Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 52


__ADS_3

Joon masuk ke ruangan papanya dengan tergesa-gesa.


"Jo, Papaku ada di dalam?"


"Ada Tuan Muda. Silahkan masuk."


Tanpa basa basi, Joon langsung masuk ke ruang kerja sang papa. Membuat Lee Jae Ha yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya, langsung menghentikan aktivitasnya. Tidak biasanya putranya itu bertingkah seperti itu.


"Ada apa, Nak?"


"Ada yang ingin aku tanyakan, Pa."


"Soal?"


"Pembunuhan orang tua Mike. Papa ada di sana kan waktu kejadian itu?"


"Dari mana kamu tahu?"


"Doni, anaknya Om Hendra yang cerita."


Lee Jae Ha hanya menghela nafasnya. Melepas kacamata kerjanya. Lantas menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Gurat kesedihan jelas terpancar dari wajahnya.


"Dan kamu tahu kan kalau Papa yang dituduh sebagai pembunuh Om Henri dan Tante Vina?"


Joon mengangguk.


"Apa kamu percaya?" Lee Jae Ha bertanya.


"Tentu saja tidak. Aku yakin Papa hanya berada di waktu dan tempat yang salah."


Lee Jae Ha tersenyum. Mendapat kepercayaan dari orang yang kita sayangi adalah hal yang paling membahagiakan.


"Karena itu, ceritakanlah yang sebenarnya. Dengan begitu kita bisa membantu Mike."


"Mike? Apa yang terjadi dengan Mike?"


"Papa jangan pura-pura tidak tahu. Papa sudah menyelidiki semua kan?"


Kembali Lee Jae Ha tersenyum. Putranya benar-benar teliti. "Apa Papa tahu kalau ingatan Mike sudah diubah."


Kali ini ucapan Joon membuat Leè Jae Ha terkejut. Dia sama sekali tidak mengetahui fakta itu.


"Maksudmu?"


"Berarti Papa tidak tahu?"


"Papa hanya tahu dia pernah dibawa keluar negeri untuk mengobati depresinya akibat kejadian pembunuhan orang tuanya. Kita harus memaklumi keadaan Mike saat itu. Jiwanya terguncang hebat melihat Papa dan Mamanya meninggal di hadapannya."


"Doni cerita setelah dari luar negeri sikap Mike berbeda. Satu hal yang pasti, Mike menganggap Papa yang telah membunuh papa dan mamanya. Dan berniat balas dendam."


"Karena itulah Papa jadi tersangkanya. Tapi karena bukti terlalu lemah mereka membebaskan Papa."


"Dan Mike marah. Jadi sebenarnya apa yang terjadi waktu itu."


Lee Jae Ha kembali menghela nafasnya. Pikirannya kembali ke masa lalu.


"Papa waktu itu datang ke rumah Mike karena seseorang yang menghubungi Papa. Mengaku pelayan di rumah Mike. Meminta Papa datang ke sana karena Om Henri ingin bertemu. Papa sedikit curiga karena waktu itu sudah lewat tengah malam. Tapi Papa datang juga. Khawatir terjadi sesuatu pada Henri."


Lee Jae Ha menjeda ceritanya sejenak.


"Ketika Papa sampai di sana. Om Henri dan tante Vina sudah meninggal. Jelas mereka dibunuh. Tapi Papa tidak menemukan apa-apa waktu itu. Dan waktu Papa datang , Papa menemukan Mike yang bersembunyi di dalam lemari ruang tengah. Sudah dipastikan jika Mike melihat bagaimana orang tuanya meninggal. Dia saksi kuncinya. Namun karena jiwanya terguncang saat itu dan dia masih di bawah umur. Dia tidak dapat dimintai keterangan tentang kejadian waktu itu."


"Dan yang Papa tahu. Setelah itu dia dibawa ke luar negeri untuk menyembuhkan depresi yang timbul akibat jiwanya terguncang."


"Dua tahun kemudian sebuah tuntutan datang kepada Papa. Atas tuduhan pembunuhan om Henri dan tante Vina. Dan tuntutan itu datang dari Mike. Namun karena bukti yang terlalu lemah. Papa dibebaskan."


Joon menghela nafas setelah mendengar cerita dari papanya.

__ADS_1


"Berarti ada orang yang merencanakan semua ini."


"Kamu ada ide, Nak?"


"Papa tahu tuan Burhan?"


"Pamannya Mike?"


"Iya. Aku curiga dengan orang itu. Karena setelah om Henri dan tante Vina meninggal semua asetnya dikuasai oleh tuan Burhan."


"Apa kamu berpikir dia adalah dalang dibalik semua itu?"


"Sedikit curiga dan aku rasa kita perlu menyelidikinya"


"Andai kamu tahu. Papa sendiri juga punya masalah pribadi dengan orang yang bernama Burhan itu," batin Lee Jae Ha.


"Kita akan menyelidikinya bersama. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk Mike?"


"Kondisi Mike masih bisa di sembuhkan. Mengingat akhir-akhir ini pikirannya mulai membuka ingatan tentang masa lalunya. Dia perlu terapi untuk menyembuhkan keadaannya. Doni memintaku untuk memberikan perlindungan selama Mike menjalani terapinya. Dia perlu tempat yang damai dan jauh dari gangguan. Dan Mike bersedia untuk diterapi"


"Apakah tuan Burhan selalu mengawasi Mike?"


"Ya begitulah. Jadi Doni tidak bisa melakukan hal itu. Hingga meminta kita untuk membantunya."


"Lalu?"


"Aku akan membantunya. Dia adalah temanku."


"Baiklah kita akan lakukan itu. Beritahu Papa jika kamu perlu bantuan. Dan selalu berhati-hati. Kejadian yang Nina alami, selain karena kecemburuanmu juga karena ada orang lain yang tengah berniat menyakiti kalian."


"Papa!"


Joon paling tidak suka dikritik soal sifatnya.


"Apa? Apa Papa salah? Kamu terlalu cemburu dengan yang namanya Adam. Sudah jelas Nina tidak punya rasa dengan Adam kamu masih menuduh Nina ingin balikan."


Joon mengangkat tangannya. Malas berdebat soal itu. Kalau tidak, dia akan berakhir mendengar omelan panjang dari sang papa.


Setelah hari itu, Doni dan Lee Joo serta Max semakin intens berkomunikasi. Tapi mereka jarang bertemu. Doni mengatakan akan terlihat mencolok jika mereka sering bertemu.


Walaupun Doni sendiri tidak terlalu pasti. Tuan Burhan mengawasi dirinya atau tidak. Tapi yang jelas tuan Burhan selalu mengawasi Mike.


Hingga akhirnya setelah satu bulan menyusun rencana. Mereka mulai mengeksekusinya. Dengan dalih berlibur ke luar negeri mereka membawa Mike ke salah satu villa keluarga Lee yang ada di Bandung. Karena villa keluarga Lee di Bandung sangat private. Bahkan Joon sendiri tidak tahu jika papanya punya villa di Bandung. Sampai papanya sendiri yang menawarkan tempat itu.


"Jangan bilang itu tempat Papa sama Mama ketemu. Supaya Joon nggak tahu," Joon protes kepada papanya.


"Tahu aja," jawab Lee Jae Ha sambil tersenyum lebar.


"Haiisshh, Papa menyebalkan."


"Segeralah nikahi Nina, nanti Papa hadiahkan villa itu untukmu."


"Lalu Papa?" penasaran mengapa papanya dengan mudah memberikan villa itu padanya.


"Ya Papa beli lagi yang baru. Sudah ada incaran nih."


"Tu kan. Dasar Papa!"


Lee Jae Ha hanya tertawa mendengar umpatan putranya itu.


Mike pada awalnya bingung. Namun setelah Doni menjelaskan dia pun mau mengikuti rencana mereka. Karena Mike benar-benar ingin sembuh. Dia sudah tidak tahan dengan sakit kepala dan ingatan-ingatan aneh yang berseliweran di pikirannya. Ingatan yang dia sendiri bahkan lupa memilikinya.


Mike benar-benar masuk bandara Soetta. Mengambil penerbangan ke Jepang. Namun turun ketika pesawat transit di Singapura. Lalu terbang kembali ke Bandung.


Sampai di bandara Husein Sastranegara, Bandung, Mike sudah dijemput oleh orang yang diutus oleh Lee Joon. Dan mulai saat itu. Keamanan Mike berada di bawah pengawasan keluarga Lee.


Doni tidak ikut dalam perjalanan Mike ini. Untuk mengecoh pengawasan tuan Burhan. Doni sengaja stay di kantor untuk menghandle urusan kantor. Untuk tahap pertama, Dokter Pras membuat program terapi Mike selama 2 minggu.

__ADS_1


Selama di Bandung, Mike akan berada 24 jam penuh dalam pengawasan dokter. Dokter Pras juga tidak mungkin berada di Bandung. Karena dia sendiri pun berada dalam pengawasan tuan Burhan.


Dia meminta bantuan temannya, sama-sama dokter kejiwaan untuk memantau terapi Mike. Setelah keduanya berkonsultasi terlebih dahulu tentunya.


"Semoga semua berjalan lancar. Dan tuan Mike bisa mengingat kembali ingatannya."


Sebaris doa yang terucap dari Doni. Mengingat dia sendiri yang paling tahu bagaimana menderitanya Mike selama ini.


Dua minggu kemudian,


"Bagaimana?" kali ini Max yang antusias bertanya.


Kali ini mereka memutuskan untuk bertemu. Hampir 2 bulan tidak bertemu, mungkin akan terlihat lumrah jika mereka bertemu.


"Tuan Mike terlihat lebih baik. Sepertinya terapi Dokter Pras berdampak baik pada Tuan Mike."


"Baguslah kalau begitu. Tidak sia-sia kita kucing-kucingan dengan si Burhan itu."


"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" Lee Joon bertanya.


"Maya bilang, ayahnya menjadwalkan terapi dalam 2 bulan ke depan. Menghindari kecurigaan tuan Burhan. Tidak mungkin kan kalau Tuan Mike tiap bulan ambil cuti. Ke luar negeri pula," terang Doni


"Maya siapa?"


"Anaknya Dokter Pras. Sekretarisnya tuan Mike."


Max ber-oooo ria pasalnya dia yang bertanya siapa Maya.


"Kali ini kita kirim ke mana Mike?" Max kembali bertanya.


Di antara mereka memang Mike yang paling cerewet. "Bagaimana jika ke Korea?" kembali Max yang menyarankan.


"Kamu ketularan calon pacar kamu ya?" ucap Joon.


"Ye, kayak pacar kamu enggak aja," sangkal Max.


"Pacar aku juga kpopers," sahut Doni.


"Astaga!!" ucap Joon dan Max hampir bersamaan.


"Jangan sampai mereka bertiga bertemu. Kita bisa jadi obat nyamuk kalau itu sampai terjadi."


"Sebenarnya apa sih kurangnya kita dibanding mereka. Ya, kita berdua memang nggak bisa nyanyi. Tapi Lee Joon kan mantan penyanyi. Masak iya Nina masih ikutan suka dengan mereka," Max berargumen.


"Oh jadi yang waktu itu pacarnya Lee Joon. Pantas saja Lee Joon terlihat sangat posesif kepada wanita itu. Memang cantik sih. Pintar lagi. Cocok dengan Lee Joon," batin Doni.


Ketiganya mengangguk setuju. Mereka merasa tidak kalah dibanding para idola pacar-pacar mereka.


"Sebenarnya Don, aku sangat penasaran dengan yang namanya tuan Burhan ini," tanya Joon berubah serius.


"Yang aku tahu dia pamannya tuan Mike. Selama ini dia yang selalu ada di samping tuan Mike. Selebihnya aku kurang tahu. Bahkan ayahku juga tidak banyak bercerita tentang dia. Ayahku hanya pernah berkata untuk berhati-hati dengan tuan Burhan," terang Doni.


Joon dan Max saling berpandangan.


"Kita bisa mencari tahu, Bos," ucap Max dengan seringai di wajahnya.


" Aku curiga dengannya, Don. Beberapa aliran dana dari perusahaanku mengarah ke rekeningnya."


"Betulkah?"


"Awalnya atas nama Mike tapi setelah aku selidiki ternyata itu rekening tuan Burhan."


"Dia memanfaatkan tuan Mike?" ucap Doni. Pasalnya dia juga curiga jika tuan Burhan hanya memanfaatkan Mike.


"Kita masih menyelidikinya," jawab Max.


Ketiganya kembali terdiam. Banyak teka-teki yang belum terpecahkan. Banyak hal yang masih menjadi misteri. Menunggu untuk diselidiki.

__ADS_1


******


__ADS_2