Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 81


__ADS_3

Bulan berganti. Akhirnya waktu pernikahan Nina dan Joon serta Karin dan Max tiba. Mereka sama sekali tidak bisa ikut mengurusi persiapan pernikahan mereka. Persiapan pernikahan Nina diurusi oleh Risma sang adik sedang Karin diurusi oleh sang kakak.


Selain jauh dan tidak bisa mengontrol langsung semuanya sendiri. Kedua pasangan itu harus menyelesaikan seluruh pekerjaan mereka sebelum terbang ke Jogja pada H-4 sebelum acara akad nikah mereka. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya mereka.


Meskipun Dita, Nindy, asisten Jo bahkan tuan Lee juga turut membantu pekerjaan mereka. Tetap saja mereka kewalahan. Padahal merekapun tidak berencana mengambil cuti setelah mereka menikah.


Karena mereka akan mengambil cuti mereka akhir tahun. Bersamaan dengan rencana mereka untuk menonton konser BTS sekalian jalan-jalan ke Korea.


Rencana jalan-jalan mereka bersama di akhir tahun akan menjadi bulan madu berjamaah. Karena seperti yang sudah Dina katakan. Dia akan menikah setelah Nina menikah. Dan keduanya memutuskan untuk menikah sebulan setelah kedua pasangan itu resmi menikah.


Hal itu membuat Mike dan Maya ikut terkena imbasnya. Mereka yang berencana akan menikah tahun depan jadi ikut-ikutan memajukan pernikahan mereka jadi akhir tahun. Sebelum keberangkatan mereka ke Korea. Berbekal ledekan dari para calon pengantin pria. Akhirnya Mike mengambil keputusan.


"Kamu mau jadi kambing congek. Ngeliat kita yang sudah sah bisa honeymoon. Sedang kamu harus mati-matian menahan diri agar gak memakan Maya," Max mulai mengompori Mike.


"Gak asik tahu ikut orang honeymoon," tambah Doni.


"Haisshhh, kalian ini ngomporin aku ya," kesal Mike.


"Lagian ngapain sih nunggu tahun depan segala? Kayak orang nungguin tabungannya cukup buat married aja," Joon ikut mengompori.


"Kenapa kamu jadi ikut-ikutan. Orang diam tetep aja jadi orang diam. Gak usah ikut-ikutan ngomporin kayak mereka," ucap Mike.


"Aku nggak mempan ngomporin dia," bisik Joon pada Max.


"Bos mah bisanya ngomporin Nina ma klien doang. Lain nggak bisa," jawab Max. Dan seperti biasa langsung dapat keplakan dari Lee Joon.


"Serius deh Mike. Mending kamu majuin aja pernikahan kalian. Buat apa sih nunda-nunda hal yang bakal bikin kita terbang ke cakrawala. Bener nggak guys?" Max memulai jurus mautnya.


"Iya juga sih," Mike mulai goyah.


"Lagian apa kamu nggak pengen ngadon di Lotte World Hotel? Yang kelas presidential suite?" imbuh Doni.


"Ngadon?" Mike bingung dengan istilah itu.


"Alah ngadon nggak paham. Berci**** wis. Masak masih nggak paham juga. Mumpung ada yang bayarin," ucap Mike. Sambil melirik ke arah Bosnya yang langsung mendelik ke arah Max.


"Enak saja. Bayar sendiri-sendirilah. Masak kalian yang enak aku yang bayarin," ujar Joon.


"Lagian kamu kan baru dapat pengembalian aset dari tuan Burhan. Harusnya kamu yang bayarin," imbuh Joon.


"Memang iya aku baru dapat pengembalian aset. Tapi kan aku belum bisa mengaksesnya. Baru juga kemarin aku tanda tangani surat pernyataan pengembalian aset itu. Jadi semua masih dalam proses," bela Mike.


"Yah nggak jadi dapat gratisan dong," keluh Max.


"Kalau nggak gitu nggak berkurang tabunganmu Max. Mau diapain tu duit segunung," ucapan Lee Joon membuat Max hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Max memang tidak bisa berbohong soal keuangannya kepada Joon. Semenjak Nina dan Karin memegang kendali departemen keuangan.


"Okay kita bakal bayar liburan kita sendiri asalkan kamu....," kali ini Mike yang berbicara sambil menaikkan alisnya ke arah Joon. Joon langsung curiga. Sesaat kemudian Mike membisikkan sesuatu ke telinga Joon. Dan Joon langsung berkata tidak.


"Nggak mau. Aku nggak mau," ucap Joon.


"Beneran nggak mau. Kalau nggak mau biaya liburan kita kamu yang tanggung," ucap Mike.


"Kalau aku nggak mau," ujar Joon.


"Ya siap-siap saja kamu bakal dianggurin sama istri kamu habis kalian nikah," jelas Mike.


"Kok bisa?" tanya Joon bingung.

__ADS_1


"Karena jika kamu gak mau melakukan itu. Dan kamu nggak mau bayarin liburan kita. Kita bakal batalin liburan kita. Kalau liburan kita batal. Kamu bisa bayangin betapa marahnya para wanita itu. Ujung-ujungnya kamu nggak bakal dikasih jatah sama Nina," jelas Max panjang lebar. Berusaha terlihat serius padahal dia hanya berusaha mengerjai Joon.


Sebab mereka tahu pasti. Para wanita itu akan tetap pergi ke Korea. Dengan atau tanpa pengawalan para pria itu.


Joon langsung membayangkan sengsaranya dirinya jika tidak dapat jatah nanti setelah dirinya dan Nina menikah gegara dia nggak mau bayarin liburan mereka.


"Wah nggak bisa dibiarin ini," batin Joon.


"Jadi gimana? Pilih yang mana? Bayarin liburan atau melakukan permintaanku?" ucap Mike.


Joon terdiam.


"Aku akan penuhi permintaanmu," putus Joon.


"Yess!! Thank's brother," ucap Mike sambil menepuk-nepuk bahu Joon, yang langsung menekuk mukanya.


"Sebenarnya apa sih yang Mike minta Bos?" tanya Max setelah mereka keluar dari restoran tempat mereka berkumpul.


"Dia minta aku untuk memasang firewall yang sama dengan yang kita punya untuk database mereka," ucap Joon setengah berbisik.


"Tapi itu kan beresiko Bos," balas Max.


"Iya, kalau aku terdeteksi lagi habis hidupku," keluh Joon.


"Terus bagaimana? Apa tidak sebaiknya Bos bayarin saja liburan kita. Nggak bakalan ngabisin satu rekeningmu di Swiss," saran Max.


"Entahlah nanti aku pikir-pikir lagi" balas Joon sembari masuk ke mobil. Diikuti Max yang langsung membawanya kembali ke kantor.


*****


Besok adalah hari keberangkatan Nina dan yang lainnya ke Jogja. Sehingga hari ini dia memutuskan untuk menjenguk papa angkatnya. Burhan.


Hingga akhirnya diapun memantapkan hatinya untuk menemui papa angkatnya. Walaupun Dina sudah berkata jika dia berkunjung. Papanya enggan menemuinya.


"Setidaknya kita sudah mencobanya, Mbak" ucap Dina sambil menunggu petugas yang sedang memanggil papa angkatnya. Dina hanya mengangguk.


Tak lama muncullah tuan Burhan. Yang langsung terkesima melihat kedua putrinya menjenguknya. Dia langsung berbalik. Berniat tidak ingin menemui Dina dan Nina.


"Pa... Papa tidak rindukah pada kami. Apa Papa tidak rindu pada Karen?" tanya Nina yang langsung membuat Burhan berkaca-kaca.


"Pa...Karen rindu sama Papa," ucap Nina lagi. Burhan akhirnya berbalik dan bisa dia lihat, air mata yang sudah membanjiri pipi kedua putrinya.


Hancur sudah dinding pertahanan Burhan. Ia yang mati-matian menahan tangis, akhirnya tidak kuasa membendungnya lagi. Air mata itu mengalir deras di kedua belah pipinya yang sudah mulai menua.


Nina dan Dina langsung menghambur memeluk Burhan. Membuat air mata ketiganya semakin deras mengalir.


"Maafkan Papa. Maafkan Papa." Satu kalimat yang bisa Burhan ucapkan.


Kini ia sangat menyesali semua perbuatannya. Ia menyesal tidak bisa menyadari bahwa ia punya dua harta yang berharga, yang ia lupakan selama ini.


Dua putri yang seharusnya mendapat limpahan kasih sayangnya. Namun ia malah sibuk dengan dendam dan ambisinya untuk mencari kekayaan tidak peduli apapun alasannya.


******


Hari pernikahan tiba. Seluruh keluarga Nina dan Karin bersukacita dengan pernikahan mereka. Hampir seluruh keluarga memuji Nina dan Karin. Bagaimana tidak, keduanya berhasil menjerat pria tampan dan tajir menjadi suami mereka.


"Ya ampun nduk calon suamimu jan ngganteng pisan. Koyo artis," ucap beberapa saudara Nina yang datang untuk menghadiri akad nikahnya.


Nina yang tengah dirias dengan pakaian adat Jogja-pun hanya tersenyum. Ia pada awalnya protes pada Risma. Karena ternyata Risma memilih adat Jogja untuk akad nikahnya.

__ADS_1


"La katanya aku ikut saja. Nggak ada request apa-apa. Jadi ya tak ambilke adat sendiri to," bela Risma.


"Mbak kan puyeng kalau disanggul lama-lama," keluh Nina. Belum lagi dia bayangkan Joon yang pasti ngomel habis-habisan. Pakai baju adat kan biasanya gerah. Dan Joon paling nggak betah gerah.


"Ini adat Jogja, tapi pakai paes ageng Mbak. Jadi sanggulnya nggak gedhe-gedhe amat. Cuma kecil nanti sanggulnya," kali ini MUA-nya yang menjawab.


"Udah deh. Pokoknya Mbak nurut aja. Tak jamin pokoke Mbak bakal jadi pengantin paling cetar sedunia," bujuk Risma yakin. Pada akhirnya Nina hanya bisa menuruti keinginan sang adik. Memang salahnya sendiri sih tidak berpesan apapun pada adiknya itu.


"Eh dhik, tolong nanti Masmu di kasih kipas yang gedhe. Bajunya kan gerah. Nanti dia bisa ngamuk," ucap Nina. Risma langsung tertawa me dengar ucapan Nina.


"Kenapa malah ketawa?" tanya Nina yang sudah siap dengan dengan riasannya setelah hampir dua jam dirias oleh MUA.


"Segerah apapun Mas Joon tak jamin dia nggak bakalan marah. Gimana mau marah wong Mbakku cantiknya kebangetan," ucap Risma sambil membalikkan tubuh kakaknya menghadap cermin di kamarnya.


Seketika Nina melongo melihat dirinya sendiri. Tidak percaya bahwa itu adalah dirinya.


"Bagaimana? Puas tidak dengan pilihanku?" tanya Risma.


"Mbaknya cantik banget. Cocok sama Masnya. Ngganteng tenan. Lihat bule Korea pake beskap Jogja," puji sang MUA.


"Emang mbaknya sudah lihat calon suami saya?" tanya Nina heran. Soalnya dari tadi perias itu dilihatnya tidak meninggalkan dirinya sama sekali.


"Eh itu. Tapi maaf ya sebelumnya. Teman saya yang bagian make up calon suaminya Mbak kirim foto calonnya Mbak," jawab sang MUA malu-malu.


"Emang ngganteng banget ya masku ipar?" kali ini Risma yang kepo.


"Ini lihat saja sendiri," dan MUA itu memberikan ponselnya pada Risma. Risma langsung membulatkan matanya.


"Subhanallah, Mbak ini mah ngganteng pake kebangetan. Betul nggak Mbak perias," teriak Risma yang langsung diangguki sang MUA.


"Beneran? Lihat dong" Nina ikutan kepo.


"Eiits mana boleh. Pamali! Nanti bentar lagi juga ketemu," ucap Risma yang membuat Nina geram.


"Jangan marah nanti make up-nya luntur lo," ucap Risma lagi.


Pintu dibuka dan sang kakak Dina, masuk. Berkebaya toska yang memang menjadi drescod untuk baju keluarga pengantin. Ia juga disanggul, membuatnya terlihat semakin anggun.


"Sudah siap? Yuk suamimu otw sudah menunggu," canda Dina.


"Ada juga suami otw," ujar Nina. Perlahan keluar dari kamarnya. Berjalan pelan menuju venue tempat akad nikadnya. Yang berada di halaman rumah Joon yang ada di Jogja.


Memakai kain jarik membuat Nina harus ekstra sabar saat berjalan. Berjalan ke arah tempat akad nikah diapit oleh Dina dan Risma. Menuju ke sebuah meja di mana Joon telah menunggu.


Sesaat kedua pasang mata itu saling mengunci ketika tatapan mereka bersirobok. Joon benar-benar dibuat terpukau dengan Nina yang tengah berjalan ke arahnya. Satu kata "cantik". Itu yang langsung ada di pikirannya. Sesaat kemudian senyum terkembang di bibir keduanya.


"Akhirnya hari ini tiba, Baby. Hari di mana kamu benar-benar menjadi milikku. Hari di mana aku akan memenuhi janjiku padamu. Mencintaimu untuk selamanya,"


*****


Hai, hai, hai up lagi. Silahkan kalian ngehalu sendiri ya tentang kawinannya Joon ma Nina. Nggak bakalan dapat aku nyari visual Cha Eun Woo pakai beskap Jogja. Dan mbaknya yang pakai baju nganten adat Jogja lengkap pakai paes ageng 😁😁😁


So, apapun itu tetap dukung author ya. Caranya seperti biasa tinggal like, vote, gift and comment,


Happy reading ya readers,


Terima kasih atas dukungannya,


And salam sayang dari author, muah 😘😘😘😘

__ADS_1


**


__ADS_2