Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 86


__ADS_3

Satu minggu setelah kepergian Burhan. Nina dan Dina terkejut ketika mendapat telepon dari Pak Nasution. Orang yang Dina kenal sebagai pengacara papanya.


Mereka diminta untuk datang ke kantor pak Nasution. Dan disinilah keduanya berada, ditemani suami masing-masing. Sebenarnya Joon dan Doni sudah menolak untuk menemani istri-istri mereka bertemu pengacara tuan Burhan.


Dengan alasan, itu adalah ranah pribadi keluarga Affandi. Jadi mereka merasa tidak berhak untuk berada di sana. Walaupun status mereka adalah menantu Burhan. Karena ternyata Burhan benar-benar mengangkat Nina sebagai putrinya secara sah, diakui oleh negara.


Tapi pak Nasution berdalih jika Dina dan Nina harus didampingi suami masing-masing saat bertemu dengannya.


"Baiklah mungkin Anda sekalian tahu mengapa kalian di suruh menghadap saya?" tanya pak Nasution.


Mereka menggeleng. Walau Joon dan Doni sedikit banyak tahu maksud dan tujuan pak Nasution.


"Saya di sini mewakili almarhum tuan Burhanudin Affandi ingin menyampaikan surat wasiatnya," ucap Pak Nasution to the poin.


"Wasiat? Bukannya aset papa adalah aset Mahardika Group?" tanya Dina.


Pak Nasution terkekeh.


"Mbak Dina, aset Mahardika hanya 40% dari keseluruhan aset tuan Affandi. Dan itu semua sudah dikembalikan kepada tuan Mike Mahardika. Selaku pewaris tunggal dari Mahardika Group," jelas Pak Nasution.


Dina dan Nina melongo mendengarnya.


"Di sini saya akan membacakan surat wasiat yang tuan Affandi tinggalkan. Yang intinya, seluruh aset tuan Affandi yang terdiri dari beberapa perusahaan yang bergerak di sektor ekspor-impor, konstruksi, properti. Beberapa rumah dan kendaraan. Dua buah villa di Bandung dan Bali. Semua akan dibagi rata kepada dua putrinya. Mbak Pradina Putri Affandi dan Mbak Karenina Putri. Untuk lebih jelasnya silahkan dibaca sendiri surat wasiat beliau " ucap Pak Nasution sambil menyerahkan dokumen yang berada di dalam map coklat.


Sesaat kedua gadis itu terdiam. Namun tak lama air mata keduanya mulai turun membasahi pipi mereka. Tidak percaya jika papa mereka mewariskan semua yang dia miliki kepada mereka.


"Jika kalian menerima, silahkan untuk menandatangani surat pernyataan bahwa kalian menerima surat wasiat ini, tanpa paksaan dari siapapun" ucap Pak Nasution lagi.


Sesaat keduanya menatap suami masing-masing. Seolah meminta saran.


"Itu urusan kalian. Tidak ada hubungannya dengan kami," ucap Doni. Begitupun Joon.


"Semua terserah padamu, Baby" ucap Joon.


"Sebaiknya kalian menerimanya. Sebab tuan Affandi meminta saya untuk melakukan apapun agar kalian mau menerima surat wasiatnya. Dan kalian tidak ingin kan saya melakukan hal itu" tambah pak Nasution lagi.


"Haiiisssshhh, sudah tidak ada pun masih menyebalkan," umpat Joon.


Pada akhirnya Dina dan Nina menerima surat wasiat itu.


"Kalian bisa berdiskusi tentang perusahaan apa yang ingin kalian tangani. Atau bagaimana kalian akan mengelolanya. Kemudian kalian bisa membicarakannya kepada saya agar saya bisa mengalihkan kepemilikannya atas nama kalian berdua," jelas pak Nasution lagi.


"Terima kasih Pak. Anda masih mau menjadi pengacara papa dan mengurusi aset-asetnya," ucap Nina.


"Sama-sama Mbak. Terlepas dari semua kesalahan yang sudah tuan Affandi lakukan. Dia tetap klien saya. Dan sudah kewajiban saya untuk melaksanakan amanat beliau," ucap pak Nasution lagi. Sesaat hening tercipta di ruangan itu.

__ADS_1


"Oh, dan satu lagi. Tuan Affandi menitipkan ini kepada saya," Pak Nasution menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat.


Untuk putri-putriku tersayang,


Maafkan papa yang tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi kalian. Ada terlalu banyak kata maaf yang harusnya papa ucapkan kepada kalian.


Atas air mata, luka, kecewa, marah, sedih dan mungkin masih banyak hal lain yang telah papa torehkan dalam hidup kalian.


Mungkin semua kata maaf tidak akan mampu menebus kesalahan papa pada kalian. Tapi bolehkah papa mengatakan satu hal pada kalian. Masih bisakah papa mengatakan kalau papa sayang pada kalian? Masih pantaskah papa menyayangi kalian? Masih pantaskah papa mendapatkan kasih dan maaf dari kalian?


Sungguh papa ingin sekali memeluk kalian. Tapi papa merasa tidak pantas untuk mendapatkan itu semua.


Tapi diatas itu semua, papa hanya ingin mengatakan bahwa papa benar-benar menyayangi kalian. Percaya atau tidak.


Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian putri-putriku tercinta. Dikelilingi oleh orang- orang yang selalu menyayangi dan mencintai kalian.


Burhanudin Affandi,


Tak terbayangkan bagaimana derasnya air mata yang turun di kedua pipi wanita itu. Sesal seakan begitu terlambat mereka rasakan. Tidak dapat menemani hari-hari terakhir papa mereka.


"Mungkin kalian tidak percaya.Tapi perlu kalian tahu. Hanya kalian berdua yang ada dalam hati tuan Affandi. Terlepas dari khilaf yang pernah ia lakukan. Ia papa yang sangat mencintai kalian. Hanya dia tidak bisa mengatakan dan menunjukkannya. Tapi percayalah kasih sayang dan rasa cinta papa kalian sangatlah besar untuk kalian berdua," ujar Pak Nasution.


******


Hari yang di nanti oleh keempat pasangan itu akhirnya tiba. Dengan penerbangan pagi mereka bertolak ke Incheon Airport, Seoul, Korea. Mike sempat menggerutu kenapa Lee Joon tidak beli jet pribadi saja.


Menempuh perjalanan lebih kurang 7 jam 40 menit. Mereka begitu menikmati penerbangan kelas bisnis yang akhirnya dibayari oleh Lee Joon.


Sampai di Incheon Airport, mereka sudah dijemput dengan mobil yang akan membawa mereka menginap di hotel di dekat Olympic Stadium, Seoul.



Kredit booking.com


Lotte World Hotel menjadi pilihan mereka menginap. Sebuah hotel bintang 5 yang menawarkan berbagai tipe kamar dan fasilitas kelas wahid. Di hotel tersebut tersedia restoran dengan hidangan dari berbagai penjuru dunia. Selain menu Korea tentunya. Ditambah fasilitas kolam renang indoor dan spa.


Memilih kamar dengan kelas superior yang sangat mewah dan fasilitas yang waaah tentunya. Serta pemandangan yang menyuguhkan keindahan kota Seoul langsung dari jendela kamar mereka.



Kredit agoda.com


Nina langsung menghambur masuk dan menatap pemandangan kota Seoul dari jendela kamarnya.


"Kamu suka?" tanya Joon sambil memeluk sang istri dari belakang. Sang istri langsung mengangguk. Perlahan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.

__ADS_1


"Kita bisa mulai olahraga panas kita sekarang?" tanya Joon lagi.


"Hubbby!" sementara Joon hanya tergelak mendengar rengekan sang istri.


Mereka sejenak menikmati pemandangan kota Seoul. Walau masih siang.


"Hubby, lapar," rengek Nina kembali.


"Kita turun mencari makan," ujar Joon.


Menikmati makan siang yang sedikit terlambat di restoran hotel itu.


Malam menjelang, ketika keduanya membuka matanya. Setelah makan siang yang terlambat, mereka terlelap sejenak di ranjang mewah mereka.


Sejenak Nina berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya. Detik berikutnya, ia terkejut karena Lee Joon sudah mulai mencium bibirnya. Ternyata Lee Joon sudah melepas kaos polonya membuangnya entah ke mana. Tubuh sixpack sempurna milik Lee Joon, langsung terekspos sempurna di mata Nina.


"Hubby!" bisik Nina lirih ketika Lee Joon mulai mengeksplor setiap inci tubuhnya. Menciumi dan sesekali menghisapnya. Meninggalkan bekas merah keunguan. Yang pasti, esok hari akan membuat Nina kebingungan untuk menutupinya.


Sentuhan Joon semakin lama semakin liar dan tak terkendali. Tubuh Nina meliuk-liuk tidak karuan. Joon dengan cepat melucuti pakaiannya yang tersisa dan memulai penyatuan panas mereka.


De***** dan rintihan manja dengan segera terdengar di kamar mewah itu. Semakin menambah has*** Joon memacu tubuh sang istri. Nina begitu menikmati setiap gerakan pinggul suaminya yang terasa seperti alunan melodi indah yang tengah menari-nari indah di tubuhnya.


Beberapa kali Nina sudah mencapai puncaknya. Namun tidak dengan suaminya Lee Joon yang memang mempunyai stamina yang luar biasa saat berci***. Terkadang membuat Nina kewalahan dibuatnya. Kewalahan sekaligus nikmat tak terlukiskan.


Hingga berbagai gaya berci*** pun mereka coba. Membawa sensasi baru bagi keduanya. Dan lenguhan panjang yang terdengar dari bibir Joon menjadi tanda bahwa pria itu telah mencapai puncaknya.


"I love you. Terima kasih, Baby " ucap Joon lirih lantas ikut membaringkan tubuhnya disamping sang istri.


"I love you too," jawab Nina lantas masuk ke dalam pelukan sang suami. Saling menikmati aroma khas hormon feronom mereka. Hormon yang timbul setelah sesi berci***.


Sementara itu, di sebuah rumah di kawasan Hannam-dong, Seoul. Seorang pria dengan wajah 98% persis Lee Joon tengah memandang foto Lee Joon dan Nina dari layar Ipad-nya.


"Awasi mereka, tapi berhati-hatilah. Appaku mungkin telah memberikan pengawal bayangan untuk mereka. Tunggu waktu yang tepat untuk mengacaukan liburan mereka," ucap pria itu.


98% mirip dengan Lee Joon hanya warna rambut mereka saja yang berbeda. Sejenak pria itu memandang wajah Nina. Hatinya berdesir aneh ketika menatap senyum wanita itu.


"Kita akan segera bertemu, Yeppeun," ucapnya lirih.


*******


Hai, hai, hai up lagi readers,


Maaf kalau tidak up seperti biasa. Sedang ada kesibukan di dunia nyata. But it's okay, asal kalian tetap dukung author dengan cara seperti biasa. Like, vote, gift and comment,


So happy reading readers anda salam sayang dari author, muah 😘😘😘

__ADS_1


**


__ADS_2