," jawab Max gelagapan.
Karin langsung menghampiri Nina. Meneliti Nina dari atas ke bawah lantas melihat Jòon.
"Kamu nggak apa-apa kan, Nin?"
"Enggak kok. Aku nggak apa-apa. Emang kenapa?"
Bukannya menjawab Karin malah langsung berbisik ke telinga Nina dengan mata terus menatap Joon.
"Ih kamu tu sembarangan ya. Nggak kok. Nggak kayak gitu. Kamu tenang aja aku baik-baik saja."
"Max, Karin temani kami makan siang," titah Joon. Membuat Stella yang sejak tadi ada di situ mencuri-curi pandang ke arah Joon terkejut. Terlebih lagi melihat seorang wanita yang nampak asing. Namun terlihat dekat dengan Wakil Presdirnya. Membuatnya bertanya-tanya siapa wanita itu.
"Di kantin Bos?"
Joon hanya mengangguk. Lantas berjalan mendahului, lalu diikui Nina setelah di kode oleh Joon agar mengikutinya.
"Bisa kacau ini kantin kalau begini."
"Kenapa? Tanya Karin yang telah berjalan di belakang Nina dan Joon. Berbicara setengah berbisik.
"Kamu lihatlah sendiri nanti," ucap Max. Sambil melirik arlojinya.
" Belum jam makan siang sih. Tapi aku jamin kantin akan tetap heboh. Apalagi Bos membawa seorang wanita bersamanya. Apa sebenarnya tujuanmu Bos? Apa kamu ingin menunjukkan kekasihmu pada karyawanmu," batin Max.
*****
__ADS_1